Bertemu David

1997 Words
Part 8 Setelah kemarin sakit, Alex istirahat dengan baik, makan, minum obat dan tidak menyentuk pekerjaan sedikitpun. Dia tau jika keadaannya hari ini belum membaik, Sena tidak akan mengijinkannya bekerja, padahal dia harus menyelesaikan pekerjaan kemarin yang pasti sudah menumpuk.             “Kau istirahat dengan baik ternyata”             “Aku tau kau akan mengomel jika aku memaksa bekerja dengan kondisi yang buruk”             “Yes I am” Setelah memastikan kondisi Alex baik baik saja Sena bernafas lega, sakitnya tidak lama. Sena juga tau jika Alex memaksa tubuhnya untuk segera membaik karena pekerjaan dikantor sudah menunggu untuk dibuka.             “Pastikan untuk tetap meminum vitaminmu tuan”             “Aku tau Sena, apa Devi sudah kekantor?”             “Apa dia tidak mengatakan akan kedokter lagi untuk memeriksakan kandungannya?”             “Ah iya aku lupa, kau sudah mengatur ulang jadwalku?”             “Devi sudah mengaturnya kemarin, beberapa client baru bisa ditemui lagi minggu depan, jadi jadwalmu hari ini hanya meeting di kantor dengan beberapa direksi, sisanya mengecek berkas proposal untuk toko baru”             “Baiklah jika begitu tambahkan jadwal untuk bertemu David dan papa”             “Hari ini?”             “Iya, kenapa?” Alex yang sedang merapikan dasinya menoleh melihat Sena yang terkejut.             “Baiklah, jam makan siang?”             “Boleh, pastikan untuk memesan tempat yang sesuai dengan mereka”             “Sesuai dengan mereka?”             “Hm tanyakan saja pada Devi”             “Kenapa kau tidak mengatakannya langsung” Sena mengatakan dengan nada cemberut, padahal bisa saja Alex langsung mengatakan tanpa menyuruhnya untuk menganggu Devi.             “Sena…”                     “Oke oke aku tanya Devi, kau sudah selesai?”             “Sudah, ayo” Dalam perjalanan Sena mengirim pesan pada Devi, mengatakan jika Alex ingin makan siang dengan David dan papanya. Menanyakan dimana tempat yang cocok untuk mereka.             “Vegetarian resto?” Sena membaca lagi pesan dari Devi, memastikan yang dia baca benar.             “David dan papa tidak makan daging” ucap Alex.             “Kenapa tidak katakana dari tadi ck” Alex diam, Sena masih fokus dengan handphoennya.             “Seriously, Devi tidak bisa ikut”             “Lalu?”             “Lalu? Kau bercanda, ayolah aku tidak mau mati dipertemuan pertama dengan keluargamu”             “Memang kau bertemu untuk menikah denganku?” Alex menyebalkan, bisa bisanya disaat seperti ini dia malah bercanda.             “Adikku dan papa tidak makan manusia Sen”             “Aku tau tapi saat bertemu papamu waktu itu, dia sudah melihat seperti aku sebuah santapan lezat” Alex malah tertawa melihat ekspresi dan tingkah Sena yang berlebihan.             “Tidak bisakah besok saja, aku butuh Devi”             “Kau tau hari ini adalah hari terakhir Devi bekerja”             “What!! Seriously?? Jadi aku sendiri?” ucap Sena dengan lantang sambil menunjuk dirinya sendiri.             “Iya Sena, tidak akan terjadi apa apa lagi pula mereka pasti tau kau sekretaris baru”             “Mampuslah aku” Alex hanya tersenyum, sebenarnya dia juga malas untuk bertemu keluarganya yang tidak harmonis dengan dirinya. Semenjak mamanya meninggal Alex berubah menjadi dingin pada papa dan mami tirinya serta adiknya. Mereka sampai dikantor, seperti biasa para pegawai menyambut mereka dengan hormat. Alex dan Sena bekerja masing masing, begitu sibuk dan fokus. Sebentar lagi sudah jam makan siang, Alex bilang sudah menghubungi papanya dan David untuk bertemu dijam makan siang, ditempat yang sudah Sena pesan.                     “Dev aku takut”             “Mereka tidak makan manusia Sena, untuk apa takut”             “Kau sama saja seperti Alex”             “Memang seperti itu” Sena masih berusaha membujuk Devi untuk bisa menemaninya, masih tidak mungkin bagi dirinya untuk bisa sendiri menghadapi keluarga Dominic.             “Aku tidak tau harus melakukan apa?”             “Diam saja, Alex akan membantumu Sena, tidak mungkin dia membiarkanmu begitu saja” Sena menyerah, mau bagaimanapun dia harus menghadapi ini sendirian.             “Aku baru kembali nanti sore, mengambil barang barangku dan berpamitan, kau tau kan hari ini adalah hari terakhirku”             “Aku tau, baiklah semoga pemeriksaannya lancar. Dahh Dev”             “Dah Sena, semangat” Sena mematikan telponnya, menghembuskan nafas berat.             “Kau seperti punya beban hidup yang berat” Sena terkejut, melihat Alex berdiri disana sambil melihat dirinya.             “Sejak kapan kau disana?”             “Hmm anggap saja sejak kau mengatakan tidak tau harus melakukan apa”             “Cih dasar penguping”             “Aku tidak menguping hanya kebetulan mendengarkan saja”             “Yaya terserahmu, ada apa?”             “Kau tidak lihat sekarang sudah jam berapa, astaga baru kali ini aku seorang Presdir menunggu sekretarisnya” Sena melihat jam dipergelangan tangannya, tidak terasa sudah jam makan siang yang artinya sudah saatnya dia bertemu keluarga Alex.             “Benar kata Devi, tidak akan terjadi apapun” Sena memilih untuk berkemas, memastikan tidak ada yang tertinggal dan merapikan penampilannya.             “Apa penampilanku oke?” Alex melihat Sena dari atas ke bawah terus menerus, Sena menunggu Alex untuk mengatakan sesuatu.             “Hey Presdir sampai kapan kau melihatku dengan tatapan mesummu itu”             “m***m?”             “Iya, cepat katakan apa penampilanku oke”             “Tidak ada yang salah Sena, ayo aku tidak mau papa menunggu” Mereka akhirnya berangkat, menuju tempat yang sudah Sena pesan.             “Jangan bersikap berlebihan Sena, aku tau papa sedikit menakutkan”             “Sedikit?”             “Oh ayolah, tidak semenyeramkan itu” Sena memilih melihat keluar jendela, tangannya sudah berkeringat dingin sedari tadi.             “Kita sudah sampai, mau sampai kapan kau diam begini” Sena tau jika mobil sudah berhenti, entah kenapa jarak dari kantornya menuju resto terasa begitu dekat, padahal Sena sudah memesan yang paling jauh. Menghembuskan nafas dan pasrah, terus meyakinkan diri sendiri jika tidak akan terjadi apapun.             “Selamat datang, untuk berapa orang?”             “Saya sudah reservasi atas nama Alex Dominic”             “Saya cek dulu…ah bisa ikut saya” Pelayan mengantar kemeja mereka, masih belum terlihat papa Alex dan David.             “Duduk lah dengan nyaman, tarik nafas hembuskan perlahan, kau akan baik baik saja Sena” Sena melakukan apa yang dikatakan Alex, terus memaksakan diri untuk baik baik saja dan tidak akan terjadi apa apa.             “Tenang Sena, tidak akan terjadi apapun” Sena tersenyum pada Alex. Cantik, pikir Alex. Untuk pertama kalinya Alex melihat Sena begitu gugup, padahal saat interview Sena terlihat tenang dan tidak gelisah sedikitpun.             “Alex” Alex dan Sena menoleh, melihat laki laki paruh baya yang sudah pasti itu papa Alex dan laki laki yang masih muda yang kemungkinan besar dia adalah David. Dengan beberapa orang yang Sena pikir adalah sekretaris Thomas.             “Kau pasti Sena?” Davi mengulurkan tangannya yang disambut oleh Sena.             “Senang bertemu dengan anda tuan David”             “Kau cantik, Alex pintar memilih pengganti Devi” Sena hanya tersenyum, Thomas tidak mengatakan apapun hanya melihat Sena sekilas.             “Halo Sena”             “Ah…”                        “Dia Bento, orang kepercayaan papa”             “Halo tuan Bento”             “Bento saja, benar kata David kau cantik”                             “Terimakasih, silahkan duduk” Mereka duduk dengan rapi, makan dalam diam. Sena sudah merasa tidak nyaman dengan situasi saat ini, ingin rasanya dia segera pergi dari sana.             “Kau sakit Lex?”             “Ah aku sudah sembuh pa, tidak perlu khawatir”             “Pastikan untuk selalu mengecek kondisi Alex, Sena” Sena yang diam langsung terkejut saat Thomas menyebut namanya, dia kira laki laki paruh baya itu tidak menganggapnya ada.             “Baik Presdir Thomas, maaf atas kelalaian saya”             “Bukan salah Sena pa, hanya terlalu memaksakan diri”             “Kau tau jika dirimu adalah tonggak Dominic Corporation tapi kau malah sakit Lex” ucap David.             “Aku tau” Kalimat yang Davi lontarkan hanya dijawab dengan singkat oleh Alex. Sena tau jika hubungan keduanya kurang bagus, padahal Sena berfikir David laki laki yang baik.             “Minggu depan pulanglah, sudah lama kau tidak pulang kerumah”             “Aku usahakan pa” Alex sebenarnya terlalu malas untuk pulang kerumah, bertemu dengan mami tirinya adalah hal yang sangat tidak dia inginkan.             “Kau harus ingat ada mami dirumah”             “Hm”             “Bulan depan Davi sudah berumur 20 tahun, carikan posisi yang tepat diperusahaan untuknya” Alex menghentikan suapannya, melihat papanya yang masih makan dengan santai.             “Kenapa tidak papa berikan dia posisi di cabang?”             “Hey ayolah kak, aku juga harus tau mengatur perusahaan di pusat” Sena semakin yakin jika Alex begitu membenci David, lihat saja sikap David yang awalnya Sena kita laki laki yang baik ternyata seperti menginginkan sesuatu dibelakang.             “David benar, tidak ada yang tau kedepan perusahaan seperti apa”             “Perusahaan seperti apa? Perusahaan tetap aku yang pegang, apa maksudnya tidak tau kedepan perusahaan seperti apa”             “Alex, berhenti membantah, sejak mamamu tidak ada sikapmu semakin tidak sopan”             “Pa ini tidak ada hubungannya dengan mama” Nafsu makan Alex langsung hilang, selalu saja seperti ini. Pertemuan dengan keluarganya tidak pernah baik baik saja dan selalu membuat Alex emosi. Sena yang tidak tau harus melakukan apa sedikit terkejut dengan apa yang dia lihat. Alex sangat emosi, Alex mengepalkan tangannya dibawah meja seiring dengan emosinya semakin memuncak, Sena menyentuk tangan Alex perlahan yang membuat laki laki itu menurunkan emosinya perlahan.             “Aku sudah selesai, aku kembali kekantor dulu ada banyak pekerjaan” Alex berdiri yang diikuti oleh Sena, Alex pergi tanpa pamit dan meninggalkan Sena. Sedangkan Sena yang masih terkejut hanya tersenyum pada Thomas dan David, berpamitan lalu menyusul Alex ke mobil. Mobil langsung melaju menuju kantor, Alex masih emosi dan Sena menyentuh lengan Alex berusaha untuk membuat laki laki itu tidak emosi lagi. Alex menoleh, melihat Sena yang tersenyum tapi ada ketakutan disana. Alex menarik Sena dalam pelukannya yang sontak membuat Sena terkejut setengah mati.             “Kau pasti terkejut dan takut, maaf”             “A..ah aku tidak apa” Sena yang setengah terkejut menarik tangannya dan membelai punggung Alex perlahan.             “Turunkan emosimu Presdir hmm” Alex melepas pelukannya, dilihatnya Sena yang sudah cukup tenang.             “Biasakan dirimu untuk melihat kejadian seperti itu Sena, itu bisa saja lebih buruk lagi”             “Aku sudah menyiapkan diri”             “Oh ya, tapi saat ini kau masih terlihat shoke dan takut ha ha ha” Disaat seperti ini masih sempat sempatnya Alex tertawa. Sena bukannya kesal, dia malah bersyukur Alex sudah tidak menyeramkan lagi.             “Kau ingin makan lagi?”             “Hmm boleh, aku belum puas makan sayuran”             “Baiklah, pak Billy kita ke cafetarian depan kantor”             “Kau seperti Devi ternyata, suka makan disana”             “Aku tau kau pernah makan disana sekali dengan Devi, dan kau tidak suka”             “Lalu untuk apa kau mengajakku kesana jika tau aku tidak suka?”             “Kau harus membiasakan diri Presdir ha ha ha” Alex menyerah, baru kali ini dia menurut tanpa banyak komentar. Sena benar benar merubahnya perlahan lahan.             “Apa yang kau pikirkan setelah melihat kejadian tadi Sena?” Mereka sudah sampai dan memesan makanan dengan porsi yang banyak, Sena bilang dia mau makan yang banyak setelah tadi cukup menguras energinya dan Alex disuruh membayar semuanya. Alex hanya diam melihat Sena yang memesan makanan begitu banyak dan memilih untuk menurut saja.             “Kejadian tadi apa? Papamu yang marah dan adikmu yang tidak sopan itu?”             “Ckckck bisa bisanya kau mengatakan dengan santai”             “Lalu, apa aku harus mengatakan suasana mencekam karena papamu yang memaksa untuk mencarikan David posisi dikantor dan membahas mamamu ditambah sikap David yang sepertinya mendukung untuk bekerjan di perusahaan, terlalu berbelit belit”             “Mungkin sekarang kau bertanya tanya apa yang terjadi dengan keluargaku”             “Tidak, biarkan saja waktu berjalan menjawab semua rasa penasaranku, lagi pula aku akan berkerja denganmu dalam waktu yang lama, aku tidak suka ikut campur urusan orang lain”             “Aku tau, kau sering mengatakan itu” Sena masih fokus dengan makanannya, benar kata Alex makan di resto vegetarian benar benar tidak puas dan makan sayuran sangat tidak memanjakan lidah.             “Apakah seenak itu?” tanya Alex yang melihat Sena cukup lama makan begitu lahap.             “Enak, kau mau?”             “Aku tidak terlalu suka ayam”             “Benarkah, sayang sekali padahal ayam adalah makanan paling enak sedunia”             “Kau berlebihan”             “Aku suka ayam dalam hidangan apapun” Alex memilih diam, melihat Sena yang makan dengan lahap sudah membuatnya kenyang. Bagaimana mungkin ada gadis yang makan dengan lahap tanpa memikirkan berat badannya bertambah.             “Kau tidak takut gendut?”             “Kenapa? Karena makan sebanyak ini? Tidak perlu khawatir bebanku lebih banyak jadi makan sebanyak ini akan hilang karena beban dan stress”             “Kau benar, stress adalah obat terbaik membuat berat badan turun, tapi tidak baik untuk pikiran yang bisa membuatmu berfikir pendek” Sena tertawa kecil melihat Alex yang hanya memainkan makanannya.             “Pasti kau pernah berfikir untuk bunuh diri?” Sena bertanya sambil menghentikan makannya, melihat Alex yang kini juga melihat kearahnya.             “Benarkah? Kau tidak menjawab apapun berarti tebakanku benar. Wah wah untuk apa kau berfikir seperti itu, jika kau mati kau tidak bisa makan enak lagi”             “Apa ini menyangkut makanan?”             “Tentu saja, lagipula kau mati belum tentu keadaan berubah, semua normal seperti biasa. Dunia terlalu kejam, disaat kau merasa terluka dan sakit, dunia tetap baik baik saja, dia tidak peduli dengan apa yang kau rasakan” Sena benar, saat Alex kehilangan mamanya dunia tetap berjalan normal, bahkan dia marah saat dia sedang sedih dan berduka, dia malah melihat orang lain bergembira dihari pernikahannya.             “Jangan memaksa dunia terus berpihak padamu, ada begitu banyak jiwa dimuka bumi ini dank au hanya satu orang yang merasa kesedihan begitu dalam, kau belum merasakan orang lain memiliki beban yang lebih berat, semua sudah punya masalah dalam takaran masing masing” Alex berfikir Sena sangat dewasa, semua perkataannya benar ditambah sepertinya Sena sangat berpengalaman sampai begitu santai menjalani semuanya.             “Aku sudah kenyang Sena, ayo kembali ke kantor”             “Baiklah, ayamku juga sudah habis, ayooo bekerjaa” Semangat Sena membuat Alex melupakan kejadian beberapa jam yang lalu, biasanya dia akan terus badmood seharian jika sudah bertemu keluarganya dan membuatnya emosi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD