Keluarga Dominic

2130 Words
Part 9 Sena merasa kekenyangan sehabis makan bersama Alex, sedangkan Alex yang hanya melihat Sena makan sedang sibuk kembali bekerja.             “Hey pemalas”             “Ah Dev kau sudah kembali, bagaimana pemeriksaanmu?”             “Lancar saja, bagaimana pertemuannya?”             “Hmm seperti yang kau tau, aku masih baru pertama kali bertemu mereka dan untuk terkejut sepertinya bukan hal yang aneh, bukan?”             “Mereka memang tidak akur Sena, lihat lah sekarang kau semakin mahir bukan, terlihat biasa saja dari wajahmu”             “Iya aku berusaha membiasakan diri, setelahnya kami makan di cafeteria dan kini aku kekenyangan”             “Really? Alex makan disana lagi?”             “Yap, tidak makan sih sepertinya hanya menemaniku makan saja haha” Sena melihat jam dipergelangan tangannya, satu jam lagi sudah waktunya dia pulang, tapi Alex tidak ada tanda tanda dia selesai bekerja.             “Sepertinya banyak pekerjaan” Devi tau apa yang Sena pikirkan, memikirkan apakah Alex terlalu sibuk sampai tidak ada tanda tanda dia akan pulang.             “Hmm rasanya aku masih belum bisa kau tinggalkan Dev” Sena memasang wajah cemberut. Sebentar lagi Devi benar benar akan meninggalkan perusahaan dan dia harus berusaha sendirian.             “Hey besok aku masih akan bertemu dengan kalian”             “Dev kau bercanda, besok hanya perayaan saja”             “Hahaha mau bagaimana lagi, sebentar lagi perutku akan terlihat membuncit tidak mungkin aku terus disini”             “Aku tau, aku terlalu takut menghadapi apa yang terjadi denganku dan keluarga Alex”             “Tenang saja Sena, aku yakin kau bisa. Baiklah aku akan pamitan dulu dengan yang lain, kau bereskan saja barang barangmu, sepertinya sebentar lagi Alex selesai”             “Baiklah, apa kita akan pergi”             “Ayo, kita makan barbeque”             “Ayooo…aku akan telpon adikku dulu, pergilah” Devi pergi meninggalkan Sena, berpamitan pada teman temannya dalam gedung ini.             “Devi”             “Hey Clara, baru saja aku akan ke ruanganmu”             “Aku tidak melihatmu seharian, hanya Sena saja?”             “Iya aku baru kembali dari rumah sakit, biasa pemeriksaan dalam perutku”             “Wah aku iri sekali, semoga lancar”             “Terimakasih, ngomong ngomong aku ingin berpamitan”             “Aku akan sangat merindukanmu Dev, besok aka nada pesta perpisahanmu kan? Alex mengumumkan di grup perusahaan, sepertinya kau masih menjadi kesayangan Presdir”             “Hmm sepertinya sebentar lagi akan bergeser, Sena lebih dari yang kau pikirkan Clara, dia sangat berpotensi dan berbakat”             “Benarkah, baru beberapa kali aku bertemu dengan Sena” Clara ingat saat dia pertama kali bertemu dengan Sena saat interview, saat itu dia sudah hampir menolak Sena untuk bekerja, tapi Devi malah merekomendasikannya.             “Jika bukan karena kau merekomendasikannya, aku mungkin sudah menolaknya, ternyata pilihanmu tidak pernah salah Dev” Devi tersenyum tipis, dia bahkan lupa jika Sena adalah rekomendasi dirinya karena paksaan Alex. “Katakan saja pada bagian HRD jika Sena ada sepupumu dan kau merekomendasikannya, setidaknya bantu aku sebelum kau benar benar pergi Dev” Kata kata itu tiba tiba saja langsung muncul, Devi lupa jika masih menyimpan dosa sebuah kebohongan pada Clara.             “Baiklah Clara, aku akan pergi ke yang lainnya, masih banyak yang perlu aku datangi”             “Oke Dev, semangat dan semoga lancar” Devi lalu meninggalkan Clara, senyumnya hilang dan dia malah kepikiran dengan kata kata Clara mengenai Sena. “Jika bukan karena kau merekomendasikannya, aku mungkin sudah menolaknya, ternyata pilihanmu tidak pernah salah Dev” Bagaimana jika pilihannya salah, bagaimana jika keputusannya untuk menuruti perkataan Alex adalah sebuah kesalahan besar. Tidak, Devi menggelengkan kepalanya, dia yakin Sena tidak mungkin melakukan kesalahaan yang fatal.             “Aku bisa gila jika Sena melakukan hal yang aneh aneh, namaku ada disana huwaaa” Kini Devi malah terlihat frustasi, berjalan pelan diantara banyak orang yang membuat dirinya menjadi pusat perhatian.             “Hey Dev, kau terlihat menyedihkan, ada apa?”             “Hey Ken, aku hanya sedang memikirkan sesuatu”             “Memikirkan apa? Hari ini adalah hari terakhirmu bukan?”             “Hu um” Devi hanya mengangguk lemah.             “Ada apa, kau merasa sedih tidak bisa bekerja disini lagi?” Devi langsung menatap tajam pada Ken.             “Jangan bercanda, lepas dari sisi Alex adalah hal yang aku idam idamkan dari dulu”             “Hahaha aku tau kau sudah banyak berkorban”             “Entahlah, aku masih takut Sena melakukan hal yang aneh”             “Sena? Ah sekretaris penggantimu itu, kenapa? Apakah dia tidak bisa diatur?”             “No no aku hanya takut kurang mengajarinya saja hehe”             “Hey ayolah percayakan saja pada dia, sampai kapan kau mau mengajarinya terus” Ken benar, Devi semakin yakin jika Sena tidak akan melakukan hal yang aneh. Setelah berpamitan pada semua orang ditambah beberapa orang menangis karena Devi pergi, akhirnya dia kembali melihat Sena yang kini sudah siap untuk pergi.             “Hey”             “Kau sudah selesai Dev?”             “Hmm sedikit sedih, apakah kau melihat Alex didalam?”             “Dia sudah selesai, tunggu saja” Beberapa menit kemudian Alex keluar dari ruangannya, melihat Devi dan Sena yang sudah siap akan pergi.             “Kalian akan kemana?”             “Kita akan pergi makan” jawab Devi.             “Hanya berdua saja?” Sena dan Devi diam dan saling bertatapan, kemudian mengagguk.             “Apa aku boleh ikut?”             “Tidak” jawab Sena dengan cepat, dia malas harus makan dengan formal sedangkan Devi takjub melihat keberanian Sena untuk menolak Alex, walaupun dia juga tidak berharap Alex untuk ikut.             “Be..begini Presdir…”             “Oh ayolah aku tidak mau makan dengan suasana mencekam” sambung Sena.             “Mencekam?”             “Iya pokoknya tidak, siklahkan Presdir kita akan antar sampai rumah” Sena tersenyum manis dan mempersilahkan Alex untuk jalan duluan, sedangkan Alex juga tersenyum melihat tingkah Sena.             “Baiklah, selamat menikmati kalian berdua” Setelah mengantar Alex, Sena dan Devi langsung pergi keresto yang Devi suka. Mereka berdua kemudian menikmati makan malam. Entah jam berapa Sena pulang yang dia tau Demian sudah terlelap dikamarnya. *** Hari ini Sena begitu lelah, matanya masih berat untuk bekerja pagi ini setelah kemarin perayaan perpisahan Devi dan membuat dirinya pulang sekitar pukul  tiga dini hari, dan kemudian dilanjutkan bekerja jam tujuh pagi membuat dirinya sangat kurang tidur.             “Selamat pagi nona Sena”             “Pagi bibi Helena, apa Alex sudah siap?”             “Dia masih dikamarnya, apa kau kurang tidur?”             “Hmm aku hanya tidur beberapa jam”             “wah kau terlihat buruk sekali, aku buatkan coklat panas, pergilah ke kamar tuan”             “Terimakasih bibi” Sena menuju kamar Alex, dilihatnya laki laki itu sudah siap dengan pakaian santainya. Tunggu dulu…             “Kau akan kemana?” Alex menoleh, melihat Sena dengan wajah yang kurang baik.             “Kau kenapa?”             “Biasakan untuk menjawab pertanyaanku dengan jawaban tuan bukan dengan pertanyaan baru”             “Perbaiki penampilanmu kita akan kerumah”             “Kerumah?”             “Kau kenapa?” Alex membalas Sena dengan pertanyaan yang sama.             “Aku kurang tidur karena semalam” Alex menghembuskan nafasnya, dia ingat semalam mereka berpesta untuk Devi dan dia pulang duluan di jam sebelas malam. Bahkan dia sempat memaksa Sena untuk segera pulang juga, tapi lihatlah sekarang karena tidak menurut gadis itu malah terlihat kurang tidur.             “Aku sudah mengatakan untuk pulang, lihatlah sekarang penampilanmu menakutkan, padahal kita akan pulang kerumahku”             “Kau tidak bilang?” Alex menatap Sena dengan tatapan tajam, sedangkan Sena berusaha mengingat apakah Alex mengatakannya semalam.             “Pulanglah cepat, besok kita tidak bekerja tapi pulang kerumahku” Sena bodoh, lihatlah sekarang dia menyesal.             “Maaf, aku lupa dan khilaf”             “Perbaiki penampilanmu, kompres matamu dengan air dingin setelah itu kita berangkat, sebelumnya…” Alex melihat penampilan Sena dari atas kebawah, memastikan akan baik baik saja dengan pakaian yang Sena kenakan untuk dibawa kerumahnya.             “Kita ganti dulu pakaian formalmu itu” sambung Alex. Sena melihat pakaiannya yang dia pikir baik baik saja.             “Apa ada yang salah?”             “Kerumahku tidak semudah yang kau bayangkan Sena, menurut saja” Benar kata Alex, mungkin akan ada kejutan lagi yang membuat Sena terkejut, lebih baik menurut saja. Setelah melakukan apa yang Alex suruh dengan mengompres matanya, mereka akhirnya menuju butik untuk mengganti pakaian Sena.             “Pilihkan pakaian untuk acara keluarga”             “Baik tuan” Sena tau jika Alex bukan orang kekurangan uang, membawanya ketempat butik mewah bukan hal yang aneh.             “Kau yang bayar” Sesaat dijalan menuju butik, Sena sudah mengatakan itu, tidak mungkin bagi dirinya membeli baju disaat dia tidak butuh.             “Aku sudah selesai, ayo” Alex diam, melihat penampilan baru Sena yang lebih terlihat manis.             “Sepertinya aku tidak perlu mengganti banyak pakaian yang sesuai dengan kriteriamu, aku tidak mau berlebihan seperti drama”             “Kau cerewet, ayo” Perjalanan yang cukup jauh ternyata, Sena tidak mengira jika rumah Alex lumayan jauh.             “Kita sudah sampai tuan” Lihatlah rumah ini, begitu megah dengan luas yang tidak main main. Sena tau jika keluarga Dominic memang keluarga kaya raya yang sering terpampang dimajalah majalan, tapi kini Sena bisa melihat langsung bahkan masuk kedalam rumah itu. Walaupun sebenarnya Sena tida perlu kaget, mengetahui ekspektasi rumah Alex akan sesuai dengan realita bahkan melebihi, tapi Sena masih begitu takjub dengan rumah ini. Bagaimana mungkin ada rumah yang begitu besar bahkan satu kampung bisa saja tinggal disana. Sena berjalan masuk kedalam rumah itu perlahan mengikuti Alex, dilihatnya ada beberapa pelayan rumah yang menunggu Alex datang.             “Selamat datang tuan muda, nyonya dan Presdir sudah menunggu anda” Sena mengambil nafas banyak banyak, tidak mau sampai didalam dia kehabisan oksigen karena tingkah keluarga Alex.             “Alex kau datang sayang” Wanita paruh baya datang dan memluk Alex, mencium pipinya dengan sayang. Sejauh ini masih belum ada yang aneh, mami tiri Alex juga terlihat baik. Kemudian datang Thomas dan David. Sena hanya bisa berdiri dan tersenyum sebaik mungkin.             “Ah kau pasti sekretaris baru, aku Lisa.             “Senang bertemu dengan anda nyonya Lisa, aku Sena”             “Ayo masuk” Kini mereka berkumpul, duduk bersama dan Sena duduk disebelah Alex.             “Bagaimana bekerja di perusahaan Sena, apakah kau nyaman?”             “Ah nyonya, saya masih belajar dan sejauh ini sangat nyaman”             “Baguslah, aku titip Alex tolong jaga dia”             “Tentu” Sebenarnya tidak ada yang aneh dari pertemuan mereka, Sena tau jika hubungan Alex, papanya dan David tidak bagus, tapi kenapa ekspresi Alex pada Lisa juga sama, padahal Sena melihat Lisa begitu sayang dengan Alex yang merupakan anak tirinya.             “Kalian sudah makan?”             “Su…”                                    “Sudah” Belum Sena selesai menjawab pertanyaan Lisa, Alex malah memotong dengan cepat, wajahnya masih kesal.             “Alex jaga sikpamu pada mamimu”ucap Thomas.             “Terserah saja” Bahkan setelah diperlakukan seperti itu Lisa masih bisa tersenyum dan Alex yang Sena pikir kurang sopan masih saja dengan wajah menyebalkan.             “Sena makanlah cemilan ini, aku tidak sempat berbelanja”             “Tidak apa nyonya ini saja sudah cukup banyak”             “Sena apa Alex bersikap tidak baik padamu? Jika begitu tunggu aku bekerja disana lalu jadilah sekretarisku”             “Jaga mulutmu David, kau tidak akan bekerja disana” Kini Alex malah terlihat marah, dan Sena sudah semakin yakin jika hal yang aneh akan datang.             “Oh ya? Bukankah papa bilang untuk mencarikan posisiku diperusahaan”             “Itu tidak mungkin” jawab Alex. Sena sudah takut Thomas akan marah juga, orang yang masih dia takuti saat ini adalah Thomas, papa Alex dengan wajah menakutkan itu.             “Alex, berhenti berdebat dengan adikmu”             “Oh adik mana yang mau merebut semuanya, merebut harta dan kekuasaan”             “ALEX!” Sena tersentak, Thomas begitu keras membentak Alex dan membuat dirinya terkejut. Bagaimana mungkin seorang ayah melakukan hal itu pada anaknya, terlebih Alex tidak melakukan kesalahan fatal. Sena bahkan ingat orang tuanya dulu tidak pernah memukulnya sekalipun walaupun dirinya berbuat kesalahan. David hanya duduk sambil terkekeh, kini Sena semakin bingung Thomas bahkan tidak menyuruh David untuk menghormati Alex sebagai kakak tertua.             “Kak aku tetap akan bekerja bersamamu dan bertemu Sena setiap hari” David terkekeh sambil melihat Sena, sedangkan Sena ingin sekali menjewer bibir yang seenaknya itu.             “Aku bukan kakakmu”             “Alex apa kau pulang untuk bertengkar dengan adikmu, selalu seperti itu” ucap Thomas.             “Selalu seperti itu?” Jadi ini bukan kali pertama kakak beradik ini beradu argument seperti ini, bahkan didepan orang tuanya.             “Alex sayang, terimalah adikmu perlahan, mami tau ini berat”             “Cih” Setelah mengatakan itu Alex langsung pergi, memilih untuk masuk kekamarnya. Sena? Dia mengikuti Alex tentu saja setelah mengatakan permisi lalu menyusul Alex. Sena tidak mau ketinggalan dan Alex jauh didepan yang mungkin bisa membuatnya tersesat dirumah ini.             “Argh!!” Alex membanting pintu tepat didepan Sena, beruntung gadis itu tidak kena pintu yang kokoh yang bisa saja merontokkan giginya.             “Alex sialan, jika saja ini bukan dirumahnya sudah aku berondong dia dengan omelan” Sena membuka pintu perlahan, melihat Alex duduk dipinggir kasur dengan kepala menunduk.             “Hey, turunkan emosimu” Sena menyentuh pundak Alex perlahan dan laki laki itu langsung memeluk Sena dengan erat.             “Sebentar saja, seperti ini dulu” Sena memilih diam, berfikir apakah Devi juga melakukan hal ini jika Alex sedang emosi. Sena menggeleng, membayangkannya saja membuat dirinya bergidik. Sudah hampir 15 menit Alex masih memeluk Sena, sedangkan Sena sudah kesemutan karena tidak bisa bergerak.             “Pres…eh Tuan, aku tidak bisa nafas” Disaat seperti ini bahkan Sena masih bingung harus memanggil Alex dengan sebutan apa. Alex melepas pelukannya, melihat Sena kemudian menunduk lagi.             “Maaf Sena membuatmu masuk kedalam masalah keluargaku”             “Tak apa, aku akan tetap seperti ini. Kau sudah merasa baikan?”             “Hm, pulanglah aku akan suruh pak Billy mengantarmu pulang, tidak ada pekerjaan hari ini dan aku akan menginap disini”             “Kau baik baik saja sendiri?” Alex tersenyum miris, dari dulu bahkan dia sudah seperti ini sendiri dan lupa rasanya ada seseorang yang menopang bebannya.             “Aku tak apa, pulanglah kau butuh tidur, kau lupa kurang tidur karena pesta semalam”             “Aku sudah merasa baikan, jika kau mau aku masih disini aku tidak apa”             “Tidak, pulanglah dan besok pak Billy akan menjemputmu kesini, besok kau akan bekerja lagi”             “Alex” Untuk pertama kalinya Sena memanggil nama Alex, memanggilnya dengan lembut dan penuh perasaan. Alex yang merasa begitu asing dengan Sena yang memanggilnya begitu lembut langsung melihat gadis itu tersenyum manis padanya.             “Telpon aku jika kau sedang butuh teman, aku masih bekerja jika kau belum pulang kerumahmu”             “Terimakasih Sena, tapi aku tidak apa, pergilah” Sena menyerah, akhirnya dia berpamitan pulang. Thomas tidak ada jadi dia hanya berpamitan pada Lisa, David? Sena bahkan tidak berminat untuk melihat laki laki menyebalkan itu lagi.             “Terimakasih Sena sering seringlah mampir”             “Tidak terimakasih”             “Ah tentu nyonya, saya permisi dulu, titipkan salam saya pada Presdir Thomas dan tuan David”             “Tentu” Sena berjalan keluar, pak Billy sudah menunggu disana.             “Sena tunggu”             “Tuan David?”      
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD