BAB 4 - Bungkusan yang Sama

1043 Words
Pagi itu, Annisa sudah siap dengan baju dinasnya, daster kebanggan emak-emak. Meski bukan emak-emak, entah mengapa ia merasa nyaman menggunakan pakaian itu. Hari itu adalah hari libur. Tak ada tugas ataupun mata kuliah pagi itu. Kerja magang pun libur hari itu karena hari Minggu. "Oke, saatnya beberes!" Annisa sudah siap dengan gagang sapu dan lap pel nya. Gadis itu baru menyadari kalau kamarnya tampak seperti kapal pecah. Tak biasanya dia seperti itu. Padahal tugas kuliahnya tak banyak. Magang pun baru hari Jum'at kemarin langsung diterima dan diberi tugas kerja. Dan No Pe-eR. Annisa membersihkan setiap sudut lantai kamarnya yang kotor dan berdebu. Tak hanya itu, Annisa membersihkan rak buku yang berisi komik dan novel-novel yang hmm... You know lah novel apa yang biasanya dikoleksi oleh wanita. Eits, bukan 21+ ya... Jangan omes mulu bawaannya. Ya, meski ada sih beberapa yang mungkin nyelip. Eh? Belum selesai Annisa membersihkan rak buku bagian atas, gadis itu dikejutkan oleh suara seorang pria yang tiba-tiba sudah ada di dalam kamarnya. Annisa kaget, terjatuh dengan gaya slow motion kayak di film-film itu. Cuma bedanya kalau di film, si cowok nangkap si cewek yang mau jatuh. Namun untuk kasus Annisa ini, dia malah jatuh ditangkap ember yang berisi Air untuk mengepel. "Siapa, sih?" Annisa menggerutu dan melemparkan kain pel asal. Nyaris mengenai pria yang mengagetkan Annisa. "Untung meleset," Lirih pria itu yang masih bisa di dengar oleh Annisa. Annisa menoleh ke arah sumber suara. Gadis itu tak jadi mengomel. Pasalnya, orang yang ada di sana adalah seorang pria ganteng yang kemarin ia temui sewaktu hari pertama kerja magang. Bukannya sadar bajunya basah, Annisa masih melongo, nyaris ileran! "Eh, Maaf," ucap Annisa. "Bisa minta tolong keluar dulu gak? aku mau ganti baju. Gak enak dilihat sama teman yang lain. Takut dikira ngapa-ngapain," ucap Annisa. Pria itu menuruti kemauan Annisa. Dia pergi ke luar kamar dan menunggu di luar pintu yang baru saja tertutup dengan keras. Setelah sekitar lima menit, Annisa membuka pintu kamarnya lagi. "Maaf udah ngebuat kamu nunggu. Maaf juga untuk yang tadi," ucap Annisa tak enak hati. "Dimaafkan. Padahal cuma mau ngasih ini aja." Pria itu menunjukkan sebuah bungkusan plastik putih. mirip dengan yang semalam ia terima. "Martabak? Lagi?" tebak Annisa. "Lagi?" Pria itu mengernyit bingung. "A... abaikan. Ayo masuk." Annisa membuka pintunya lebar-lebar. Dia pun membiarkan pintu kamarnya terbuka. menghindari fitnah tetangga. Omongan tetangga soalnya lebih tajam dibandingkan pedang. Hii... "Maaf tadi langsung nyelonong masuk. Tadi udah aku panggil-panggil, kamu nya lagi serius bebersih. Eh tapi pas aku bersuara di dekatmu, kenapa kamu langsung denger? sampai jatuh gitu?" "Ya, gimana gak langsung jatuh. Lah wong dikagetin. Itu pun kamu dah tau kalau mau jatuh, gak ditangkap pula." Pria itu tertawa terbahak, menampakkan gigi gingsul nya. "Cakep maksimal," batin Annisa. "Ceritanya cuma ngasih ini aja ke sini?" tanya Annisa lagi. Berharap pria itu mau membantu, Lumayan kan, gratisan! "Iya lah. Takut ada fitnah. Takut kamu makin terpesona juga," ucap pria itu blak-blakan. Wajah Annisa memanas, pipinya mendadak bersemu merah kayak tomat. Reflek, ia mengibaskan tangannya di depan wajah. Hal itu membuat Deksa semakin heran. Pria itu menatap ke sekitar kamar Annisa. AC menyala. Dirinya saja merasa kedinginan. Tapi kenapa Annisa mengibaskan tangannya seperti orang lagi kepanasan? "Kamu gapapa?" Deksa menyentuh kening Annisa. Nyess... Wajah Annisa makin memerah. Udah mulai berasap malah. "Gak gila, kan?" lirih Deksa. Annis menepis tangan Deksa yang sempat beberapa detik bertengger di keningnya. "Aku masih waras, ya!" Annisa merajuk. "Ciee... yang lagi ngambek...." Deksa kemudian berdiri, hendak pamit pulang. "Aku pulang dulu ya... Ada janji. See you." pamit pria itu lagi. Anisa tak menjawab. Ia hanya melambaikan tangannya kepada Deksa yang mulai tampak menjauh. Annisa menutup pintu kamarnya. Gadis itu membuka jendela kamarnya, ingin melihat sosok pria tampan di divisinya yang mudah akrab dengannya. Annisa melihat ada seorang gadis yang dihampiri oleh Deksa. Gadis yang bisa Annisa lihat begitu cantik dan anggun. Annisa bisa melihat gadis itu beberapa tahun lebih muda dari Deksa. Dan mereka... Sangat serasi. Ternyata Annisa kalah start saudara. Ibarat bunga, masih kuncup, udah layu. Tapi yakin, deh. Annisa masih dalam batas kagum sama Deksa. Pria muda tampan yang memiliki kedudukan yang tak kalah tinggi. Ya, meski hanya di divisi Sekretaris, tetap aja posisinya tinggi. Sekretaris CEO, tampan, mapan, apa lagi ya? "Udah jangan mikir cinta-cintaan dulu. Fokus kuliah dan kerja," batin Annisa menyemangati dirinya sendiri. Beberapa menit larut dalam lamunan, pintu kamar Annisa berbunyi. Eh, diketuk orang maksudnya. Tanpa curiga, Annisa membuka pintu kamarnya. Sudah bisa dihafal siapa yang mengetuk pintu dengan ketukan yang dibuat-buat. Siapa lagi kalau bukan tetangganya. "Siapa lagi pria yang tadi, Nis? Cakep juga. Tapi kayaknya lebih cakepan yang kemarin malam, deh." Gadis itu langsung nyelonong masuk tanpa permisi. "Teman kantor." Annisa menjawab dengan malas. "Wah, kenalin ke aku dong?" pinta gadis itu sembari mencomot sepotong martabak yang ia buka dari bungkusannya. Padahal Annisa masih belum membuka bungkusan makanan itu. apalagi sampai memakannya. "Boleh. Ada syaratnya." Annisa gegas menutup kotak martabak itu dan menutupnya kembali. Dia memiliki ide mengerjai tetangga kepo nya. "Apa? Duh, kenapa harus ngangkat itu kotak juga sih?" Gadis itu berusaha merebut sekotak makanan itu dari tangan Annisa. "Bantu aku bersih-bersih tiap Minggu," ucap Annisa. "Oke Deal!" Gadis itu langsung menyetujui. "Tunggu, Apa? Tiap Minggu?" tanya gadis itu lagi saat martabak itu berhasil ia dapatkan kembali. "Kamu udah menyetujui. Keputusan udah final." Gadis itu menjatuhkan potongan martabak yang barusan dipegangnya. Beruntung jatuhnya ke dalam kotak martabak itu lagi. Jadi gak mubazir. Annisa kembali menyodorkan martabak itu lagi. Gadis itu menerima martabak yang disodorkan Annisa dengan membuka mulutnya. Meski keberatan, gadis itu mangap juga. Ya mau gimana lagi, yang penting perut kenyang meski ujung-ujungnya nanti lapar lagi. Begitu pikir gadis itu. *** Kini Annisa sudah rapi. Dengan kemeja biru bergaris putih dipadukan dengan celana jeans navy dan sneaker putih, gadis itu siap berangkat. Ke mana? Entah... Gadis itu kini sudah berada di halte tak jauh dari asrama nya. Dia menunggu bus berwarna biru melintas. Saat asyik memainkan ponselnya, Annisa merasa ada sosok yang mendekatinya. Tak hanya itu, sosok itu kini duduk di sebelahnya. Bahkan dengan tak sopan nya mengintip ke layar ponselnya. Annisa berteriak, Namun, tangan sosok misterius di sampingnya spontan menutup mulut gadis itu. Annisa melihat ke arah makhluk yang membekapnya, Dan dia berteriak lagi setelah berhasil membuka bekapan mulutnya. "Jangan berisik! Ini aku!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD