BAB 5 - Liburan yang Gagal

1086 Words
"Jangan berisik! Ini aku!" "Aku?" ulang Annisa lagi. "Yaelah," ucap pria itu. "Kamu?" ucap Annisa. "Ngapain kamu di sini?" "Gak ngapa-ngapain. Ngelihat kamu ada di pinggir jalan gini aku kira gelandangan. Padahal bus udah berulang kali lewat," ucap pria itu lagi. Benar saja, Annisa tertinggal bus saking asyiknya memainkan ponsel di tangannya, berselancar di medsosnya. Mood Annisa anjlok seketika. Niat liburan kali ini sepertinya akan gagal kembali. "Kamu ngapain ke sini?" ketus Anisa. Arga hanya mengangkat kedua bahunya. Pria itu kemudian berjalan menuju motornya, mengenakan helm berwarna hitam miliknya. Annisa terpesona dengan gerak-gerik pria berjaket hitam itu. Padahal hanya memakai helm? Annisa memukul ringan kepalanya. "Mikir apa aku, sih!" batinnya. Arga melempar helm lain yang awalnya bertengger manis di belakang motornya. Beruntung Annisa tanggap dan berhasil menangkap pelindung kepala yang cukup berat itu. Annisa mengernyit. "Buat apa kamu lempar ini ke aku? Mana gak pake kira-kira lagi!" sungut Annisa. "Udah buruan pakai aja!" titah pria itu. Dengan terpaksa Annisa memakai helm itu. Wangi parfum wanita tercium dari helm berwarna hitam kebesaran itu. "Jangan-jangan ini punya ceweknya," batin Annisa. Arga memperhatikan Annisa yang mengendus helm yang ia berikan. Karena tak sabar melihat Annisa yang bergerak lambat, Pria itu turun dari motornya dan menghampiri Annisa. Dengan sigap, Arga memasangkan helm dan menautkan tali helm itu di bawah dagu wanita berambut sepunggung itu. Dan tanpa banyak bicara, Arga menyeret Annisa mendekati motornya. "Naik," perintah Arga saat sudah duduk di badan motor. "Kamu mau menculik aku ke mana?" Annisa sedikit mencondongkan badannya ke belakang. "Udah buruan!" Annisa kemudian ikut mengendarai kuda besi itu di belakang Arga. Annisa percaya kalau Arga orang baik. Mana ada ojek ganteng menculik cewek cantik gini? Ya kan, Pemirsa? Kendaraan melaju membelah jalanan kota yang mulai padat merayap. Beruntungnya hari itu cuaca tak terlalu panas bagi kota yang biasanya sangat panas itu. Maklum, di Ibu kota provinsi itu sudah banyak gedung bertingkat dan pertokoan di mana-mana. Di kanan kiri jalan hanya di d******i oleh tembok bangunan, entah itu rumah atau toko. Setelah beberapa menit berkendara, Arga menghentikan laju motornya di area parkir sebuah taman. "Aku gak tau kamu mau ke mana, suka nya ke pertokoan atau wisata alam. Jadi ya aku ajak ke sini aja. Jadi kalau mau liat yang ijo-ijo, bisa masuk ke dalam taman ini, dan kalau mau ke toko, bisa ke seberang sana." Arga menjelaskan. "Udah tau. Makasih. Ini!" Annisa menyodorkan selembar uang kertas kepada pria itu. Arga mengernyit bingung. Pria itu tak paham dengan jalan pikiran gadis itu. Apa gadis itu masih mengira dirinya seorang ojek online? Yah, tapi lumayan sih, bisa buat jajan bakso. Eh? "Serius cuma mau ngasih segini?" Pria itu berkata sembari mengamati uang kertas bergambar pahlawan nasional Insinyur Juanda itu. "Hah? Emang kurang?" tanya Annisa. "Gapapa kalau kamu mau ngasih lagi?" Spontan terlintas ide jahil di pikiran pria itu. Ragu-ragu Annisa membuka kembali dompet dalam tas selempangnya. Dia mengambil selembar uang pecahan yang sama. "Perasaan kemarin jarak jauh, tarifnya gak segini deh," batin Annisa. Arga bersandar di motor yang sudah ia parkir. Usai menerima uang dari Annisa, ia menarik lengan gadis itu menuju ke dalam area taman yang sejuk itu. Berjalan beberapa langkah, Arga kemudian menyuruh Annisa duduk di sebuah bangku panjang taman itu. "Tunggu sini," perintah Arga lalu meninggalkan gadis itu tanpa sempat menyuarakan protesnya. Cukup lama Arga pergi membuat Annisa mulai dilanda bosan. Tapi kenapa Annisa menurut saja disuruh menunggu? Sebuah tangan mendarat di pundak Annisa. Sebuah tangan yang cukup besar disertai suara seorang pria di belakangnya, cukup membuat Annisa terlonjak kaget. "Kamu?! Eh, Maaf, Pak!" ucap Annisa yang seketika sadar dengan siapa kini ia berhadapan. "Ya ampun, mimpi apa aku semalam ketemu orang nyebelin macam Pak Jordan," batin Annisa dengan kepala sedikit menunduk. "Lagi kencan, ya? Ciee, gadis jutek lagi kencan... Jadi penasaran cowok mana yang mau sama gadis macam kamu," ledek Jordan. Annisa hanya terdiam, lebih tepatnya menahan kesal. Ingin rasanya Annisa menyumpal mulut Asisten CEO-nya itu. Kalau ngomong selalu gak pakai filter. "Tunggu, Ini kan hari libur, artinya gak ada urusannya dengan pekerjaan. Ah, nyaris saja aku dikerjai," pikir Annisa. "Terus situ ngapain ke sini? Sendirian aja lagi." Annisa celingukan mengamati Jordan yang datang sendirian. "Jones ya? Jomblo ngenes. Haha." Annisa terbahak "Eh, jangan kurang ajar sama atasan ya!" Jordan sedikit tak terima dikata jones alias jomlo ngenes. "Lah emang jones, kan? Buktinya datang ke sini sendiri." "Lah, kamu sama aja. Kamu sendirian aja tuh." Jordan tak mau kalah. "Idih, sok tau. Aku ke sini sama pacar aku dong. Tuh." Annisa menunjuk Arga yang baru saja datang membawa sebungkus camilan di tangannya. Arga sedikit mendengar pembicaraan dua orang itu. Arga melihat mulut Jordan sedikit menganga. Tampak sebuah keterkejutan dari wajah asistennya itu. "Ya elah. Sejak kapan si Bos mau sama ini singa betina?" gumam Jordan. Jordan berulang kali memperhatikan Arga dan Annisa bergantian. "Ah, aku gak percaya!" Saat Arga sudah mendekati anak buahnya yang sedang berdebat itu, Arga seketika merangkul pundak Annisa. Mengikuti sandiwara Annisa yang mengaku dirinya adalah kekasih gadis itu. Jordan menggelengkan kepalanya. "Gak mungkin!" gumam pria itu yang masih bisa didengar oleh Annisa dan Arga. "Dia siapa? " tanya Arga pura-pura. "Ah, Dia rekan kantorku," jawab Annisa sedikit jumawa. "Awas saja kamu besok di kantor," batin Jordan. Sementara Arga tertawa dalam hati. Ingin rasanya ia tertawa terbahak saat itu juga, namun ia tahan sekuat mungkin. "Seru juga," batin Arga. "Ya sudah, sana pergi, gih. Jangan ganggu orang lagi pacaran." Annisa mengusir Jordan. Dia sedikit malas kalau berlama-lama dengan pria itu. Ada saja tingkahnya dalam membuat Annisa kesal setengah mati. "Mau ngapain emang, kok ngusir aku? Hati-hati, orang pacaran itu orang ketiganya itu setan," balas Jordan. "Orang ketiga nya kan situ. Berarti setannya situ, dong?" sarkas Annisa. "Duh nyebelin banget ini orang. Gak tau orang risih dipeluk-peluk gini sama makhluk sebelah ini kali ya," batin Annisa mulai merasa tak nyaman dengan tangan Arga yang masih ada di pundaknya. "Ya sudah. Aku bakalan duduk di sini." Jordan duduk di bangku pajang tempat Annisa duduk tadi. Begitupun Arga. Pria itu ikut duduk di bangku panjang itu. Dan bahkan mereka duduk bersebelahan? Kini ganti Annisa yang melongo. "Oke, baiklah. Kalau begitu, selamat berkencan, ya...." Annisa tersenyum dan bersiap meninggalkan dua pria itu yang duduk bersebelahan layaknya sepasang kekasih. Baru selangkah Annisa berjalan, langkahnya terhenti. Dia merasa tasnya ditarik oleh salah satu pria yang tengah duduk di belakangnya. "Lepasin tas aku, gak?" ucap Annisa sedikit meninggikan suaranya. Dua pria yang tadi asyik memakan camilan berdua, menatap ke arah Annisa. Annisa pun menoleh dan seketika wajahnya jadi merah padam saat mengetahui siapa yang menarik tali tasnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD