BAB 6 - Bertemu Elisa

1172 Words
"Lepasin tasku, gak?!" ucap Annisa sedikit meninggikan suaranya. Jordan dan Arga yang saat itu tengah asyik makan camilan berdua layaknya orang pacaran, mengalihkan arah padang mereka. Keduanya melongo melihat Annisa yang uring-uringan gak jelas hanya karena tasnya tersangkut pegangan bangku panjang taman itu. "Permisi, Mbak." "Apaan, sih!" Annisa menoleh." Arga menunjuk ke arah sandaran tangan bangku taman yang tak jauh berada di sampingnya. Annisa perlahan melihat ke arah yang ditunjukkan oleh Arga. Mendadak wajah gadis itu memerah layaknya kepiting rebus. Jordan berusaha menahan tawanya. Annisa yang malu, berusaha melepaskan tali tas selempang nya yang tersangkut. Setelah talinya terbebas dari cengkeraman besi bangku taman itu, gadis itu ngacir pergi. Jordan yang sedari tadi menahan diri agar tak tertawa, kini tawanya pecah. Bahkan makanan yang belum selesai ia kunyah, ikut disemburkan ke arah Arga. Sementara Arga yang tadinya hendak tertawa, berubah kesal karena asisten yang sekaligus sahabatnya itu menyembur dirinya dengan potongan kasar makanan di mulutnya. *** Annisa kini berjalan menyeberangi jalan raya menuju Mall yang tak jauh dari taman itu. Demi menghindari dua makhluk tadi, dia memilih untuk cuci mata ke dalam pusat perbelanjaan yang cukup besar itu. "Barang kali nemu brondong cakep," batin Annisa. Belum jauh ia berjalan, tak jauh di depannya ia mendapati sosok makhluk yang amat sangat dihindarinya. Selain karena ucapannya yang sadis, sosok itu sama sekali tak mau kalah dan mengalah. Kadang meski Annisa mengalah pun, selalu salah di mata orang itu. "Berharap nemu brondong, eh malah ketemu jelmaan sundel bolong." gumam Annisa. "Mana ada sundel bolong?" Suara pria di telinga Annisa membuat dia terkejut. "Audzubillahiminassyaitonirrojim...." ucap Annisa spontan sembari menutup mata. "Astaghfirullah... Orang cakep gini disamain dengan makhluk halus...." Arga menjentik kening Annisa agar gadis itu sadar. "Tumben nyebut?" sahut pria lain yang ada di sebelah Arga. Siapa lagi kalau bukan Jordan. Kedua orang itu ternyata mengikuti Annisa. "Lah, kalian ngapain ngikuti?" sungut Annisa. "Siapa yang ngikutin? ini kan tempat umum," sahut Arga tak mau kalah. Iya juga, sih. Bukan salah mereka jika memasuki pertokoan itu. Siapa saja bisa masuk ke bangunan itu. Tapi, kok rasanya hari ini selalu ketemu dua orang itu terus ya? Ah, entahlah! Annisa masih berjalan mengendap-endap. Padahal di sini dia bukan orang yang ingin berbuat jahat. Hanya saja ia tak ingin bertemu dengan orang yang ganasnya melebihi raja hutan. "Itu bukannya Elisa? Ratu sensasi se-kantor?" Arga dan Annisa menoleh ke arah Jordan. "Kok kamu update gosip kantor?" tanya Arga spontan. Jordan melirik ke arah Annisa yang diam tanpa kata melihat dua orang itu. Arga sadar ada sesuatu yang salah. "Kenapa kamu protes? Emang bener kok apa yang dikatakan Pak Jordan. Kamu tahu apa tentang kantor. Lah kamu itu ojol." Annisa menyilangkan tangan di depan dadanya. Arga dan Jordan mengabaikan perkataan Annisa dan malah ngacir pergi ke toko khusus pakaian pria. Annisa hanya bisa geleng-geleng kepala. Dua orang itu tampak seperti pasangan yang aneh. Mereka kadang kompak, kadang berselisih terus. Mirip kartun kucing dan tikus yang sering tayang di televisi. Siapa sangka Jordan yang terkenal sebagai seorang perfeksionis, ternyata memiliki teman seorang driver ojek online. "Sepertinya orang-orang kantor salah, deh! Pak Jordan ini bukannya ada affair dengan Pak CEO. Tapi ada affair sama kang ojol. Kasian Pak CEO, diduakan sama Pak Jordan," batin Annisa sembari menggelengkan kepalanya ringan. "Ah, mikir apa aku, sih! Ngapain juga mikirin urusan Pak Jordan." Annisa memukul kepalanya ringan. Semua gerak-gerik Annisa tak luput dari pengamatan Arga dan Jordan yang berada di balik kaca besar transparan toko pakaian itu. Arga dan Jordan tak mendengar apa yang di-gumam kan oleh gadis itu. Hanya saja, tingkah Annisa yang seperti itu membuat orang lain berpikir kalau ada yang salah dengan gadis itu. "Lihat, tuh!" Jordan menunjuk Arga dengan dagunya. "Lah, ngapain kamu ngasih tau... aku juga lihat kok." Keduanya saling berpandangan. "Kita sepemikiran!" ucap keduanya kompak sambil adu jotos kepalan tangan mereka. Entah apa yang mereka rencanakan. Namun, belum sempat mereka mengerjai Annisa, seseorang kini lebih dahulu datang menghampiri Annisa yang tengah melihat pernak-pernik di toko sebelah. "Wah, ada gadis desa gak tau diri, nih!" Suara wanita tiba-tiba terdengar tak jauh dar tempat Annisa berada. "Ampun dah! Baru aja terbebas dari pasangan terong, sekarang ketemu ulet keket!" gumam Annisa namun masih terdengar oleh telinga wanita yang menghampirinya. "Sendirian aja, nih?" Elisa tampak menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri, mengamati lokasi sekitar. Tanpa Annisa sadari, Elisa menempelkan sebuah sticky note di belakang Annisa yang tengah mengabaikan dirinya. Ya, Annisa lebih memilih pernak pernik lucu di hadapannya dibanding meladeni Elisa yang ngoceh tiada henti. "Heh! Kamu denger gak, sih?!" bentak Elisa yang sontak membuat beberapa pengunjung menoleh ke arahnya. Gadis itu kemudian tersenyum kikuk ke orang yang lalu lalang dan memperhatikannya dengan tatapan yang ... Entahlah. "Telingaku masih waras kok. Gak kayak suara situ yang kayak suara toa." Elisa geram. Ia mengepalkan tangannya ke depan Annisa. "Kenapa? Kenyataannya gitu, kok. Kalau emang gak ada yang penting yang mau diomongin, mending kamu pergi aja, deh!" usir Annisa. Kata mengusir itu masih terdengar oleh Arga yang perlahan mendekat ke arah Annisa dan Elisa. "Ada apa ini?" tanya Arga. "Oh, ini pacarnya kamu? Lumayan lah, mengurangi saingan aku buat dapetin hati CEO Adipraja grup." Elisa menatap Arga dari atas ke bawah dengan pandangan mengejek. "Cocok, sih! Orang desa kayak kamu emang cocok dengan Kang ojol kayak gini. Meski, ya... lumayan ganteng, sih!" Mata Elisa tak henti memindai penampilan Arga. Mirip mesin pemindai milik plankton dalam film gabus laut berwarna kuning. "Situ siapa?" tanya Arga datar. "Perkenalkan, Elisa. Ratu kecantikan se kampus dan perusahaan Adipraja Grup," ucap Anisa dengan pedenya. Arga tak menyambut uluran tangan dari Elisa. Pria itu justru tertawa, menertawai Elisa yang pedenya udah melebihi langit ke tujuh. "Buahahahahaha..." Arga masih belum bisa mengkondisikan tawanya. Menurut pria itu, sifat percaya diri Elisa benar-benar melebihi batas kewajaran. Ada ya, cewek langka macam dia. Arga menghapus air mata di sudut matanya karena tertawa tiada henti. Perlahan, tawanya mulai reda. "Mbak, kayaknya perlu kaca, deh. Mau aku pinjamin kaca? Nih!" Arga menyodorkan kaca saku kecil yang selalu ia bawa. Jangan tanya Arga dapat dari mana kaca kecil itu. Pra itu selalu membawa benda mini itu di sakunya. Arga yang pede abis gak jauh beda dengan Elisa, suka sekali berkaca dan membenahi penampilannya. Apalagi rambutnya. Terlebih setelah memakai helm. Dia sangat risih jika mendapati rambutnya tak tertata paripurna seperti biasanya. Pria itu benar-benar perfeksionis. Tak jauh berbeda dengan Jordan. Pantas saja keduanya selalu bersama, sama-sama perfeksionis. Cocok! "Kamu emang pacarnya si Nisa ini?" "Kalo iya, kenapa?" "Hah?!" Annisa dan Jordan kompak melongo saking terkejutnya mendengar perkataan Arga yang tanpa persetujuan. Arga semakin mendekat ke arah Annisa. "Kalau aku yang seorang ojol ini pacar Annisa kenapa emangnya?" "Eh... Anu... Ya... Gapapa, sih!" Elisa menggaruk pelan pipinya. Niat hati mau mengejek Annisa. Eh, malah dia yang terpojok. "Ayo kita ke sana aja," ajak Arga. "Eh, tunggu..." Arga mengambil kertas tempelan yang ada di belakang punggung Annisa. "Kekanakan sekali!" sindir Arga sembari menyerahkan note kecil ke tangan Elisa. Dan tanpa disadari, Jordan yang sedari tadi di belakang Elisa memasang sticky note di punggung Elisa. Kalian tahu apa yang ditulis Jordan di balik tubuh Elisa?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD