BAB 7 - Usil Tipis-tipis

1034 Words
Mau tau apa yang ditulis Jordan di balik Elisa? "Awas singa galak!!!" Gak kreatif sekali Anda, Kisanak! Meski begitu, Jordan tetap cekikikan. Baru kali ini dia usil kepada orang lain selain Arga. Biasanya yang dia usili hanya Arga dan kedua adik perempuannya. Kali ini sepertinya akan menjadi hal baru. Eh, tapi tunggu! Kenapa Jordan jadi ngikutin Arga? Jordan setengah berlari, mengejar Arga yang baru saja mendeklarasikan sepihak bahwa dia dan gadis yang lengannya kini tengah ia pegang itu berpacaran. Rasa tak terima Jordan rasakan. Pasalnya selama ini Jordan yang setia mengikuti Arga menjomlo, kenapa kini jadi jomlo sendirian? Padahal niatnya merekrut Annisa agar Jordan makin anti dengan makhluk yang bernama perempuan. Eh, kini malah menjadikan perempuan bar-bar itu sebagai pacar. Jordan sungguh tak terima. Pria itu merasa dikhianati oleh Arga. Rasa setia kawan yang mereka gaungkan kenapa berbah jadi seperti ini? Jordan mendadak menyerobot di tengah-tengah Arga dan Annisa, sehingga gandengan mereka terlepas paksa. "Apaan sih kalian berdua itu! Kalian kenapa ninggalin aku sendirian di sana?" Jordan merajuk. Dan entah mengapa membuat Annisa risih. Pasalnya Jordan merajuk layaknya anak perawan yang ditinggal pacarnya pas lagi sayang-sayangnya. Eh? Annisa hanya memperhatikan dua orang yang tengah bertengkar ringan di hadapannya. Tiba-tiba, sebuah tangan menarik lengan Annisa untuk pergi dari dua orang yang sedang kambuh posesifnya. Ya, sepertinya mereka terjebak di tubuh yang salah. Mereka sangat cocok jika dilahirkan sebagai pasangan lawan jenis. Bukan sesama terong seperti ini. Annisa sangat menyayangkan takdir keduanya. Kembali lagi pada Annisa yaang diseret paksa oleh sebuah lengan yang mendadak membawanya menyingkir. "Ssssttt," lirih gadis itu sembari menaruh telunjuknya di depan bibir mungilnya. "Ayo kakak ikut aku aja. Daripada terjebak diantara dua orang itu." Annisa mengangguk dan mengikuti gadis yang kini menggandengnya, menyingkir dari negara api yang bisa membakar sekitarnya kapan saja. "Kakak kenapa bisa bareng mereka berdua?" tanya gadis itu saat keduanya sudah cukup jauh dari dua pria tadi. "Eh, kamu kenal mereka?" Denisha mengangguk.Kenal banget malah. Mereka kan bersahabat dari kecil. Makanya ayak gitu, Posesif satu sama lain. Tapi kadang seperti guguk dan kucing." Denisha tersenyum simpul. Oh iya, perkenalkan, gadis cantik nan manis yang tadi menarik Annisa tadi adalah Denisha. Dia adalah adik tingkat Annisa di kampus dengan jurusan yang sama. Keduanya dekat saat Denisha yang sering kali berkunjung ke asrama Annisa untuk minta diajari materi yang tidak ia pahami. Ya, meski Denisha tergolong gadis pandai, dia memiliki sebuah kelemahan. Ia tak bisa menangkap penjelasan dari gurunya. Dia bisa menangkap penjelasan dari Annisa yang lebih mudah dimengerti dan dicerna. Ya, meski penyelesaian masalahnya menggunakan cara lain yang disebut jalan pintas nan menyesatkan. Tapi hasilnya tetap sama kok. Hehe Kembali lagi ke Mall di mana Annisa dan Denisha kini berada. Keduanya tengah berada di kafe dalam bangunan itu. Ya, dari pada bersama dengan dua pria itu, mending bersama Denisha. Makan dan minum di tengah perut yang keroncongan. Jangan dipikir tadi Arga beli makanan untuk berbagi dengan Annisa. Yang ada malah pria itu makan gorengan berdua dengan Jordan tanpa sungkan. Benar-benar gak peka! "Oh iya, Kakak kenapa terdampar di sini? Tumben? Biasanya kan terdampar di taman atau di perpustakaan?" "Ya, ceritanya tadi aku ketinggalan bus. Nah, entah muncul dari mana, itu ojek tiba-tiba aja udah duduk bersebelahan denganku terus baru bilang kalau bus nya udah lewat." "Hah, ojek?" Denisha terkejut. Namun, tak lama gadis itu tertawa. Annisa tertegun melihat Denisha tertawa hanya karena dirinya menyebut kata ojek. Padahal memang setahu Annisa, pria yang bersama Jordan tadi adalah seorang ojek. "Emang ada yang salah?" tanya Annisa dengan polosnya. "Haha... Gak, Kak. Gak apa-apa," jawab Denisha sembari menyeka sudut matanya yang sedikit basah. Annisa mengangkat kedua bahunya. "Jadi, setelah ini mau ke mana?" tanya Denisha lagi. "Entahlah. Mood ku udah rusak. Malas mau jalan-jalan." "Ya udah. Mumpung lagi di sini, sekalian aja kita cuci mata. Cari brondong gitu buat Kakak," goda Denisha. Wajah Annisa memerah. Ya, semua warga kampus mengenal Annisa sebagai jomlo sejati. Padahal banyak mahasiswa yang menaruh hati padanya. Namun, tak sedikitpun Annisa menambatkan hati pada salah satu di antara mereka. "Nonton yuk, Kak!" seru Denisha. Annisa menoleh ke arah pandang Denisha yang tengah melihat dinding bertuliskan nama bioskop di sana. Annisa hanya mengangguk. Namun sesaat ia menggeleng saat melihat seseorang tak jauh dari area itu. " Gak jadi nonton. Udah kita ke tempat lain aja," ucap Annisa tiba-tiba. Denisha melihat ke sekitar area bioskop itu. Denisha kemudian mengangguk. "Oke, kita cari cowok ganteng di sekitar taman aja," ajak Denisha akhirnya. Annisa mengangguk. Lebih baik kembali ke taman daripada bertemu orang itu. Sementara itu, di meja lain tanpa Annisa sadari ada orang lain yang mengamati dua gadis itu yang tadinya asyik makan berdua. Pria itu tak henti menatap lekat ke arah Annisa. Annisa dan Denisha beranjak meninggalkan kafe itu usai membayar makanannya. *** "De, kamu ngerasa kaya ada yang ngikutin gak?" bisik Annisa saat keduanya kini sudah sampai di taman. Gadis itu celingukan ke kanan dan kiri, mengamati sekitar. Namun, tak ada hal lain yang mencurigakan selain seseorang yang cukup dikenalnya. Denisha cekikikan sendiri. "Gak ada yang mencurigakan kok, Kak," ucap gadis itu, "Justru kita punya bodyguard baru. Gratisan pula." Denisha menahan tawa. Bayangkan saja, seseorang yang tengah mengikuti mereka sekarang justru berpenampilan layaknya orang-orangan sawah. Padahal tadi pria itu masih mengenakan pakaian rapi. Dan ajaibnya, entah sejak kapan pria itu mulai mengikuti mereka. "Kak, kalau misal ada cowok biasa-biasa aja, latar belakangnya biasa, wajahnya biasa dan semuanya serba biasa nembak Kakak buat jadi pacarnya terus di lain sisi ada cowok tajir, pengusaha dan semuanya seba luar biasa, Kakak pilih mana?" "Hahaha. Pertanyaan macam apa itu?" "Tinggal jawab aja lah, Kak. Ada yang lagi penasaran, nih!" "Emang siapa yang penasaran?" Annisa mengernyit. "Ada deh... Kakak tinggal jawab aja pertanyaan ku tadi," jawab Denisha. Annisa tampak berpikir sejenak. Jari lentiknya mengetuk dagu tirusnya. "Kayaknya aku lebih milih orang yang biasa-biasa aja tapi dibaliknya adalah seseorang yang luar biasa..." "Maksudnya?" Denisha benar-benar tak paham. Annisa menggerakkan telunjuknya di depan wajah Denisha, mengisyaratkan agar gadis itu mendekat. "Kamu tahu, di novel-novel biasanya seorang CEO itu digambarkan sebagai pria yang sempurna dalam segala aspek, padahal kenyataannya kata teman-temanku gak kayak gitu," ucap Annisa dengan suara yang kecil. "Memangnya gimana?" "Mereka biasanya gak bakalan bisa tahan lebih dari 3 menit..." bisik Annisa. "Apa yang tiga menit???"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD