Chapter 5

1168 Words
Sydney terdiam. Dia menatap suaminya seolah mempertanyakan apakah yang dikatakan oleh Louis tadi adalah sungguh fakta atau hanya bualan semata. “Aku tahu. Ini masalah yang sudah lama, tapi kamu tidak tahu seberapa tidak sukanya Meida pada kita.” “Pada aku, lebih tepatnya.” Sydney menghela napas. “Dia selalu tidak menyukaiku. Bahkan ketika orang tua kamu sudah tidak peduli pada kehidupan kita, dia tetap tidak menyukai aku.” Louis menarik Sydney ke dalam pelukannya. “Dia sudah tidak memiliki tenaga untuk mengarahkan berapa orang pun untuk menyakiti kamu, tapi kita tetap harus berhati-hati, karena bisa saja jika dia tahu Aleksander, dia akan menggunakannya sebagai ancaman.” Sydney mengangguk. “Terima kasih sudah memberitahu aku.” Louis tersenyum dan mengecup dahinya. “Aku akan melakukan apapun untuk melindungi Aleksander dan keluarga kita, kamu tidak perlu khawatir.” Sydney tahu bahwa dia bisa mengandalkan suaminya. Selama ini, dia selalu percaya pada Louis—dan masalah apapun yang mereka hadapi, selalu bisa diselesaikan oleh Louis. Tapi, tetap saja hal itu tidak membuat dia berkurang rasa khawatirnya. Henry MacMillan, ayah Louis sendiri yang merupakan Viscount terdahulu, juga tidak menyukai dirinya namun pria tua itu memilih untuk tidak ikut campur soal apapun tentang Louis dan keluarganya—berbeda dengan Meida MacMillan, nenek tiri dari Louis, yang acap kali masih saja mengganggu mereka. “Sydney.” “Hm?” “Tolong pastikan anak kita baik-baik saja, ya. Aku akan mengurus kepindahannya segera.” Sydney mengangguk. “Pasti butuh waktu bagi dia untuk memahami ini, tapi setidaknya, dia akan tahu bahwa kamu tidak segalak yang dia kira.” Sydney mengakhiri ucapannya dengan tawa kecil. Louis membalasnya dengan senyuman. *** Keesokan harinya, Sydney tidak melihat putra sulungnya di meja makan, dan karena itu pula, dia akhirnya pergi ke kamar Aleksander. Benar saja apa dugaannya, Aleksander tidak bangun dari tempat tidurnya—yang mana bukanlah kebiasaan dia sama sekali. Aleksander akan selalu bangun dan pergi ke meja makan untuk sarapan bersama, walaupun ketika ia sedang tidak senang dengan ayahnya. “Aleks.” Sydney mengetuk pintu kamar anaknya. “Boleh Mama masuk?” tanyanya dengan lembut. Dia tahu kalau Aleksander sama keras kepalanya dengan Louis. Jika dia memaksakan diri untuk menuntut Aleksander mengerti keadaan mereka, Aleksander malah akan semakin tidak suka. “Iya, boleh.” Sahutan dari anaknya membuat Sydney membuka pintu kamar kastil yang sudah direnovasi menjadi lebih modern itu. “Hai.” Sydney menyapa anaknya dengan senyuman manis di wajahnya. “Kenapa tidak ikut sarapan bersama?” tanyanya sambil melangkahkan kakinya mendekati ranjang anaknya. “Aku tidak ingin sarapan dulu.” Sydney menghela napas dan mengusap rambut anaknya dengan lembut. “Dan sepertinya Mama tahu kenapa.” Wanita itu duduk di sisi ranjang Aleksander sambil menatapnya dengan penuh kasih sayang. “Kamu pasti masih keberatan dengan keputusan Ayah, bukan?” Aleksander dengan ogah-ogahan melirik ibunya dan ketika dia sadar bahwa selama ini dia tidak akan pernah bisa berbohong pada ibunya, akhirnya dia mengakuinya dengan anggukan kepala. Dia memilih untuk menundukkan kepalanya. Bertatapan dengan ibunya hanya akan semakin dirinya merasa malu dan lemah. “Aleksander, Mama juga tidak ingin berpisah dengan kamu. Tapi, setelah ini, kamu mungkin akan tahu alasan kenapa ayah kamu ingin kamu sekolah di sana. Benar apa katanya, kamu akan menjadi penerus ayah kamu. Kastil ini dan sekolah Mama akan membutuhkan pemimpin yang lebih hebat dari Louis MacMillan. Kamu juga akan memegang banyak perusahaan yang sekarang dipegang oleh Ayah kamu, bukan?” Sydney menggenggam tangan Aleksander. “Mama tidak bermaksud untuk memberatkan atau menakut-nakuti kamu. Mama hanya ingin kamu tahu kalau kepitusan ayah ternyata ada benarnya juga.” Aleksander hanya menanggapinya dengan helaan napasnya. “Iya, aku juga tahu kalau nanti tanggung jawabku sangat besar. Dan aku tidak keberatan dengan itu, hanya saja … apakah harus sekolah asrama?” Aleksander bukanlah seorang anak laki-laki yang pembangkang. Tidak seperti di novel-novel yang mana sering kali anak-anak tidak ingin menuruti kemauan orang tua mereka dan memilih jalan hidup mereka sendiri. Aleksander selalu mengagumi orang tuanya dan dia juga ingin menjadi lebih hebat dari ayahnya sendiri. “Sekolah itu yang terbaik, Aleks. Mama janji akan sering-sering mengunjungi kamu, okay?” Aleksander hanya mengangguk. Dia sendiri tahu kalau tidak ada gunanya juga untuk mendebat orang tuanya. “Anak baik.” Sydney memuji anaknya sambil mengecup punggung tangan putranya. “Sekarang, kita turun dan sarapan bersama, ya? Kasihan Blair yang kebingungan mencari kakaknya yang tiba-tiba saja mogok makan.” Gurauan Sydney yang tidak seberapa itu membuat Aleksander tertawa kecil. *** Kepindahan Aleksander diurus dengan sangat cepat, dan ternyata dua hari lagi, Aleksander sudah akan pindah ke sekolah barunya. Sebelum itu, Louis mengajak istri dan kedua anaknya untuk menghadiri sebuah pesta yang diadakan oleh salah satu kerabat keluarga Inggris. Pemilik pesta itu adalah rekan kerja dari Louis MacMillan. Dan biasanya, Aleksander selalu menolak ketika dia diajak pergi ke pesta semacam itu, karena menurutnya terlalu membosankan. Namun sekarang, dia ingin pergi karena berpikir setelah ini dia akan jarang sekali berinteraksi dengan orang luar. Pesta tersebut diadakan di mansion pribadi pemilik pesta yang terlihat sangat besar dan mewah. Aleksander memang sudah terbiasa melihat barang atau tempat mewah seperti ini, tapi tiap kali dia datang ke pesta—walaupun tidak sering—dia selalu terpukau dengan rumah-rumah dari rekan kerja ayahnya ini. Mansion itu sudah ramai didatangi orang ketika mereka berempat sampai. Banyak orang yang menyapa kedua orang tuanya, sambil sesekali melirik pada Aleksander yang menggandeng tangan Blair. Sementara bocah kecil itu hanya mengedarkan pandangannya melihat dekorasi elegan di sana dengan tatapan polosnya. “Kamu jaga ibu kamu, ya.” Louis menepuk pelan punggung anaknya sebelum dia pergi menemui rekan-rekan kerjanya di pesta itu—tentu saja, untuk membicarakan bisnis. Aleksander mengangguk. Dia akan bertugas menjadi baby sitter dari Blair malam ini dan dia tidak keberatan sama sekali. “… ah tentu saja, banyak orang yang membicarakan kamu di Edinburgh. Seorang viscountess yang begitu peduli pada pendidikan, sangat mengesankan …” “… kamu begitu cantik malam ini, Sydney, tidak heran kenapa Louis sangat setia pada kamu…” Aleksander menghela napasnya lelah. Dia tahu kalau ibunya memang sangat terkenal di kalangan orang-orang elite ini. Mereka sering kali memuji Sydney tapi terkadang pujian mereka terkesan sangat menyebalkan. “Oh, apa ini Aleksander?” Aleksander menolehkan kepalanya ketika namanya dipanggil. Terlihat seorang wanita seusia ibunya datang menghampirinya dengan tatapan berbinar. “Iya, dia ikut kemari bersama Blair.” Sydney memperkenalkan Aleksander pada temannya. “Astaga, kamu tumbuh dengan sangat baik. Tampan sekali.” Wanita yang diketahui bernama Edith itu mengusap lengan Aleksander secara tiba-tiba yang membuat Aleksander sedikit terkejut. “Kamu sepertinya seusia dengan putriku. Sebentar, aku panggilkan dia.” Aleksander hanya tersenyum dan menundukkan sedikit badannya sebagai tanda hormatnya pada seseorang yang jauh lebih tua darinya. Walaupun dalam hatinya, dia tidak suka dikenalkan seperti ini. “Itu dia, Vivian!” Aleksander menoleh dan dia langsung melihat seorang gadis yang seusia dengannya, berjalan dengan anggun dibalut dengan dress selutut berwarna peach. Aleksander mengakui gadis itu sangat cantik, tapi sayangnya dia sudah bisa menebak apa yang akan terjadi setelah ini. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD