reina mendapatkan kabar bahwa pihak Jeremy akan ngadakan pertemuan keluarga secara resmi di hotel yang supermewah dia mengundang Reina dan keluarganya untuk lamaran secara resmi dan pernikahan akan di selenggarakan bebera Minggu lagi.
namun tampaknya Reina cukup terganggu karena Jeremy terlalu berlebihan dia menghambur - hamburkan uangnya hanya untuk pertemuan resmi keluarga padahal penikahan ini hanya penikahan politik saja yang hanya untuk kepentingan masing - masing, Reina merasa kecewa karena Jeremy menolak untuk berdiskusi dengannya, Jeremy selalu menghindar untuk bertemu Reina begitu penasaran karena dia selalu menghindarinya akhirnya diapun mendatangi Mension kediaman Jeremy sendirian, tanpa memberi tahunya terlebih dahulu karena tidak ada andy Reina jadi kesulitan untuk bertemu dengan calon suaminya itu
" maaf nona, anda tidak bisa masuk jika belum ada janji bertemu dengan beliau"seru salah satu ajudannya
"apa kalian tidak mengenal ku, aku ini adalah calon istri nya,aku hanya perlu sebentar tolong kalian minggir aku hanya sebentar saja " seru Reina yang mencoba untuk menahan diri
" maaf nona tuan Jeremy meminta untuk tidak menerima tamu siapapun termasuk anda " serunya lagi ternyata Jeremy sudah mempersiapkan hal ini tapi aku tidak akan menyerah pikirnya percuma saja aku memaksa mereka tidak akan mengijinkan untuk masuk" pikir reina maka jalan satu - satunya reina berpikir untuk menunggu Jeremy di Mension itu dan mendapatkan kesempatan bertemu dengannya, sudah beberapa jam dia menunggu akhirnya Reina melihat Jeremy keluar dari Mension dan dia langsung menghampirinya " Jeremy tunggu! " aku ingin bicara," seru Reina Jeremi hampir saja terkejut dia tidak menyangka bahwa gadis ini akan menunggunya didepan Mension dia merasa bersalah karena membuat gadis itu menunggu cukup lama
" apakah kau dari tadi menungguku?" tanyanya " benar sekali, kau yang membuatku seperti inikan?" seru Reina sedikit jengkel " aku minta maaf, kenapa kau tidak mengabari ku dulu" kata Jeremy " sebentar aku ingin bicara dengan mereka yang berjaga Reina melihat dari kejauhan tampaknya Jeremy sedang memerahi bawahannya itu apakah dia menghawatirkan aku yang menunggunya dari tadi, ah.. rasanya tidak mungkin orang itu berhati besi aku yakin dia tidak akan goyah hanya dengan wanita seperti ku, serunya dalam hati tak lama Jeremy menghampiri Reina dan mengajaknya untuk masuk ke mension Jeremy menyuruh pelayannya untuk menjamu Reina mereka duduk di ruang kerja Jeremy " kenapa kau tiba ,- iba datang tanpa mengabari ku, aku minta maaf hal ini membuatmu jadi menderita " aku tidak apa - apa, aku ingin bilang dan meminta padamu untuk membatalkan acara pertemuan keluarga di hotel berbintang itu aku merasa itu terlalu berlebihan kalau hanya untuk lamaran saja aku ingin pertemuan secara private di rumahku"
Jeremy merasa terlihat sedikit shok"kau yakin akan melakukan di rumahmu, ayahmu.. pasti akan kecewa" seru Jeremy reina begitu kaget mendengar ayahnya disebut oleh Jeremy
" apa maksudmu,kenapa ayahku harus kecewa" tanya Reina lalu diapun tersadar " ahh.. apakah ini permintaan dari ayahku," seru Reina " Jeremy hanya diam "hemm menurutku, tidak masalah mau dimanapun itu,aku sama sekali tidak keberatan" jawabnya
" tapi aku keberatan, ini pernikahan kita ayahku tidak punya hak untuk ikut campur aku tidak menyangka ayahku akan melakukan hal memalukan seperti ini" Reina berkata dengan wajah sedih Jeremy mendekati wajah Reina yang mulai sembab matanya terlihat berkaca - kaca tak lama lagi air matanya akan jatuh Jeremy memegang pipi gadis itu dan mencoba untuk menenangkannya " kau tak perlu hawatir, bagi ku itu tidak ada artinya apa - apa, dan menurut ku ini hal yang bagus, untuk membuat opini publik tentang ku yang diberitakan pernikahan karena pelarian bukankah itu konyol sekali" seru Jeremy yang tersenyum jengkel Reina hanya menatap polos dengan mata sendunya " tidak apa - apa, aku baik - baik saja terima kasih, karena kau yang menjadi prisaiku"kata Jeremy lagi sambil memeluk tubuh gadis itu Reina merasa jantungnya berdegup kencang,pipinya memerah kenapa dia harus melakukan hal seperti ini,membuatku akan lebih salah paham saja" Reina berkata dalam hati, suasana di ruangan itu begitu hening hanya ada mereka berdua Jeremy mulai merasa tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menyentuh gadis itu perlahan wajahnya mulai mendekat Reina merasa gugup apakah dia akan menciumnya disini apakah Jeremy benar - benar akan melakukannya denganku, suara hatinya trus berkata wajahnya mulai panas Jeremy hampir saja akan mencium gadis itu tapi dia menahannya " baiklah, kurasa cukup pembicaraan ini, aku tidak masalah walaupun itu permintaan ayahmu," serunya sambil menjauh perlahan " apa ini tidak terjadi apa - apa dalam hatinya kecewa aku rasa aku terlalu berharap akan mendapatkan ciuman" gumamnya lagi dalam hati sebaliknya Jeremy menyembunyikan wajahnya yang terlihat malu dia berusaha untuk memalingkan wajahnya kearah lain agar tidak terlihat jelas oleh Reina "baiklah, jika itu sudah menjadi keputusanmu mari kita lakukan saja seperti itu" kata Reina sambil tersenyum dia sama sekali tidak menyadari akan perasaan jeremy
lalu merekapun sepakat keduanya merasakan kekecewaan karena apa yang mereka harapkan tak terjadi, Jeremy tidak ingin membuat gadis itu merasa terbebani Karena itu dia tidak melakukannya padahal dalam hatinya dia ingin sekali memeluk dan mencium gadis itu.
" kenapa pikiranku begitu m***m, yang benar saja aku mengharapkan hal itu akan terjadi, sadarlah Reina kau hanya perisainya tidak lebih dari itu" Reina berusaha untuk sadar pada dirinya perasaannya mulai berbunga ke arah yang bertentangan dengan hatinya.