Episode 4

226 Words
"Yolanda," Ibunya membulatkan bola matanya yang berbalut soft lens berwarna apricot. "Daddy dan Moma tidak pernah mengatakan apa-apa tentang ini!" "Kalau kami mengatakannya kepadamu apakah kau tidak akan memberontak dan kabur dari kami?" tiba-tiba dari ujung pintu seorang pria klimis berpakaian necis dengan dinner jacket berwarna senada dengan istrinya. "Tapi Daddy..." "Coba katakan pada Daddy respon itukan yang akan kau pilih jika kami memberitahumu tentang keputusan ini," sesekali pria berumur 58 tahun yang terlihat lebih muda itu mengusap kumis tipisnya. "Bagaimana Daddy bisa yakin sekali jalan itu yang mungkin terpikirkan olehku." "Tapi kaliankan tahu hubunganku dengan Adrian," kami serius menjalani hubungan," jelasnya mencoba menyakinkan kedua orangtuanya. "Bukannya kalian suka dengan Adrian, kalian akrab dengannya dan kalian menerimanya..." "Daddy suka Adrian, dia karyawan yang cemerlang dan cerdas. Dia dengan mudah mendapatkan promosi." "Lalu apalagi? Dia baik dan Yo mencintainya, kami saling mencintai." "Saling mencintai saja tak cukup Yo untuk membangun rumah tangga dan membangun perusahaan ini." "Benar, Daddy sama saja dengan kolega Daddy, ikan di air kolam yang sama memiliki kebiasaan yang sama juga." "Yo, ini demi kebaikanmu. Di masa depan kau akan berterimah kasih pada pilihan kami ini," Momanya meyakinkan. "Baik untuk Idris Corp bukan untuk Yolanda Idris." "Berhentilah bersikap melodramatis dan kembalilah ke bawah." "Dalam keluarga yang katanya menjunjung kebebasan dan demokrasi ini ternyata tidak peduli dengan perasaan oranglain bahkan kepada kebahagiaan putri satu-satunya keluarga ini. Apa namanya semua ini jika bukan sebuah pengkhianatan. aku mera seperti telah dikhianati!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD