Episode 14

608 Words
"Ya, kenapa tidak demi memperluas jaringan bisnis dan siapapun wanita yang kunikahi aku tidak peduli. Dimanapun tempatnya wanita tetaplah wanita, bahkan ketika telanjang pun bentuk mereka tetap sama." "Kamu menjijikan! Aku tidak ingin menikah denganmu!" "Besok kita akan dinner. Jam 8 aku akan menjemputmu," ucap Arash penuh perintah dan tak bisa digugat. "Apa? Aku tidak mau?" "Orangtua kita sudah memesan kapal pesiar untuk dinner kita," ucapnya. "Aku tidak ingin pergi kemanapun," akunya. "Ini adalah perintah orangtua kita." "Aku tidak diperintah siapapun!" "Aku pastikan kau akan datang," ucapnya sebelum pergi. Mendengar ucapan Arash membuat Yolanda benar-benar kehilangan harapan. Dia hanya mendesah keras dan menatap punggung pria yang berlalu itu. Kedua belah pihak keluarga telah menyewa sebuah kapal pesiar bersama bernama Majapahit yang berlayar di selat sunda. Kapal seluas lapangan gold itu terapung dengan sangat mewah. Di ujung paling atas dari kapal pesiar itu ada sebuh tempat cukup luas yang menampung meja dan kursi dengan gaya Indonesia. Arash dengan sopan menarik kursi untuk Yolanda, gadis itu hanya bungkam sejak dia datang. Bahkan sampai makanan telah cukup lama dihidangan, todal ada satupun dari mereka yang menyentuh makanan itu. Mereka hanya diam satu sama lain dan sesekali saling berpandangan tajam. Mereka seakan telah siap berperang satu sama lainnya. "Aku tidak suka dengan gadis yang keras kepala." "Tidak ada yang bertanya tentang seleramu!" "Bersikaplah seperti ini hanya akan menyulitkan dirimu sendiri," peringatnya sambil meminum wine merahnya. "Aku tidak ingin menikah! Harus aku katakan berapa kali padamu? Aku tidak ingin menikah denganmu!" "Lalu apa maumu? Kita tidak mungkin membatalkan undangan yang akan berakibat pada efek jatuhnya penjualan saham kita. Kau tahu itukan, kau pasti tahu sebab kau juga seorang direktur di tiga anak perusahaan Idris". "Bukan anak perusahaan. Aku membangun perusahaan itu sendiri dari nol." "Tapi tetaplah perusahaanmu itu didalam jaringan Idris Corp." "Aku ingin kita tidak menikah dan tidak ingin menjatuhkan perusahaan kita masing-masing." "Aku tidak suka ikut permainan yang dibuat orang lain." "Aku hanya ingin semua ini berakhir dan aku kembali pada kekasihku dan kau bisa kembali pada kekasihmu. Mustahil bukan kalau pria lajang dan menarik sepertimu tidak memiliki kekasih..." "Kau mengatakan dengan sadar aku menarik bukan?" Yolanda tertegun, dia telah mengucapkan sesuatu yang tidak bisa di tarik, hal yang membuat Arash tersenyum lebar. "Aku sudah tahu tak perlu kau katakan itu." Yolanda mengerutu ditempatnya dan dia melipat tangan di dadanya. "Aku harap kita bisa berkerjasama." "Apa keinginanmu?" Arash berfikir sejenak, "apa kau akan memberikan semua keinginanku kalau aku menuruti keinginanmu?" "Tentu saja aku akan memberikan semuanya." "Perusahaanmu di Palmerah. Aku ingin akusisi." "Apa? Bukankah itu..." "Aku sudah memiliki semua dan aku bisa mendapatkan semuanya..." "Tapi kenapa perusahaanku yang sudah stabil itu bukan kedua perusahaanku yang baru berkembang?" "Karena aku bisa mendapatkan apa saja dengan uangku tapi sebuah perusahaan stabil bisa semakin mengkokohkan jaringan bisnisku di negara ini.." Yolanda berfikir cukup lama, dia harus membuat pilihan. Adrian atau perusahaan. Dia harus menentukan diantara kedua hal tersebut mana yang lebih penting, "b-baiklah." "Lalu bagaimana permainanmu?" pancingnya. "Bukankah tadi kau bilang bahwa jika kita membatalkan pernikahan ini akan mengakibatkan pada bursa penjualan saham perusahaan kita masing-masing?" jelasnya kemudian.. "Tapi jika kita bercarai itu tidak akan berpengaruh pada penjualan saham kita," katanya. "Perceraian adalah hal yang biasa bukan dikalangan kita?" "Jadi begitu yang kau pikir?" "Begitulah." Arash telihat berfikir beberapa saat, "baiklah, kita akan menikah lalu bercerai," ucapnya kemudian. Mereka berdua tersenyum kemudia saling berjabat tangan sebagai tanda persetujuan. "Segala hal tentang perjanjian ini akan segera kubuatkan untukmu," jelas Yolanda sebelum memegang sendok garpunya, "jika kita bairkan makanan ini tak tersentuh, hal itu akan membuat curiga orangtua kita?" Arash hanya menatap dengan pandangan sengit pada Yolanda. Hari-hari setelah makan malam dikapal pesiar itu, diisi dengan fitting baju pengantin dirumah mode paris yang membuat mereka harus terbang ke Singapura kemudian terbang ke Bali dan prewedd disan sekaligus acara pemberkatan yang akan diadakan di Sanur. Yolanda memeras otaknya agar merasakan segalanya berjalan lebih cepat sehingga ia bisa kembali pada kehidupannya yang semula.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD