Episode 8

484 Words
"Pihak-pihak yang kau maksud itu pasti keluargaku," Yolanda mendesah. "Ayahmu telah memutuskan sebuah keputusan final yang tidak mungkin dirubah." "Ya aku tahu. Aku ingin kita mencari kepastian dan jalan keluar untuk hubungan kita ini," tekan Yolanda. "Ya aku tahu." "Lalu kemanakah engkau belakangan ini?" "Pusat mengirim sebuah surat tugas meeting ke Batam. Surat permintaan yang kutdanda tangani tanpa berfikir ulang karena iming-iming promosi besar jika aku berhasil memenangkan proyek ini. Yang tak kutahu bahwa itu hanyalah sebuh jebakan. Ya jebakan. Karena sebuah iming-iming promosi dan pernyataan kesediaan yang harus kupertanggung jawabkan, dan jika kuabaikan aku akan kehilangan pekerjaan ini. Yang mana nantinya hanya akan mempersulit hubungan kita." "Lalu kenapa kau tak datang ke apartemenku? Telpmu tidak bisa kuhubungi? Aku tak mendapat kabarmu dari manapun bahkan emailpun tidak kau balas." "Semua jaringan komunikasiku kepadamu terputus. Emailku dihacker, hanphoneku tiba-tiba dicuri orang." "kaukan bisa menelponku, kau hafal nomerku." "Setelah itu aku sibuk. Bahkan aku dibuat tidak punya waktu untuk menelpon siapapun. Mengerikan sekali apa yang kita hadapi ini," keluhnya. "Ad..." "Kita sedang perang Landa, Perang melawan pihak yang ternyata telah mempersiapkan taktik penyerangan sempurna yang sangat cerdas untuk memblokir hubungan kita. Kita ini seperti kota Nagasaki yang di bom nuklir dengan mengejutkan. Keputusan Ayahmu begitu mengejutkan kita yang tanpa persiapan apa-apa." Adrian menyentuh lembut tangan Yolanda dengan lembut, memberi usapan-usapan di punggung tangannya dengan ibu jarinya. "Hubungan kita sedang diuji, yang mana akan membuktikan sebesar apa cinta kita satu sama lain. Aku mencintaimu Landa, kamu wanita yang sangat sempurna di mataku. Apa kamu mau memperjuangkan cinta kita?" Yolanda berkaca-kaca mendengar kekasihnya berkata seperti itu. Dia tidak menjawab dan langsung memeluk erat Adrian, "aku mencintaimu sayang, aku mencintaimu, oh Tuhan aku benar-benar mencintaimu." Dia menarik tubuhnya kemudian mencium Adrian dengan sangat lembut. Ciuman-ciuman lembut itu semakin lama semakin membuat tubuh mereka terbakar gairah dan ciuman merekapun semakin panas. Mereka saling menuntut pelampiasan satu sama lain. Adrian awalnya hanya membelai lembut punggung Yolanda, namun belaian-belaian itu semakin menuju tepi atas dari tubuh ramping berbalut blues itu. Dan dalam sekejap saja tangan Adrian sudah membelai disekitar p******a wanita itu. Bedan kenyal di d**a Yolanda membuat Adrian tak bisa berfikir, dia semakin keras mencium kekasihnya dan sesekali mengigit lembut bibir gadisnya. Detik kemudian Adrian menyusupkan tangannya ke dalam blues Yolanda. Memremas dengan gemas d**a gadis itu dan mengirimkan aliran panas yang semakin membuat gerah. Bagian tubuh terliar Adrian mengeras ketika merasakan p****g Yolanda kaku dalam takupan tangannya. "Ya Tuhan Yolanda, sudah berapa lama aku tidak menyentuh tubuhmu. Aku seperti tidak bisa berfikir apapun selain dirimu..." Yolanda yang terbakar gairahnya tidak membiarkan Adrian berkata apapun lagi, dia menutup mulut laki-laki itu dengan bibirnya sambil tangannya merayap pelan ke s**********n pria itu. "Aku menrindukan dia di dalam jepitan tubuhku," bisik Yolanda membuat tubuh Adrian bergetar hebat. "Aahhh... Aku..." belum menyelesaikan ucapannya sebuah gedoran keras terdengar dari pintu apartement Adrian. Ketukan keras di sela-sela suara tak asing yang terdenganr seperti petir di siang bolong. Adrian dan juga Yolanda tergagap. Mereka cepat-cepat merapikan pakaian dan mengabaikan ketukan serta teriakan yang semakin keras saja. "Yolanda!!!" teriaknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD