Adrian dengan cepat membuka pintu sebelum suara di luar sana tidak sabar dan menghancurkan apapun yang dapat dihancurkan.
Begitu pintu di buka tiga pria berotot dan bertatto masuk dan langsung memeganggi tubuh Adrian. Yolanda berteriak ketika salah satu pria itu memberi pukulan mentah ke arah Adrian, membuat pria itu berhenti dari rontaannya.
Yolanda akan berlalu ke arah kekasihnya itu, namum belum sempat berlalu, tubuhnya sudah dipegangi oleh ajudan Dadddynya.
"Selangkah kau bergerak dari tempatmu, aku akan membuat pria itu dihajar sampai mati," ancam Daddynya dengan sungguh-sungguh.
Yolanda terpaku di tempatnya. Dia memandang nanar kearah kekasihnya dan menatap dengan sengit kepada Daddynya. "Lepaskan Adrian Dad. Yolan yang mendatangi Adrian."
"Kau seperti seorang s****l murahan saja. Dimana harga dirimu. Laki-laki macam ini yang membuatmu sampai menentang Daddy!" amuknya. Dia menatap kearah Adrian kemudian berjalan pelan ke arah pria itu.
"Bukankan aku sudah menjelaskannya padamu b******n! Jangan pernah menggagu raja hutan yang tertidur atau nyawamu melayang," ancamnya mengerikan.
"Aku tidak pernah berbuat keji dan tidak adil pada orang lemah, tapi jika itu untuk melindungi keluargaku, aku tidak keberatan untuk mencincang habis orang itu. Aku sudah memperingatkanmu! Jika kau tidak mendengarkan perkataanku, keluargamu yang tinggal satu-satunya, wanita itu akan kuhancurkan sampai tidak tersisa," mata Adrian terbelalak seketika. "Seret Yolanda keluar!" perintah sang Daddy kepada ajudannya.
"Daddy jangan...Daddy..." teriak Yolanda. "Pak Tris lepaskan aku, lepas!" Ajudan Daddy yang bertubuh kekar itu tidak bergeming.
"Berani-beraninya kalian memperlakukanku begini..." Umpat Yolanda ketika dengan keras ajudan Daddynya membantingnya ke jok belakang mobil Mercedes-Benz mereka.
Yolanda menekuk mukanya dan mempertajam pendengarannya, dia mencoba menerka-nerka apa yang terjadi di dalam sana. Dia sungguh mengkhawatirkan Adrian. Tanpa sadar di mengosok-gosokan kedua tangannya dengan gelisah sambil berdoa untuk keselamatan kekasihnya itu.
Dari kaca pintu mobil Daddynya dia bisa mengawasi apartemen itu. Ia baru mengigat sesuatu yang seharusnya dia sudah tahu. Sedari dia datang kemari tadi mobil ini telah ada dan terparkir tak jauh di apartemen kekasihnya. Yolanda tahu benar, bagaimana anak buah Daddynya bisa keluar masuk dengan mudahnya di area ini. Uang memiliki magis terbesar untuk mengendalikan segala hal.