Yolanda seakan berhenti bernafas ketikda melihat Daddynya keluar dari apartemen itu kemudian membuang cerutunya, tampang Daddynya sekarang benar-benar seperti gembong mafia yang ada di film-film Rusia yang sering ia tonton dengan Adrian. Yolanda tidak pernah menyangka dan iapun mengidik ngeri ketika mendengar keributan di dalam apartemen itu. Dia mengedor-gedor kaca mobil.
"Adrian... Ad..." teriaknya, "Daddy, Daddy cukup Daddy cukup!"
Sang Daddy masih berekpresi data, dia memberi isyarat dan iapun segera masuk ke mobil dimana Yolanda disekap lalu di susul ajudannya. Sedang ketiga preman Daddynya keluar dari apartemen Adrian, mereka kemudian masuk ke mobil di deretan paling depan, yang ia yakini di bawa oleh Daddynya kemari. Cerdas sekali. Kamuflase yang tepat, mobil yang tidak mencolok dan mobil yang tidak dia kenali-mobil baru.
"sejak kapan keluarga ini berubah menjadi keluarga Mafia?" tudingnya kepada sang Daddy ketika Yolanda duduk di hadapan Moma dan Daddynya di meja bundar mereka. Suatau kebiasaan di rumah Yolanda, bahwa suatu pertikaian antar keluarga akan diselesaikan dalam rapat meja bundar. " Dan ya Tuhan sejak kapan keluarga ini menjadi seorang penganut Javanese ortodok?"
"Sejak putri tunggal keluarga ini mengancam keberlangsungan dan masa kedepan keluarga ini," jawab Momanya sengit,"serta nama baik keluarga ini dipertaruhkan, serta yang lebih penting untuk menglindungi putri tunggal, pewaris keturunan satu-satunya keluarga Idris, serta..."
"Serta, serta, serta apa lagi Moma?" Yolanda mengejek pemilihan kata Momanya.
"Semua ini demi kebaikanmu Yolan," kata Daddynya.
"Bukan Dad, bukan demi kebaikanku tapi demi kebaikan Idris Copr." Dia mulai mengugat," ini bukan untuk kebaikanku, Daddy bersikap bar-bar, kejam, dan membabi buta seperti mafia. Ikut campur dan mengancam kebahagiaanku.
Aku tidak lagi memiliki ruang gerak, semua fasilitas, komunikasi bahkan uang yang aku miliki dan aku hasilkan sendiri, semuanya disabotase. Kebaikan macam apa ini? Kebaikan tak perlu kekerasan Daddy....."
"Tapi menglindungi itu perlu kekerasan," bantah Daddynya.
"Aku belum selesai Dad," ucap Yolanda, "dan apa-apaan ini Moma?
Sejak kapan Moma menjadi javanisme yang taat? Sejak kapan ajaran kejawen dipraktekan dalam keluarga ini. Sehingga aku harus dipinggit macam ini, harus diruwat, diapalah.."keluhnya," Moma, aku lelah!"
"Perlawanan memang hanya akan membuatmu lelah sayang," ucap Momanya.
"Aku sungguh tidak mengerti Dad. Aku hanya ingin mendapatkan kebahagiaanku dengan orang yang aku cintai dan tolong hentikan semua perlakuan 'gila' ini. Dan aku mohon Dad, batalkan pertunangan itu. Aku tidak ingin menikah dengan pria asing itu," Yolanda memelas.
"Yolan, kita mengadakan rapat meja bundar bukan untuk mendengar renggekmu. Bersikaplah dewasa dan kembalilah rasional...."
"Bagaimana aku bisa rasional jika ini menyangkut kebahagiaanku.
Terkadang kebahaguaan itu bisa didapat secara irrasional Dad."
"Sejak kapan putri Moma seperti anjing yang mengonggong. Diam dan dengar Daddymu. Kami tidak ingin dibantah!"
"kita mengadakan rapat meja bundar ini untuk membahas tamu yang akan datang seminggu lagi," ungkap Daddynya.
"Tamu?"
"Mr.Wailmar akan datang. Dan pernikahan akan segera dilangsungkan."
"Tapi Dad. Ini, ini terlalu mendadak," dia berdiri seketika itu juga, tapi kemudian duduk kembali setelah menerima isyarat dari Daddynya.
Entah setan apa yang merasuki sang Daddy sehingga dia bersikap keras seperti sekrang, sikap seorang Alfa yang tidak bisa dilawan.
"sikapmulah yang membuat kami semua mengambil tindakan cepat ini. Kau mengerti?" kata Momanya.
Yolanda menghela nafas panjang. "Aku hanya ingin bahagia. Aku hanya ingin bahagia Dad, dengan pria yang tepat." Setelah berkata begitu Yolanpun menangis. Momanya lekas-lekas memeluk gadis itu dan mencoba menenangkannya. "Berikanlah aku kesempatan untum mencari kebahagiaanku... aku mohon!"