Yolanda frustasi. Dia kehabisan akal untuk bisa membatalkan pernikahannya dengan putra pemilik perusahaan raksasa barat itu. Segala bujuk rayu telah ia keluarkan kepada kedua orangtuanya namun nihil hasilnya. Dia sungguh tak mengerti dan sungguh tak percaya, pernikahannya akan dilangsungkan minggu depan.
Ia hanya ingin bahagia, memiliki keluarga ideal dan harmonis seperti ayah dan ibunya, yang saling mencintai dan mengasihi. bukan sebuah pernikahan atas dasar bisnis, yang sangat jauh dari bayagannya. Ia hanya ingin seperti kedua orangtuanya, Daddynya yang merupakan warga kenegaraan Jerman berdarah Batak memulai bisnis ke Indonesia, dia mendarat tepatnya di Bali puluhan tahun silam, kemudian bertemu dan jatuh cinta pada seorang gadis Bali yang dia lihat di sebuah pementasan tari.
"Gadis itu adalah Momaku. Seorang penari yang mampu memukau Jetset asing seketika itu juga. Awalnya hubungan mereka pun tak direstui namum seiring berjalannya waktu semuanya membaik. Moma diterima di keluarga Daddy setelah dia berhasil membuka 4 butik yang tersebar di kawasan sentral fashion asia. Jaringan butik Moma cukup terkenal bahkan Brand Moma sudah mulai dipakai oleh para Sosialitas-sosialita Cina dan Singapura. Cinta yang indah bukan?"
Gerutu Yolan pada dirinya sendiri.
Dia menghela nafas dalam-dalam setelah mendapat sebuah perintah dari kedua orangtuanya untuk menjemput Mr.Wailmar. Dengan mengangkat dagunya ia berjalan penuh percaya diri, harapan atas ide gilanya yang tiba-tiba datang pagi ini berhasil ia lakukan. Sebuah ilham cahaya di tengah gelapnya hidup yang dia jalani.
"Kau serius mau memakai baju karung itu?" seru Momanya sedikit melebih-lebihkan apa yang sedang dikenakan anak gadisnya. Istilah 'karung' bukan benar-benar karung yang digunakan membungkus beras, tapi lebih ke arah baju yang sangat longgar seperti daster rumahan, yang sengaja dikenakan Yolanda untuk membuat si Mr.Wailmar tidak tertarik kepadanya.
"Moma ini bicara apa? ini adalah pakaian paling nyaman dan stylish yang pernah aku kenakan Mom," dalihnya.
"Tapi itu terlihat menjijikan sayang," Momanya mengamati Yolan dari ujung rambut hingga ujung kaki. "Dan, dan apa-apaan topi pantai itu... kau seperti penyanyi dangdut era 90-an. Gantu baju karungmu itu dengan sesuatu yang lebih pantas dikenakan!"
"Ma, ini kaftan bukan daster apalagi karung." Dia menarik sisi-sisi samping baju yang dia kenakan. Yolanda berputar dan menyakinkan Momanya.
"Oke, tapi ingat ucapan Moma, jangan harap dengan berkelakuan aneh pernikahan ini bisa dibatalkan," peringatnya membuat Yolanda berdiam kaku.
Dia sudah berusaha sangat keras hari ini, ide untuk tampil sebutuk mungkin di depan calon suaminya kini telah sedikit menyurutkan harapannya, itu semua karna ucapan Momanya barusan. Dia kembali menghela nafas. Dan masuk kedalam mobil. Mobil melaju di tengah jalan Jakarta yang macet. Hampir 45 menit kemudian barulah mereka sampai di bandara Soekarno-Hatta.
Dengan lemas dia mengikuti Momanya dari belakang dan bergabung dengan Daddynya yang telah menunggu cukup lama di ruang tunggu bandara. Di sampingnya beberapa pengawa mengekor.
"Lama sekali," kelih pria itu ketika melihat istri dan anaknya sampai.
"begitulah," ucap Moma Yolanda tidak begitu peduli. Dia seperti kelelahan.
"Dan apa-apaan yang dikenakan Yolan? Dia terlihat seperti binatang malam, keleler!"
"Kelelawar tuan," pengawalnya yang mendengar membenarkan ucapan tuannya.
"Ya, itulah pokoknya."
"Sudahlah aku tidak ingin membahasnya. Aku sudah memperingatkan anak gadis kita itu," kata Momanya. "Apa mereka sudah sampai?"