Episode 12

488 Words
Dia tidak mengerti mengapa Momanya begitu memaksanya untuk datang ke kamar Arash dan menyuruhnya memanggil pria itu untuk makan malam. Apakah laki-laki itu tidak punya jam sendiri dan menyadari berapa banyak orang sedang menunggunya. Yolanda mengetuk pintu dengan terpaksa, sekali dua kali. Lebih keras dan lebih keras lagi. Tapi tak ada sahutan dari dalam. Dia mencoba menempelkan telinganya dan sayup-sayup mendengar orang berbicara. Dia langsung tahu Mr.Arash Wailmar itu ada di dalam. Dia mengetuk sekali lagi dan lebih keras tapi tetap saja tak ada sahutan dari dalam. Diapun akhirnya memutar knop pintu dan mendorongnya dengan cukup keras, ia menarik nafas panjang dan berkomitmen pada dirinya sendiri untuk tidak terpengaruh terhadap pria itu. "Mr.Wailmar," Yolanda masuk ke dalam ke kamar suiteroom yang luas itu, lalu ia berjalan menyusuri deretan lorong sepanjang 50 meter yang dindingnya penuh lukisan dan ketika dia masuk kearah ranjang ia tidak mempersiapkan untuk apa yang dia lihat. Hal pertama yang dia rasakan adalah terkejut ketika melihat Arash duduk di ranjang dengan telanjang sambil mengusap rambutnya yang basah dengan handuk. Melihat kehadiran Yolanda di kamarnya yang mengejutkan membuat pria itu seketika berdiri. Mereka saling berpandangan dan perlahan-lahan Arash tersenyum melihat kearah Yolanda. "Kau suka dengan apa yang kau lihat sayang?" perkataan arash membuat Yolanda tersadar dan mengalikan pandangannya dari s**********n Arash. Dia memaki pelan kemudian membalikan badan. Yolandan membaca do'a beberapa kali untuk menghilangkan ingatan tentang apa yang barusan dia lihat. "Kalau kau suka aku tidak keberatan kalau... kau dan aku..." tanpa disadari oleh Yolanda Arash sudah ada di belakangnya. "Ma'af aku tidak sengaja, aku dari tadi sudah mengetuk pintu dan memanggilmu tapi tak ada sahutan. Kemudian, kemudian aku mendengar suaramu jadi aku langsung masuk saja..." Yolanda mengutuki dirinya sendiri. "Sekarang kau bisa berbalik." "Benarkah, apa sudah?" "Ya," jawab singkat Arash sambil melilitkan handuk di tubuhnya, namun ketelanjangan d**a Arash membuat Yolanda tertegun. Dengan jelas ia dapat melihat dadanya yang bidang dengan garis tipis rambut disekitar pusar sampai ke bagian yang tertutup handuk. Rambut Arash yang basah dan masih mengeluarkan tetesan air membuat Yolanda sedikit gusar. "Mr.Wailmar,Aku..." Ralat Arash. "Arash. Bukan Mr.Wailmar sayang." "Mr.Arash..." "Bisakah kau menghilangkan kata Mr di perkataanmu dalam memanggilku?" "Baiklah, Arash aku datang kesini untuk memberitahumu bahwa kedua orangtuaku mengundangmu dan ayahmu untuk makan malam bersama," Yolanda menatap Arash tajam kearahnya. "Kau cantik sekali. Kau mampu membuat pria mana saja sulit tidur," pujinya sungguh-sungguh. Ucapan Arash begitu lembut hingga mengelitik perasaannya. Adrian selama mereka bersama tidak pernah memujinya seperti itu, piki Yolanda kemudian. "Dan tubuhmu sangat bagus," Yolanda melotot." Aku hanya mengagumi keindahan calon istriku," aku Arash jujur. "Ma'af Arash, ini Indonesia, kami punya etika. Bisakah kau sedikit memjaga bicaramu dan bersikap lebih sopan," Yolanda benar-benar terkejut melihat kelancangan laki-laki yang baru saja ia temui itu. Seharusnya dia sudah bisa menebak tentang hal ini. "aku tidak b******k sayang, apa salah mengagumi calon istri sendiri." "Disini tidak ada yang sudi menjadi istrimu!" ucap Yolanda kasar membuat Arash terpaku di tempatnya. Dia meyakinkan dirinya bahwa dia melihat sorot mata kebencian di bola mata Yolanda. Hal itu membuatnya bertanya-tanya. Belum sempat bertanya Yolanda berlalu darinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD