Norma Mengikuti Laura

1273 Words
Sementara itu Laura menerima pesan lagi dari CEO Lee dan ia menghembuskan nafasnya kasar. Kimmy yang melihat ekspresi Laura pun penasaran, "pesan dari siapa sih?" Tanya Kimmy. Laura pun memandang Kimmy dengan santai, "Oh, itu hanya pesan dari tetanggaku. Pesan biasa saja." Jawab Laura santai. Kimmy pun tertawa kecil, "Ah, begitu ya. Aku pikir ada sesuatu yang penting. Baiklah, tak apa-apa. Jadi, apa yang ingin kita lakukan setelah makan siang?" Tanya Kimmy. Laura tersenyum, "Sebenarnya, aku masih ingin melanjutkan beberapa pekerjaan di kantor. Ada beberapa hal yang perlu dikerjakan. Kamu bisa melanjutkan dengan Vania dan juga Michelle jika kamu mau." Saran Laura. Kimmy mengangguk, "oke aku mengerti." Laura pun akhirnya pergi meninggalkan meja itu dan kembali ke kantor setelah berpamitan pada semuanya. Sesampainya di kantor, Laura langsung masuk ke ruangannya, tanpa memperhatikan Norma yang ada di mejanya dan menatap Laura sinis. Laura duduk di meja kerjanya, lalu ia memperhatikan ponselnya dan memikirkan pesan yang diterima dari CEO Lee. Meskipun Laura sebelumnya mengatakan itu hanya pesan biasa, namun sebenarnya hatinya berdegup cepat karena penasaran dengan isinya. Laura memutuskan untuk membuka kembali pesan dari CEO Lee dan membacanya dengan seksama. Ia merasa penting untuk merespons pesan tersebut dengan baik dan memberikan penjelasan yang memadai kepada CEO Lee. Laura mengetik balasan yang panjang dan terperinci, menjelaskan mengapa ia hanya memberikan respons singkat sebelumnya dan berjanji untuk berkomunikasi dengan lebih baik untuk kedepannya. Setelah selesai menulis balasan, Laura menekan tombol kirim dan merasa lega. Ia berharap bahwa penjelasannya akan memperbaiki persepsi CEO Lee tentang dirinya. Laura kembali memfokuskan pikirannya pada pekerjaan yang harus diselesaikan, sambil menunggu tanggapan dari CEO Lee. Sementara itu CEO Lee duduk di meja kerjanya sambil membaca pesan balasan yang dikirim oleh Laura. Saat ia membaca kata-kata yang ditulis dengan penuh perhatian dan kejelasan, senyum tipis mulai terbentuk di wajahnya. Ia merasa terkesan dengan kesungguhan dan komitmen Laura dalam memberikan penjelasan yang terperinci. Dalam hatinya, CEO Lee merasakan kehangatan dan rasa kenyamanan yang terbangun sejak ia semakin dekat dengan Laura. Ia menyadari bahwa setiap kali berinteraksi dengan Laura, senyumannya muncul dengan lebih mudah. Laura telah berhasil membangun kedekatan yang membuat CEO Lee merasa nyaman dan senang. CEO Lee menarik napas dalam-dalam sambil tersenyum, merenungkan bagaimana Laura mampu mempengaruhi suasana hatinya dengan sederhana. Ia merasa terbuka untuk mengenal Laura lebih dalam lagi, baik sebagai atasannya maupun sebagai individu yang menarik. Dalam keheningan ruang kerjanya, CEO Lee mengingat kembali momen-momen menyenangkan yang mereka habiskan bersama, dan ia berharap bahwa kedekatan ini dapat membawa mereka menuju keberhasilan bersama dalam departemen pemasaran. Dengan senyuman yang masih terukir di wajahnya, CEO Lee kembali fokus pada tugas-tugasnya yang menanti, dengan keyakinan bahwa keputusan untuk mempercayakan Laura sebagai kepala departemen pemasaran adalah langkah yang tepat. Sore harinya, Laura keluar dari ruang kerjanya dengan langkah cepat, penuh semangat setelah menyelesaikan tugas-tugasnya. Saat ia mencapai halaman perusahaan, pandangannya tertuju pada sebuah mobil mewah yang sedang menunggu di depannya. Laura memperhatikan dengan heran, tak menyangka bahwa mobil tersebut adalah untuknya. Pintu mobil terbuka dengan elegan, dan seorang sopir mengangguk sopan mempersilahkan Laura masuk. Tanpa ragu, Laura naik ke dalam mobil yang nyaman dan mewah itu. Saat mobil bergerak meninggalkan perusahaan, Laura tidak menyadari bahwa Norma, yang berada di taksi, memperhatikan kepergian Laura dengan ekspresi yang penuh kecemasan. Norma meminta sopir taksi untuk mengikuti mobil yang ditumpangi Laura. Hatinya penuh dengan rasa cemburu dan keinginan untuk mengetahui lebih banyak tentang kehidupan Laura yang tampak semakin glamor dan sukses. Saat mobil dan taksi melaju di jalan-jalan kota, Norma duduk dengan tegang, memperhatikan setiap gerakan mobil yang di dalamnya berada Laura. Ia berusaha untuk tidak terlihat mencurigakan, menghindari kecurigaan Laura bahwa ia sedang diikuti. Dalam hati Norma bersumpah bahwa ia tidak akan membiarkan Laura menikmati kesuksesannya dengan tenang. Ia merasa harus menemukan celah untuk menghancurkan Laura dan membalaskan dendamnya. Keinginan Norma untuk menyingkirkan Laura semakin kuat, dan ia bersiap untuk menghadapi segala konsekuensi yang mungkin timbul dalam permainan berbahaya yang akan dimulainya. Taksi dan mobil mewah terus melaju, menuju tujuan yang tidak diketahui. Perjalanan ini menjadi awal dari pertemuan dan perjuangan yang akan mengubah kehidupan Norma dan Laura secara tak terduga. Mobil mewah yang ditumpangi Laura berhenti di depan sebuah salon mewah dan mahal. Pintu mobil terbuka, dan Laura melangkah keluar dengan elegan. Norma masih memperhatikan dari taksi, matanya terbelalak tak percaya saat melihat Laura masuk ke dalam salon tersebut. Norma tidak dapat menahan keheranan dan kecemburuan yang melanda dirinya. "Dia masuk salon mahal?" Pikir Norma. Ia tidak pernah membayangkan bahwa Laura memiliki akses ke tempat sekelas dan mewah seperti itu. Tanpa ragu, Norma memutuskan untuk terus memantau Laura dari taksi, ingin tahu apa yang sedang terjadi di dalam salon tersebut. "Pak sopir, kita tunggu di sini," ujar Norma. Sopir taksi terlihat agak keberatan. Namun Norma langsung mengatakan, "nanti aku bayar tiga kali lipat." Ujar Norma. Sopir pun langsung mengangguk. "Baik Nona. Baik," jawab sopir. Mobil mewah tempat Laura turun tetap berada di tempat parkir, menunggu dengan sabar. "Mobilnya sangat mewah," ucap Norma pelan. Norma tetap berusaha menjaga jarak agar tidak terlalu mencolok, menunggu Laura keluar dari salon mewah itu. Ia berpikir keras tentang apa yang mungkin terjadi di sana "Apa Laura sedang mendapatkan perawatan kecantikan atau melakukan pertemuan penting dengan seseorang yang berpengaruh?" Pikir Norma berspekulasi. Dalam taksi yang kini terparkir, Norma merasa kehilangan kendali atas situasi. Rasa cemburu dan keinginan untuk menyingkirkan Laura semakin membara di dalam dirinya. 'Aku harus bisa menemukan cara untuk menandingi Laura, untuk menghancurkan citranya,' batin Norma. Sementara itu, mobil mewah yang setia menunggu di tempat parkir memberikan kesan bahwa Laura adalah seseorang yang diperhatikan dan dihormati. Norma merasa terpukul melihat Laura mendapatkan semua itu, dan tekadnya untuk mengambil alih segalanya semakin kuat. Kedua perempuan itu, Norma yang penuh kecemburuan dan Laura yang tengah berada dalam mewah salon, berada di sisi yang berlawanan namun akan terus terhubung melalui pertemuan yang tak terduga di masa depan. Satu jam berlalu, Laura keluar dari salon dengan pakaian yang berbeda, penampilan yang luar biasa, dan memancarkan aura kecantikan yang memukau. Namun, Norma yang sibuk dalam pikiran dan rasa cemburunya tidak menyadari perubahan tersebut. Ia terus memantau Laura dengan tatapan tajamnya, tanpa menyadari perubahan yang terjadi. Saat itulah, sopir taksi yang memperhatikan Laura sejak awal memberi tahu Norma dengan berbisik, "Nona, wanita itu keluar dari salon dengan penampilan yang luar biasa." Norma terkejut dan segera memalingkan wajahnya ke arah Laura. Mata Norma terbuka lebar saat ia melihat Laura yang tengah berjalan menuju mobil mewah. Dalam sekejap, Norma menyadari kecantikan luar biasa yang dimiliki Laura. Ia tak dapat menahan diri untuk tidak memuji kecantikan tersebut, meskipun dalam hatinya terasa perasaan iri yang tak terelakkan. "Laura begitu cantik," ucap Norma dengan suara yang hampir tercekat. Ia menyadari betapa Laura berhasil mengungguli dirinya dalam hal penampilan dan keanggunan. Norma tak menyangka bahwa Laura bisa begitu memukau, bahkan lebih cantik daripada dirinya sendiri. Laura memasuki mobil mewah dengan elegan, dan sopir yang setia menunggu mengikutinya. Mobil itu keluar dari area parkir salon dengan mantap, meninggalkan Norma yang masih terpaku dalam rasa kagum dan kecemburuan. Norma menyadari bahwa dirinya harus menghadapi persaingan yang sangat berat dengan Laura. Ia merasa tertantang untuk tidak kalah dalam segala hal, baik dalam penampilan maupun prestasi. Determinasi dan tekadnya semakin kuat untuk menjadi yang terbaik dan membuktikan bahwa dirinya juga memiliki keunggulan yang tak kalah dengan Laura. Dengan hati yang penuh tekad, Norma mengambil nafas dalam-dalam. Ia tahu bahwa perjalanan ini tidak akan mudah, namun ia bersiap untuk menghadapinya dengan segala kekuatan yang dimilikinya. Mobil mewah yang ditumpangi Laura mulai melaju, dan Norma meminta sopir segera mengikutinya. "Ikuti lagi mobil itu," pinta Norma. Sang sopir langsung menjawab, "baik Nona." Taksi yang ditumpangi Norma mengikuti mobil mewah yang ditumpangi Laura. Norma sangat penasaran tujuan Laura sebenarnya kemana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD