Niat Jahat

1005 Words
'Bagaimana jadinya jika Michelle tahu kalau pelakor yang dia maksud adalah aku?' Batin Norma. "Norma, ayo kita gabung bersama Laura!" Ajak Michelle. Deg! Setelah Norma mendengar cerita dari Michelle, dia merasa tidak nyaman dan tidak ingin bertemu dengan Laura dan teman-temannya. Dia mencari alasan untuk menolak ajakan Michelle dengan hati-hati. Norma tersenyum tipis pada Michelle, "terima kasih sudah mengajak, Michelle, tapi aku benar-benar harus segera ke kantor. Ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan hari ini." Ujar Norma. Michelle pun mengangguk mengerti, "Oh, begitu ya? Baiklah, aku mengerti. Kalau begitu, kamu harus segera pergi. Jika aku ingin bergabung dengan Laura, aku akan mencobanya nanti." Jawab Michelle. Norma mengangguk, "terima kasih atas pengertiannya, Michelle. Semoga kamu bersenang-senang dengan mereka." Harap Norma. Norma segera bangkit dari kursinya dan membayar makanan dan minuman yang ia pesan. Dia mengucapkan selamat tinggal kepada Michelle dan berjalan keluar dari restoran dengan perasaan campur aduk. Sementara itu, Michelle bergabung dengan Laura, Kimmy, dan Vania di meja mereka. Mereka mulai menikmati waktu bersama sambil berbincang-bincang. Michelle pun bicara dengan nada senang, "Akhirnya aku bisa bergabung dengan kalian!" Laura, Kimmy dan Vania pun tersenyum. Laura pun bertanya, "Oh iya, Bagaimana kabar Norma? Mengapa dia tidak ikut bergabung? Tadi kamu bersama Norma kan?" Michelle menggeleng, "Tidak, dia punya beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan di kantor. Jadi dia memutuskan untuk pergi lebih dulu." Jawab Michelle. 'Alasan saja Norma,' batin Laura. Laura mengangguk, "aku mengerti. Semoga dia bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Kita akan bersenang-senang di sini." Kimmy pun berseloroh, "Tentu saja! Ayo, Michelle, kita pesan makanan dan nikmati waktu kita bersama!" Mereka berempat pun melanjutkan makan siang mereka dengan penuh keceriaan, sementara Norma perlahan meninggalkan restoran dengan pikiran yang penuh kegelisahan. Kini Norma duduk di mejanya di kantor, tetapi pikirannya tidak sepenuhnya fokus pada pekerjaannya. Ia terus memikirkan Laura dan rasa tidak senangnya terhadap situasi ini. Dalam benaknya, ia yakin bahwa Laura hanya naik jabatan karena memiliki koneksi atau hubungan dekat dengan orang-orang dalam perusahaan. Norma berpikir dengan penuh kekesalan, 'Laura, Laura... kau pikir kau begitu pintar, ya? Kau pikir kau bisa naik jabatan dengan mudah karena memiliki orang dalam yang mendukungmu. Tapi aku akan membuktikan bahwa kau tidak kompeten.' Norma berkomitmen untuk mencari kesalahan atau kelemahan Laura yang bisa digunakan untuk merusak reputasinya. Ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan memberikan ketenangan kepada Laura. Ia merasa tidak senang melihat Laura menjadi atasannya dan ia ingin membalas dendam. Norma berkata pelan dengan penuh tekad, 'Aku akan mencari setiap kesalahanmu, Laura. Aku akan mengungkap siapa sebenarnya dirimu. Kau tidak akan mendapatkan kenyamanan atau kepuasan dalam peran barumu sebagai atasanku. Aku akan membuat hidupmu sulit.' Dengan tekad yang kuat, Norma memulai rencananya untuk menghancurkan Laura. Ia akan melakukan segala cara yang ia bisa untuk memastikan bahwa Laura tidak akan merasa tenang di posisi barunya. Sementara yang terjadi di restoran, Laura duduk di restoran sambil menikmati makanannya. Saat itulah, ponselnya bergetar, menandakan adanya pesan masuk. Laura mengambil ponselnya dan melihat bahwa pengirim pesan adalah CEO Lee. Hatinya berdebar sedikit karena tidak terduga menerima pesan dari atasannya. Laura membaca pesan dengan seksama. Isinya membuatnya terkejut. CEO Lee meminta Laura untuk bersiap-siap karena ayahnya ingin bertemu dengannya malam ini. Laura tidak bisa menyembunyikan ekspresi keterkejutan di wajahnya, tapi dia berusaha tetap tenang. Laura pun.berpikir dalam hati, 'Bertemu dengan ayah CEO Lee? Kenapa secepat ini? Apa yang sedang terjadi?' Laura memutuskan untuk membalas pesan tersebut dengan kata "oke". Meskipun ada kebingungan dalam pikirannya, dia berusaha menjaga ketenangan dan profesionalismenya sebagai kekasih bayaran. Laura melanjutkan makanannya sambil memikirkan apa yang akan terjadi pada pertemuan dengan ayah CEO Lee nanti malam. Dia merasa campuran antara gugup dan penasaran, namun dia tahu bahwa dia harus siap menghadapi apapun yang akan datang. Laura berpikir dalam hati, 'Aku tidak tahu apa yang ingin dibicarakan oleh ayah CEO Lee. Tapi aku harus tetap tenang dan memberikan yang terbaik.' Laura menghabiskan sisa waktu makan siangnya dengan pikiran yang melayang ke pertemuan malam nanti. Dia menyadari bahwa situasi di sekitarnya semakin menantang dan dia harus siap menghadapinya dengan kepala tegak dan sikap profesional. Di tempat lain di perusahaan Zanova Group, CEO Lee berdiri di dekat jendela ruangannya, memandang keluar dengan pikiran yang melayang. Tiba-tiba, ponsel yang dipegangnya bergetar, menandakan adanya pesan masuk. Dengan rasa penasaran, CEO Lee membuka pesan tersebut dan mengerutkan keningnya saat membacanya. CEO Lee melihat bahwa pesan tersebut berasal dari Laura, kepala departemen pemasaran yang baru. Ia mengharapkan tanggapan yang lebih lengkap dan terperinci dari Laura, tetapi hanya mendapatkan satu kata, "oke". CEO Lee merasa sedikit kecewa dengan balasan singkat Laura. Ia mengharapkan sikap yang lebih proaktif dan berkomunikasi yang lebih terbuka dari salah satu bawahannya yang baru saja mendapatkan jabatan penting. Tindakan Laura tersebut tidak sesuai dengan harapannya. CEO Lee menggelengkan kepala dengan sedikit rasa kecewa dan memutuskan untuk mengambil inisiatif. Ia memutuskan bahwa pada pertemuan malam nanti dengan ayahnya, ia akan membahas tentang respons kurang memuaskan dari Laura. CEO Lee berpikir dalam hati, 'aku tidak bisa membiarkan komunikasi antara kami terbatas pada sekadar satu kata. Laura harus menyadari pentingnya berkomunikasi dengan baik, terutama sebagai seorang kepala departemen dan kekasih. Saya akan mengingatkan hal ini pada pertemuan malam ini.' CEO Lee menekan tombol ponselnya untuk memberikan tanggapan terhadap pesan Laura. Ia ingin memastikan bahwa pesannya tersampaikan dengan jelas. CEO Lee menulis pesan yang singkat namun tegas kepada Laura, menekankan pentingnya komunikasi yang lebih baik dan harapannya untuk mendapatkan tanggapan yang lebih terperinci dan proaktif di masa mendatang. Setelah mengirim pesan tersebut, CEO Lee meletakkan ponselnya di meja dan kembali memusatkan perhatiannya pada persiapan pertemuan dengan ayahnya. Ia berharap bahwa pesan tersebut akan menjadi pengingat penting bagi Laura untuk memperbaiki sikapnya dalam berkomunikasi di lingkungan kerja. CEO Lee tak menyangka jika Laura sangat cuek padanya. Ia tak berpikir jika Laura sedang sibuk dan sedang beraktivitas lain. Baginya Laura harus proaktif dan membalas pesannya panjang, tidak hanya sekedar kata oke. Sementara itu Laura menerima pesan lagi dari CEO Lee dan ia menghembuskan nafasnya kasar. Ia tak menyangka CEO mengirim pesan seperti itu padanya. Kimmy yang melihat ekspresi Laura pun penasaran, "pesan dari siapa sih?" Tanya Kimmy.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD