Pelakor Kena Mental

1017 Words
Norma tidak berselera untuk makan. Ia duduk berdua dengan temannya yang sama-sama staf departemen pemasaran di restoran dekat kantor. Norma hanya mengaduk-aduk spaghetti di hadapannya. "Menurutmu Laura orangnya bagaimana?" Tanya teman Norma pada Norma. Norma menghentikan aktivitasnya dan menatap ke arah temannya itu. Norma merasa terjebak dalam dilema. Dia tidak ingin mengakui rasa iri dan inferioritasnya terhadap Laura. Namun, dia juga tidak ingin berbohong. Norma pun menjawab, "Sejujurnya, aku belum benar-benar mengenal Laura dengan baik. Kami belum memiliki kesempatan untuk berinteraksi secara mendalam. Jadi, aku belum bisa memberikan penilaian yang akurat tentangnya," jawab Norma. Michelle mengangguk dengan pengertian. Namun, Norma merasa semakin tidak nyaman saat Michelle memuji-muji Laura. Michelle pun berkata, "Laura adalah sosok yang luar biasa, Norma. Dia sangat baik, cerdas, kompeten, dan selalu punya ide-ide brilian. Saya yakin dia berhak mendapatkan posisinya sekarang," pujinya. Norma merasa muak mendengar pujian terus-menerus untuk Laura. Rasanya seperti Norma sedang disaingi dan diabaikan oleh semua orang. Norma pun bicara dengan nada tertekan, "Ya, tentu. Laura memang hebat. Dia pasti akan berhasil dalam peran barunya sebagai kepala departemen pemasaran," pujinya. Norma mencoba untuk memperlihatkan rasa setuju, tetapi di dalam hatinya, ia merasa semakin rendah diri. Perasaannya yang dulu merasa superior karena berhasil merebut Brian sekarang berubah menjadi kecemasan dan rasa inferior karena Laura yang berhasil merebut posisi yang diimpikannya. Michelle melanjutkan pujian terhadap Laura, tanpa menyadari betapa Norma sudah muak dengan topik tersebut. Norma merenung dalam hati, mencoba mencari cara untuk mengatasi perasaannya yang kompleks terhadap Laura dan mengembalikan rasa percaya dirinya yang hilang. Norma berkata dalam hati, 'Aku harus berhenti membandingkan diriku dengan Laura. Aku harus fokus pada kemampuan dan potensiku sendiri. Aku tidak boleh membiarkan rasa inferioritas mengendalikan hidupku.' Norma mengambil napas dalam-dalam dan mencoba untuk melupakan perasaan cemburu dan inferioritasnya terhadap Laura. Disis lain di perusahaan Laura memasuki ruangannya dengan perasaan kenyang setelah makan siang bersama CEO Lee. Meskipun ia sedikit lelah, Laura berusaha untuk tetap fokus pada pekerjaannya. Namun, ketenangan sejenak terganggu ketika seseorang mengetuk pintu. Laura mengangkat alis heran, "Masuklah!" Pintu ruangan terbuka, Vania dan Kimmy masuk dengan senyum ceria di wajah mereka. Vani! Langsung berseru, "Hai, Laura! Kami berdua baru saja menyadari bahwa kita belum pernah makan siang bersama di restoran seberang. Aku pikir ini adalah kesempatan yang sempurna untuk mengobrol dan menghabiskan waktu bersama di sana." Kimmy pun membenarkan, "Ya, Laura! Mari kita makan siang di restoran favorit kita. Aku akan mentraktirmu sebagai ucapan selamat atas kenaikan jabatanmu." Laura merasa sedikit terjebak dalam situasi ini. Dia ingin jujur kepada teman-temannya, tetapi pada saat yang sama, dia tidak ingin mengungkapkan bahwa dia baru saja makan siang dengan CEO Lee. Laura pun tersenyum, "baiklah." Mereka bertiga meninggalkan ruangan Laura dan menuju restoran yang dimaksud. Laura mencoba untuk menikmati waktu bersama teman-temannya, meskipun di dalam hatinya masih ada kekhawatiran dan rasa tidak enak karena makan siang dengan CEO Lee. Sesampainya di restoran, mereka duduk di meja yang nyaman dan memesan hidangan favorit mereka. Kimmy mengangkat gelasnya, tersenyum pada Laura. Kimmy berkata, "Laura, ini untuk ucapan selamat atas kenaikan jabatanmu! Aku bangga dan yakin kamu akan sukses dalam peran barumu. Aku mentraktir hari ini!" Laura tersenyum, mengangkat gelasnya, dan menyentuh gelas dengan Kimmy dan Vania. Laura pun berterima kasih, "Terima kasih, Kimmy. Aku sangat menghargainya. Dan terima kasih juga untuk dukungan dan persahabatan kalian. Kita akan menjalani petualangan baru bersama!" Mereka bertiga mengangkat gelas dan mengucapkan selamat sambil tertawa riang. Laura merasa beruntung memiliki teman-teman seperti Vania dan Kimmy yang selalu mendukungnya. Dalam momen itu, Laura berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan berusaha semaksimal mungkin untuk memenuhi harapan teman-temannya dan membuktikan bahwa dia layak mendapatkan kenaikan jabatan itu. Di sisi lain Norma dan Michelle yang duduk bersama di satu meja, sedang makan siang. Tiba-tiba, Michelle melihat Laura, Kimmy, dan Vania memasuki restoran. Michelle merasa senang melihat mereka dan memutuskan untuk memuji Laura di depan Norma. Michelle memuji dengan antusias, "Norma, lihatlah siapa yang datang! Itu Laura, Kimmy, dan Vania. Aku harus mengatakan, Laura terlihat sangat cantik dan awet muda, bukan? Siapa yang akan percaya bahwa dia adalah seorang janda dengan dua anak?" Norma mendengar perkataan Michelle dan merasa tidak nyaman. Dia merasa seperti tersentak mendengar pujian untuk Laura, terutama setelah menyadari bahwa dirinya adalah pelakor yang telah merebut suami Laura. Norma pun menjawab dengan sedikit ketidaknyamanan, "Ya, memang... Laura selalu terlihat mempesona." Jawabnya singkat. Michelle tidak menyadari perasaan Norma yang tersembunyi dan terus memuji Laura dengan semangat. Michelle oun menambahkan, "Betul sekali! Laura adalah contoh yang bagus bagaimana seseorang dapat mempertahankan kecantikan dan tetap terlihat muda. Aku kagum padanya." Norma mencoba menyembunyikan perasaannya dan tersenyum dengan paksa. Norma berusaha menjaga ketenangan. "Ya, dia memang punya pesona yang luar biasa," puji Norma. Norma berusaha mengalihkan pikirannya dan mencoba fokus pada makanannya. Namun, dalam hatinya, dia merasa cemas dan tidak nyaman dengan situasi ini. Dia menyadari bahwa dia harus menghadapi konsekuensi dari tindakan yang telah dilakukannya. Dalam keheningan, Norma melanjutkan makan siangnya bersama Michelle. Dan tiba-tiba, Michelle mengatakan, "tahu tidak, Norma, kabarnya Laura bercerai dengan suaminya karena suaminya diculik oleh seorang pelakor! Bayangkan, dia harus menghadapi kejadian mengerikan seperti itu. Tapi Laura tetap tegar dan melanjutkan hidupnya dengan baik." Norma mendengar perkataan Michelle dan tiba-tiba merasa ketar-ketir. Dia batuk secara refleks karena terkejut dan cemas karena menyadari bahwa dia sendiri adalah pelakor yang disebutkan oleh Michelle. Norma tersendat, "Ehm, apa yang kamu katakan? Suaminya diculik oleh... pelakor?" Tanya Norma seakan-akan kaget. Michelle mengangguk tanpa curiga, "Ya, begitulah kabarnya. Tapi Laura memang hebat, dia bisa bangkit dari kejadian itu dan mengambil alih hidupnya dengan kepala tegak." Norma berusaha menjaga ketenangan dan memperhatikan makanannya dengan wajah yang tegang. Dia berpikir cepat tentang bagaimana menangani situasi ini tanpa memperlihatkan kebenaran yang sesungguhnya. Norma pun berbicara dengan canggung, "Baiklah, aku rasa Laura memang kuat dan bisa melewati masa sulit. Semoga dia mendapatkan kebahagiaan yang sebenarnya." Michelle tidak menaruh curiga pada reaksi Norma dan melanjutkan makan siangnya tanpa menyadari kegelisahan yang dirasakan oleh temannya. "Ya, semoga dia memang menemukan kebahagiaan yang sebenarnya. Laura memang pantas mendapatkan yang terbaik," ucap Michelle. 'Bagaimana jadinya jika Michelle tahu kalau pelakor yang dia maksud adalah aku?' Batin Norma. "Norma, ayo kita gabung bersama Laura!" Ajak Michelle. Deg!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD