Laura berbisik kepada diri sendiri, "Siapa yang bisa mengirimkan pesan seperti ini?"
Laura masih terdiam, memegang surat dan memikirkan isi dari pengagum rahasia tersebut, ketika tiba-tiba telepon di atas mejanya berdering dengan keras. Ia terkejut sejenak, namun segera mengambil gagang telepon dan menjawab dengan sikap profesional.
Laura mengangkat telepon dan mulai bicara, "Halo, Departemen Pemasaran, Laura di sini," ucap Laura.
Dan Laura mendengar suara CEO Lee dari ujung telepon, "Laura, ini saya CEO Lee. Apakah kamu bisa segera ke ruanganku? Aku punya sesuatu yang perlu kita bicarakan," perintah CEO Lee.
Laura pun tak bisa menolak, "Tentu, Tuan. Saya akan segera ke ruangan Anda."
"Baik. Jangan buang waktu. Ini penting. Sampai jumpa segera," pungkas CEO Lee.
Laura menutup telepon dengan hati yang berdegup kencang. Ia merasa penasaran dengan apa yang akan dibicarakan oleh CEO Lee. Laura memasukkan surat dari pengagum rahasia ke dalam laci meja dengan hati-hati, lalu segera meninggalkan ruangannya dengan langkah yang cepat.
Laura berjalan melewati koridor perusahaan dengan pikiran yang bercampur aduk. Ia merasa tegang. Laura memasuki ruangan CEO Lee dengan penuh rasa hormat.
Laura masuk ke ruangan itu, sambil menutup pintu ruangan, Laura phn berkata, "Maaf mengganggu, Tuan. Anda memanggil saya?" Tanya Laura.
"Kita hanya berdua di ruangan ini, tolong biasakan panggil saya Oppa," pinta CEO Lee tegas.
"Oke baik Oppa," jawab Laura sambil berjalan mendekati meja CEO Lee.
"Laura. Silakan duduk. Ada beberapa hal yang ingin saya diskusikan denganmu," ucap CEO Lee.
Laura duduk di kursi yang disediakan di depan meja CEO Lee. Ia mencoba mempertahankan sikap profesionalnya meskipun hatinya masih tertarik dengan isi surat yang tadi.
"Saya siap mendengarkan. Apa yang ingin Anda bicarakan?" Tanya Laura.
"Saya minta kamu mengevaluasi kinerja kepala departemen sebelumnya, setelah itu nanti kamu kembali lagi kemari," pinta CEO Lee.
"Hanya itu?" Tanya Laura. CEO Lee pun mengangguk.
"Kamu bisa ke ruangan kamu lagi sekarang," ujar CEO Lee seakan-akan mengusir Laura. Laura pun pasrah, dan ia pun keluar dari ruangan CEO Lee dengan perasaan jengkel.
"Kalau hanya bicara itu bisa kali di telepon saja," cerocos Laura kesal sambil menghentakan kakinya.
"Ruangnya dan ruanganku jauh jaraknya. Ah dia menyebalkan sekali," ucap Laura sambil manyun.
Di ruangannya, CEO Lee tersenyum, "jadi semangat kerja aku setelah lihat wajah Laura. Wajah Laura candu!" Ucap CEO Lee sambil tersenyum.
Setibanya di ruangannya, Laura duduk di mejanya dan membuka laptopnya. Ia mulai mengumpulkan data dan informasi mengenai kinerja kepala departemen pemasaran sebelumnya. Laura melakukan analisis mendalam terhadap berbagai aspek, termasuk pencapaian target penjualan, strategi pemasaran yang digunakan, hubungan dengan tim, dan sebagainya.
Beberapa jam kemudian, Laura telah mengumpulkan semua informasi yang diperlukan. Ia mencatat berbagai kekurangan dan kelebihan yang ditemukan dalam kinerja kepala departemen pemasaran sebelumnya. Laura menyusun laporan yang rapi dan komprehensif untuk disampaikan pada CEO Lee.
Laura memasuki ruangan CEO Lee pada sebelum jam makan siang dengan laporan yang telah disiapkannya. Ia menjaga sikap profesionalnya dan duduk di kursi yang disediakan.
Laura menyerahkan laporan pada CEO Lee, "Oppa seperti yang Anda minta, ini adalah laporan evaluasi kinerja kepala departemen pemasaran sebelumnya. Saya telah menyimpulkan kekurangan dan kelebihannya berdasarkan analisis yang telah saya lakukan," ucap Laura.
CEO Lee pun menerima laporan dari Laura, "Terima kasih, Laura. Saya menghargai kerja kerasmu dalam melakukan evaluasi ini. Mari kita lihat hasilnya."
Laura pun mengangguk setuju.
CEO Lee membuka laporan yang diserahkan oleh Laura dan mulai membacanya dengan seksama. Ia menyerap informasi yang disajikan dan memperhatikan setiap detail yang diungkapkan.
Setelah selesai membaca laporan dari Laura, CEO Lee pun berkata, "Terima kasih atas laporan ini, Laura. Analisis yang kamu lakukan sangat detail dan terperinci. Apa kesimpulanmu mengenai kekurangan dan kelebihan kepala departemen pemasaran sebelumnya?" Tanya CEO Lee.
Laura menjawab, "Berdasarkan evaluasi yang saya lakukan, terdapat beberapa kekurangan yang dapat diperbaiki. Salah satunya adalah kurangnya komunikasi dan kolaborasi antara kepala departemen dengan anggota tim. Selain itu, ada kebutuhan untuk meningkatkan pemahaman akan tren pasar terkini dan penerapan strategi pemasaran yang lebih inovatif. Namun, kelebihannya adalah kepala departemen sebelumnya memiliki pengalaman yang luas dan pengetahuan yang mendalam tentang industri ini. Ia juga mampu membangun hubungan yang baik dengan klien dan mitra bisnis." Jelas Laura.
CEO Lee pun mengangguk, "Baik, Laura. Terima kasih atas analisis yang jelas dan ringkas. Kami akan menggunakan laporan ini sebagai dasar untuk memperbaiki departemen pemasaran. Saya percaya bahwa dengan kepemimpinanmu yang baru, kita dapat mengatasi kekurangan yang ada dan memperkuat kelebihannya."
"Terima kasih, Oppa. Saya siap bekerja keras," jawab Laura sambil mengangguk.
Setelah selesai membahas laporan evaluasi, suasana menjadi lebih santai di ruangan CEO Lee. Ia melihat Laura dengan tatapan penuh penghargaan.
"Laura, pekerjaanmu dalam mengevaluasi kinerja kepala departemen pemasaran sebelumnya sangat berharga. Aku ingin mengucapkan terima kasih secara pribadi. Bagaimana kalau kita makan siang bersama untuk merayakannya?" Tanya CEO Lee.
Laura merasa sedikit gugup dengan tawaran tersebut. Ia khawatir tentang tanggapan pegawai lain jika melihat mereka makan siang bersama. Namun, Laura juga tidak ingin menolak tawaran dari CEO Lee.
Laura pun akhirnya menjawab dengan ragu, "Oppa, saya menghargai tawaran Anda, tetapi saya agak khawatir jika pegawai lain melihat kita makan siang bersama. Mereka mungkin memperhatikan dan menimbulkan spekulasi yang tidak diinginkan." Ungkap Laura.
Dan CEO Lee pun mengatakan hal yang membuat Laura terdiam.
"Jangan khawatir, Laura. Aku mengerti kekhawatiranmu. Kita bisa makan siang berdua di ruanganku. Itu akan menjadi momen yang lebih pribadi dan tidak akan menimbulkan kehebohan di antara pegawai," ucap CEO Lee
Laura terdiam dan ia berpikir sejenak. Meskipun masih ada kecemasan dalam dirinya, ia merasa jika makan siangnya di ruang CEO tidak akan ada yang curiga.
Laura pun mengangguk, "Baiklah, Oppa. Saya setuju untuk makan siang bersama," jawab Laura.
CEO Lee tersenyum senang mendengar persetujuan Laura. Ia bangkit dari meja dan mempersilakan Laura mengikuti ke ruangan rahasianya. Laura mengikuti CEO Lee dengan hati-hati.
Mereka memasuki ruangan CEO Lee yang tersembunyi. Ruangan yang khusus untuk CEO istirahat. Terdapat meja makan kecil yang sudah disiapkan di salah satu sudut ruangan. Dan hidangan makan siang yang lezat sudah tersedia di atas meja.
"Silakan, Laura. Ayo kita duduk dan menikmati makan siang," ucap CEO Lee.
Laura merasa sedikit canggung, tetapi ia duduk di kursi yang disediakan. Mereka berdua memulai makan siang.
Di sisi lain, Norma tidak berselera untuk makan. Ia duduk berdua dengan temannya yang sama-sama staf departemen pemasaran di restoran dekat kantor. Norma hanya mengaduk-aduk spaghetti di hadapannya.
"Menurutmu Laura orangnya bagaimana?" Tanya teman Norma pada Norma. Norma menghentikan aktivitasnya dan menatap ke arah temannya itu.