Setelah wawancara selesai, Daffi—alias Daffa—dipanggil masuk ke ruangan dimana Alia sedang menyusun laporan harian. Oknum yang melakukan wawancara, Bapak Sutrisno, dengan wajah yang sedikit mengkhianati ketakutan namun berusaha tampak tenang, mengantarnya dengan ucapan singkat, "Ini Alia, pegawai terbaik divisi operasional. Kamu akan menjadi supir pribadinya mulai hari ini."
Alia memalingkan wajah dengan tatapan yang masih penuh kesal. "Supir? Bukannya kamu bilang mau melamar sebagai staf administrasi? Kok jadi supir aja?" ucapnya dengan nada menyindir.
Daffa hanya tersenyum lembut, "Maaf kak, mungkin ada kesalahan penempatan. Tapi saya akan melakukan pekerjaan ini dengan baik."
Sementara itu, di rumah Nyonya Dinda, sebuah panggilan dari Belanda masuk. Suara seorang pria dengan logat Belanda yang jelas terdengar dari ujung telepon, "Nyonya Dinda, kami telah mendeteksi adanya beberapa oknum yang mencoba mengganggu proses pelantikan dan bahkan merencanakan untuk membocorkan informasi salah tentang Anda ke media. Mohon berhati-hati."
Nyonya Dinda menghela nafas panjang, "Terima kasih atas informasi ini, Tuan Markus. Saya sudah menyadari bahwa posisi ini tidak akan mudah, sama seperti ketika Mr. Leo menjabat. Saya akan berusaha menangani semuanya dengan bijak."
Di perusahaan, Om Bonifasius sedang memantau dari ruang kontrol keamanan. Ia mencatat setiap gerakan Bapak Sutrisno dan beberapa rekannya yang sering berkumpul di ruang tersembunyi lantai tiga. Sambil menulis catatan dalam Bahasa Belanda dengan kode khusus, ia berbisik sendiri, "Semua jejak mereka akan tercatat dengan jelas. Daffa harus diberikan waktu yang cukup untuk mengumpulkan bukti."
Hari pertama kerja Daffa sebagai supir Alia pun dimulai. Ketika mereka hendak pergi untuk kunjungan ke salah satu cabang perusahaan di luar kota, Alia secara tidak sengaja melihat Daffa sedang mengetik pesan dengan cepat menggunakan Bahasa Belanda di ponselnya.
"Wah, kamu bisa Bahasa Belanda juga ya?" tanya Alia dengan rasa penasaran yang baru muncul di dalam dirinya.
Daffa terkejut sejenak sebelum segera menutup ponselnya, "Hanya sedikit saja kak, dari teman lama." Namun di hati hatinya, ia tahu bahwa pertemuan dengan Alia tidak hanya sekadar kebetulan, dan mungkin ada hubungan yang lebih dalam yang belum terkuak di balik semua rahasia yang menyelimuti mereka berdua.
Setelah menerima perintah dari Alia, Daffi segera mengemudikan mobil menuju lokasi untuk menjemput kakaknya. Di jalan, ia menyimpan catatan kecil yang berisi kode-kode tentang aktivitas beberapa pegawai yang ia amati sepanjang hari, sebelum menyembunyikannya di dalam dasbor mobil.
"Sama seperti biasanya, kakak selalu terlambat," ucap Alia sedikit kesal ketika kakaknya akhirnya muncul dari gedung sebuah kantor hukum. Daffi hanya diam dan membantu membawa barang bawaan kakak Alia ke dalam mobil, kemudian melanjutkan perjalanan pulang.
Setelah sampai di rumah, Daffi mengantar kedua saudari itu masuk sebelum ia sendiri menuju kamar yang disediakan Nyonya Dinda di sisi belakang rumah. Kamarnya lengkap dengan tempat tidur, meja kerja, dan akses ke fasilitas rumah tangga. Sambil menyiapkan diri untuk beristirahat, ia melihat foto kecil keluarga yang ditempel di dinding kamar—foto Nyonya Dinda bersama seseorang yang mirip dengan dirinya, namun ia segera mengendurkan pikiran dan fokus pada misinya.
Pukul dua belas malam tepat ketika suara jam besar di ruang tamu membunyikannya. Alia yang merasa haus turun ke dapur, dan melihat Nyonya Dinda duduk di kursi kayu dekat kompor, tangan memegang gelas teh hangat dengan pandangan yang jauh ke arah jendela. Cahaya bulan yang masuk melalui celah tirai menerangi wajahnya yang tampak lelah dan penuh pikiran.
"Apa ada masalah, Bu?" tanya Alia dengan suara pelan saat ia perlahan mendekati.
Nyonya Dinda sedikit terkejut, kemudian segera menutupi ekspresinya dengan wajah yang dingin seperti biasa. "Tidak ada apa-apa, Alia. Kamu seharusnya sudah tidur. Kembalilah ke kamarmu dan jangan repot-repot mengkhawatirkan hal yang bukan urusanmu," ucapnya dengan nada tegas namun ada nada lembut tersembunyi di dalamnya.
Alia mengangguk dengan rasa sedikit kecewa, namun ia tidak berani membantah. Sebelum kembali ke kamar, ia melihat sebuah amplop berwarna coklat tua berada di atas meja dapur, dengan tulisan tangan asing yang tampak seperti Bahasa Belanda.
Setelah menyampaikan syaratnya, Alia langsung berjalan menuju kamar Daffi yang berada di sisi belakang rumah. Dengan cepat ia mengetuk pintu kamar tersebut. "Daffi! Buka pintu sekarang juga!" panggilnya dengan suara pelan namun tegas agar tidak mengganggu Nyonya Dinda.
Daffa yang baru saja selesai memeriksa data penting di laptopnya terkejut mendengar suara Alia. Ia segera menyembunyikan semua dokumen sebelum membuka pintu. "Ada apa, Kak Alia? Sudah larut malam," ucapnya dengan tatapan penasaran.
"Tidak usah banyak tanya! Kita harus segera pergi ke rumah Tuan Haris Pratama. Siapin mobilnya sekarang juga!" kata Alia dengan wajah yang penuh tekad.
Daffa merasa bingung dan sedikit khawatir. "Tapi Kak, kenapa harus malam-malam? Apalagi ke rumah beliau... Ada apa sebenarnya?" tanyanya mencoba mencari tahu alasan yang jelas.
"Tidak ada waktu untuk menjelaskan! Cukup ikuti saja perintahku. Kalau kamu tidak mau, aku akan mencari cara sendiri!" tegas Alia sambil berjalan menuju arah garasi.
Tanpa pilihan lain, Daffa segera mengambil kunci mobil dan mengikuti Alia. Di jalan, ia terus berpikir tentang apa yang mungkin terjadi dan bagaimana ia akan menghadapi ayahnya jika mereka benar-benar tiba di rumahnya pada jam yang tidak pantas. Ia juga khawatir identitasnya akan terkuak jika bertemu langsung dengan Tuan Haris Pratama di tengah malam seperti ini.
Sementara itu, Ayunda berdiri di depan jendela kamar mereka, melihat mobil yang membawa Alia dan Daffi perlahan keluar dari rumah. Ia menghela nafas dan berbisik sendiri, "Semoga rencana adikku itu benar dan bisa membantu Ibu..."
Di luar kamar Daffi..
"Hai Daffi, supir rese, bodoh dan nyebelin. Keluarlah aku ada tugas untuk mu." Alia menggedor-nggedor pintu kamar Daffi dengan keras.
"Em.... Wanita itu, sungguh menjengkelkan." keluh Daffi sambil menghela nafas panjang, menyimpan laptop yang sedang ia gunakan ke dalam laci meja kerja.
Daffi pun keluar dari kamarnya dengan tatapan yang masih sedikit bingung dan kesal.
"Huam... Iya Nona Alia ada apa?" tanya Daffi secara tidak sengaja menggunakan bahasa Belanda.
"Ayo cepat aku." jawab Alia dengan nada mendesak, juga menanggapi dengan beberapa kata dalam Bahasa Belanda yang membuat Daffa terkejut sejenak.
"Haaaaa.... Non masih gelap loh Non, ke kantor juga masih nanti kan tunggu terang." kata Daffi dengan suara sedikit gemetar, mencoba membujuk agar mereka tidak pergi saat ini.
"Siapa yang bilang kita akan ke kantor, lagian juga aku juga tahu kali kalau ini masih malam." sambung Alia dengan tatapan yang tegas, tidak ada ruang untuk penolakan.
"Lalu kita akan kemana Non?" tanya Daffi dengan hati yang mulai berdebar kencang.
"Ke rumah Tuan Haris Pratama."
"Haaaa.... Apa!!" teriak Daffi tidak sengaja, segera menutup mulutnya dengan tangannya agar suara tidak terlalu keras.
"Kenapa? Ha apa? Ayo buruan.." paksa Alia dengan menarik kerah baju Daffi secara kasar, menariknya menuju arah garasi.
"Iya, iya Non.." ucap Daffi pasrah, mengikuti langkah Alia sambil terus berpikir tentang konsekuensi yang mungkin terjadi jika mereka benar-benar tiba di rumah ayahnya.
"Mau apa ya dia datang malam-malam gini ke rumah?" tanya Daffi di dalam hati, wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang jelas.
"Ayo.." Alia masih terus memaksa dengan menarik lengan Daffi sampai akhirnya ia masuk kedalam mobil dan mengambil tempat di kursi depan. Daffa dengan berat hati masuk ke jok pengemudi, menyalakan mesin mobil sambil merenungkan bagaimana cara menghadapi ayahnya jika mereka tiba di sana.
Setelah mobil berhenti di depan gerbang besar rumah Tuan Haris Pratama, Daffa langsung turun dan berusaha menghalangi Alia yang ingin keluar. "Non, lebih baik kita pulang saja. Mungkin beliau sudah tidur dan tidak bisa menerima tamu di jam seperti ini," kata Daffa dengan nada khawatir, bahkan mencoba menggunakan Bahasa Belanda agar Alia tidak mengerti dan bisa mundur.
Namun Alia tetap tegas, membuka pintu mobil dan menuju pintu utama rumah. Saat pintu dibuka oleh penjaga keamanan, Alia dengan tegas menyampaikan bahwa ia ingin bertemu Tuan Haris Pratama. Tak lama kemudian, Tuan Haris muncul di ruang tamu dengan pakaian santai, wajahnya menunjukkan rasa penasaran.
Daffa yang mengikuti di belakang segera mendekati ayahnya dan berbisik dalam Bahasa Belanda, "Ayah, tolong jangan bantu dia. Saya masih dalam misi dan ini bisa mengganggu segala rencana kita."
Tuan Haris hanya mengangguk perlahan sebelum mengalihkan pandangannya ke Alia. "Silakan ceritakan apa yang membuatmu datang ke rumah saya di tengah malam, anak muda," ucapnya dengan suara yang tenang namun penuh otoritas.
Alia pun mulai menjelaskan tentang masalah yang dihadapi Nyonya Dinda, bagaimana ada oknum yang mencoba menggagalkan pelantikannya sebagai Walikota di Belanda dan bahkan merencanakan untuk menyebarkan berita bohong tentangnya. Ia berusaha dengan sekuat tenaga meyakinkan Tuan Haris untuk memberikan bantuan, karena ia tahu bahwa beliau adalah orang yang berpengaruh di sana.
Setelah mendengar semua penjelasan Alia, Tuan Haris terdiam sejenak lalu menatap Daffa dengan tatapan mendalam. "Supir kamu ini... Daffi bukan? Dia sangat mirip dengan putraku yang lulusan terbaik dari universitas di London," ucapnya sambil tersenyum tipis, seolah-olah tidak mengenali putranya sendiri.
Lalu ia melanjutkan, "Saya punya ide. Apa kalau kita beri Daffi make over total—dari gaya rambut, pakaian, hingga cara berbicara—agar dia bisa tampil sebagai putra saya yang lulusan London. Dengan identitas tersebut, ia bisa membantu menyiasati rencana oknum yang ingin menggagalkan pelantikan Nyonya Dinda. Bagaimana pendapatmu, anak muda?"
Daffa terkejut mendengar kata-kata ayahnya, namun segera memahami maksud di baliknya. Ia menatap Alia, yang kini juga terlihat terkejut namun penuh harapan.