Bab 03 - Make Over dan Benturan Hati

1334 Words
Alia pun setuju dan bergegas pulang ke rumah, kira-kira jam sembilan pagi. Ketika mobil memasuki halaman rumah, mereka melihat banyak warga yang sudah berkumpul di depan pintu, membawa surat permohonan dan wajah yang penuh harapan. Beberapa di antaranya membawa hasil bumi dari kebun mereka sebagai tanda penghormatan, berharap Nyonya Dinda bisa berbicara dengan CEO perusahaan tempat Alia bekerja. Jika tidak, kabarnya Nyonya Dinda akan mengundurkan diri sebagai walikota. Setelah turun dari mobil, Alia langsung mengajak Daffi masuk ke ruang kerja Nyonya Dinda yang terletak di sisi dalam rumah. Awalnya Daffa masih ragu dan ingin menolak, namun ketika melihat warga yang berdatangan dengan kondisi yang susah payah—beberapa bahkan mengeluhkan kesulitan mencari lapangan pekerjaan dan kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari—kata-kata Alia yang menyentuh hati akhirnya membuatnya berubah pikiran. Di ruang kerja Nyonya Dinda.. "Sekarang kau duduk." pinta Alia dengan tatapan tegas, menunjuk pada kursi besar di tengah ruangan. "Hai, hai, hai.. Mau apa kau ha? Jangan berani-beraninya kau pegang rambutku ya." teriak Daffi dengan sedikit panik, melihat perlengkapan make over yang sudah Alia siapkan di atas meja. "Sudah diam saja nanti kau juga tahu, aku akan make over mu menjadi sama persis dengan penampilan Daffa anak Tuan Haris Pratama, dan kau bantu aku ya." ucap Alia sambil mengambil kuas riasan dan semir rambut. "Tidak..!!" teriak Daffi dengan keras, mundur sedikit dari kursi. "Apa maksudmu?" tanya Alia dengan wajah yang sedikit marah dan kecewa. "Maksudku adalah ini nih, aku tidak akan membantumu dan keluarga mu itu, em.. Em.." kata Daffi dengan tergesa-gesa, bahkan tidak sengaja mengolesi semir yang baru saja ia pegang ke wajahnya. Alia menghela nafas dan kemudian mengarahkan pandangan Daffi ke arah jendela. "Kau yakin tidak mau membantu kami Daffi, kau coba lihat itu. Di sana ada seorang ayah ia petani ingin sekali mendapatkan bantuan agar ia bisa menyekolahkan anaknya dengan harapan anaknya kelak menjadi orang sukses dan kau coba lihat itu." kata Alia dengan suara bersedih, menunjuk pada seorang ayah yang sedang menggendong anaknya kecil di pelukan, wajah anak itu tampak kurus karena kurang makan. Daffa terdiam sejenak, melihat kondisi warga di luar dengan hati yang tertekan. Setelah beberapa saat ia mengangguk perlahan dan menghadap Alia. "Baiklah, aku akan menolongmu. Ayo mari kita lakukan apa yang kau jelaskan padaku tadi." ucapnya dengan suara yang sudah penuh tekad. Setelah proses make over selesai, Alia dan Daffa turun ke ruang tamu untuk menemui Nyonya Dinda dan para warga yang berkumpul. Daffa mulai menyampaikan rencana bantuan bagi masyarakat—mulai dari pembukaan lapangan kerja baru hingga program beasiswa untuk anak-anak sekolah—dengan menggunakan identitas sebagai Daffa Maulana Pratama. Pendapatannya mendapatkan respon baik dan antusias dari warga, yang mulai melihat harapan baru untuk kehidupan mereka. Namun tak lama kemudian, seorang pria dengan wajah kasar mendekat dan menegakkan suaranya. "Tidak benar semua ini!" teriak Andi, anak buah oknum korupsi di perusahaan Tuan Haris Pratama. Bersamanya adalah Maya dan Pak Agus, yang kemudian melanjutkan, "Orang yang mengaku-ngaku sebagai Tuan Muda Daffa bukanlah orangnya yang sebenarnya! Dia hanya Daffi, supir pribadi Alia yang kebetulan mirip dengan putra Tuan Haris Pratama!" Kata-kata itu seperti bom yang meledak di tengah kerumunan. Warga yang baru saja merasa senang dan penuh harapan kini menjadi marah dan merasa telah dibohongi. Mereka mulai berteriak dan mengarak Daffa keluar dari ruangan, dengan suara protes yang semakin keras. Nyonya Dinda berdiri dengan wajah yang penuh kecewa, menatap Alia dengan pandangan yang menyakitkan. "Aku tidak menyangka kamu akan melakukan hal seperti ini, Alia," ucapnya dengan suara lemah namun tegas. Tanpa banyak bicara, ia mengambil sebuah amplop dari meja dan menyerahkannya kepada salah satu perwakilan warga. "Ini surat pengunduran diriku sebagai walikota yang baru. Aku tidak berhak menjabat setelah keluarga ku melakukan kebohongan seperti ini." Tak berselang lama, suara mobil mewah terdengar di halaman rumah. Tuan Haris Pratama turun dari mobil bersama Om Bonifasius, langsung menuju ke tengah kerumunan yang masih berisik. "Hentikan semua ini!" teriak Tuan Haris dengan suara yang kuat dan penuh otoritas, membuat semua orang menjadi tenang. Ia kemudian mengangkat tangannya untuk menarik perhatian semua orang. "Yang kalian sebut Daffi bukanlah orang yang menyamar," ucapnya sambil menatap putranya dengan wajah penuh cinta. "Ia adalah Daffa Maulana Pratama, anak kandungku yang sebenarnya! Penyamaran sebagai supir adalah bagian dari misinya untuk mengungkap oknum korupsi yang telah merusak perusahaan dan mengganggu kesejahteraan masyarakat. Semua yang dikatakannya tentang bantuan bagi kalian adalah benar dan akan kita wujudkan bersama!" Kata-kata Tuan Haris membuat semua orang terkejut dan terdiam sejenak, termasuk Nyonya Dinda dan Alia yang masih terkejut berdiri di sana. Setelah kebenaran terkuak dan jabatan sebagai Walikota kembali diberikan oleh Tuan Haris Pratama—yang dikenal sebagai sosok terpenting di Belanda—untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Alia merasa bahwa dirinya dianggap anak yang bermanfaat bagi keluarga. Perasaan bangga yang sebelumnya tak pernah ia rasakan membuat hatinya sedikit terhangatkan, meskipun hanya sebentar. Malam harinya, Nyonya Dinda sibuk mengatur detail acara yang akan diadakan besok malam, menuliskan daftar tugas dan membagikannya kepada beberapa orang yang akan membantu menyelenggarakannya. Tak lama kemudian, Ayunda mendekat dengan langkah yang lembut, menghampiri ibunya yang sedang fokus pada pekerjaan acara. "Ibu, bolehkah saya meminta sesuatu?" ucap Ayunda dengan nada lembut. Nyonya Dinda mengangkat wajahnya dan memberikan tatapan penuh perhatian. "Tentu saja, sayang. Apa yang kamu inginkan?" "Aku ingin Ibu mengundang Daffa dan Tuan Haris Pratama ke acara besok malam. Mereka sudah banyak membantu kita, kan?" kata Ayunda sambil sedikit memainkan ujung rambutnya, wajahnya sedikit memerah karena rasa malu yang menyertai cinta pertamanya. Nyonya Dinda menyadari dengan jelas bahwa putri kandungnya sedang mengalami cinta pertama kali. Dengan senyum lembut yang penuh pengertian, ia mengangguk, "Baiklah sayang, Ibu akan mengundang mereka. Ini juga menjadi cara untuk mengucapkan terima kasih yang sesungguhnya." Saat itu Alia sedang berdiri di pojok ruangan, menyaksikan seluruh percakapan itu. Rasa iri mulai muncul dalam hatinya—bagaimana bisa kakaknya mendapatkan perhatian khusus dan bahkan Ibu menyadari cinta pertamanya, sementara dirinya? Alia merindukan sentuhan hangat dan perhatian dari Nyonya Dinda, sama seperti yang diberikan pada Ayunda. Namun tak seperti harapannya, ketika Alia hendak mendekat untuk menyapa ibunya, Nyonya Dinda hanya memberikan sikap dingin. "Cukup, Alia. Aku sedang sibuk mengatur acara. Kembalilah ke kamarmu dan istirahatlah," ucap Nyonya Dinda tanpa mengangkat pandangannya dari meja yang penuh dengan berkas acara. Alia merasa dadanya sesak dan mata sedikit berkaca-kaca, namun ia segera menahan diri dan keluar dari ruangan dengan langkah yang berat. Di kamar, Ayunda sedang sibuk memilih ulang koleksi baju yang akan dikenakan besok malam, menyebarkan berbagai pilihan pakaian di atas tempat tidur. Saat sedang menyortir baju warna biru muda, ia melihat bayangan Alia yang sedang duduk di sudut kamar dengan wajah muram. Tanpa pikir panjang, Ayunda berhenti dari pekerjaannya dan menghampiri adiknya. "Kenapa kamu sedih ya adikku?" tanya Ayunda dengan suara lembut, duduk bersebelahan dengan Alia. Ia mengelus punggung Alia perlahan dan memberikan pelukan hangat. "Ibu mungkin hanya sedang terburu-buru mengatur acara saja. Nanti setelah acara selesai, pasti Ibu akan lebih banyak waktu untuk kita berdua." Setelah beberapa saat menghibur Alia hingga wajahnya sedikit rileks, Ayunda kembali ke tempat tidur untuk melanjutkan memilih baju. Tiba-tiba Alia berdiri dan berkata, "Mbak, bolehkah aku keluar rumah sebentar? Ada sesuatu yang ingin aku lakukan." Ayunda mengangguk dengan senyum mendukung. "Tentu saja boleh. Tapi hati-hati ya jalanannya." Namun ketika melihat ekspresi khawatir di wajah Alia, Ayunda langsung mengerti. "Kamu tidak punya uang untuk ongkos perjalanan kan?" Alia mengangguk perlahan dengan wajah malu. Tanpa banyak bicara, Ayunda membuka dompetnya dan memberikan semua sisa uang yang ada di dalamnya kepada Alia. "Ini untuk kamu, adik. Gunakan saja ya." Alia langsung menerima dengan rasa syukur yang mendalam, kemudian segera keluar rumah. Ia ingin mengundang Rafa, sahabatnya yang bekerja di tempat pertunjukan boneka. Setelah sampai di sana, Alia menunggu hingga pertunjukan selesai. Ketika Rafa muncul dari belakang panggung, Alia segera mendekatinya. "Rafa, aku punya kabar baik! Besok malam ada acara besar di rumahku, dan aku sudah mendapatkan persetujuan dari Ibuku, Nyonya Dinda. Kamu mau datang bukan?" pinta Alia dengan tatapan penuh harapan. Rafa tersenyum lebar dan mengangguk dengan antusias. "Tentu saja mau! Aku pasti datang besok malam. Terima kasih sudah mengundang aku, Alia."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD