Kabar Duka

1110 Words
Dia turun dari bus. Mengantar satu persatu paket yang sudah dituliskan alamatnya. Beruntung, tidak terlalu sulit dicari alamatnya. Jaraknya juga tidak terlalu jauh. Dari tempat satu ke tempat lainnya. Sehingga, dia bisa dengan cepat menyelesaikan paketnya. Rumah yang pertama kali dia datangi, sebelum ke rumah yang lain adalah milik Bu Seria. Orangnya sangat lemah lembut dan juga penyayang. Dia sudah menceritakan kenapa ibunya tidak bisa mengirimkan paket ini. Dan terlihat sekali, orang itu sangat perduli. "Ini buat ongkos kamu pulang ya. Sekalian ini ada ramuan herbal dari Jawa. Siapa tahu, cocok untuk Ibumu. Kalau Bu de sih, selalu minum ini. Soalnya ampuh dan menghilangkan pegal-pegal." Wanita paruh baya itu memberikan satu botol minuman yang berkhasiat untuk meredakan pegal-pegal. Kemungkinan besar sih, memang ibunya kelelahan. "Maaf Bu, lebih baik minumannya saja. Kalau uangnya tidak usah. Saya ada kok untuk ongkos pulang." "Ih, jangan seperti itu. Rezeki tidak boleh ditolak." Bude langsung memasukan uang tip itu ke kantong kemeja Gagah. Akhirnya, dia mengalah dan tidak menolak. "Kalau begitu, terima kasih. Saya pamit dulu ya. Karena masih ada yang harus diantarkan lagi." "Iya, hati-hati di jalan." Gagah pun mengangguk, lalu dia pergi dari rumah tersebut. Mencari alamat selanjutnya yang tertnyata tidak jauh juga. Di perjalanan, dia melihat ada ruko yang ternyata apotek. tanpa menunggu menyelesaikan tugasnya, dia langsung pergi ke apotek tersebut untuk membeli obat yang ibunya minta. "Paracetamol ada Mbak?" Tanyanya pada petugas apoteker. "Ada, mau berapa lembar?" "Satu aja, yang paten ya." "Baik. Mohon di tunggu sebentar." "Ada lagi yang mau dibeli?" "Eum, obat untuk sakit badan apa ya Mbak?" Petugas itupun menawarkan beberapa pilihan, dia mengambil yang satu. Kemudian membayarnya. Setelah mendapatkan obatnya. Dia langsung pergi ke tempat lain untuk mengantarkan sisanya. Setiap mengantarkan ke rumah orang. Mereka punya karakter masing-masing yang sangat unik. Ada yang ramah, jutek, bahkan meremehkan juga ada. Namun di antara yang lain. Dia paling kenal dengan ibu yang satu ini. Sengaja dia datangi terakhir, karena dari rumah itu dekat ke halte. Sesampainya di tempat tujuan. Dia menekan bel, kemudian keluarlah ibu-ibu. Memang rata-rata pelanggan jahit ibunya adalah ibu-ibu. "Assalamualaikum," ujarnya memberi salam.. "Waalaikumsalam," jawab wanita paruh baya itu. "Nak Gagah, makin ganteng aja nih. tumben Kamu yang nganterin Nak?" tanya salah satu pelanggan yang sering meminta untuk dijahitkan baju di rumahnya. Mereka beberapa kali bertemu. "Iya Bu, Ibunya lagi sakit," jawabnya dengan ramah. "Ya ampun, sakit apa? Memang sih, kemarin saat ibu berikan bahan juga sudah tidak enak badan. Padahal, ibu sudah bilang. Jika memang tidak bisa, tidak apa-apa. Namun, ibumu memaksa. Katanya dia bisa." "Iya, Ibu memang senang menjahit. Sehari tidak melakukan aktivitasnya, seperti ada yang kurang." Dia tidak bohong, pernah sekali dia meminta waktu ibunya untuk pergi keluar. Namun, dia malah kena omel. "Iya, Kamu juga kan sibuk kuliah, dan tidak ada anak lain yang membantu. Jadi, pastinya dia kerepotan sendiri. Serba salah sih ya, tidak ada yang bisa serapih ibumu loh Nak, dia tuh menjahit dengan hati, hasilnya pun sangat memuaskan." "Iya Bu, terima kasih ya sudah berlangganan." Ini ucapan yang sangat tulus dari hati yang paling dalam. "Jadi, semuanya berapa?" Tanya ibu itu. "155 ribu Bu," jawabnya. Karena memang itu sudah ada di Kwitansi sebenarnya. "Sebentar, ibu ambilkan uangnya dulu." Gagah mengangguk tanda setuju. Kemudian tak lama, wanita itu keluar dan memberikan uangnya. "Ada uang pas gak Bu?" Tanyanya, setelah melihat uang yang diberikan 200 ribu. Dia memang tidak bawa kembalian. Karena dipikir akan pakai uang pas. "Enggak ada." "Ya sudah, kalau begitu. Biar jadi 150 aja." Gagah tidak masalah, lagipula tadi dia sudah dapat lebihnya. Anggap saja bersedekah. "Jangan dong, sudah kembaliannya untuk Kamu saja. Buat beli es." "Gak perlu Bu." Sungguh, dia tidak enak. "Eh jangan begitu," ujarnya tidak terima. Jika uangnya harus kembali lagi ke kantong. "Kalau begitu, terima kasih." Dia menerimanya bdengan senang hati. Tidak terpaksa sama sekali. Karena jika dikembalikan akan membuat orang tersinggung. "Iya. Kamu harus belajar yang rajin ya, dunia pasti akan berputar. Kamu pasti akan jadi anak yang sukses. Doakan saja, semoga Ayahmu tenang di alam sana." Ibu itu mengatakan dengan wajah yang sendu, seakan dia merasakan kesakitan yang dirasakan oleh Gagah. Sampai menepuk-nepuk pundaknya. Dia tidak tahu, jika pemuda itu seperti orang yang sedang disambar petir di siang bolong. Jika ini di rumahnya. Mungkin dia sudah pingsan. "Tenang di alam sana maksudnya?" Sungguh, dia dengan perasaan tidak karuan, butuh kekuatan yang penuh untuk bertanya maksud dari perkataan wanita paruh baya itu. Dia tidak mau mendengar kelanjutannya, tapi dia butuh tahu yang sebenarnya. "Iya, Kami tahu kok. Ayahmu sudah tidak ada. Tenang saja Gagah. Kamu anak yang kuat kok. Jadi, tetap semangat ya!" Ibu itu memberikan support. "Tahu dari mana? Apa ibu yang memberitahukannya?" Nada tanyanya sudah bergetar. Entah ibu itu sadar atau tidak. "Iya. Dulu sekali, saat kami bertanya. Memang sepertinya berat, karena dia kan jarang sekali mau berbicara. Namun, kala itu. Dia langsung membungkam mulut kami dengan perkataan tersebut." Nafasnya memburu tidak karuan. Dia ingin cepat pulang, dan menanyakan pada ibunya. "Saya pamit pulang dulu." Tanpa salim, lelaki itu langsung pulang. Dia bergegas pulang ke rumahnya. Membuat wanita paruh baya itu terlihat keheranan. "Dia kenapa kaget begitu ya?" Tanyanya pada diri sendiri. Gagah berlari sekencang mungkin, dia tidak perdul dengan matahari yang berada di atas kepalanya. Dia terus berlari agar segera sampai di halte. Dia ingin pulang, dan menanyakan kebenarannya pada sang ibu. Air matanya pun perlahan menetes, kemudian mengalir dengan deras. Apakah ini juga yang menyebabkan ibunya tidak pernah memberitahukan? Dan karena hal itu, ibunya jadi sakit. Sebab, dia semalam terus menyinggungnya. Ada rasa bersalah yang teramat dalam, meskipun perasaan kecewanya juga tak kalah besar. Jika memang sudah tiada. Kenapa ibu seakan-akan membuatnya masih tetap ada. Dia melihat bus itu berhenti di halte sebelum dia datang. Dengan kekuatan penuh, dia berlari sangat kencang mengejar agar tidak tertinggal. Namun sayang sekali. Dia tetap tertinggal. Dengan modal nekat, Gagah berlari di area khusus jalur bus tersebut. Dia terus memanggil agar bisa naik bus segera. Dia ingin cepat sampai, tidak perduli beberapa pasang mata melihat kearahnya dengan tatapan yang aneh. Beruntung, ada orang di dalam bus melihatnya, dan meminta agar kenek itu bilang pada supir agar berhenti. Saat melihat bus berhenti, Gagah segera naik. Kemudian, duduk dekat jendela. Kakinya terasa lemas. Badannya juga panas. Hidupnya terasa lebih berantakan dari yang seharusnya. Dia tidak tahu arah, kenapa hidupnya sangat menyedihkan. Dipermainkan oleh keadaan, bahkan ibunya sendiri tidak mau memberitahukan kebenaran. Dia memegang erat beso yang ada di bus tersebut. Dia juga tidak bisa menghentikan air matanya yang terus mengalir. Beberapa orang melihatnya dengan tatapan iba, bahkan ada yang secara diam-diam merekamnya. Entah untuk tujuan apa, yang jelas sepertinya orang itu sengaja mengambil keuntungan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD