"Karena sudah berkumpul semuanya. Saya rasa, kita bisa mulai rapat ini."
"Assalamualaikum semuanya. Terima kasih untuk kalian yang sudah menyempatkan waktunya untuk hadir di tengah aktivitas yang sedang dijalankan. Pertama-tama, Saya ucapkan Alhamdulillah, atas segala nikmat yang telah diberikan pada kita semua. Sehingga diberikan kesehatan dan bisa berkumpul bersama-sama di sini. Dalam kesempatan kali ini, Saya ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya karena telah memberikan contoh tidak baik, dengan membuat kegaduhan seperti kemarin. Semua di luar kuasa Saya sebagai manusia biasa yang bisa khilaf kapan saja. Namun, terlepas dari semua hal yang terjadi, Saya juga meminta agar kita semua bisa melanjutkan program yang sempat tertunda."
Belum selesai Gagah bicara. Ada seseorang mengangkat tangannya.
"Intrupsi Pak Ketua. Saya mohon ijin bicara."
"Iya, silahkan."
"Saya rasa tidak bisa melanjutkan project yang selanjutnya. Kami cukup kecewa dengan yang kalian lakukan. Sehingga, Kami pikir harus ada sanksi di sini. Seperti pada peraturan yang berlaku. Jika ada yang sudah mencoret nama baik organisasi ini. Artinya siap untuk dikeluarkan."
"Saya sendiri siap untuk mundur."
Bukan Gagah yang biacara, tapi Dino. Lelaki itu sepertinya tidak takut kehilangan jabatan. Berbeda dengan Gagah, dia bukan takut, tapi baginya tanggung jawab sebagai seorang ketua belum selesai.
Namun sepertinya, dia sadar. Ada campur tangan Dino dalam terjadinya rapat dan tuntutan anggota.
Gagah tidak akan menyerah begitu saja, dia harus mempertahankan haknya.
"Memang benar, tapi dilihat dari kasusnya dulu. Saya sama sekali tidak merugikan siapapun di sini. Saya juga sudah menyelesaikan permasalah yang ada. Jadi, tidak seharusnya sanksi itu berlaku."
Gagah menyuarakan pikirannya. Dia tidak akan mengalah sekarang.
"Setuju!" Teriak sebagian orang yang sepertinya masih ada di pihak dia. Namun tidak bisa menunjukan secara terang-terangan.
"Saya akan tetap ada di sini. Jika kalian mempertahankan. Semisalnya sudah tidak bisa dipertimbangkan. Saya tetap mundur. Lagian, saya tidak takut kehilangan jabatan."
Pria itu melirik Gagah ketika mengucapkan kalimat terakhir.
"Saya datang untuk meminta maaf, dan tidak merencakan apapun. Sebagai bentuk tanggung jawab. Saya akan memimpin ini dengan lebih baik lagi."
"Ketua yang mudah terpancing emosi. Apakah bisa jadi ketua yang bertanggung jawab? Memalukan."
"Kenapa Kamu menyerang Saya? Apakah tidak bisa melihat dirimu di cermin. Bagaimana semua Kamu rencanakan sendiri."
"Oh ya? Punya bukti apa? Jangan asal menuduh."
"Kamu memberikan sejumlah uang pada orang-orang suruhanmu." Pemuda itu berkata dengan penuh percaya diri.
"Hanya sebatas itu? Sekarang, kalian pikir baik-baik. Saya boleh memberikan uang pada siapa saja. Tidak perlu hanya padanya. Dan kalian juga tahu sendiri. Siapa yang meminta maaf karena kesalahannya di hadapan semua mahasiswa? Bukan Saya kan?"
Wajah Gagah merah padam. Dia sudah berusaha untuk menahan diri agar tidak terpancing emosi.
"Kamu telah merencanakan kejahatan Dino. Jika saya jahat. Mungkin sudah Saya laporkan ke polisi. Namun, Saya tidak melakukan apapun. Harusnya Kamu sadar diri untuk tidak melakukan hal membahayakan orang lain. Tidak selamanya yang menyelamatkanmu."
Dia tetap bersikap tenang.
"Kamu pikir, selamanya mereka akan diam? Kamu hanya sedang beruntung. Terlindungi oleh aset keluarga."
"Apa perlu, Saya buka kasusmu yang sering membuat onar dan menjatuhkan organisasi ini?"
Gagah tidak asal bicara, dia juga tahu beberapa temannya yang lain mengetahui hal tersebut. Seperti kasus lelaki itu yang tertangkap saat mabuk di sebuah bar.
"Pukul 2 dini pagi. Kaus hitam, topi hitam, brutal di jalan."
Brakk
"Kurang ajar!"
Dino bangun, dia marah dan menunjuk-nunjuk Gagah. Lelaki itu berhasil memancing emosinya.
Perdebatan yang alot pun terjadi, mereka ada yang pro dan kontra. Padahal, pada pembahasan ini Gagah ingin menyelesaikan masalah, bukan berdebat seperti ini.
Mereka semua tahu, bagaimana Dino yang sering membuat onar. Namun, tidak ada satupun yang bisa melawannya. Karena kekuasaan, dia masih bebas melakukan apapun yang dia sukai. Memang tidak adil. Namun, kenyataannya seperti itu.
Beruntung sekali. Sebagian mereka paham dan tidak menuntut. Mereka hanya menginginkan agar keduanya tidak membuat masalah lagi seperti sebelumya.
"Semoga kejadian seperti itu tidak terulang kembali. Kami hanya memberikan satu kali kesempatan lagi, jika memang kalian masih ada yang membuat masalah. Maka kita bisa mengajukan untuk pemecatan dan pemberian secara tidak hormat."
"Saya mengerti."
Mereka menunda rapat, untuk beribadah sebentar. Karena waktunya sudah menunjukan waktu salat magrib. Sementara yang bukan beragama muslim menunggu mereka yang muslim sedang salat.
Setelah membahas itu, mereka mulai merencakan hal yang sudah diprogramkan. Membahas seperti biasa. Jangan diragukan lagi, bagiamana seorang Gagah memimpin jalannya rapat dengan sangat baik. Membuat keputusan sangat epik, mempertimbangkan banyak hal dan dari berbahagi aspek.
Setelah acara rapat selesai, mereka bubar. Untuk pulang ke rumah masing-masing.
"Lo berlindung diatas kasus-kasus Gue."
Dino sepertinya sengaja mengejek Gagah. Dia masih belum puas, karena lelaki itu masih mendapatkan banyak simpatik. Gagah juga merasa lega, karena teman-teman organisasinya masih cukup percaya.
"Segala masalah yang Lo buat. Adalah karena kesalahan Lo dan kecerobohan sendiri. Karena saat itu kita masih berteman baik, meskipun ternyata Lo cuma pura-pura doang temanan sama Gue. Masih Gue tutupi kasusnya dan tidak pernah membahasnya di ruangan ini. Namun, mereka juga melihat faktanya meksipun bungkam. Jadi, tanpa Gue jelasin pun mereka sudah tahu, dan tidak akan berpihak pada orang licik seperti Lo."
"Lo yang licik. Ambisius, padahal tidak mampu!"
Gagah menghela nafas, ucapan Dino hanya dia anggap angin lalu, kemudian dia keluar dari ruangan itu tanpa permisi lagi.
Dino yang mendapat perlakuan seperti itu, tidak terima. Dia mengepalkan tangannya. Dendamnya pada lelaki itu semakin besar saja. Dia tidak pernah mau kalah dan tidak boleh sampai kalah. Apalagi hanya oleh seorang Gagah yang sangat lemah baginya.
Lagi dan lagi, usahanya untuk menjatuhkan lelaki itu kembali gagal.
Gagah memesan ojek online. Dia menunggunya di halte. Ternyata selepas magrib tadi hujan. Terlihat dari kubangan air dinjalan. Sebuah mobil mewah melintas dengan kecepatan tinggi, sehingga air tersebut terlempar dari tempatnya dan mengenai baju gagah sampai basah.
Dia tahu siapa pelakunya, tapi tetap diam saja. Dia tahu lelaki itu pasti sedang tidak tenang hidupnya. Karena merasa gagal.
Sementara Gagah sendiri semakin semangat. Dia tahu, perlahan akan bisa mengembalikan kepercayaan orang-orang dan nama baiknya. Dino salah, telah membangunkan singa yang sedang tertidur lelap.
"Pak Gagah ya?" Tanya seorang pengemudi ojek online. Dari platnya dia sudah tahu bahwa itu orang yang akan mengantarnya pulang.
"Iya Pak."
"Sesuai aplikasi ya Pak alamatnya?"
"Iya betul."
"Baiklah. Ini helmnya."
Gagah menerima helm tersebut, lalu dia pulang dengan senyuman sembari menatap gedung universitas tercinta. Dia masih diberi keberuntungan.