Part 18

1744 Words
“Oh, ini istri yang dipilih Adrian, ternyata hampir mirip seperti gembel. Pakaiannya saja murahan, terlihat sekali kalo dari kalangan rendahan,” ucap Rebeca anak dari sahabatnya Ibu Ratu, yang menghina Serin tepat di tengah-tengah para tamu. Serin cuma diam mendengar hinaan yang dilontarkan Rebeca. Karena buat Serin, perkataan Rebeca hampir mirip seperti wanita yang tidak berpendidikan sama sekali. Tiba-tiba Rebeca berjalan maju ke arah Serin dan mendorong Serin sampai Serin terjatuh sehingga kepala Serin terbentur pojok meja sampai berdarah. Serin memegangi kepalanya yang terasa berdenyut. Suasana tiba-tiba menjadi hening melihat apa yang sudah dilakukan Rebeca pada Serin. Arabelle melihat apa yang sudah dilakukan Rebeca pada Serin, saat Arabelle berjalan menghampiri Serin dengan raut muka yang tidak bisa tertebak. Arabelle memegang bahu Serin kemudian membimbingnya untuk berdiri. Serin dihampiri Ibu Ratu yang terlihat panik, Arabelle menyerahkan Serin pada Ibu Ratu. Arabelle berjalan mendekat menghampiri Rebeca yang sedang berdiri dengan angkuhnya. Arabelle menatap Rebecca dengan tatapan membunuh. “Katakan lagi, apa yang ingin kau katakan pada Serin,” teriak Arabelle di tengah-tengah pesta. Suasana menjadi mencekam saat Arabelle marah. Arabelle sudah tidak bisa menahan amarahnya karena melihat adiknya dihina oleh orang. Terlebih lagi yang menghina Serin tak ayal seperti sampah di mata Arabelle. “Kenapa kau jadi yang marah, aku ngomong dengan sebenarnya, memang dia seperti gembel, terlihat sekali kalo dia seperti orang rendahan. Upik abu yang bermimpi menikahi seorang pangeran. Tidak pantas berdampingan dengan Adrian,” jawab Rebeca dengan sombong sambil membusungkan dadanya ke depan. Arabelle sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi. Arabelle maju dan mencekik leher Rebeca sampai tidak bisa bernafas. “Lepaskan aku, lepaskan aku, sialan,” ucap Rebeca terbata-bata, karena tidak bisa bernafas dengan baik. Adrian dan para sahabatnya mendengar keributan itu dan langsung berlari ke arah datangnya keributan yang sedang berlangsung. Saat melihat Serin terluka, Adrian langsung menghampirinya dan mengendongnya ke dalam rumah. Kemudian keempat sahabatnya berlari ke arah keributan yang ada di pesta itu. Stevant saat melihat istrinya mencekik seorang wanita langsung menghampiri Arabelle untuk menenangkannya. “Lepaskan Sayang, jangan kotori tanganmu dengan membunuh wanita sialan ini,” ucap Stevant secara halus pada istrinya, Arabelle tetap tidak mau melepaskan cengkramannya pada Rebeca. Arabelle sudah diliputi kemarahan dalam dirinya. Leo saat melihat tatapan membunuh Arabelle, mulai begidik ngeri, karena dia tahu apa yang akan dilakukan nonanya, kalau dalam keadaan marah seperti sekarang ini. Satu-satunya yang bisa menenangkan Arabelle, cuma Serin. Leo berlari ke dalam rumah mencari Serin, saat melihat Serin sedang diobati oleh Adrian, Leo menghampiri Serin dengan raut muka cemas. Serin yang melihat raut muka Leo, seketika mengerutkan dahinya. “Rin,” ucap Leo dengan nafas ngos-ngosan mendekat ke arah Serin. Serin menatap pada orang yang bersuara yang memanggil namanya itu. Serin memicingkan mata, menerka-nerka pada orang yang ada di depannya saat ini, karena dia tidak mengenali laki-laki yang ada di depannya itu. “Kenapa kau ke sini Leo,”ucap Adrian menahan marah karena Leo begitu dekat dengan Serin. “Arabelle mau membunuh wanita yang sudah melukai Serin,” ucap Leo. Serin langsung berdiri saat mendengar kata Arabelle. Serin berlari ke arah taman tempat pesta itu digelar, diikuti Adrian yang juga ikut berlari menyusul Serin. Leo dan anggota keluarga Aditama yang sedang berkumpul di dalam rumah ikut menyusul ke arah taman tempat acara digelar. Serin saat melihat Arabelle mencekik Rebeca, ia langsung berlari menghampiri Arabelle dan memegang tangan Arabelle dengan erat. Serin tak ingin tangan Arabelle kotor cuma gara-gara wanita yang tidak terlalu penting itu. “Sudah cukup Arabelle, jangan teruskan lagi. Lepaskan dia, biar aku saja yang membalas perlakuannya padaku,” ucap Serin dengan lembut dengan tetap menatap mata Arabelle yang telah diliputi oleh amarah. Arabelle yang melihat Serin langsung menghempaskan tubuh Rebeca sampai dia terjatuh ke tanah. Arabelle menghampiri Serin dan Memeluk Serin dengan penuh kasih sayang. Arabelle melepaskan pelukannya dan memegang kepala Serin untuk melihat luka di dahinya yang sudah diobati. “Kenapa kau diam saja diperlakukan seperti itu?” tanya Arabelle dengan kesal. Serin cuma terkekeh mendengar perkataan Arabelle. Arabelle yang melihat adiknya terkekeh cuma bisa menggelengkan kepalanya. Tidak tahu apa yang direncanakan adiknya itu untuk membalas wanita ular yang sudah mempermalukannya. “Dasar kau ini, membuatku khawatir saja,” ucap Arabelle dengan sinis. “Kau saja yang bodoh, cepat terbawa emosi. Padahal aku tadi mau membalas perlakuannya padaku,” ucap Serin dengan santai. Serin menghampiri Rebeca dengan anggun dan Arabelle cuma melihat apa yang akan dilakukan oleh adiknya itu. “Tadi kau bilang aku seperti gembel dan bajuku terlihat sangat murahan, memang aku seperti orang rendahan, seperti upik abu yang bermimpi menikah dengan pangeran,” ucap Serin dengan lembut. Rebeca yang mendengar perkataan Serin semakin terlihat kesal kepada Serin. “Memang kau terlihat seperti wanita rendahan dan sangat murahan. Tidak pantas dengan Adrian,” ucap Rebeca dengan sombong. Serin yang mendengar perkataan Rebeca cuma menyunggingkan senyum. “Ok, lihat apa yang akan di lakukan orang rendahan ini,” ucap Serin dengan serius. Rebeca salah besar berurusan kerjanya yang bernama Tuan Andi yang tak lain adalah ayah dari Rebeca. Serin adalah penanam modal terbesar di perusahaan Ayah Rebeca. “Hallo Tuan Andi,” ucap Serin dengan santai. Serin membesarkan suara panggilannya, supaya Rebeca mendengarkan obrolannya dengan ayah Rebeca. “Miss. Carla, bagaimana kabar Anda?” tanya Tuan Andi dengan sopan. Rebeca yang mendengar papanya begitu ramah, bertanya-tanya dalam benaknya. Siapa sebenarnya wanita yang berhadapan dengannya saat ini. “Kabar saya kurang baik Tuan Andi, karena ulah Putri cantik Anda,” ucap Serin dengan dingin. “Apa yang dilakukan putri saya Miss, saya mohon maaf atas nama putri saya,” ucap Tuan Andi penuh penyesalan. “Maaf Tuan, saya sudah tidak bisa mentolerir putri Anda, karena sifat sombong yang ia miliki. Mulai sekarang, kerja sama kita batal dan seluruh saham yang saya tanam di perusahaan Anda akan saya cabut kembali. Sayang sekali Tuan Andi,” ucap Serin dengan santai dan memutuskan panggilannya. Rebeca sedang dihantam oleh sebongkah kayu di kepalanya. Mukanya langsung pucat pasi mendengar perkataan Serin. “Jangan suka menganggap remeh seseorang cuma dari luarnya saja, karena kau tak lebih baik dari dia yang kau remehkan,” ucap Serin sambil berlalu pergi dari hadapan Rebeca yang masih shock. Serin menghampiri Arabelle yang sedang tersenyum ke arahnya. “Adikku semakin dewasa, sudah saatnya sekarang aku mempertemukannya dengan papa dan mama,” ucap Arabelle dalam hati. “Rin,” ucap Arrabelle. “ Iya,” jawab Naraya. “Aku ingin mengajakmu menemui seseorang,” ucap Arabelle. “Menemui siapa, mukamu jangan serius seperti itu,” ucap Serin dengan ketus. Arabelle menggandeng tangan Serin berjalan menghampiri kedua orang tua paruh baya yang dari tadi menyaksikan apa yang sudah mereka lakukan, yang tak lain adalah kedua orang tua Arabelle. Serin semakin bingung dengan apa yang dilakukan Arabelle mengajaknya menemui pasangan paruh baya yang ia sendiri tidak mengenalnya. “Siapa mereka Arabelle, kenapa aku harus bertemu dengan mereka?” tanya Serin penasaran. “Mereka orang tuaku dan juga orang tuamu Rin,” ucap Arabelle dengan serius. Kedua orang tuanya dan Serin pun sama-sama kaget dengan kebenaran yang barusan mereka dengar dari mulut Arabelle. “Omong kosong apa ini Arabelle,” ucap Serin menahan geram. Akhirnya mengalirlah cerita dari mulut Arabelle, rahasia yang sudah ia ketahui selama ini dan alasan apa yang mendasari dia menyembunyikan sebuah kebenaran. “Kau masih ingat Rin, kejadian empat tahun yang lalu saat aku tertembak dan kau yang mendonorkan darahmu padaku.” Arabelle mengingatkan Serin kejadian dulu yang pernah mereka alami bersama dan dibalsas anggukan. Kemudian Arabelle melanjutkan ceritanya. “Setelah aku mengetahui kalo darahmu sama denganku, mulai saat itu aku mencari tahu tentangmu, tentang masa lalumu, aku mengerahkan seluruh anak buahku dan kemampuanku untuk menembus data yang tersimpan rapat dari kepolisihan, tentang penculikanmu dulu saat bayi. Orang tua kita tidak pernah membuangmu ke panti asuhan. Tapi kamu saat bayi diculik oleh musuh dari papa. Mereka menculikmu karena perusahaan mereka hancur karena kalah tender dengan perusahaan papa dan mereka menyuruh pembantunya untuk membunuhmu, tapi pembantu itu malah menitipkanmu dipanti asuhan. Mereka mengirim mayat bayi yang wajahnya rusak ke rumah. Papa dan Mama mengira kalo kamu sudah meninggal, karena tidak bisa menemukanmu di mana-mana. Mama sempat depresi saat mengetahui kalo kamu sudah tidak ada. Keluarga kita tidak baik-baik saja setelah kehilanganmu. Saat aku sedang bersamamu, aku mengambil rambutmu untuk kujadikan sampel tes DNA kita dan hasilnya memang cocok, kalo kamu adalah adikku,” ucap Arabelle pada Serin. Serin terjatuh ke lantai. Dia tidak bisa mencerna semuanya, seperti ada petir yang menyambarnya saat itu juga. Serin tak percaya bisa bertemu dengan kedua orang tuanya, hal yang tak pernah terpikirkan oleh Serin selama ini. Bisa bertemu dengan keluarganya. Memiliki orang tua yang utuh dan mempunyai saudara perempuan.Tuan Antonio dan istrinya menghampiri Serin dan memapah putrinya yang masih shock dengan sebuah kebenaran, seperti mereka saat ini yang masih kaget bisa bertemu dengan putrinya yang sudah berpisah dengannya puluhan tahun. “Olin Kecil Papa,” ucap Tuan Antonio sembari memeluk putrinya dengan air mata yang menetes dari pelupuk matanya. Air mata kebahagiaan bisa dipertemukan lagi dengan putrinya yang dulu diculik oleh saingan bisnisnya. Tak bisa digambarkan lagi kebahagiaan yang telah dirasakan Tuan Antonio saat ini. Tuan Antonio menggandeng Serin untuk bertemu dengan mamanya yang masih menangis dalam diam. Serin yang melihat kesedihan yang dirasakan mamanya, benar-benar tidak tega. Serin tidak bisa membayangkan hancurnya hati kedua orang tuanya dulu saat mereka kehilangan dirinya. Seein menghampiri mamanya dan menghapus air mata yang mengalir di pelupuk matanya. “Mama,” ucap Serina sambil berhambur di pelukan mamanya. Ibu Celia semakin tidak bisa menahan air matanya yang terus mengalir. Ibu Celia memeluk erat putrinya dan menciumi seluruh wajah putrinya dengan sayang. Putrinya yang dulu hilang sekarang sudah kembali lagi. Keluarga Wijaya saling berpelukan. Semua mata yang melihat ikut terharu dengan pertemuan satu keluarga itu. Adrian yang melihat dari jauh istrinya, ikut merasakan kebahagiaan dan kesedihan karena istrinya sudah bertemu dengan kedua orang tuanya. Memiliki Serin adalah anugerah yang diberikan Tuhan untuknya, akan dia jaga anugerah itu dengan sepenuh hati. **** Setelah acara selesai, semua tamu berpamitan pulang tinggal keluarga Lessham dan Keluarga Wijaya yang masih berkumpul di ruang keluarga, mereka saling bercengkrama dengan hangat. Adrian dan sahabat-sahabatnya berkumpul di teras samping sambil bertukar kabar. “Stev, aku mau tanya padamu,” ucap Adrian dengan serius. “Tanya saja, ada apa?” jawab Stevant dengan tenang. “Stev, apa alasanmu kerja sama dengan perusahaan BL.Corporation?” tanya Adrian penasaran. “Oh, masalah itu, aku cuma menuruti istriku saja. Arabelle ada rencana besar buat keluarga Albert,” ucap Stevant dengan santai. Tak bisa dianggap remeh, kalau Arabelle yang sudah bertindak, sampai suaminya pun tidak bisa berkutik. Adrian mengganggukkan kepalanya, tanda dia mengerti jalan pikiran Arabelle. “Kelihatannya kita sekarang jadi suami-suami bucin yah,” ucap Jordan yang diangguki teman-temannya. “Gak masalah bucin, yang penting istri-istri kita semua pada bahagia,” ucap Stevant dengan santainya, mereka berlima saling tertawa dengan sebutan bucin. *** Indahnya sebuah kebersamaan..
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD