Part 19

1502 Words
Apartement Serin, Jakarta pusat 06:30 Hal yang paling membahagiakan adalah saat bisa menikah dengan orang yang kita cintai. Kebahagiaan yang tidak bisa ditukar dengan apapun di dunia ini. Seperti sekarang, yang dirasakan Serin dan Adrian, belajar memahami karakter masing-masing dan saling menerima kekurangan satu sama lain, mencintai dengan tulus dan apa adanya, dengan sifat manja dan posesif suaminya, Serin terlihat sangat bahagia. “Mas, nanti ke rumahnya Mama bareng apa gimana, Mas? Karena aku ada meeting sampai sore nanti,” ucap Serin dengan lembut pada suaminya, sambil menyiapkan sarapan untuk Adrian. “Bareng saja Sayang, nanti Mas pulang dari perusahaan langsung mampir ke perusahaan kamu,” ucap Adrian dengan tetap membaca e-mail yang masuk di ponselnya. “Ya sudah Mas klo gitu.” Serin tidak bisa membantah apa yang dikatakan suaminya. Serin yakin apa yang dikatakan suaminya adalah yang terbaik untuk dirinya. “Mas ayo sarapan dulu,” ucap Serin pada suaminya. “Iya Sayang.” Adrian berjalan ke arah istrinya, memeluknya dari belakang dan mengecup sebelah pipi Serin. Serin merasa sangat bahagia dengan prilaku manis suaminya pada dirinya. Buat Serin hal kecil yang dilakukan Adrian adalah bentuk rasa cinta padanya. “Duduk Mas! sarapan dulu, habis itu kita sama-sama berangkat ke kantor,” ucap Adrian dengan lembut. Adrian menurut melepaskan pelupakannya dan duduk di kursi menuruti istrinya. Adrian menatap wajah Serin tanpa bosan. Wajah cantik yang sudah mencuri hatinya, semenjak pertemuan pertamanya. “Hemmm..enak banget Sayang,” ucap Adrian sambil mengunyah suapan pertamanya. Nasi goreng ayam yang benar-benar lezat. “Habisin Mas, kalo bisa nambah lagi kalau masih lapar,” ucap Serin pada suaminya. Semenjak menikah, Adrian jarang memesan makanan dari luar, seperti dulu yang sering dia lakukan. Buat Adrian, masakan istrinya adalah masakan yang paling enak yang pernah ia rasakan. Tiba-tiba Serin merasakan mual saat menikmati makanannya. Dia langsung berlari menuju kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya. Adrian yang melihat istrinya berlari ke kamar mandi, ikutan berlari melihat keadaan istrinya. “Kenapa Sayang?” ucap Adrian dengan khawatir sambil memijat tengkuk istrinya. “Ngak tahu Mas tiba-tiba mual saat makan,” ucap Serin dengan raut muka pucat. Adrian yang melihat muka istrinya pucat semakin khawatir. “Kita ke dokter saja ya Sayang! Mas takut kamu kenapa-kenapa,” ucap Adrian dengan lembut pada istrinya. Serin menganggukkan kepala, mengiyakan perkataan suaminya. Adrian mengendong istrinya ala bridal style menuju sofa mendudukkan Serin di sofa. Adrian bersiap-siap mengambil dompet dan kunci mobil. Setelah itu, Adrian mengendong Serin lagi keluar menuju lantai bawah parkiran mobilnya. “Mas turunin saja aku, berat mas badanku,” ucap Serin. “Engga Sayang, kamu gak berat,” ucap Adrian meyakinkan istrinya. Setelah sampai parkiran apartemen, Adrian berjalan menuju mobilnya dan membuka pintu mobilnya. Mendudukkan istrinya di sebelah kursi pengemudi. Setelah itu, Adrian masuk ke dalam mobilnya dan menjalankannya menuju rumah sakit. Serin menghubungi Carlos untuk menghendel perusahaan kali ini. “Carlos...” ucap Serin “Iya Nona, ada apa? suara Nona terdengar lemas, apa terjadi sesuatu Nona?” ucap Carlos dengan cemas. “Tidak apa-apa, jangan cemas, ini aku lagi menuju rumah sakit bersama suamiku,” ucap Serin menenangkan Carlos yang terdengar khawatir. “Baik Nona, kalau anda perlu apa-apa, saya akan datang,” ucap Carlos. Serin buat Carlos bukan sekedar atasan saja. Carlos sangat menyayangi Serin layaknya seorang kakak pada adik perempuannya. “Tolong heandel perusahaan dan nanti saat meeting gunakan video confreend denganku supaya aku tetap bisa memantau dari sini,” ucap Serin dengan lemas. “Baik Nona,” ucap Carlos dengan sopan. Panggilan pun diakhiri oleh Serin. “Mas...Lemes banget badanku, padahal tadi gak pa-pa” ucap Serin sambil bersandar di bahu suaminya. Adrian mencium puncak kepala istrinya dengan penuh cinta. “Nanti kita periksa yah, Sayang. Semoga saja tidak kenapa-kenapa.” ucap Adrian menenangkan hati istrinya meskipun dia sendiri merasa khawatir. “Iya Mas....” tak berselang lama mobil yang dikendarai Adrian memasuki rumah sakit. Setelah mobil terparkir, Adrian dan Serin keluar dari mobil dan berjalan berdampingan sambil memapah Serin. Josep menghampiri Adrian setelah tadi Adrian menghubungi Josep untuk mengurus registrasi rumah sakit sebelum dia sampai ke rumah sakit. “Sudah diurus semuanya?” tanya Adrian dengan nada datar. “Sudah Boss. Tinggal masuk saja ke ruang pemeriksaan, semua sudah beres.” ucap Josep dengan sopan. “Baik Kalo gitu, terima kasih atas bantuanmu,” ucap Adrian dengan tulus. Josep yang mendengar bosnya berterima kasih padanya benar-benar kaget karena tak pernah sekalipun dia mendengar bossnya mengucapkan terima kasih. Sungguh sebuah kemajuan. batin Josep. Adrian langsung memasuki ruangan pemeriksaan dokter keluarganya dengan tetap memapah istrinya yang terlihat lemas tak bertenaga. Dokter Franky sudah menunggunya dari tadi. “ Pagi Dok,” sapa Adrian “Pagi Tuan Adrian, bisa saya bantu?” ucap Dr.Franky dengan sopan. Adrian dan Serin di persilakan duduk oleh Dr.Franky. Adrian membantu Serin untuk duduk di kursinya. “Istri saya tadi mual dan muntah Dok, sekarang dia merasa sangat lemas,” ucap Adrian kepada Dr.Franky. Dr.Franky tersenyum menanggapi ucapan Adrian. “Miss Serin, terakhir datang bulan kapan?” ucap Dr. Franky. Serin berpikir sejenak dan mencerna perkataan Dr.Franky. Serin menutup mulutnya tak percaya kalo dia sekarang telat seminggu. “Dokter kalo saya hitung, saya telat datang bulan seminggu ini Dok,” ucap Serin. Adrian yang mendengar perkataan istrinya, tidak percaya. Adrian menerka-nerka dalam hatinya, dia cuma bisa berharap yang terbaik untuk keluarga kecilnya. “Tuan, untuk lebih akuratnya, lebih baik Anda sekarang membawah Miss Serin ke spesialis kandungan, karena di sana nanti, Miss Serin akan dilakukan USG kehamilan. Dan untuk sekarang, saya akan buatkan surat pengantar. Setelah ini, Anda bisa langsung ke sana,” ucap Dr.Franky. “Baik Dok,” ucap Serin dengan sopan. Setelah surat pengantarnya dibuatkan oleh Dr.Franky, Serin dan Adrian, langsung menuju ke ruang spesialis kandungan, untuk memastikan Serin hamil atau tidak. Adrian memberikan surat pengantar yang dia bawa ke perawat yang bertugas di depan ruangan sepesialis kandungan tersebut. Tak berselang lama, nama Serin dipanggil oleh perawat jaga untuk masuk ke ruangan dokter spesialis kandungan. “Ibu Serin,” ucap perawat yang menjaga di depan pintu ruang spesialis kandungan tersebut. Serin berdiri dari tempat duduknya dan diikuti oleh Adrian ikut menemani. “Iya Saya” ucap Serin dengan sopan. “Silahkan masuk Bu, Dokter Siska sudah menunggu,” ucap perawat dengan sopan dan kembali meneruskan pekerjaannya. Serin dan Adrian berjalan menuju ruangan Dokter Siska. “Ibu Serin.” “Iya Dok.” “Mari berbaring di tempat periksa dulu, Bu, karena saya akan melakukan USG, untuk melihat apa benar Anda sekarang sedang hamil atau tidak,” Setelah Serin berbaring terlentang, Dokter Siska membuka area perut Serin, memberikan gel di area perut yang akan ditempeli alat USG dan kemudian Dokter Siska mulai memeriksa Serin dengan menggunakan alat USG. Terlihat di layar yang di sambungkan dengan mesin USG. Terlihat jelas isi rahim Serin, ada janin yang sedang tumbuh di rahimnya, masih sebesar biji kacang. Dokter Siska menjelaskannya secara detail ke pada Adrian dan Serin. Kebahagiaan tak bisa lagi diungkapkan oleh keduanya. Serin begitu bahagia dan terharu, mengetahui kalau di dalam rahimnya sekarang ada janin yang sedang tumbuh. Dia masih teringat cemohan mantan mertuanya yang sering mengatakan kalo dia mandul dan menjadi wanita gagal yang tidak subur, tidak bisa memberikan keturunan untuk Michel. Tapi sekarang Tuhan berkehendak lain dengan memberikan anugrah terindah untuknya, memberikan malaikat kecil yang sekarang tumbuh di rahimnya. Adrian menatap istrinya dengan tatapan penuh syukur dan penuh cinta. Wanita yang sangat dia cintai, sekarang mengandung darah dagingnya. Buah dari cinta mereka berdua. Kebahagiaan Adrian sekarang tidak bisa tergambarkan dengan apa pun. Adrian sangat-sangat bahagia, karena sekarang dia menjadi calon ayah. Adrian akan ikut serta menjaga kehamilan istrinya yang tergolong masih muda dan perlu benar-benar ekstra hati-hati. Adrian berjanji pada dirinya sendiri, jika dia akan menjaga calon bayinya dengan sepenuh hati. “Selamat yah Bapak dan Ibu, karena sekarang kalian akan menjadi calon orang tua,” ucap Dokter Siska dengan menyerahkan hasil USG dan resep vitamin yang dia tuliskan, untuk Serin. Serin menerimanya dan memberikan pada suaminya untuk ia tebus di apotik. Mereka berdua pamit dan meninggalkan ruangan Dokter Siska dengan senyum yang terpampang di wajah mereka berdua. Saat berjalan di koridor rumah sakit, orang yang paling ingin Serin hindari selama ini berjalan berlawanan jalan dengannya. Adrian yang juga melihat Michel, semakin mengeratkan tangan pada istrinya. Memberikan kekuatan untuk Serin, karena Serin sekarang tidak sendiri, ada dia dan calon anaknya. Serin tersenyum manis pada suaminya, meyakinkan suaminya kalo dia baik-baik saja. Michel cuma masa lalunya dan masa depannya yaitu suaminya dan calon anaknya yang masih ada di rahimnya untuk saat ini. **** “Takdir seperti apa ini, aku bertemu dengan mantan istriku. Tepat dia dihadapanku, dia keluar dari pintu spesialis kandungan bersama seorang pria tampan. Wajah pria itu seperti tidak asing untukku. Siapa pria yang bersama Serin itu. Entah kenapa di hati kecilku tidak terima dengan keintiman mereka berdua. Apa sebenarnya yang aku rasakan ini, perasaan apa ini? mulutku seperti keluh saat mau menyapanya. Aku cuma bisa memandangi kepergiannya dengan diam. Kepergian wanita yang pernah ada dalam hidupku, yang meninggalkanku tanpa aku bisa minta maaf padanya. Aku melihat istriku yang berjalan di sampingku, menuju tempat pemeriksaan kandungan,” batin Michel “Siapa laki-laki yang bersama Setin itu?” pertanyaan itu terngiang-ngiang di benak Michel. *** Masa lalu tinggal masa lalu..... Tak ada Bubur yang Bisa Jadi Nasi... Seperti itu pula diriku.... Di Mata ku Dia Masa laluku... Dan Suamiku adalah Masa Depan ku... { Serin Amanda Carla}
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD