"Jadi menurut lo gimana? gue harus apa?" tanya Bima pada Robi.
"Ya lo maunya apa?" tanya Robi balik.
"Lahh kok lo tanya gue? gue nanya ke lo, gue minta solusi ke lo, kok lo malah nanya balik ke gue sih? jadi apa gunanya gue nanya ke lo?" tanya Bima kesal.
"Gue ini cuma pendengar yang baik dan budiman. Gue cuma bisa ngasih saran aja ke lo. Selebihnya lo sendiri yang nentuin apa yang terbaik buat lo dan keluarga lo. Itu semua tergantung keputusan lo, bukan gue." Robi tak ingin memberikan pendapatnya pada Bima.
"Ya tapi kan lo belum ada ngasih nasehat apa pun ke gue. Gimana sih?" Bima benar-benar kesal pada Ribuan.
"Lo yang gimana, gue mau tau dulu apa kemauan lo. Nanti gue bakalan kasih saran dan apa yang baik menurut gue setelah lo ceritain semuanya, apa yang lo mau." Robi meminta Bima untuk menceritakan apa kemauannya.
"Kenapa lo masih pake tanya sih? gue jelas uda ngomong panjang lebar masa lo gak tau sih gue maunya apa. Jelas gue mau keluarga gue balik seperti semula, keluarga yang bahagia, bukan keluarga yang mencar begini. Liat anak istri gue uda pergi dari rumah. Ini semua karena siapa? ya karena anak itu, karena Raka. Gue maunya Raka pergi dari kehidupan Umaya. Gue gak mau kalau Umaya pacaran apa lagi sampai nikah sama dia. Gue gak rela anak gue dapat suami kayak Raka." Bima mengungkapkan semua keinginannya.
"Lahh emangnya Raka kenapa? lo kenapa gak suka sama Raka? perasaan Raka juga pengusaha sukses, uda mapan, baik juga anaknya kan. Bahkan yang nyelamatin anak lo dari bahaya ya si Raka. Kenapa lo segitunya gak suka sama si Raka sih? jelas jelas si Raka itu anak baik. Jangan samakan orang tua dengan anak. Jelas itu uda beda, orang tua dan anak tubuhnya beda, jiwanya beda, sifatnya beda, hatinya beda, wataknya juga beda. Gak ada yang sama. Uda gue bilang, bahkan manusia kembar sekalipun juga gak bisa menentukan sifat dan kepribadian mereka sama. Kenapa lo alergi sama fakta itu sih? gue heran deh liat lo. Lo uda tua, uda punya anak gadis yang uda mu nikah, tapi pemikirannya masih aja kayak bocah. Sadar gak sih lo, kalau lo itu harusnya bisa dong nurunin ego lo. Keluarga itu isinya bukan cuma lo doang, ada anak sama istri lo juga. Mereka berhak mengutarakan pendapat dan juga isi hati mereka. Mereka berhak menentukan pilihan mereka sendiri. Terutama anak lo, dia tuh uda besar, lo harusnya ngerti lah. Lo pernah muda kan? tau dong rasanya cinta gak direstui gimana. Jadi lo harus tau juga rasa sakit anak lo gimana kalau cintanya gak direstui. Lo gak boleh egois, Bim." Robi menasehati Bima panjang lebar.
"Tapi gue ngelakuin ini untuk yang terbaik buat anak gue. Gue gak mau kalau dia bakalan gak bahagia di kemudian hari." Bima tetap lah Bima, dia masih kekeuh dengan pendapat dan pikirannya.
"Lahh lo khawatir kalau dia gak bahagia di kemudian hari? lo gak khawatir kalau anak lo setres atau anak lo gak bahagia di masa depan itu karena lo? karena lo yang gak ngasih restu ke hubungan dia dan Raka. Lo gak ngebayangin kalau seandainya emang Raka lah calon suami terbaik untuk anak lo, dan saat ini lo tolak dia sebagai calon mantu. Lo gak ngebayangin nasib anak lo di masa depan gimana kalau jatuh ke tangan lelaki yang salah pilihan lo? lo gak ngebayangin itu?" tanya Robi pada Bima. Sesungguhnya Robi paling malas jika Bima sudah curhat dan minta solusi padanya. Pasalnya Bima sangatlah keras kepala. Menurut Robi percuma Bima curhat, karena ujung-ujungnya Bima juga akan tetap kekeuh pada pendiriannya. Dia tak akan mau mendengarkan orang lain. Jadi sia-sia meminta solusi dari orang lain, hanya membuang waktu saja.
"Logika dong. Gue gak bakalan lah ngejerumusin anak gue sendiri. Ya kali anak gue satu satunya gue nikahin sama cowok yang akhlaknya minus, ya gak mungkin lah." Bima masih menentang ucapan Robi barusan.
"Lahh emang iya, siapa coba bokap yang mau ngejerumusin anaknya sendiri? gak ada, gue juga tau itu.Tapi kalau seandainya pilihan lo yang salah gimana? secara lo gak terlalu kenal dengan lelaki pilihan lo itu, lo gak ngerti sifat aslinya, kesehariannya. Lo gak bisa tau itu. Lo hanya melihat review dari orang-orang kalau dia itu baik. Ingat, review itu bisa menipu, apa lagi kalau gak sering interaksi." Robi menakut-nakuti Bima.
"Kalau Umaya, lo liat dong dia tiap hari sama si Raka itu. Bahkan si Raka benar-benar tanggung jawab sama anak lo. Di tengah tengah kesibukan si Raka ngantor, dia tetap bela belain tuh nganterin ke mana pun anak lo pergi, uda kayak bodyguard gak dibayar aja tuh si Raka. Masa segitu baiknya si Raka lo gak bisa liatnya sih, Bim? mata lo burek atau ketutupan belek sekilo?" tanya Robi kesal. Dia benar-benar kesal dengan keras kepala Bima.
Bima mendengus kesal. "Lo kok kayak mojokin gue sih?" tanya Bima kesal.
Robi menatap Bima dalam. Lalu dia mencoba mengambil nafas dalam-dalam, dan membuangkannya secara perlahan.
"Lo ngerti bahasa manusia gak sih, Tan?" tanya Robi dengan mata melotot.
"Tan? apaan Tan? nama gue Bima, bukan Tan. Tan tan, tan apaan? tante?" Bima kesal sendiri melihat raut wajah Robi.
"SETAN!! SETANN BUKAN TANTE!! S E T A N!!!!! SETAN!!!" Robi menekan setiap kalimat yang diucapkannya.
Bima tampak melongo. "Lo gak ada akhlak ya! gue beneran, bagus-bagus curhat, malah lo katain setan. Maksud lo apaan? lo kali setannya!!" Bima malah marah-marah pada Robi.
Robi menggelengkan kepalanya tak habis pikir. "Serah lo dah serah lo! capek gue dengerin lo ngoceh!! uda sana pergi dari ruangan gue!!" Robi mengusir Bima.
"Enak aja pergi, lo belum ngasih solusi sama sekali buat gue! jangan malah nyuruh asal pergi. Lo jadi teman harus berguna dong!" Bima marah-marah karena merasa tak diberikan solusi oleh Robi.
Robi mengepalkan kedua tangannya geram. "Arghh!! kesel banget dah gue liat lo!!" geram Robi tak tahan lagi.
"Solusi gue tuh ya lo harus ngerestui hubungan Umaya sama Raka!! masa lo gan nangkep sih dari tadi gue ngomong apa. Kesel banget dah gue sama lo!!" Robi bicara dengan mata melotot.
"Enak aja lo ngasih saran begitu ke gue. Gak! gak bakalan gue restuin hubungan mereka!!" Bima marah pada Robi.
Wajah Robi memerah, tampaknya emosinya benar-benar sudah berada di ujung tanduk saat ini. Robi berdiri, lalu dia langsung menyeret Bima dan mengeluarkan Bima secara paksa dari ruangannya.
"Woyy!! apaan sih lo!! gue malu diliatinn! gak perlu make nyeret-nyeret segala kali!! lepasin woyy!!" Bima Membedibgak, tapi Robi sudah terlanjur emosi.
Robi tak mendengarkan apa kata Bima. Dia langsung membuka pintu ruangan kerjanya dan dia langsung mengeluarkan Bima dari ruangannya secara paksa.
Brakkkk!!!
Robi langsung menutup pintu ruangannya dengan membantingnya secara keras.
Bima yang sudah berada di luar ruang kerja Robi hanya bisa mengumpat sebanyaknya. Dia benar-benar kesal saat Robi menyeretnya keluar secara paksa. Dan pada akhirnya Bima berjalan kembali ke ruangan kerjanya dengan penuh rasa kesal dan dongkol.