Cinta Atau Obsesi

1012 Words
Bima sudah mendapatkan info tentang alamat kantor Raka dari Robi, dan saat ini Bima sedang mengendarai mobilnya menuju kantor Raka. "Semoga Raka bakalan ngasih tau keberadaan Meli dan Umaya tanpa harus banyak cincong lagi. Aku uda benar-benar capek." Bima menghela nafasnya kasar. Bima fokus pada jalanan, dia mengendarai mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata, sudah tidak sabar bertemu Raka dan menanyakan dimana Umaya dan Meli pada Raka. Sekitar 20 menit menghabisi waktu di perjalanan, akhirnya Bima sampai di kantor Raka. Bima langsung membuka pintu mobilnya dan langsung turun dari mobilnya. Saat Bima baru turun dari mobilnya, Bima langsung melihat Raka yang sedang berjalan menuju mobilnya. "Itu Raka kan?" tanya Bima pada dirinya sendiri. "Iya, itu Raka. Mau ke mana dia?" "Wahh harus dicegah biar gak pergi dulu nih." Bima langsung berlari mengejar Raka yang ingin masuk ke dalam mobilnya. "RAKAAAA!!" Bima berteriak sekencang mungkin. Raka yang baru membuka pintu mobil langsung terkejut saat mendengar suaranya dipanggil oleh seseorang. Raka menoleh ke belakang. Altha langsung terkejut saat mengetahui bahwa seseorang yang memanggilnya adalah Bima. "Itu kan om Bima, ngapain dia ke sini?" tanya Raka dalam hati. Bima berlari mendekati Raka. Saat sampai di depan Raka, Bima langsung mengatur nafas karena ngos-ngosan saat berlari tadi. "Kamu jangan pergi dulu." Ucap Bima sambil mengatur nafasnya yang masih ngos-ngosan. "Maaf, tapi kenapa om panggil saya? ada apa ya?" tanya Raka penasaran. "Saya ingin bicara sama kamu," balas Bima to the point. "Om mau bicara sama saya?" Raka menunjuk dirinya sendiri. Raka masih belum percaya kalau Bima datang ke sini hanya untuk menemui dan berbicara dengannya. "Mau bicara soal apa ya kira-kira? om Bima juga biasanya kalau ketemu selalu ngusir kan, gak pernah baik juga. Tapi ini kira-kira mau ngomongin apa ya?" Raka bertanya dalam hati. "Saya ingin bicara sama kamu. Gimana? apa kamu sibuk? apa kamu punya waktu untuk berbicara dengan saya?" tanya Bima. Raka tersenyum canggung. "Oohh i-iya, om. Saya gak sibuk dan gak ada jadwal kok, saya punya waktu untuk oom." "Kalau begitu gimana kalau kita bicara di ruangan saya saja? atau bisa juga kita bicara di restoran atau kafe dekat sini supaya lebih nyaman berbincangnya." Raka menawari Bima. Bima menggelengkan kepalanya cepat. "Enggak, saya gak perlu tempat khusus untuk membicarakan hal ini. Gak perlu ke ruangan kamu atau ke restoran, kita bisa bicara di sini saja." Bima menolak tawaran Raka. Raka tersenyum singkat, lalu mengangguk canggung. "Kalau begitu langsung saja, kedatangan saya ke sini untuk bertanya sama kamu. Saya yakin seratus persen kalau kamu tau di mana keberadaan anak dan istri saya saat ini. Olen karena itu, saya tanya ke kamu, di mana istri dan anak saya saat ini?" Bima langsung to the point bertanya. Raka diam sejenak. Dia tampak bingung dan gelisah. "Duhh gimana ya? jawab apa ya? nanti kalau dijawab tau, tante Meli sama Umaya malah marah. Tapi kalau dijawab gak tau, malah kasian liat om Bima kecarian anak dan istrinya. Malah om Bima keliatan kehilangan banget tanpa Umaya sama tante Meli lagi. Duhh harus jawab apa ini?" Raka bertanya pada dirinya sendiri. Dia benar-benar bingung ingin menjawab apa. "Kenapa kamu diam?" tegur Bima. "Saya nanya ke kamu, di mana istri dan anak saya berada? saya ingin ketemu mereka, saya mau ajak mereka pulang." Bima bertanya sekali lagi pada Raka. Raka masih diam, masih bingung ingin menjawab apa. "Kamu gak seharusnya diam, karena saya tau kalau kamu tau segalanya. Saya yakin kamu tau di mana anak dan istri saya saat ini. Jadi saya harap kamu kasih tau saya sekarang juga, saya ingin keluarga saya seperti dulu lagi. Saya mau keluarga saya kumpul seperti dulu lagi. Jangan mempersulit keluarga kami, kamu sudah cukup membawa pengaruh buruk di keluarga kami. Kalau kamu tidak bisa membantu, setidaknya beritahu saja di mana anak dan istri saya saat ini." Bima bicara dengan wajah datar dan dingin. Raka diam, keringat langsung mengucur deras di dalam baju kerjanya. "Asal kamu tau ya, sebelum kamu masuk di kehidupan saya, keluarga saya sebelumnya gak pernah begini. Keluarga saya gak pernah hancur seperti ini. Bahkan ini yang pertama kalinya anak dan istri saya meninggalkan rumah. Ini semua salah kamu, kamu biang masalah utamanya. Semua kekacauan di keluarga saya disebabkan oleh kamu." Bima menatap Raka tajam. Sekuat-kuatnya dan setegar-tegarnya Raka, tetap saja Raka adalah manusia biasa yang bisa merasakan sakit hati. Hati Raka rasanya teriris setiap kali Bima berkata bahwa dirinya lah penyebab ketidak harmonisan keluarganya. Raka selalu merasa sakit hati saat dirinya selalu dijadikan penyebab utama pertengkaran keluarga mereka. Padahal Raka tidak melakukan itu, Raka tidak pernah punya niatan untuk menghancurkan keharmonisan keluarga Bima. Raka tidak melakukan apa-apa. Raka hanya berusaha memperjuangkan cintanya pada Umaya, Raka sedang berjuang demi cinta. Ya, berjuang untuk cinta bukan lah sebuah dosa, bukan juga sebuah kesalahan. Tapi Raka, di mata Bima Raka adalah dosa besar dan biang dari segala sumber masalah di keluarganya. "Maaf, om, tapi saya gak pernah berniat untuk membuat keluarga om seperti ini. Saya hanya melakukan apa yang harus saya lakukan. Saya hanya memperjuangkan cinta saya ke Umaya, saya gak pernah buat keluarga om menjadi hancur." Raka membela dirinya sendiri, dia lelah selalu dijadikan sumber masalah bagi Bima. Bima tersenyum kecut. "Gimana gimana? kamu bilang kamu gak buat keluarga saya hancur? lalu ini apa? anak dan istri saya sampai pergi dari rumah seperti sekarang ini karena siapa kalau bukan karena kamu, hah?" "Seandainya kamu gak pernah masuk ke dalam kehidupan anak saya, keluarga saya gak bakalan jadi seperti ini. Seandainya kamu gak berambisi buat dapatin anak saya, keluarga saya gak bakalan hancur seperti sekarang. Jelas ini semua salah kamu, salah kamu yang sudah masuk ke dalam lingkungan keluarga saya. Bahkan saat sudah diusir pun, dengan tidak tau dirinya kamu masih tetap saja mengusik keluarga saya. Apa masih ada pembelaan lagi yang pantas untuk kamu ucapkan?" Bima menatap remeh ke arah Raka. "Dan ya, satu lagi. Jangan bawa-bawa perjuangan cinta. Karena orang yang benar-benar cinta pasti bisa merelakan apa yang bukan menjadi hak miliknya. Orang yang benar-benar cinta juha tidak akan merusak kedamaian antara anak dan orang tua. Jadi apa sebenarnya kamu itu? cinta atau obsesi?" tanya Bima dengan alis yang terangkat sebelah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD