Bab8

1328 Words
"Yah sudah. Aku gak peduli. Yang terpenting, cepat suruh kedua anak itu mendonorkan sumsum tulang belakang untuk Radit. Memang itu kewajiban mereka kan. Radit masih saudara mereka." Dengan entengnya Talita bicara seperti itu. "Sayangnya, aku sangat ragu mereka akan mau menuruti keinginan kita." "Kamu ancam aja Mas. Gak akan jadi wali nikah untuk mereka. Gampang kan?" Aku terdiam. Memang Aluna dan Anatasya pasti akan mencariku untuk masalah yang satu itu. Namun, untuk menjadi wali nikah, bukankah itu adalah kewajiban seorang ayah? Akan aku coba bernegosiasi dengan Aluna. Siapa tau dia akan luluh, karena butuh juga kepadaku. Apalagi, usia Aluna adalah usia yang sudah matang untuk menikah. "Mas. Jika Anaya sekarang CEO perusahaan, dia kaya dong. Kenapa gak kamu manfaatin aja? Atau manfaatin Aluna gitu." Aku menatap wanita di sampingku. Dia pikir Anaya masih sama seperti dulu yang bucin kepadaku? "Talita. Kalo mau kasih saran, cobalah kasih saran yang masuk akal." Tiba-tiba pintu ruangan dibuka dengan kasar dari luar. Virgo datang dengan wajah merah padam. "Aku whatshapp Mama sama Papa gak ada yang balas. Udah berapa hari kalian gak di rumah. Mana gak ada transferan duit jajan aku lagi. Ma! Siniin satu juta Ma. Aku mau main." "Kamu gak liat Kakakmu lagi sakit Virgo? Dia dioperasi. Butuh biaya banyak Nak. Mama sama Papa lagi bokek." lembut suara Talita menyambut kata-kata kasar Virgo. "Bokek? Sejak kapan? Alaah. Gak usah boong. Masa sejuta aja gak ada?" dia menghempaskan tubuh di sofa. "Papa hampir bangkrut Virgo. Kalian terlalu menghambur-hamburkan uang. Coba kamu bantu Papa kerja. Jangan cuma tau nikmatin duitnya aja." "Ngapain kerja kalo dengan minta aja aku bisa dapetin yang aku mau? Nyusahin aja." "Mulai hari ini gak ada lagi uang jajan. Kalo lapar pulang makan di rumah. Mama gak dikasih duit lagi sama Papa." Mata anak itu menatap tajam ke arahku. Aku membalas tatapannya dengan angkuh. Masih jadi benalu aja udah belagu. Dasar kurang didikan. "Kalian jangan nyesel kalo sampe ada barang-barang kalian yang aku jual. Aku minta baik-baik gak mau ngasih. Liat aja nanti." Anak itu malah balik mengancam orang tuanya. Dia berdiri, melihat Melisa sekilas dan pergi. Apalagi masalah yang akan dia perbuat kali ini. "Kamu lihat hasil didikan kamu Talita? Anak tak tau diuntung. Bisanya hanya merongrong orang tua." "Dia juga anak kamu Mas. Jangan cuman salahin aku dong. Lagian kamu juga sih Mas. Ngasih duit sejuta aja gak bisa. Anakmu itu lho." Sejuta hanya buat jajan dua sampai tiga hari. Nanti kalo duit habis, baru dia pulang ke rumah. Pulang juga cuman mandi, lalu minta duit lagi. "Mau jadi apa anak itu? Apa nanti kalo dapat jodoh, kita yang kasih makan anak istrinya?" "Jangan mikir kejauhan Mas. Virgo masih kecil. Biar aja dia puas-puasin masa mudanya." Talita memang seperti itu. Pembelaannya atas sikap anak-anak, membuat mereka menjadi manja dan tidak bertanggung jawab sama sekali. "Kamu tau, anak Anaya yang laki-laki seusia Virgo, sudah jadi Direktur di perusahaan yang memberi aku dana. Usia mereka sama, lalu kenapa bisa beda tingkah lakunya? Lalu, kamu bilang Virgo masih kecil?" "Jadi kamu banding-bandingin Mas? Emangnya, anak Anaya yang nanti jadi penerus kamu? Bukan kan? Beda anak beda watak Mas." Lagi, dia membantah ucapanku. Kelakuan Virgo yang suka membantah itu, pasti meniru mamanya. Suami bilang apa aja, pasti dibantah sama dia. Aku hanya bisa menarik nafas dalam. "Terserah." *** Ada yang berbeda di ruang keluarga, saat kami pulang dari rumah sakit. Seperti sesuatu yang kurang. Apa yah? Aku menyapu seluruh ruangan dengan pandangan yang teliti. Tv di ruangan ini sudah tidak ada di tempatnya. Jangan-jangan ... "Mbok. Mbok Narsih!" "Ia Tuan," yang dipanggil, jalan setengah lari ke arahku. Aku menunjuk ke tempat tv yang kosong. "Tv mana Mbok?" Mbok Narsih menunduk, lalu memainkan jemarinya. Dengan suara pelan dia menjawabku "Itu Tuan. Tadi diangkut sama Den Virgo, sama temen-temennya." "Astaga!" Aku menyugar rambutku. Ternyata, anak itu tidak sekedar mengancam. Ini tidak bisa dibiarkan. Sikapnya akan semakin kurang ajar. Talita yang baru keluar dari kamar Melisa, langsung menghampiriku. Berdiri mematung melihat tempat tv yang sudah kosong. "Tvnya kemana Mbok?" "Dibawa Den Virgo Nyonya. Saya permisi ke belakang!" Tinggallah kami berdua. Aku bergeming. Memikirkan bagaimana cara memberi pelajaran kepada keluarga ini. Semakin yakin aku untuk bertindak setelah mendengar perkataan Talita. "Gak apa-apa Mas. Timbang tv doang. Nanti beli lagi. Jangan marah sama Virgo. Dia hanya ingin menikmati masa mudanya," Baiklah. Pelajaran dimulai. *** Lewat chat, aku meminta Joshua untuk mencarikan kami rumah baru untuk kami tinggali. Rumah tipe 45. Esoknya, sebelum mengurus proyek, kami mampir melihat rumah yang sudah berhasil ditemukan Joshua. Rumah sederhana dan nyaman. Sudah direnovasi, dan punya pagar tembok keliling. Setelah melakukan pembayaran, aku menghubungi semua anggota keluarga. "Malam ini, semua harus berkumpul makan malam di rumah. Jangan ada yang absen. Papa mau bagi-bagi duit!" Aku beri ikan segar untuk memancing kucing liar berkumpul. Sudah pasti pancinganku berhasil. Kucing-kucing peliharaanku, sangat suka dengan ikan segar yang bernama duit. Proyek berjalan lancar. Aku memang harus berhati-hati dan bekerja lebih keras. Harga diriku dipertaruhkan kali ini. Uang perusahaan Anaya, harus aku kembalikan tepat waktu. Joshua memakirkan mobil di parkiran restoran seafood langganan kami. Restoran yang full makanan halal enak, tapi ramah di kantong. Langkah kaki kami langsumg terarah ke meja biasa yang sangat sering kami tempati. Karyawan di sini bahkan sudah hafal dengan wajah, dan menu favorite kami. Tak sengaja mataku menatap satu meja dengan empat orang yang sedang makan. Pikiranku ingin melewati mereka saja agar tidak mengganggu, tapi, hatiku mengajak otak bekerja, memerintah kaki berjalan ke arah meja di sana. Sepertinya mereka tidak menyadari kedatanganku. "Selamat siang!" Serentak mereka mengarahkan tatapan mata kepadaku. Kebetulan yang sangat indah. Anaya dan ketiga anaknya ada di sini. Mungkin inilah maksud dari Aluna kemarin. Mereka punya acara keluarga. Mataku menangkap Anaya yang menarik nafas gusar. Bahkan mereka seperti tersenyum dengan paksa. Meski begitu, Arga tetap menyambut dengan ramah. "Selamat siang Tuan Surya," dia tersenyum dan berdiri menjabat tanganku. Aluna sibuk dengan ponsel, Anatasya menyedot jus alpukat pelan dan lama. Anaya duduk dengan tegak. Menampilkan wibawanya, sepadan dengan outfit yang dia kenakan hari ini. Setelah jas merah maroon. Aluna dengan blous cream dan jas putih dokter yang masih melekat, Arga dengan semi jas yang ditarik ke sikut. Dan Anatasya dengan dress tosca. Rambutnya tergerai. Sangat cantik. Rapi, sopan, elegan dan bersahaja. Aku bisa menerka, mereka baru saja tiba. Suasana canggung langsung menyergap. Tidak ada di antara para wanita-wanita itu yang bersuara kepadaku, meski hanya menyapa. Sudahlah Anaya. Dia sudah jadi mantan istri. Tapi ... Aluna dan Anatasya? Mereka darah dagingku. Diacuhkan seperti ini, rasanya seperti hati disayat sembilu. Perih. Aku menelan saliva. Pahit. Sepahit kenyataan bahwa, aku bukan siapa-siapa mereka lagi. "Maaf menggangu. Saya permisi dulu." "Baiklah Tuan," sahut Arga. Menatap sekilas kepada ketiga wanita di samping Arga, lalu berlalu dengan langkah gontai. Lapar yang tadi melilit, hilang entah kemana. Yang ada hanya perih yang melilit hati. Aku hanya menatap makanan yang biasanya lahap ku makan. Joshua yang sedari tadi menikmati hidangan, tampak menatapku dengan tanda tanya. "Ada Boss? Gak enak yah?" "Cepet makannya Jo. Kita balik secepatnya." Aku menyesap jus. Sekedar mengganjal perut. Mataku mencuri-curi pandang ke meja Anaya, mereka tampak sedang bercanda. Dan aku di sini, sedang menahan sakit di hati. *** Meja makan bulat berbahan jati, sudah siap dengan hidangan makan malam. Menu menggiurkan dan mewah. Talita memang sangat menjaga menu makan kami. Melisa dan Radit di kursi roda. Virgo dan Talita, lalu Mbok Narsih dan dua pelayan lagi. Berdiri tak jauh dari meja makan. "Makan dulu. Papa lapar. Selesai makan baru Papa bagi-bagi duitnya." Tatapan mata keluargaku terlihat berbinar. Mereka makan dengan lahap. Terlihat tidak sabaran dengan pembagian duit yang tadi aku katakan. Aku tersenyum tipis melihat mereka. Lagi, aku menyesali diri. Seandainya dari dulu, aku mengatur keluarga ini, mungkin anak-anakku sudah berhasil. Mungkin Melisa gak hamil di luar nikah, mungkin Virgo gak kecanduan balap liar, mungkin Talita gak keluyuran dan terus-terusan menghambur-hamburkan uang. Mungkin perusahaanku sudah berkembang dengan pesat. Dan kemungkinan yang lebih lagi, yaitu, aku tidak menceraikan Anaya. Sekarang semuanya sudah terlambat. Mungkinkah ada sedikit waktu untuk menyelamatkan keluarga ini? Entahlah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD