Bab9

1703 Words
Mbok Narsih dan kedua rekannya membereskan meja makan. Setelah kami selesai makan. "Mbok! Jangan dicuci dulu piringnya. Letakkan aja di wastafel, lalu ke sini. Saya mau bicara." "Baik Tuan!" Aku meletakkan tiga amplop coklat cukup tebal di atas meja. Menunggu Mbok Narsih dan teman-temannya dari dapur belakang. "Ini upah kalian bulan ini. Plus bonusnya. Saya berterima kasih kepada kalian, karena sudah mau membantu meringankan pekerjaan di rumah ini." aku menarik nafas sebentar. Lalu menyodorkan amplop itu. "Mulai besok, kalian tidak perlu lagi bekerja di sini. Saya tidak memecat kalian. Hanya menghentikan sementara, karena keadaan keuangan kami sedang tidak baik. Nanti setelah stabil lagi, saya akan panggil kalian untuk bekerja lagi di sini, jika kalian masih menginginkannya." Panjang lebar aku berkata kepada para art ini. Mereka hanya menunduk dan manggut-manggut. Sontak perkataanku membuat Talita meradang. "Kalau semuanya dipecat, lalu siapa yang akan mengerjakan pekerjaan rumah Mas?" suaranya meninggi satu oktaf. Sudah kuduga. "Tentu saja kamu. Setelah Melisa pulih, Melisa akan membantu." "Gak. Aku gak mau. Keputusan macam apa ini?" "Jangan ngeyel Talita. Kalo mereka ditahan, kamu mau kasih gaji dengan apa?" Aku menatap Mbok Darsih. "Mbok bisa ke dapur sekarang." Wajah Melisa pun terlihat keberatan, tapi dia tidak bersuara apa-apa. Sedangkan Virgo, dia acuh dengan keadaan. Radit hanya menatap dengan lesu. "Cepetan bagi duitnya Pa. Aku mau keluar." suara Virgo memecahkan keheningan. Aku menatap nyalang kepadanya. "Kamu sudah jual tv besar itu Virgo? Harganya lebih dari 10juta. Itu adalah jatah jajanmu selama satu tahun. Setelah hari ini, jangan harap kamu akan mendapatkan uang jajan. Jika kamu mencuri lagi, Papa akan laporkan kamu ke polisi. Semua barang di rumah ini, dibeli dengan uang Papa. Tidak ada satu peserpun, hasil keringatmu untuk semua ini. Papa akan pastikan kamu mendekam dalam penjara, karena kasus pencurian. Camkan itu baik-baik!" Virgo menghentakkan tubuhnya di sandaran kursi. Kakinya menendang meja dengan keras. Anak nakal. Aku tidak peduli. "Malam ini juga, kemasi semua barang-barang kalian. Besok kita akan pindah dari sini. Lusa rumah ini sudah ada yang menempati. Papa menjual rumah ini, untuk menyokong keuangan perusahaan. Beberapa barang branded dan perhiasan yang kalian miliki, akan Papa sita. Semuanya akan dijual. Mobil dan motor pun demikian. Papa hanya akan menyisakan satu mobil untuk Papa kerja, dan dua motor matic. Satu untuk Virgo, dan satu untuk Melisa. Yang menerima keputusan Papa, besok boleh ikut dan hidup sederhana dengan Papa. Yang tidak mau menerima, silahkan cari jalan masing-masing. Tidak ada kritik atau saran untuk keputusan ini. Karena mau tidak mau, kita harus menerima." Aku menarik nafas lega. Beban di pundakku sudah sedikit berkurang. "Apa maksud Papa? Aku kuliah pake motor matic? Mending gak usah kuliah sekalian!" bentak Virgo. "Silahkan Virgo. Silahkan bantah perkataan Papa. Berhenti kuliah, berarti berhenti jadi anak Papa. Dan kamu Melisa, kamu masih hutang banyak penjelasan sama Papa. Jangan kamu pikir, kamu bisa lolos dari semua ini." Kulihat Melisa tertunduk dengan wajah lesu. "Mas! Ini terlalu kejam Mas. Kamu seperti membuang kami dari pesawat yang sedang terbang. Kamu pikir, kami akan sanggup? Mana tanggung jawab kamu Mas? Kamu berkewajiban untuk membahagiakan kami, istri dan anak-anakmu." Aku mendelik ke arah Talita. Kutatap wajahnya dengan tatapan tajam. "Jadi, selama ini, kamu gak bahagia Talita? Apa bahagiamu itu karena uang?" "Bukan maksudku begitu Mas. Kami sudah terbiasa hidup tercukupi. Jika nanti kebiasaan kami diubah, bagaimana kami akan beradaptasi?" "Aku harus jadi bagaimana untuk mempertahankan kebiasaan kalian? Seorang triliuner pun akan bangkrut, jika menanggung pengeluaran yang lebih besar dari pemasukan. Seharusnya aku sudah bisa ditopang oleh anak-anakku yang sudah dewasa. Tapi nyatanya, di usiaku yang sudah mulai menua ini, aku harus menanggung beban mempertahankan gaya hidup kalian, yang luar biasa mewah. Aku sudah tak sanggup lagi." Suaraku tertahan di kerongkongan. Aku lelah. "Cemen banget sih." Kembali kudengar suara Virgo. Ah. Anak ini. Dia seperti bukan anakku. Sangat banyak perbedaan sifat dan fisik dari dirinya denganku. Juga kedua saudaranya. "Trus, kalo Papa udah gak punya uang, apa aku akan cacat seumur hidup? Apa Papa tidak bisa mengusahakan kesembuhanku?" Radit membuka suaranya. Kepalanya tertunduk. Aku lihat bulir-bulir bening menetes di tangannya yang menyatu di atas pangkuannya. "Papa sudah ketemu sama saudara kamu, dari mantan istri Papa yang pertama. Papa akan usahakan bicara dengan mereka, supaya secepatnya bisa mendonorkan sumsum tulang belakang untukmu Radit." "Apakah mereka mau Pa?" suara Radit bertanya dengan nada yang sedikit ceria. Dia menatapku dengan permohonan. Semakin membuatku merasa bersalah. Talitalah yang kemudian menyela. "Mereka harus maulah. Kamu kan saudara mereka. Bukan cuma sumsum tulang belakang saja. Mereka sekarang orang kaya. Bahkan Kakak sulungmu dari lain ibu itu, sudah jadi dokter. Dinas di rumah sakit Artama. Rumah sakit terbaik di kota ini. Ahli bedah pula. Mama akan usahakan bertemu dengan dia. Biar bagaimanapun, dia juga berkewajiban menanggung kehidupan adik-adiknya!" Entah setan apa yang merasuki pikiran Talita. Bisa-bisanya di berpikir seperti itu. Bukannya merasa bersalah, dia malah mau menuntut sesuatu yang bukan hak anak-anaknya. *** "Yang bener aja Mas! Ini rumah baru kita? " pekikan suara Talita membuat telingaku berdenging. Tak kutanggapi teriakannya. Aku mendorong kursi roda Radit, "Ayo masuk." Rumah sederhana yang aku pilih, sukses membuat anak istriku, menarik dan membuang nafas berkali-kali. Virgo bahkan enggan turun dari dalam mobil. Sedangkan Talita, menjerit-jerit seperti akan tinggal di pekuburan. Bukan di dalam rumah. Menurutku rumah ini lumayan besar dan bagus. Meskipun hanya satu lantai saja. Semua kebagian kamar masing-masing. Bahkan kamar mandi di dalam kamar. Dapur yang sudah lengkap dengan kitchen set, meskipun berukuran kecil dan sederhana. Walau memang sangat berbeda dengan rumah lama kami yang penuh kemewahan dan berada di kawasan elit. "Huuh. Mimpi punya rumah di Bonavit Hills, eeh ini malah tinggal di tempat kumuh. Astaga. Pasti tetangganya yang suka kepo urusan orang. Berisik, dan suka minta-minta bumbu dapur." Sungutan Talita masih terus tertangkap pendengaranku. Setelah mengangkut barang ke dalam rumah, aku memesan sarapan via online. "Setelah ini, bereskan semua pada tempatnya Talita. Aku mau kerja!" Talita berlari menyusulku ke depan pintu pagar. "Mas. Bagaimana aku membereskan semua ini? Tolonglah bawa Mbok Narsih ke sini. Untuk hari ini saja Mas. Aku mohon," "Jangan banyak tingkah Talita. Sebelum menikah denganku, bukankah kau sudah terbiasa mengerjakan semuanya sendiri? Ayolah. Kalau kau lupa bagaimana caranya beberes. Hubungi Ibumu. Minta beliau mengarahkanmu lewat telepon. Gampangkan?" kuberikan senyum terbaikku padanya, sebelum berbalik dan masuk ke mobil. *** Entah apa yang terjadi di rumah ini. Talita benar-benar tidak bisa diandalkan. Keadaan rumah saat aku pergi, sama dengan keadaan aku pulang sore ini. Istriku memang sangat manja. Mau marah pun, aku juga salah. Aku sudah salah mendidik Talita dari awal aku menikahinya. Barang-barang dari rumah lama, masih teronggok di lantai ruang tamu. Di meja makan, bungkusan bekas makan, terbengkalai plus remah-remah yang berserakan. Wastafel penuh dengan piring kotor. Menumpuk di antara sendok dan gelas. Lalat yang hinggap, menambah indah pemandangan. Saking indahnya, rasa-rasanya, aku ingin membakar dapur ini. Jorok. "Talita. Talita!" tidak ada sahutan. Pintu kamar Radit terbuka. "Pa!" "Mana Mamamu Sayang?" "Setelah sarapan, Mama pergi bareng temennya Pa. Aku gak bisa beres-beres. Punggungku sakit. Kak Melisa gak keluar-keluar kamar, setelah makan siang," "Gak apa-apa Sayang. Nanti Papa beresin. Kamu mau bantu Papa?" Radit tersenyum. "Mau Pa," Setelah berganti pakaian. Aku mengatur barang-barang ke tempatnya. Menyapu, mengepel, dan mencuci piring. Radit membantuku dengan mengerjakan yang ringan-ringan. Melap debu di perabotan yang lama. Setelah selesai, aku menanak nasi, lalu memesan lauk dari aplikasi. Setelah ini, aku akan pergi belanja perlengkapan dapur dan isi kulkas. Melisa keluar kamar setelah semua selesai. "Melisa, tinggal sama Radit sebentar. Papa mau belanja sebentar. Kamu mau pesan apa?" Dia mengulurkan secarik kertas. "Obat aku yang ini, habis Pa. Dan juga pengharum kamar mandi. Nanti Papa beli yang wangi strowberry yah." *** Aku memang belum pernah belanja bulanan. Tidak tau menahu tentang perlengkapan dapur. Tanya sama Melisa, sama saja bertanya sama rumput yang bergoyang. Jadilah, aku berjalan tanpa arah di dalam supermarket ini. Mataku sibuk mencari-cari apa saja yang sekiranya biasa dipakai untuk memasak. Beras, garam, gula, teh, penyedap rasa, telur, sosis, sambal botol, saos tomat. Apalagi? "Boss. Sendiri aja?" sapaan dari suara yang sangat aku hafal. Joshua. Di sampingnya ada istrinya. Kebetulan yang baik. Sekalian saja aku minta tolong istrinya untuk membantuku. "Jo. Ia nih. Lagi coba mandiri saya. Jaga kemungkinan ditinggal istri karena udah miskin. Saya boleh minta tolong istri kamu buat milih keperluan dapur? Saya gak tau," aku meringis. Nasib suami beristrikan wanita dolar seperti Talita. Joshua dan istrinya berkeliling mengambil barang. Meletakkan di troli yang sudah sesak. Setelah selesai, mereka pamit pulang lebih dulu. Aku masih mencari pesanan Melisa. Pengharum kamar mandi, aroma strowberry. Antrian tampak agak memanjang. Aku paling belakang. Aku mengenal gadis yang sedang mengantri di baris ke tiga sesudah aku. Anatasya. Dengan belanjaan sebanyak ini, aku pasti tidak bisa menyusul Anatasya. Ingin sekali aku bicara dengannya. Ingin sekali aku disapanya. Gegas aku mendorong troli berisikan barang-barang yang sudah aku bayar. Keluar pintu supermarket. Terlihat keributan di belokan sebelah kanan parkiran. Aluna dan Anatasya sedang dihadang oleh seorang pemuda. Orang-orang di situ tampak tidak berani mendekat. Sepintas yang kulihat. Ada pisau lipat di tangan pemuda itu. Aluna berdiri sejajar dengan Anatasya. Belum sempat aku menolong, kaki kiri Aluna dan kaki kanan Anatasya, serentak melayang ke arah pemuda itu. Kaki Aluna ke tangannya yang memegang pisau, dan kaki Anatasya masuk ke pelipis. Pisau terpelanting masuk ke dalam got, di susul tubuh pria itu yang roboh ke kiri. Mataku terbelalak. Aku bergeming di tempat. Sekian detik kemudian, tinju Aluna menghantam hidung pemuda yang masih berusaha berdiri. Dia terhuyung, lalu disusul tendangan memutar Anatasya, tepat di ulu hati. Pemuda itu jatuh, dan tidak bangun lagi. Orang-orang di sekitar mereka bersorak. Dua orang pria paruh baya, yang aku pikir adalah RT disini, menjabat tangan kedua putriku. Dan berterima kasih kepada mereka. Rupanya pemuda itu adalah preman yang sudah sangat meresahkan warga. Aku tersenyum. Sisi lain anak-anakku yang kulihat malam ini, menambah kekagumanku pada Anaya. Wanita yang sering aku katakan sebagai wanita lemah itu, berhasil membuat kedua putriku menjadi wanita tangguh. Gegas kuhampiri mereka berdua. "Kalian tidak apa-apa kan? Ada yang terluka? Mau saya antar pulang?" tanyaku kuatir. Mereka seperti terkejut melihatku. "Kami baik-baik saja Pak. Bapak lihat kejadian tadi? Kalau Bapak sempat melihat, Bapak bisa menilai, kami bisa melindungi diri kami sendiri. Permisi Pak." Anatasya menarik tangan Aluna, menjauhiku. Masuk mobil, lalu pergi. Tinggallah aku yang mematung di sini. Aku gagal lagi merebut perhatian mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD