Pov Anaya.
Pernikahan impian bagiku telah terlaksana. Aku bahagia dipersunting pria tampan, berpendidikan dan mapan seperti suamiku, Mas Surya.
Meskipun rumah tanggaku selalu dirongrong ibu mertua, tapi bagiku tak mengapa. Aku tetap bahagia.
Usaha yang sementara didirikannya mulai beranjak naik. Dan menghasilkan pundi-pundi uang baginya. Yah hanya baginya.
Aku seperti tidak ikut menikmati uang itu. Bagaimana tidak, uang bulananku, hanya 400ribu per bulan. Aku kelimpungan mengaturnya. Apalagi, ibu mertua yang selalu meminta makanan kepada kami.
Aku berinisiatif untuk membuat kue, supaya punya penghasilan sendiri. Aku jual kue keju itu secara online. Mas Surya tidak tau itu. Meski begitu, aku selalu berusaha memupuk rasa cintaku pada Mas Surya. Selagi dia tidak bermain hati, aku masih bisa menahannya.
Malapetaka itu datang, setelah satu tahun pernikahan kami. Mas Surya mulai berubah. Hampir tiap hari pulang kerja larut malam karena alasan banyak pekerjaan.
Ponsel yang diprivasi. Padahal, selama ini, tidak pernah begitu. Dia tidak pernah lagi menyentuh makanan di malam hari. Dan pergi pagi-pagi sekali sebelum sarapan.
Aku menepis prasangka dan praduga yang seringkali hadir, saat melihat noda lipstik di kemejanya, bau parfum wanita yang menyengat, bill restoran berbintang, karcis bioskop yang aku temukan di saku celananya.
Aku diam. Tidak akan aku lukai hatiku dengan mencari tau sesuatu yang mungkin tidak hanya melukai hatiku, tapi bisa membunuh ragaku. Kesabaranku berbuah hasil.
Beberapa bulan kemudian, tidak pernah lagi kudapati sesuatu yang mencurigakan. Suamiku kembali bersikap normal. Meskipun kadang, jika keluar kota, tidak akan pulang sampai satu minggu.
Tahun kedua pernikahanku, lahirlah anak perempuan cantik dari rahimku. Duniaku berubah. Aku benar-benar mencintai Aluna. Dia anak yang sungguh manis dan pintar. Kecerdasan Aluna sudah terlihat sejak dia kecil.
Sesuatu yang menyedihkan untukku adalah, perhatian Mas Surya yang hanya sekedar saja kepada Aluna. Dan meskipun sudah bertambah anggota keluarga, tapi, uang bulanan tidak pernah berubah. Hanya sesekali nambah 100ribu.
Aku melahirkan Anatasya saat Aluna berusia tiga tahun. Sikap Mas Surya semakin menjadi. Jangankan perhatian, kedua putrinya bahkan jarang mendapatkan pelukan dan belaian darinya.
Kedua anakku seperti tidak memiliki ayah. Namun, aku selalu memberikan pengertian, jika ayah mereka sibuk, mencari uang, supaya mereka bisa makan dan sekolah.
Aluna adalah anak yang kritis. Dia tidak segan memberi kritik kepada ayahnya. Menyindir supaya Mas Surya sedikit perhatian kepada mereka berdua.
Bukannya mendapatkan perhatian, Aluna kerap kali dibentak, didorong, bahkan ditampar Mas Surya. Aku yang membela Aluna pun, sering menjadi sasaran tendangannya.
Mas Surya semakin membenci kami, saat dokter memvonis Anatasya lumpuh karena jatuh dari kursi saat bermain. Saat itu usianya lima tahun.
Tidak ada rasa kasihan atau simpati yang Mas Surya berikan kepada Anatasya. Anak itu bahkan dianggap tidak ada sama Mas Surya.
Tahun itu juga, aku telat haid, dan positif hamil. Aku sembunyikan kehamilan ini dari Mas Surya. Entahlah. Naluriku sebagai seorang ibu mengatakan, aku harus melakukan itu.
Setelah empat bulan kandunganku, aku mendapatkan ijin dari Mas Surya, untuk membawa Anatasya ke kampung, untuk terapi herbal. Aku dan kedua anakku tinggal di sana, sampai aku melahirkan.
Seorang bayi laki-laki lahir dari rahimku. Anak yang sangat diidam-idamkan Mas Surya. Aku tidak ingin dia tau keberadaan anak ini. Aku beri dia nama Arga.
Waktu ini pun aku gunakan untuk mengembangkan usahaku. Aku bekerja sama dengan teman baikku. Jika modal kami cukup, kami akan menyewa ruko untuk membuat toko offlinenya. Dan Mas Surya, dia tidak pernah peduli, kami ada ataupun tidak.
Aku kembali ke rumah setelah Arga berusia tiga bulan. Aku menitipkan dia pada ibuku di kampung. Ibu dan bapak sangat senang. Arga adalah hiburan kami. Begitu katanya. Tiap minggu, aku dan anak-anak, akan menghabiskan libur weekend bersama Arga.
Kehidupan rumah tanggaku semakin tidak sehat, setiap harinya. Saat ada acara keluarga, kami tidak pernah lagi diundang hadir. Mas Surya seperti mengasingkan kami bertiga dari keluarga besarnya.
Saat Aluna berusia 12tahun, aku mengetahui sebuah fakta yang meruntuhkan seluruh duniaku.
Dari seorang teman aku mendapatkan foto pernikahan Mas Surya dengan cinta pertamanya. Seorang wanita cantik dan modis. Apalah aku jika dibandingkan. Tak ada seujung kuku dengan wanita itu.
Mungkin inilah alasan Mas Surya membenci kami. Dan tidak menyukai kedua anakku. Karena, dia juga punya anak dari wanita yang dicintainya.
Aku terus menegarkan hatiku. Aku bodoh menyikapi semua penindasan yang terjadi atas kami bertiga, meskipun aku berkata, aku siap dimadu, tapi kemudian, Mas Surya menjatuhkan talak tiga sekaligus kepadaku.
Tidak ada harta gono gini. Atau apapun menyangkut uang. Aku, Aluna dan Anatasya diusir dari rumah. Hanya dengan satu buah koper, berisikan pakaian rumah dan seragam sekolah anak-anakku.
"Jangan pernah mengingat bahwa kalian punya Ayah. Anggap saja, aku sudah mati. Ayah kalian sudah mati. Aku tidak sudi memiliki anak-anak pembangkang seperti kalian. Anak cacat yang banyak tingkah. Mulai hari ini, kalian bukan siapa-siapa aku lagi. Jangan coba mencariku, untuk alasan apapun!"
Aluna dan Anatasya menatap wajah ayah mereka dalam diam. Namun aku tau, mereka sudah merekam perkataan itu dalam hati dan pikiran mereka.
Usaha kue online yang aku dirikan sejak awal pernikahan, tanpa sepengetahuan Mas Surya, adalah modal utamaku memulai hidup baru. Untung saja, aku mendengar saran dari temanku, Mitha. Partner kerjaku selama bertahun-tahun.
"Bersikap biasa saja Lun. Jangan menampakkan hasil dari usahamu sama suami medit kek Surya itu. Berpenampilan lusuh saja tiap di rumah. Anak-anakmu pun demikian. Biar saja dia tau kalian kekurangan. Selama ini kan dia gak peduli sama kalian. Jadi, kamu bisa leluasa mengembangkan usahamu tanpa sepengetahuannya."
Aku wanita biasa yang hanya tamat SMA. Aku tidak punya keahlian apa-apa, selain membuat kue. Setelah kami diusir, aku membawa kedua anakku tinggal di ruko yang aku sewa untuk kujadikan toko kue. Arga aku ambil kembali, karena ibu yang mulai sakit-sakitan.
Allah Maha Tau! Tidak ada yang terjadi secara kebetulan di muka bumi ini. Semuanya ada dalam kendali Tuhan.
Aku mendidik Aluna, Anatasya dan Arga dengan disiplin. Membawa pengertian mereka, bahwa, mereka adalah anak-anak yang special, mereka berharga. Mereka adalah anak-anak baik, yang sukses dengan cara mereka.
Etika dan rasa hormat harus dijunjung tinggi. Lebih dari itu, mereka harus mendekatkan diri dengan Pencipta mereka, agar tidak salah langkah.
Aku baru mengerti, mengapa banyak wanita di luaran sana yang memilih mengakhiri hubungan rumah tangga yang sudah tak sehat.
Ternyata, aku bisa mendapatkan kebahagiaan, dengan melepaskan sumber rasa sakit itu. Mas Surya. Sekarang, aku lega.
Tidak pernah lagi aku melihat Aluna menangis sendiri. Atau Anatasya yang tidak bersemangat di atas kursi rodanya. Mereka terlihat lebih ceria sekarang. Mungkin karena tekanan yang berkurang dalam hidup mereka. Seandainya dari dulu aku berani mengambil tindakan, mungkin Aluna dan Anatasya tidak akan mengecap perlakuan kasar ayah mereka.
Tahun berganti, dan Mas Surya menepati janjinya. Dia tidak pernah muncul dalam kehidupan kami bertiga. Kedua anakku pun tidak pernah menanyakan ayah mereka. Mereka tumbuh menjadi anak-anak yang cerdas dan penuh pengertian.
Aluna sekolah dengan prestasi akademik yang menonjol. Dia menjadi juru hitung yang luar biasa pintar. Sering mengikuti olimpiade matamatika, dan menang.
Saat Anatasya berusia lima belas tahun, Aluna memergokinya sedang karaoke di sebuah aplikasi di ponselnya, dan merekam hasilnya. Ternyata, suara Anatasya sangat merdu.
Tidak aku sangka. Itu juga adalah salah satu karunia dari Tuhan. Aluna meminta Anatasya mengcover lagu-lagu populer, dan diupload di youtube. Hasilnya sungguh mencengangkan. Dalam jangka dua bulan, pengikutnya mencapai dua juta lebih.
Pundi-pundi uang kembali terbuka untuk keluarga kecilku. Anak-anak remajaku, sudah bisa menghasilkan uang untuk diri mereka sendiri.
Satu tahun kemudian, Anatasya di operasi. Aluna yang memberikan sumsum tulang belakangnya untuk Anatasya. Bulan berikutnya, Anatasya sudah bisa berjalan. Allahamdulillah!
Aku terus memacu diri, memperkuat usahaku, mencoba berbagai resep untuk menciptakan kue dengan varian baru. Aku berhasil. Usahaku berkembang. Aku dan Mitha lalu membuka cafe, dengan cabang di mana-mana.
Aku melihat potensi untuk mendirikan perusahaan, setelah bertemu dengan sahabat lama waktu SMA dulu. Bisnis properti dan kuliner yang dia bangun, membuatku berpikir, untuk membangun perusahaan.
Aku bicarakan niatku dengan anak-anak, dan mereka setuju. Tidak semua hal bisa berjalan mulus. Aku pernah kehilangan tender. Ratusan juta raib entah kemana.
Namun, kami tidak pernah menyerah. Aku kembali berusaha, dan kegigihanku, di hargai dengan datangnya investor. Mereka mananamkan saham di perusahaanku.
Semua ini tidak luput dari bantuan Aluna dan Anatasya, yang namanya sudah melejit lebih dulu di dunia maya.
Saat Aluna lulus SMA, kami di wawancarai oleh salah satu majalah bisnis. Yang mengangkat tema keluarga yang berhasil.
Aku yang merasa minder, berharap, berita yang dikeluarkan mereka, tidaklah berlebihan. Sejak saat itu, namaku semakin dikenal. Dari seorang ibu rumah tangga penjual kue keju online, menjelma menjadi CEO perusahaan, atas kerja keras bersama dengan anak-anaknya, yang menjadi youtuber kelas atas di usia remaja.
Aku tidak mengijinkan mereka menyoroti kehidupan pribadiku, meskipun aku tau, jika hal itu disorot, kami akan semakin dikenal orang.
Aku mau mengubur masa laluku sedalam-dalamnya. Menghilangkan semua itu bagai debu ditiup angin. Aku tidak akan mengijinkan setitik pun masa laluku diungkit di masa sekarang.
Setelah lulus SMA, Aluna kuliah kedokteran. Dan lulus dengan prestasi cumlaude. Dia lulus jadi seorang ahli bedah yang diincar oleh rumah sakit dalam dan luar negeri.
Pasalnya, diusia Aluna yang masih sangat muda, dia berhasil dengan segala kenekatannya, membedah orang. Dan semuanya berhasil.
Anatasya kembali mencoba peruntungannya, dengan menjejakkan kaki di dunia literasi. Novel pertamanya best seller lalu trending topik, karena, para pembaca mengenal Anatasya sebagai youtuber sukses.
Novel dengan judul Anak Cacat Yang Beruntung itu, dia buat berdasarkan kisah hidupnya. Siapa sangka, berapa tahun kemudian, novel itu, dipinang untuk dijadikan sebuah film layar lebar.