Alika Park adalah seorang gadis biasa berdarah Korea-Indonesia yang usianya sudah mencapai kepala dua itu, merupakan asisten pribadi dari Dehan dan sudah bekerja selama kurang lebih 4 tahun di The Angello Company. Ia bertugas untuk membantu meringankan pekerjaan Dehan, ketika Bos mesumnya itu sedang ada keperluan di luar.
Di usianya yang ke dua puluh enam tahun ini, dirinya juga belum berpikiran untuk menikah karena masih ingin mengurus kedua orang tua dan adik-adiknya yang terdiri dari tiga orang yaitu Roman, Dennis, dan Ken. Roman masih duduk di kelas 6 SD, Dennis duduk di kelas 3 SMP, sedangkan Ken duduk di kelas 3 SMA. Ketiganya memiliki sifat dan karakter yang berbeda. Roman memiliki sifat jahil, Dennis memiliki sifat terlalu percaya diri, sedang Ken sifatnya jutek dan tidak peduli pada keadaan sekitar.
Mereka berempat dilahirkan dari rahim seorang wanita cantik yang berasal dari Indonesia bernama Alya Brigyta. Sedangkan spermanya dari seorang pria tampan yang berasal dari Korea Selatanㅡtepatnya di kota Gyeonggi-doㅡbernama Harris Park. Kedua orang tua mereka bukanlah berasal dari keluarga yang berada. Harris hanyalah seorang pria dengan fisik lemah, dan selalu disiksa oleh keluarganya sehingga membuatnya melarikan diri ke Indonesia. Harris dan Alya tidak sengaja bertemu di sebuah kafeㅡtepatnya di Selatan kota. Saat itu, Alya bekerja sebagai pramusaji di kafe tersebut. Mereka pun berkenalan hingga jangka waktu kurang lebih satu tahun. Karena merasa saling cocok, mereka pun akhirnya memutuskan untuk menikah dan memiliki satu orang putri serta tiga orang putra.
Setelah menikah, Harris menggantikan posisi Alya bekerja sebagai seorang pramusaji di kafe tersebut. Harris bekerja banting tulang, disaat Alya tengah mengandung Alikaㅡputri sulungnya. Meskipun kondisi fisik Harris lemah, tapi ia tak gentar demi membutuhi semua kebutuhan keluarganya, termasuk biaya persalinan. Dan setelah Alika lahir, kemudian tumbuh menjadi gadis dewasa, Harris mulai berhenti bekerja karena dia mengalami gangguan pada fungsi ginjalnya, sehingga membuatnya harus duduk di kursi roda dan menjalani check-up setiap bulannya.
Sejak usia 17 tahun, Alika sudah terbiasa bekerja paruh waktu sembari terus melanjutkan sekolahnya hingga ke jenjang perkuliahan. Dia berhasil mendapatkan beasiswa dari hasil kerja kerasnya, demi meringankan bebannya. Dia juga harus memikirkan ketiga adiknya yang masih membutuhkan biaya sekolah.
Setelah lulus dari bangku perkuliahan, Alika mencoba peruntungan dengan melamar di perusahaan The Angello Company sebagai General Manager. Namun sayang, posisi itu telah lebih dulu diisi oleh seorang pria yang mungkin lebih berpengalaman darinya. Saat itu, Ben Angello langsung yang menginterview-nya, dan memintanya untuk menjadi asisten pribadi Dehan Angello.
Karena tergiur dengan gaji yang cukup fantastis, Alika pun menerima pekerjaan itu hingga sekarang. Ia sudah bertahan selama 4 tahun dari Bos m***m itu, demi membiayai kehidupan keluarganya dan juga pengobatan ayahnya. Mau tidak mau. Suka atau tidak suka, Alika harus tetap mempertahankan pekerjaannya. Di era milenial sekarang ini, untuk mendapatkan pekerjaan sangatlah susah. Tidak semudah dengan apa yang kita pikirkan dan kita rencanakan sebelumnya. Jarang sekali ada orang yang beruntung mendapatkan pekerjaan di posisi yang bagus. Dan Alika salah satu yang beruntung, karena bisa masuk dan bergabung dengan sebuah perusahaan bonafit dan terkenal seperti The Angello Company ini.
Alika terlihat tergesa-gesa memasuki ruangannya. Ia mengunci pintu tersebut, lalu sedikit berlari mengunci pintu yang ada menembus langsung dengan ruangan Dehan. Setelahnya, ia terduduk lemas di kursi kerjanya seraya menarik napas dalam-dalam, dan membuangnya secara perlahan. Kedua tangan Alika bergerak memegangi dadanya. Jantungnya berdetak dua kali lipat lebih cepat dari biasanya. Bulu kuduknya juga sedikit meremang ketika mengingat dirinya harus duduk di pangkuan Dehan, dan bokongnya merasakan benda panjang itu menegang dibalik celana kantor Dehan.
"Astaga! Pak Dehan benar-benar membuatku mati kutu tadi. Dia benar-benar sangat bernapsu dan ... dan hampir saja aku menjadi korban pelampiasan hawa napsunya tadi. Masih untung ada Pak Ben. Kalau tidak, entah bagaimana nasibku selanjutnya." Alika menggumam sambil terus memegangi dadanya, "Tapi, kenapa detak jantungku tidak normal seperti ini? Kenapa aku selalu salah tingkah, setiap kali kulitnya bersentuhan denganku? Apa mungkin aku... Ah, tidak! Jangan berpikiran gila, Alika. Ingatlah akan posisimu saat ini. Kau hanya asistennya. Ya, asistennya. Huft!"
Alika mengalihkan pikiran gilanya pada buku agenda yang harusnya ia berikan pada Dehan tadi. Dia benar-benar lupa karena perlakuan Dehan padanya. Pikirannya benar-benar kacau jika mengingat kejadian tadi. Ia tak membayangkan jika Bos mesumnya akan berbuat nekad seperti itu. Alika menjadi semakin takut untuk berhadapan langsung dengan pria itu. Mulai detik ini, Alika harus memasang sikap waspada. Ia tidak ingin merelakan tubuhnya begitu saja, lalu ditinggalkan. Itu sangat menyakitkan.
Sementara di ruangan Dehan, terlihat sebuah perdebatan cukup sengit antara ayah dengan anak. Ben terlihat marah besar pada Dehan. Amarahnya memuncak ketika membaca surat kabar pagi ini. Semua media membicarakan soal keburukan Dehan yang selalu berbuat m***m dan mendatangi klub malam untuk sekedar one night stand dengan para jalangnya. Terkadang dirinya juga selalu tertangkap kamera saat membawa beberapa wanita untuk masuk ke hotel mewah yang sudah di pesannya.
Ben melemparkan surat kabar itu di depan wajah Dehan dengan kasar. Dehan menerimanya tanpa ingin melihat isinya.
"Why, Dad? Any problem?" tanya Dehan dengan nada yang begitu santaiㅡtanpa beban.
Ben menggeram. "Kau masih berani bertanya, apa ada masalah?! Huh! Baca surat kabar itu! Wajahmu itu tersebar luas di seluruh media massa karena kau, berjalan dan bermain panas dengan para jalangmu itu! Apa kau tidak malu, hah?! Kau sengaja ingin mencoreng nama baikku di depan semua orang?! Kau sengaja ingin membuatku dicap sebagai orang tua yang tidak becus mendidik anak, iya?! Apa kau sengaja ingin membuatku cepat mati karena ulahmu ini, hah?!"
Dehan terlihat mendesah pelan, lalu kedua jari telunjuknya menutup kedua telinganya karena merasa gendang telinganya akan pecah mendengar teriakan Ben. Dan mungkin, Alika juga pasti mendengarnya karena ruangan mereka bersebelahan.
"Kau tahu, ibumu sangat shock melihat pemberitaan ini di rumah! Apa kau tidak bisa mengerti itu, hah?! Jawab aku, Dehan!" Ben menggebrak meja kerja putranya dengan wajah yang sudah memerah dan tangannya yang mengepal sempurna.
Dehan berdecak, "Bagaimana aku bisa menjawabnya? Ayah saja tidak memberiku kesempatan untuk menjawab. Sejak tadi, ayah terus marah-marah dan berteriak. Memberiku berbagai macam pertanyaan, sampai aku bingung harus menjawab apa."
"Kau!"
"Oh come on, Dad. Untuk menyelesaikan masalah ini sangat mudah. Datangi saja media massa itu, lalu berikan uang pada mereka sebagai uang tutup mulut dan meminta mereka untuk menghapus semua berita buruk tentangku. Mudah, kan? So, don't be angry, Dad. Calm down. Semuanya akan baik-baik saja. Aku yang akan mengurusnya." Dehan berbicara terlihat santai dan menganggap semua urusan akan berjalan dengan mudah hanya dengan menggunakan uang. Cara pemikiran yang salah, menurut Ben.
Ben berusaha meredam emosinya. Ia sedikit menurunkan egonya agar bisa berpikir jernih untuk menyelesaikan masalah ini, dan berpikir untuk merubah pola pikir Dehan yang harusnya bisa bersikap dewasa. Tidak kekanakan seperti ini. "Kenapa kau pergi dan tidur bersama jalang? Tidak bisakah kau menghentikan aktivitasmu itu, hah? Apa kau tidak takut terkena penyakit menular nantinya? Apa kau tidak kasihan pada istrimu nanti, hah?"
Dehan berdecih, "Istri? Huh! Ayah kan tahu, aku itu tidak suka berkomitmen. Aku benci yang namanya berhubungan hanya dengan satu orang wanita saja dan melibatkan perasaan. Aku tidak suka, karena cinta itu bahaya dan kejam. Dia bisa saja membuat orang melayang di udara. Namun seketika itu juga dia bisa menjatuhkan orang tersebut ke jurang penderitaan. Aku tidak suka itu. Aku akan selalu seperti ini. Aku juga selalu cek ke dokter setelah berhubungan dengan wanita-wanitaku. Jadi, ayah tenang saja. Tidak akan terjadi apa pun padaku."
"Terserah kau saja. Ayah pusing kalau harus berdebat denganmu. Kau begitu keras kepala dan susah diatur. Aku menyesal mempunyai anak sepertimu. Aku tidak mengerti, kenapa kau bisa bersikap seperti ini. Padahal dulu, kau itu bukanlah tipe pria pencari kenikmatan. Kau dulunya adalah seorang pria baik yang selalu menjaga kehormatan seorang wanita. Tapi sekarang, kau bukanlah Dehan yang pernah ayah kenal. Kita akan lanjutkan ini di rumah," tutup Ben lalu melangkah keluar dari ruangan Dehan.
Dehan terlihat menyunggingkan senyuman miring di sudut kanan bibirnya. Ia bersandar di kursi sembari mengusap dagunya dengan jari-jarinya. Merasakan rambut-rambut halus yang mulai tumbuh di dagu serta bawah hidungnya.
Dulu, aku memang pria yang baik dan selalu mengutamakan kehormatan seorang wanita. Aku selalu menghargai mereka, dan tidak pernah sekali pun berniat untuk menyentuh mereka. Tapi semenjak kejadian sepuluh tahun silam, aku menjadi yakin bahwa tidak semua wanita seperti ibuku dan juga dia. Mereka semua munafik dan memanfaatkan sesuatu demi kepentingan mereka. Bahkan mereka rela memberikan kehormatannya untuk mendapatkan yang mereka inginkan.
Dehan kembali menegakkan tubuhnya, lalu mulai melanjutkan aktivitas tangannya untuk memeriksa dan menandatangani berkas penting di hadapannya.
> To be continue....