Dehan memasuki ruangannya dengan wajah yang begitu lesu karena tidak berhasil menyalurkan hasrat bercintanya pada asistennya itu. Namun, sekilas pandangannya teralihkan pada tumpukan berkas yang ada di atas mejanya. Seketika matanya membelalak sempurna dengan kaki yang bergerak cepat mendekati meja kerjanya. Ia begitu tercengang dengan tumpukan berkas sebanyak itu.
"Jadi, aku harus menandatangani ini semua?!" gumamnya tak percaya.
Pria bermata biru nan indah itu mengusak wajahnya, kemudian memegangi tengkuk lehernya dan terduduk lemas di kursi kebesarannya yang selalu menjadi kebanggaan untuknya selama menjabat sebagai CEO di perusahaan The Angello Company.
"Damn it! Aku lupa kalau semalam aku bermain panas dengan jalang-jalangku. Oh s**t! Aku tidak sempat kembali ke kantor semalam. Ck, aku harus cepat menyelesaikannya hari ini juga. Jika tidak, aku mungkin tidak akan bisa melampiaskan napsu birahiku ini."
Dehan menegakkan tubuhnya yang sempat bersandar di kursi, kemudian tangan kanannya bergerak mengambil bolpoin yang sudah tersedia di meja kerjanya, lalu mulai mengayunkan tangannya di atas berkas tersebut dan mengukirnya menjadi sebuah tandatangan yang begitu indah. Setelah selesai, ia meletakkan berkas itu ke sisi kanannya dengan rapi. Ia mengulangi hal yang sama pada berkas yang lainnya. Tak lupa juga ia memeriksa isinya agar nantinya tidak dikomplen oleh ayahnya sendiri sebagai Direktur Utama di perusahaan ini.
"Ck, kenapa banyak yang salah?" gumamnya sembari memijat pelipisnya karena terlalu pusing memikirkan berkas tersebut. Ia bahkan tak menyadari jika ada seseorang yang sejak tadi memperhatikannya sambil tersenyum sendiri, karena melihat tingkah lucu Dehan saat memeriksa berkas tersebut.
"Maaf, Pak. Apa ada yang bisa saya bantu?" Seseorang yang sedari tadi melihat Dehan pun akhirnya bersuara. Ia kini duduk berhadapan dengan Dehan seraya membawa tablet serta buku agenda di tangan kanannya. Namun sayangnya, Dehan mengabaikannya.
Dehan terlihat menggebrak meja kerjanya sendiri, sehingga membuat seseorang tersebut terkejut ketakutan. Dehan kembali menggumam, "Oh s**t! Banyak sekali yang salah! Kalau terus seperti ini, bisa-bisa aku tidak akan bebas malam ini."
"Di bagian mana yang salah, Pak?"
Kini, pandangan Dehan teralihkan pada sosok gadis cantik di depannya. Ia menatap kagum sembari menelan salivanya ketika melihat aura kecantikan dari gadis itu. Pandangannya matanya tertuju pada bibir seksi yang dilapisi lipstik berwarna merah muda. "Oh my, God! Itu sungguh indah, dan seksi. Oh, sungguh aku ingin memiliki bibir itu. Aku ingin melumatnya dan merasakan manisnya bibir seksi itu," batinnya bergemuruh.
Tak sampai di situ, Dehan juga beralih pada leher mulus gadis itu dan mulai membayangkan bagaimana rasanya jika Dehan mengulumnya sehingga meninggalkan bekas kemerahan di sana. Pasti akan terasa nikmat dan menggairahkan. Dengan menatapnya saja sudah mampu membuat Dehan kelimpunganㅡditandai dengan suhu tubuh yang berubah panas dan berkeringat.
"Damnt it! Dia menegang!" rutuk Dehan dalam hati saat merasakan sesuatu di bawahnya menegang hebat dan ingin segera memasuki liang intim gadis itu, "Oh my, God! Aku ingin memasukinya!"
Gadis itu mengernyit kebingungan. Tangannya bergerak melambai di depan wajah Dehan yang sejak tadi hanya terdiam sambil terus menatapnya dengan tatapan yang bisa dibilang begitu 'm***m'. Gadis itu sedikit bergidik ngeri melihat ekspresi Dehan yang seperti itu. Ia melihat mata biru itu semakin gelap, karena sudah diselimuti oleh rasa gairah yang mendalam.
"Eum... Saya permisi, Pak," pamit gadis itu begitu sopan.
Merasa tersadar dari kegilaannya, Dehan pun memanggil gadis itu untuk duduk kembali di kursi kosong berada di depannya. Gadis itu menurut, lalu kembali duduk berhadapan dengan Dehan. Wajahnya sedikit tertunduk, karena tatapan Dehan tak pernah lepas darinya.
"Apa kau memerlukan sesuatu?" tanya Dehan yang masih tetap memandangi gadis itu dengan lekat.
Gadis itu menegakkan kepala, lalu mengangguk pelan. "Iya, Pak. Saya ke sini untuk memberitahukan jadwal meeting hari ini. Mungkin satu harian ini, bapak akan disibukkan dengan meeting bersama klien di luar. Sekitar pukul sepuluh ini, bapak harus bertemu klien di sebuah kedai kopi arah Selatan kota. Setelah itu di jam dua belas siang, bapak harus kembali bertemu klien di sebuah restoran arah Barat kota, sekaligus makan siang bersama. Dan pukul dua siang, bapak harus bertemu dengan klien dari Hongkong di sebuah kafe arah Selatan kota. Jika bapak merasa lelah, saya akan membatalkan salah satunya agar bapak bisa istirahat."
Dehan tidak menjawab. Dirinya terlalu fokus pada kecantikan gadis itu. Aura yang terpancar memang terlihat natural dan sangat membuatnya tergila-gila akan kecantikan itu. Ia mengabaikan semua yang dikatakan gadis cantik itu, lalu melirik kearah bokongnya. Tenggorokannya seakan kering jika harus membayangkan hal panas lagi.
"Aku benar-benar gila karenanya! s**t!" batin Dehan frustrasi.
Dehan bangkit berdiri, kemudian menuntun gadis itu untuk berdiri pula. Gadis itu menurut dan tidak banyak bertanya, meskipun di kepalanya terbersit beberapa pertanyaan yang tidak mungkin dia utarakan.
Dehan mengambil alih kursi itu, kemudian menarik paksa gadis itu untuk duduk di pangkuannya. Hal itu tentunya membuat gadis itu terkejut setengah mati, apalagi dia merasakan ada sesuatu yang keras di bawah sana, sedang menghalangi bokongnya.
"Pak, jangan seperti ini," ucap gadis itu berusaha melepaskan diri dari Dehan.
Dehan mendekap gadis itu dengan meletakkan kedua tangannya di pinggang gadis yang kini ada di pangkuannya. Lingkar pinggang itu begitu pas di tangannya. Hal itu semakin membuat Dehan menggila dengan tatapan yang semakin menggelap. Ia tak mampu lagi untuk menguasai dirinya saat ini. Dia benar-benar nekad ingin berbuat m***m pada asistennya sendiri.
"Sayang, tenanglah. Aku tidak akan berbuat kasar padamu. Aku hanya ingin merasakan, bagaimana rasanya memasuki seorang perawan sepertimu. Pasti rasanya sangat nikmat dan sempit. Ah, itu sangat menggairahkan." Ungkapan Dehan yang terdengar begitu seksi pun membuat gadis itu semakin gemetar karena ketakutan. Dehan bisa merasakan tubuh yang gemetar itu. Pria bermata biru itu pun, menyunggingkan senyuman miring dan terlihat penuh arti, "Mari, kita lakukan bersama-sama sayang. Aku akan memasukimu secara perlahan. Percaya padaku."
Gadis itu menggeleng pelan. "Tidak, Pak. Jangan lakukan itu pada saya. Ini tidak profesional namanya. Saya tidak ingin menjadi bahan cibiran karyawan lain nantinya. Tolong, lepaskan saya."
"Jangan pedulikan mereka sayang. Biarkan mereka berbicara apa. Yang terpenting, aku puas dan kau juga puas. Izinkan aku menikmati tubuhmu, sekali saja. Aku benar-benar gila karenamu sayang," ucap Dehan sedikit berbisik di telinga gadis itu.
Gadis itu meremang ketika Dehan menyentuh tengkuk lehernya dan membuatnya menunduk untuk bisa saling bertatapan. Gadis itu seakan terhipnotis oleh mata indah Dehan yang saat ini menggelapㅡsegelap malam. Tubuhnya serasa kaku, serta jantungnya terus memompa aliran darahnya dengan begitu cepatㅡseolah-olah jantung itu akan segera melompat keluar dari tempat asalnya, atau bahkan meledak seperti bom atom.
Gadis itu mengalihkan wajahnya untuk menghindari bibir seksi Dehan yang sudah hampir dekat dengan bibirnya. Napas Dehan begitu hangat di pipinya, sehingga membuatnya serasa melayang di udara. "Kenapa aku tidak bisa menolaknya?" batinnya.
"Oh come on, Honey. Aku hanya menginginkanmu sebentar saja. Tidak bisakah kau menuruti keinginanku ini? Kau pasti sudah merasakan betapa mengerasnya bagian bawah tubuhku ini. Dia menginginkanmu sayang. Ayolah," pinta Dehan dengan nada yang begitu manja.
Gadis itu lagi-lagi menggeleng dan mendorong tubuh Dehan untuk menjauh darinya. Namun, kekuatannya tidaklah sebanding dengan Dehan. Dia hanyalah seorang gadis lemah yang tidak tahu harus berbuat apa dalam situasi seperti ini. "Pak, tolong lepaskan. Saya mohon."
"Tidak."
"Please...." lirih gadis itu seraya tertunduk.
Dehan berdecak kesal. Ia benci melihat ekspresi lemah seperti itu. Dirinya tidak bisa melihat seorang gadis memohon padanya. Itu akan membuat benteng pertahanannya luluh seketika.
Dehan pun berkata, "Maaf sayang. Aku tidak bisa melepaskanmu kali ini. Kita akan tetap melakukannya di ruangan ini. Sebaiknya, kita ke ruang istirahatku sekarang. Aku akan menidurimu di atas ranjang, dan mendengarkan desahan-desahan seksimu memanggil namaku."
"Tidak, Pak. Saya tidak bisa. Saya hanya akan melakukan itu bersama suami saya nanti. Saya mohon, lepaskan saya," pinta gadis itu dengan sangat.
"Dehan!"
Sebuah seruan kini mengusik ketenangan Dehan. Dirinya hapal betul suara itu. "Lepaskan dia! Kau itu benar-benar keterlaluan, Dehan! Ayah sangat kecewa padamu!"
Ben Angello datang disaat yang tepat. Gadis itu pun beranjak dari pangkuan Dehan, lalu berdiri menghadap Ben sambil tertunduk malu. Ben menatap gadis itu dengan iba, dan berkata, "Kau masuklah ke ruanganmu. Biar saya yang mengurusnya."
"Terima kasih, Pak. Saya permisi," pamit gadis itu yang langsung melenggang pergi tanpa menatap Dehan yang masih saja menatapnya, meskipun Ben saat ini sedang marah padanya.
"Mungkin hari ini, kau bisa lolos dari genggamanku. Tapi besok, kau tidak akan bisa lari lagi dariku, Alika Park," batin Dehan berkecamuk.
> To be continue....