Waktu menunjukkan pukul empat sore dan seharusnya, Dehan sudah keluar dari kantor karena jam kantor sudah selesai sejak pukul tiga sore tadi. Tetapi, pria tampan ini terlihat enggan keluar dari ruangan. Ia memilih untuk berdiam diri di dalam kamar pribadinya. Merebahkan tubuhnya di atas ranjang, lalu menatap langit-langit sembari menghela napas berat.
"Kenapa dia selalu menolakku? Kenapa dia tidak pernah tersenyum lepas seperti yang ia tunjukkan pada Gerald? Kenapa dia selalu menundukkan pandangannya disaat aku berusaha menatapnya? Apa yang salah dariku? Apa kurangnya diriku? Aku selalu memberinya perhatian lebih dari karyawan lainnya. Tapi apa yang kudapatkan? Dia justru selalu menghindariku, dengan alasan profesionalisme," gumamnya.
Dehan mendesah pelan ketika pikirannya kembali terngiang akan ucapan Alika tadi, sesaat setelah menamparnya.
"Dengar, Pak. Saya bukanlah wanita jalang yang selalu bapak tiduri. Saya bukanlah wanita jalang yang selalu rela disetubuhi demi mendapatkan uang. Jangan samakan saya dengan mereka. Lebih baik, saya resign dari tempat ini daripada saya harus menerima pelecehan ini dari bapak. Saya permisi."
Dehan mengusak rambutnya kasar, lalu duduk di tepian ranjang. Dirinya benar-benar terlihat kacau hari ini. Entah hal apa yang membuatnya bisa se-nekad dan semarah itu pada Alika. "Apa yang kulakukan? Kenapa aku selalu berbuat gila, saat melihatnya bersama Gerald? Stupid man! Harusnya kau tidak bertindak bodoh, Dehan! Astaga! Apa yang kupikirkan?! Aku benar-benar membuatnya tidak nyaman tadi! Ck, bodoh!"
Pria pemilik mata biru ini bangkit berdiri, lalu berjalan mendekati jendela kamar yang ada di ruangannya. Pandangannya menatap lurus keluarㅡmemandangi gedung-gedung pencakar langit nan megah di setiap sudut kota Jakarta. Dehan menarik napas dalam, lalu membuangnya perlahan. Gemuruh di hatinya seakan tidak berhenti ketika dirinya terus mengingat tawa ceria Alika saat bersama dengan Geraldㅡpria yang sudah dengan lancang mendekati miliknya.
Miliknya? Dehan menganggap Alika adalah miliknya? Apa ini? Apakah benar yang dikatakan Gerald, bahwa Dehan mulai menaruh hati pada asisten cantiknya itu? Apakah itu artinya, Dehan sudah melupakan trauma masa lalunya?
Entah Dehan sadari atau tidak, sudut matanya sudah mengeluarkan setitik air bening di sana. Dehan menangis? Astaga! Ini pertama kalinya Dehan menangis setelah bertahun-tahun lamanya semenjak kejadian di masa lalunya. Masa lalu seperti apa yang membuat Dehan berubah drastis seperti itu? Tidak ada yang bisa menjawabnya, kecuali Dehan. Pria ini selalu menyimpan rapat-rapat masa lalunya, dan tidak pernah berniat untuk mengatakan pada siapa pun, termasuk keluarganya sendiri. Yang jelas, akibat masa lalu itu, Dehan menjadi tidak mempercayai wanita dan cinta.
Tiba-tiba, Dehan tersentak dari lamunannya saat merasakan pundaknya disentuh oleh seseorang. Seketika itu juga, tubuhnya menegangㅡmerasa tak asing dengan sentuhan lembut itu. Dia berbalik dan terkejut melihat siapa yang hadir di hadapannya. "Kau kembali?"
Gadis itu tersenyum. "Ya, aku kembali."
"Untukku?"
"Ya, untukmu. Bukankah kau yang menginginkanku, Baby?" Gadis itu mengalungkan kedua tangannya di leher Dehan. Secara perlahan, gadis itu membuka kancing kemeja Dehan satu per satu. Menghempaskannya sembarangan, lalu mulai merajai setiap lekukan leher Dehan, sehingga membuat Dehan mendesah tertahan akibat sentuhan gadis itu di tubuhnya dan lehernya.
Oh s**t! Ini nikmat sekali!
Dehan mulai menarik gadis itu, lalu mencium bibirnya dengan penuh kelembutan. Sepertinya, Dehan benar-benar berbeda dari biasanya. Tidak biasanya ia melakukan hubungan intim dengan lembut seperti itu sebelumnya. "Kau sangat berbeda hari ini. Kau begitu lembut dan membuatku semakin b*******h. Aku sangat menyukainya," ucap gadis itu disela ciuman lembut nan panas itu.
Dehan tidak menanggapi ucapan gadis yang entah siapa namanya itu. Saat ini, dia terlalu sibuk menjelajahi seluruh isi rongga mulut gadis itu. Ia merasakan semuanya dengan mata yang tertutup begitu rapat. Sampai akhirnya, ia mulai kehabisan oksigen dan melepasnya lebih dulu.
"Buka bajumu," titah Dehan lembut seraya terus membelai kedua pipi gadis itu dengan ibu jarinya. Jarak mereka begitu dekat sehingga membuat hidung mancung mereka saling bersentuhan.
Gadis itu pun membuka gaunnya, sesuai dengan apa yang diperintahkan Dehan. Menampilkan dalaman serba hitam, serta menampilkan lekukan-lekukan tubuh yang indah bak gitar Spanyol di sana. Dehan benar-benar menyukainya dan begitu menginginkannya.
Dehan menggendong gadis itu ala bridal style, lalu merebahkan tubuh seksi itu di atas ranjangnya. Dehan mulai membuka celana kerjanya, dan menghempasnya ke sembarang tempat. Ia bergerak naik ke atas ranjang, lalu mulai menindih gadis itu seraya kembali menyatukan bibir mereka berdua.
Setelah puas dengan bibir itu, perlahan ciuman Dehan beralih pada leher jenjang tersebut. Ia menciuminya dengan lembut, namun tetap terkesan sangat ganas. Bahkan dia meninggalkan bekas kemerahan di sana sebagai pertanda. Tangan kiri Dehan tak pernah berhenti beraktivitas di atas d**a indah gadis itu, meskipun masih tertutupi oleh bra berwarna hitam. Sementara tangan yang satunya bergerak turun ke bawah untuk mengabsen sesuatu yang ada dibalik celana dalam hitam itu.
Tubuh gadis itu meremang sempurna dikala tangan nakal Dehan mulai memasukinya. Desahan kenikmatan pun terdengar jelas dari bibirnya, dan terdengar seperti seseorang yang frustrasi akan gairahnya yang semakin memuncak.
"Ah, Dehan!"
"Yes, Baby," ucap Dehan lembut.
"Oh!"
Gadis itu meremas rambut Dehan, ketika ciuman Dehan mulai turun ke area sensitifnya. Bisa dilihat, Dehan sudah melepaskan celana dalam hitam itu dari bagian inti gadisnya. Dehan benar-benar membuat gadis itu semakin frustrasi akibat ulahnya yang sepertinya sengaja mempermainkan gadis itu.
"Dehan!" panggil gadis itu lagi seraya menarik kepala Dehan untuk menjauh dari sana. Ia tak tahan lagi. Dehan sudah terlalu lama mempermainkannya, "Lakukan sekarang."
Dehan mendekati wajah gadis itu dengan tatapan yang begitu lembut di mata birunya. Ia berhasil membuat gadis itu merona sempurna saat menatap matanya. Dehan mencium kedua pipi yang merona itu dengan sangat lembut lalu berakhir pada bibir ranumnya.
Secara perlahan, Dehan memasuki tubuh gadis itu dan menyentaknya sehingga membuat gadis itu mencengkeram erat punggung Dehan. Gadis itu memeluk leher Dehan seraya mengucapkan kata, "I love you."
Dehan tidak membalasnya. Dia hanya tersenyum sambil terus bergerak di atas gadis itu bersamaan dengan desahan yang keluar dari bibir gadis yang kini sudah menjadi wanitanya. Ia bergerak perlahan, membiarkan wanitanya terus menyebut namanya.
"Ah, Dehan!"
"Kau begitu sempit sayang," bisik Dehan tertahan bersama dengan desahannya. Gerakannya terlihat semakin cepat, sehingga desahan yang keluar dari mereka pun semakin terdengar panas dan menggairahkan. Oh God! s**t!
Dehan merasa bahwa miliknya sudah mulai mencapai puncak kenikmatan. Ia semakin menambah gerakannya dan melenguh bersamaan dengan wanita yang ada di bawahnya. Dehan sengaja tidak mengeluarkan spermanya di dalam rahim wanita ituㅡsekedar untuk berjaga-jaga agar wanita yang ditidurinya ini tidak hamil.
Setelah pencapaian selesai, Dehan merebahkan tubuhnya di samping wanita itu. Dilihatnya wanita itu sudah memejamkan matanya, karena merasa kelelahan. Tangan kanan Dehan bergerak membelai pipi tersebut seraya menggumam, "Apakah aku sedang bermimpi saat ini? Kenapa dia berbalik dan memberiku izin untuk menidurinya? Apakah ini nyata? Atau tidak? Apakah ini benar-benar kau, Alika? Sebegitu besarkah cintamu padaku, sampai kau rela memberikan kesucianmu padaku sayang? Padahal kau tahu, aku tidak pernah menaruh perasaan dalam berhubungan intim."
Alika? Dia meniduri Alika? Gadis polos nan suci itu rela tidur dengan Dehan? Benarkah ini? Nyatakah ini? Lalu, bagaimana nasib Alika ke depannya? Dehan bahkan tidak pernah menginginkan seseorang mencintainya. Dia juga tidak suka jika hanya berhubungan dengan satu wanita saja. Bagaimana jika Dehan meninggalkannya begitu saja setelah ini?
Dehan mencium kening wanita itu, lalu ikut terlelap bersama dengan wanita yang dianggapnya sebagai Alika seraya memeluknya erat. Maaf kalau aku tidak bisa membalas perasaanmu nanti. Maaf juga kalau aku akan meninggalkanmu setelah ini. Aku melakukan ini, karena kau yang menginginkannya. Bukan aku. Semoga kau tidak sedih setelah ini, Alika.
> To be continue....