Dehan menggebrak mejanya, lalu menyingkirkan semua barang yang ada di meja kerjanya. Dehan benar-benar marah, sekaligus bingung dengan perasaannya saat ini. Kenapa dia selalu lemah disaat Alika berkata lirih seperti tadi? Dia terlihat begitu frustrasi saat ini. Tangannya terus mengusak rambut dan wajahnya. Bahkan ia melonggarkan dasinyaㅡmerasakan gerah akibat amarah yang begitu besar di hatinya.
"Sial!" umpatnya.
Napas Dehan terlihat memburu. Wajahnya memerah sempurna dan matanya juga ikut memerah. "Kenapa ini?! Kenapa dia mengguncang hatiku?! Damn it! No! Ini tidak boleh! Aku tidak boleh jatuh cinta padanya! No way!"
Dehan berjalan menuju ke kamarnya, berniat untuk mengganti pakaiannya yang sudah sangat basah karena keringat. Ia mengganti kemeja berwarna putih menjadi kemeja berwarna biru navy, dan kelihatan sangat keren. Setelah selesai mengganti pakaian, Dehan kembali keluar dari kamarnya. Pandangannya menangkap sosok Alika di ruangannya. Ia melihat gadis itu tengah merapikan semua barang-barang yang dihempasnya tadi.
Setiap kali Alika setengah berjongkok, Dehan semakin frustrasi sendiri. Ia kembali merasakan gerah. Namun kali ini, bukan gerah karena marah. Tetapi sebaliknya. Dehan begitu b*******h ketika melihat paha mulus Alika sedikit terekspos saat gadis itu berjongkok memunguti barang-barang yang terhempas ke lantai. Berulang kali ia menelan salivanya dan menyeka titik-titik peluh yang muncul di sekitar dahinya.
Sungguh indah ciptaan Tuhan.
Dehan mengerjap ketika Alika memanggilnya dengan suara khas lembutnya. Gadis itu duduk di kursi yang berhadapan dengan Dehanㅡmenunggu Dehan yang masih berada di ambang pintu kamarnya. "Pak Dehan."
"Ada apa?" jawab Dehan dengan nada ketus sembari mendekati mejanya dan duduk di kursi kebesarannya.
Alika mendesah pelan. "Jadwal baru untuk pertemuan dengan klien sudah ditentukan, Pak. Saya ke sini mau menjelaskan jadwal barunya pada bapak. Saya juga sudah menuliskannya di buku agenda bapak. Tapi lebih baik saya beritahukan langsung agar bapak bisa mengingatnya."
"Katakan."
"Jadwal bapak untuk hari ini tidak ada, Pak. Dan untuk besok di jam sepuluh pagi, bapak harus bertemu dengan salah satu klien baru yang ingin melihat presentasi perusahaan kita sebelum beliau memutuskan untuk bergabung. Di jam duabelas siang, bapak harus bertemu dengan klien lama kitaㅡMr. George di salah satu kafe yang pernah beliau janjikan sebelumnya."
Alika masih terus melanjutkan kalimat-kalimatnya, sedangkan Dehan terus memperhatikan Alika. Lebih tepatnya pergerakan bibir Alika yang sejak hari ini sudah menjadi candunya. Ia ingin merasakannya lagi dan lagi. Dehan merasa tidak puas jika hanya melakukan ciuman panas saja. Ia ingin lebih dari itu. Ranjang adalah tempat yang cocok untuk dirinya merasakan seluruh tubuh Alika.
Astaga! Membayangkannya saja sudah membuatku gila!
Alika yang merasa diperhatikan intim seperti itu pun, kembali merona. Setiap kali Dehan menatapnya, dia selalu salah tingkah dan tidak tahu harus berbuat apa. Dan sialnya, kenapa harus merona di situasi seperti ini? Itu bisa membuat Dehan kembali menggila dalam sekejap. Sebisa mungkin Alika menutupi rona merah di pipinya dan kembali melanjutkan kalimatnya.
"Eum... Maaf, Pak. Tadi saya dipanggil oleh Pak Ben. Dia mengatakan pada saya, kalau media sedang memberitakan tentang perbuatan m***m bapak saat di kantor. Pak Ben meminta saya untuk menanyakan, apakah benar bapak memanggil seorang wanita ke sini kemarin sore?" tanya Alika dengan hati-hati.
Dehan mengernyitㅡmencoba mengingat kejadian panas di kamarnya kemarin sore. Dehan pun tersenyum miring, kemudian mengangguk dan menjawab, "Ya, itu benar. Aku menghabiskan waktu bersamanya di atas ranjang. Kau tahu, itu sangat-sangat panas dan menggairahkan. Aku menyukai setiap pergerakan sensualnya. Bahkan dia memintaku untuk berbaring di bawahnya. Ah, aku jadi ingin kembali mengulanginya."
Mendengar jawaban Dehan, tengkuk leher Alika meremang. Jawaban itu terasa sangat horor baginya. Dehan benar-benar memancing Alika untuk bersedia tidur dengannya. Namun, pemikiran Dehan sangat salah. Alika justru geli membayangkannya. Apalagi hubungan itu dilakukan di luar pernikahan. Itu tidak patut untuk dicontoh.
"Kau mau melakukannya denganku, Alika?"
Alika semakin terkejut mendengar pertanyaan yang terlontar dari bibir seksi Dehan. Matanya membelalak sempurna, seraya menggelengkan kepala dengan cepat. Ia tertunduk, kemudian berkata, "Eum... Saya permisi dulu, Pak. Masih ada pekerjaan lain."
Dengan tergesa-gesa, Alika bangkit berdiri dan berjalan cepat menuju ke pintu yang ada di ruangan Dehan. Namun, langkahnya itu kalah dengan gerakan tangan Dehan. Pria itu sudah menggenggam tangannya, lalu menariknya hingga memutar dan b****g Alika mendarat tepat di pangkuan Dehan. "Aku tidak akan membiarkanmu pergi begitu saja sayang," bisik Dehan.
Alika memberontak. Ia terus meminta Dehan untuk melepaskannya. Pergerakannya membuat Dehan semakin menggila. Pasalnya, b****g Alika bergerak mengenai sesuatu yang ada di bawahnya. Dehan berulang kali mendesis nikmat saat gadis itu bergerak di atas pangkuannya.
"Saya mohon, jangan lakukan ini, Pak. Ini tidak boleh terjadi," pinta Alika yang sudah berlinang airmata di pipinya.
"Hanya sebentar sayang. Kali ini saja. Setelah itu, aku janji tidak akan memintanya lagi." Dehan menciumi leher jenjang Alika yang terekspos jelas, apalagi pria m***m itu sudah membuka sebagian kancing kemeja Alika di bagian atas. Di sana Dehan bisa melihat langsung d**a indah Alika. Ia menciumnya dengan penuh kelembutan, agar Alika bisa merasakan setiap sentuhannya dan membuat gadis itu mengingatnya.
Alika menggigit bibir bawahnya ketika Dehan mulai menghisap dan menggigit area lehernyaㅡmemberikan sebuah tanda merah di sana yang nantinya, akan menjadi pertanyaan besar bagi setiap karyawan yang melihatnya. Kedua tangan Alika berusaha mendorong tubuh Dehan, namun percuma saja. Kekuatannya tidaklah sebanding dengan kekuatan Dehan.
Oh my God! Aroma tubuhnya benar-benar sangat harum. Aku sangat menyukainya.
Dehan terus menciumi leher Alika, dan mulai merambat turun secara perlahan ke area d**a indah Alika yang sudah terekspos nyata. Namun, sebelum Dehan merasakannya, tangan Alika berhasil menghalangi pria m***m itu. Dia mendorong tubuh Dehan untuk menjauh darinya. Alika berhasil lepas dari kungkungan Dehan, lalu bangkit berdiri sambil menutup kembali bagian dadanya.
Dehan yang geram, ikut bangkit dan berhadapan dengan Alika. "Berani sekali kau menolakku, hah?! Dasar munafik! Kau itu menginginkanku, tapi kenapa kau menolakku?!"
"Maaf, Pak. Saya memang menyukai bapak, tapi saya tidak ingin melakukan hal itu sebelum menikah. Itu perbuatan yang tidak baik, Pak. Saya tidak ingin terkena dosa," ucap Alika yang memberanikan diri untuk menjawab pertanyaan Dehan.
Dehan mendecih. "Ya, itu memang dosa. Tapi menurutku, itu dosa terindah. Aku Dehan Angello, si penikmat dosa terindah itu. Aku tidak peduli apa pun alasanmu. Sekarang, aku mau kau ikut denganku dan menghabiskan waktu bersamaku di atas ranjang."
Alika menggeleng, namun Dehan sudah terlanjur menarik tangannya secara paksa. Bos m***m itu membawa Alika ke kamarnya, lalu mengunci pintunya dan kembali mengurung Alika. Dehan menghempaskan tubuh Alika ke atas ranjang king size-nya, lalu mulai menindihnya.
"Nikmati saja permainan ini sayang. Aku akan melakukannya dengan pelan agar kau bisa mengingatnya untuk waktu yang lama." Setelah mengatakan itu, Dehan mulai menahan kedua tangan Alika di atas kepala gadis itu. Bibirnya mulai kembali merajai bibir indah Alika dan mengabsen seluruh isinya. Membuat Alika mulai kehabisan oksigen karena Dehan tak kunjung melepasnya.
Alika terus meronta, namun tidak bisa. Dia sangat lemah dibandingkan Dehan. Dan seketika itu juga, ia melenguh saat Dehan mulai kembali merajai leher mulusnya. Leher adalah salah satu titik kelemahannya. "Pak, saya mohon...." lirih Alika.
Damn it!
Dehan mencoba mengabaikan rintihan itu. Bos m***m ini tetap melanjutkan aksinya untuk merasakan tubuh Alika yang selalu membuatnya b*******h, hanya dengan melihatnya. Alika yang merasa semakin dilecehkan pun, mulai berusaha mengumpulkan kekuatan untuk bisa terbebas dari pria itu.
Dengan sekuat tenaga, Alika berhasil melepas genggaman tangan Dehan, lalu mendorong tubuh itu hingga terguling ke samping kanannya. Alika menuruni kasur, lalu berkata, "Cukup, Pak! Ini sudah tidak wajar! Anda sudah melecehkan saya!"
Dehan menatap garang wanita itu, lalu bangkit berdiri dan mendekatinya. Ia berdiri tepat di depan Alika sambil memasukkan kedua tangannya di dalam saku celana kantornya. "Lalu, kau ingin mengadu pada ayahku? Atau kau ingin melaporkanku ke polisi? Silahkan saja. Aku tidak takut sama sekali."
Dehan mencoba untuk kembali melecehkan Alika. Namun dengan sikap tegas Alika menolak dan bahkan sampai menampar pipi kiri Dehan dengan tangannya. "Dengar, Pak. Saya bukanlah wanita jalang yang selalu bapak tiduri. Saya bukanlah wanita jalang yang selalu rela disetubuhi demi mendapatkan uang. Jangan samakan saya dengan mereka. Lebih baik, saya resign dari tempat ini daripada saya harus menerima pelecehan ini dari bapak. Saya permisi."
Alika keluar seraya menangis pilu karena Dehan dengan lancang sudah merasakan setengah bagian dari tubuhnya. Dia memang mencintai Dehan, tetapi bukan hal ini yang diinginkannya. Dia benar-benar kecewa kali ini dengan perbuatan Dehan. Sedangkan Dehan, terlihat emosi mendapatkan perlakuan kasar seperti itu.
"Berani sekali dia menamparku." Dehan menyentuh pipinya dan sedikit mengelusnya karena masih merasakan perih di sana. Dia terus menatap kearah pintu kamar yang sudah tertutup rapat. Tidak ada Alika lagi di sana, "Kita lihat saja, Alika. Aku akan membalaskan dendamku ini nantinya. Aku bersumpah, kau akan selalu mengalami kehancuran dan kesedihan. Aku akan membuatmu menderita seumur hidupmu. Kau akan menyesalinya, Alika. Kau akan menyesalinya."
> To be continue....