Alika kembali ke ruangannya dengan perasaan yang begitu sedih. Sikap Dehan memang sangat sulit untuk ditebak. Selain m***m, Dehan sangat sulit untuk dipahami. Sikapnya masih labil, meskipun usianya sudah memasuki kepala tiga. Biasanya di usia segitu, para pria akan semakin berpikiran dewasa. Akan tetapi, ini terjadi sebaliknya. Justru pemikiran Alika-lah yang terlihat lebih dewasa dibandingkan Dehan. Padahal usia Alika jauh lebih muda dibanding pria berdarah Amerika itu.
Alika melamun. Ia bersandar di kursi sembari menatap gedung-gedung pencakar langit dari jendela ruangannya. Alika terus mendesah berat karena tidak tahu lagi harus menghadapi Dehan seperti apa. Dia tidak mengerti dengan kemarahan Dehan saat ini. Memangnya apa yang salah dari Gerald? Apa Gerald pernah membuat sebuah kesalahan pada Dehan? Tetapi setahu Alika, Gerald itu sangat baik dan sopan. Dia tidak pernah melihat Gerald bertengkar dengan Dehan sebelumnya.
Apa mungkin mereka pernah bertengkar di luar?
Ah, entahlah! Memikirkannya saja sudah membuat Alika pusing tujuh keliling. Rasanya dia ingin bertanya langsung tentang pertanyaan yang ada di benaknya pada Dehan. Akan tetapi, dirinya sama sekali tidak punya keberanian saat ini. Dia masih merasa takut setelah melihat kilatan putih di mata Dehan tadi.
Sesaat, lamunannya buyar ketika sebuah tangan kekar melambai tepat di depan wajahnya. Alika langsung bangkit berdiri, dan menoleh ke samping kananㅡmelihat siapa yang sudah mengusik ketenangannya.
"Kau terkejut cantik?"
Alika menghela napas lega. "Ya, sedikit. Sedang apa kau ke sini? Apa kau butuh sesuatu? Eum... Tapi jangan sekarang ya. Aku baru saja dimarahi Pak Dehan. Dia memintaku untuk menjauhimu."
Gerald Smith. Pria tampan pemilik mata hijau ini sekarang sudah berusia 28 tahun. Dia merupakan salah satu staff IT di perusahaan bonafit ini. Tingginya hampir menyamai Dehan, dan juga sangat tampan. Parasnya yang tampan membuat seluruh karyawan wanita di sana memujanya, dan menyukainya. Bisa dibilang, fans-nya hampir menyamai fans Dehan.
Gerald terlihat terkejut mendengar ucapan gadis yang kini sudah duduk berhadapan dengannya dan terlihat sibuk dengan berkasnya. Ia mendekatkan tubuhnya pada meja kerja Alika, dan membuat tangannya bertumpu pada meja tersebut. Dia pun mulai berbisik, "Salahku apa, Alika? Kenapa dia melarangmu untuk dekat denganku? Apa dia cemburu pada ketampananku ini? Ah, atau mungkin dia ... sudah mulai menaruh hati padamu?"
"Ck, kau ini bicara apa, Gerald. Dia tidak mungkin menyukaiku. Dia saja selalu memarahiku tanpa alasan yang jelas. Contohnya sekarang, tiba-tiba dia melarangku untuk dekat denganmu. Aku sendiri juga bingung, kenapa dia melarangku seperti itu?" Alika tampak berpikir sejenak. Selanjutnya, ia kembali menatap Gerald dengan tatapan mengintimidasi, "Apa di luar sana, kau pernah bertengkar dengannya? Atau kau pernah menghajarnya? Ayo katakan yang sejujurnya padaku."
Gerald memutar matanya malas. "Aku tidak pernah bertemu dengannya di luar, Alika. Jadi, aku tidak mungkin bertengkar dengannya. Aku juga tidak pernah menghajarnya. Kau kan tahu kalau aku ini tidak pintar berkelahi. Hhh... Kau itu selalu berburuk sangka padaku."
"Bukan seperti itu. Aku hanya ingin memastikan saja. Aku merasa lega kalau kau memang tidak pernah bertengkar ataupun menghajarnya. Jadi, apa yang membuatnya melarangku sampai marah seperti itu ya?"
Gerald mendesah pelan. Ia menepuk dahinya sendiri sambil menggelengkan kepala, melihat sikap Alika yang terlalu naif, menurutnya. "Sudah kukatakan sebelumnya. Dia itu cemburu padaku, karena aku selalu dekat denganmu. Dia tidak suka kita berdekatan. Aku yakin seratus persen kalau dia sudah mulai mencintaimu. Hanya saja, dia enggan untuk mengatakannya."
"Ah, sudahlah. Tidak perlu dipikirkan lagi. Pikirkan saja berkas-berkas yang menumpuk ini. Segeralah periksa supaya kau tidak lagi dimarahi Pak Dehan. Dia itu sangat seram kalau sudah marah," lanjut Gerald.
Alika pun mengangguk, lalu kembali melanjutkan aktivitasnya untuk memeriksa beberapa berkas yang akan ia berikan pada Dehan nantinya untuk ditandatangani.
"Aku boleh membantumu?"
"Tentu saja," jawab Alika dengan senang hati.
Gerald mengambil sebuah berkas, lalu mulai memeriksanya. Sesekali ia meminta Alika untuk mengajarinya cara memeriksa berkas dengan benar. Alika pun tidak keberatan untuk mengajari pria tampan berdarah Amerika itu.
Sembari memeriksa, Gerald tak berhenti untuk sesekali melirik kearah Alika. Dia mengukir sebuah senyuman manis karena begitu kagum akan kecantikan gadis berdarah Korea itu. Selain cantik, Alika juga memiliki sikap keibuan yang bisa membuat dirinya merasa tenang dan nyaman saat berada di dekat Alika. Alika merupakan gadis idaman Gerald. Dia sudah menyukai Alika semenjak gadis itu bergabung di perusahaan ini.
"Alika," panggilnya lembut.
"Ya?"
"Boleh aku tanya sesuatu?" Gerald meletakkan kembali berkas itu ke meja, lalu menatap intens mata hazel Alika, "Apa kau sudah memiliki seorang kekasih hati?"
Alika tertawa ringan. "Belum. Kenapa kau bertanya seperti itu? Tidak biasanya kau menanyakan kisah percintaanku."
Gerald menarik napas dalam, lalu membuangnya perlahan. Ia menarik tangan Alika yang bebas, dan menggenggamnya erat. Tatapannya begitu hangat, sehingga membuat Alika merasa semakin heran. "Aku ingin jujur padamu. Selama ini, aku tidak menganggapmu sebagai seorang teman. Aku juga tidak menganggapmu sebagai partner kerja. Aku menganggapmu lebih daripada itu, Alika," ucapnya penuh kesungguhan.
"Ma-maksudmu?"
"Sejak lama, aku menyukaimu. Bahkan lebih dari sekedar suka. Aku sangat mencintaimu. Perasaan ini aku dapat disaat kau baru saja bergabung dengan perusahaan ini 4 tahun yang lalu. Awalnya aku mencoba untuk membuang jauh-jauh perasaan ini. Tapi, aku tidak bisa. Aku tidak bisa untuk membuangnya."
Alika menarik tangannya dari genggaman Gerald. Dia tahu apa maksud Gerald, tapi dia tidak bisa membalas perasaan itu. Karena yang dicintainya saat ini bukanlah Gerald, melainkan Dehan. Perasaan itu hanya untuk Dehan. Baginya, Gerald hanyalah seorang sahabat dan rasa sayang itu hanya sebatas rasa sayang untuk seorang sahabat. Tidak lebih.
"Aku akan segera menikahimu, Alika. Aku ingin sekali memiliki seorang pendamping hidup sepertimu. Aku ingin memiliki anak darimu. Aku yakin, kita akan hidup bahagia. Aku tahu, kalau kamu juga menaruh perasaan yang sama padaku. Benar, kan?" lanjut Gerald yang sepertinya sudah terlalu percaya diri dan menaruh harapan tinggi pada Alika.
Baru saja Alika ingin menggerakkan bibirnya, tiba-tiba saja pintu ruangan yang ada di dalam terbuka dengan kasar. Alika dan Gerald tersentak kaget dan berdiri dari duduknya. Terlihat di sana wajah tegas Dehan yang sedang menatap tidak suka kearah Gerald. Kilatan putih itu kembali dilihat oleh Alika. Seketika, Alika teringat akan perintah Dehan agar dirinya menjauhi Gerald.
"Sudah selesai bermain dramanya?" tanya Dehan dengan suara tegas dan terdengar mengerikan.
"Pakㅡ"
"Sshhtt!" Dehan mengarahkan jari telunjuknya tepat di bibir Alika. Wajahnya mendekati gadis itu tetap dengan tatapan tajamnya, "Bukankah sudah kuperingatkan tadi? Jangan coba mendekatinya lagi, karena aku tidak suka. Ini kantor, bukan tempat untuk mengadu kasih. Mengerti?"
Alika hanya mengangguk seraya menundukkan pandangannya. Ia tahu saat ini Dehan sudah kembali mengarahkan pandangannya ke Gerald. "Dan kau, jauhi Alika. Dia asistenku, dan aku tidak suka dia berdekatan denganmu," ucapnya dingin.
"Aku hanya membantunya meㅡ"
"Kau di gaji untuk menjadi staff IT di sini, bukan untuk membantu pekerjaan Alika. Kau tidak ada hubungannya dengan berkas-berkas ini. Jadi sekarang, silahkan kau keluar dari ruangan asistenku ini," ujar Dehan yang menyela ucapan Gerald seraya mengusir pria tampan itu.
Gerald mendesah pelan, lalu memilih untuk pergi. Ia tak ingin semakin memperkeruh suasana karena kehadirannya di sana. Setelah Gerald keluar, Dehan kembali menatap Alika yang ada di dekatnya. Tangannya bergerak untuk menekan rahang Alika, sehingga membuat Alika memekik kesakitan.
"Sudah kukatakan, kau harus menuruti perintahku! Apa kau tidak mengerti itu, hah?! Harus bagaimana lagi aku mengatakannya padamu, agar kau mengerti, hah?! Apa kau tuli?!" bentak Dehan tepat di depan wajah Alika.
Alika menangis sesenggukan sambil terus berusaha melepaskan diri dari Dehan yang kini sudah menekan lengan kanannya. Sementara tangan kanan Dehan menekan rahangnya dengan sangat kuat.
"Jangan menangis!"
Namun, airmata Alika seakan tidak ingin berhenti mengalir. Dia masih tetap menangis karena ulah Dehan yang begitu kasar padanya. Ia menatap Bosnya itu dengan tatapan memohon agar Dehan membebaskan dirinya. "Pak...." lirihnya.
Oh s**t! Berhenti merintih, Alika! Kau membuatku serba salah!
Dehan pun melepaskan cengkeramannya, kemudian beranjak pergi memasuki ruangannya kembali. Apa yang terjadi padaku? Kenapa aku selalu merasa iba saat dia merintih seperti tadi? Damn it!
> To be continue....