Six

1294 Words
Siang ini, Dehan terlihat acuh tak acuh pada Alika. Sifatnya memang tidak pernah bisa ditebak. Terkadang bisa bersikap baik, penuh wibawa, dan dewasa. Namun dalam sekejap, sikap itu berubah menjadi arogan, pemarah, dan kekanakan. Tak ada yang tahu, apa yang sedang Dehan rasakan saat ini. Kemarahan pria berdarah Amerika itu terlihat begitu jelas di wajahnya. Saat ini, dirinya berhadapan dengan Alika yang sedari tadi hanya menunduk. Tubuhnya gemetar seperti biasa, ketika melihat amarah Dehan. Dehan bukanlah seekor tyrex pemangsa daging. Dia hanyalah manusia biasa. Tetapi entah mengapa, Alika merasa takut setiap kali berhadapan dengan Dehan. Apalagi disaat pria itu sedang marah. Tatapannya benar-benar tajamㅡsetajam pisau. "Aku sudah pesankan makan siang untuk kita berdua. Jadi, kau harus makan di sini. Di ruanganku. Mengerti?" tegas Dehan yang membuat Alika terpaksa mengangguk setuju. Dehan kembali diam. Tatapan tajamnya masih tertuju pada Alika. Meskipun yang ditatap tidak berani menatapnya balik, tapi Dehan sangat menyukainya. Menurutnya, itu lebih bagus. Pandangan tajam itu beralih ke bibir Alika yang masih kelihatan bengkak akibat ulahnya pagi tadi. Sebuah senyum smirk terukir di sudut bibirnya. Bibirnya sangat manis. Aku menyukainya dan ingin merasakannya lagi. Aku akan menunggu waktu yang tepat, dan kembali membuatnya terhanyut lebih dalam akan sentuhanku. Sementara itu, Alika terlihat begitu gelisah. Dirinya ingin segera pergi dari hadapan Dehan, karena tatapan itu seakan mengintimidasinya. Ada sesuatu hal yang membuat Dehan marah padanya. Tapi, dia sendiri tidak tahu apa kesalahannya. Padahal pagi tadi, dia juga sudah menuruti keinginan Dehan untuk mencium bibirnya. Apa itu masih belum cukup? Tak lama kemudian, pintu ruangan Dehan diketuk dari luarㅡmemecahkan keheningan diantara keduanya. Alika memberanikan diri untuk menatap mata Dehan, dan berkata, "Biar saya buka, Pak." Saat hendak berdiri, Dehan bersuara, "Biar aku yang membukanya. Kau tunggu di sini." "Tapiㅡ" "Jangan membantah!" tegas Dehan. Seketika Alika terdiam. Ia mengulum bibirnya ke dalam karena merasa takut akan kata-kata tegas yang Dehan lontarkan padanya. Gadis malang ini kembali duduk di kursinya, dan menunggu Dehan kembali bersama dengan makan siang mereka. Siang ini, Dehan memesan menu yang begitu spesial. Dia memesan banyak makanan yang semuanya mengundang selera makan Alika. Pesanan yang sangat membuat Alika berselera ialah soto ayam, dan ikan gurame bakar beserta sambal mata. Itu benar-benar menggugah selera, dan makanan yang dipesan Dehan itu memanglah makanan kesukaannya. "Kau suka?" tanya Dehan yang sedari tadi menyadari tatapan Alika yang begitu tajam kearah makanan tersebut. Tanpa sadar, gadis cantik berambut hitam ini mengangguk antusiasㅡmembuat Dehan kembali tersenyum smirk. Senyuman itu selalu penuh arti bagi siapa pun yang melihatnya. Namun sayangnya, Alika tidak melihat senyuman itu. Kalau pun dia melihatnya, dia mungkin tidak akan mengerti makna sebenarnya dibalik senyuman itu. "Kemarilah." Dehan menepuk sofa di sebelah kanannyaㅡmeminta Alika untuk duduk di sampingnya. Dia yang menyiapkan semuanya kali ini. Dia juga melarang Alika untuk membantunya. Dan setiap kali Dehan mengatakan ucapan tegas, Alika selalu menurutinya, "Sekarang, kau boleh makan sepuasmu." Dehan menyodorkan sebuah piring kearah Alika yang sudah terisi dengan nasi. Alika hanya perlu menambahkan soto ayam, ikan gurame bakar, dan sambal mata di atas piringnya, lalu menyantapnya. "Harus habis semuanya. Jangan ada sisa," ucapnya tegas. Alika mengangguk seraya melirik ke meja Dehan. Di sana tidak terdapat sebuah piring dan nasi untuk Bosnya itu. Ia pun berdeham, lalu berucap, "Bapak makan saja duluan. Nanti saya menyusul. Biar saya ambil piring saya senㅡ" Belum selesai Alika bicara, Dehan sudah mengunci bibir Alika dengan bibirnya. Walaupun hanya sekilas, ciuman itu mampu membuat hati Alika bergetar. Matanya terlihat mengerjap berulang kali setelah Dehan menjauhkan bibir seksinya. "Aku tidak lapar. Kau makan saja, dan jangan banyak bicara." Dehan bersandar di sofa sembari melihati Alika makan. Di hatinya tersirat sebuah kebahagiaan saat Alika bersedia memakan makanan yang dipesannya. Bahkan senyuman smirk itu dalam sekejap berubah menjadi sebuah senyuman manis yang jarang sekali Dehan tunjukkan pada Alika. Sayang sekali Alika tidak melihatnya. Alika menghabiskan semua makanan yang tersedia di depannya dengan lahap dan sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Dehan padanya. Dia harus menghabiskan semuanya, karena kalau tidak, makanan itu akan terbuang percuma. Itu tidak baik. Dan orang tua Alika juga selalu mengajarkan Alika untuk menghargai makanan. Baik itu pemberian orang, ataupun yang dimasak sendiri. Itulah yang membuat Alika terpaksa menghabiskannya, meskipun perutnya sudah terasa kenyang. "Bagaimana rasanya? Enak?" tanya Dehan tenang sambil tetap memperhatikan gadis yang selalu membuat hatinya bergetar itu. Alika mengangguk. "Enak, Pak." "Syukurlah." Dehan mendesah lega. Setelahnya, ia menuangkan air putih ke dalam gelas dan memberikannya pada Alika. Karena dia tahu, Alika sedang butuh air saat ini, "Minumlah." Alika menerimanya dengan senang hati, lalu menengguknya sekali habis. Setelahnya, tanpa ia sadari dirinya tengah bersendawa kuat dan panjang di depan Dehan. Hal itu tentunya hampir saja mengundang tawa Dehan. Untungnya pria bermata biru ini segera menahan rasa tertawanya. Jika tidak, mungkin Alika akan lebih malu dan tidak ingin lagi makan bersamanya setelah ini. Ia tidak mau itu terjadi. "Maaf ya, Pak. Sayaㅡ" "It's okay. Tidak perlu dipikirkan," sela Dehan yang membantu Alika membereskan piring-piring kotor yang sudah kosong itu. Dehan bangkit berdiri dan berjalan kearah pintu untuk memanggil salah satu office boy di sana. Setelah office boy itu datang, Dehan meminta mereka untuk membawa piring-piring kotor itu ke dapur kantor. Setelah meja bersih, Dehan pun kembali meminta Alika untuk duduk bersama dengannya di sofa. Karena merasa segan, Alika memilih untuk duduk di sofa yang berhadapan langsung dengan Dehan. Namun, Dehan tidak mengizinkan gadis ini duduk berjauhan dengannya. "Duduk di sebelahku." "Tapi itu kanㅡ" "Tidak sopan, maksudmu?" sela Dehan bertanya. Alika hanya mengangguk seraya tertunduk, karena rona merah itu kembali muncul ketika matanya menatap kearah pergelangan tangannya yang sedang dipegang erat oleh Dehan. "Ini aku yang memintanya. Jadi sekarang, duduk di sebelahku. Aku tidak ingin kau membantahku lagi. Mengerti?" tegas Dehan. Alika pun terpaksa mendaratkan bokongnya di atas sofa dan bersampingan dengan Dehan. Ia sama sekali tak berani menatap mata biru yang selalu membuatnya kesulitan untuk bernapas lega. Ia tidak tahu, hal apa lagi yang akan dilakukan oleh Bos mesumnya itu. Dirinya hanya bisa terdiam sembari menunggu ucapan Dehan berikutnya. "Aku ingin minta satu hal padamu," ucap Dehan yang pastinya membuat kerutan di dahi Alika muncul begitu banyak. "Jauhi Gerald, karena aku tidak suka kalau kau berdekatan dengannya." Kali ini, Alika menatap mata Dehan yang menampakkan sebuah ketegasan di sana. "Eum... Tapi dia teman baik saya, Pak. Saya tidak bisa menjauhinya. Dia selalu membantu saya setiap kali saya kesulitan." "Aku juga mampu membantumu," kata Dehanㅡseakan tidak suka mendengar penuturan Alika yang membela seorang pria bernama Gerald itu. "Dia membantu saya bukan dalam segi materi, Pak. Dia selalu membantu saya dikala saya sedang mengalami masalah, baik itu dalam hal pekerjaan ataupun masalah keluarga. Dia selalu ada disaat saya membutuhkannya." Alika berusaha mengatakannya sebaik mungkin agar Dehan bisa mengerti ucapannya, "Bapak memang bisa bahkan sangat mampu membantu saya. Tapi kembali lagi ke status kita. Saya ini bukan siapa-siapa untuk bapak. Saya hanya asisten bapak, dan bapak atasan saya. Saya tidak ingin bapak menjadi bahan gunjingan orang lain hanya karena berusaha membantu saya. Saya senang dan sangat menghargai niat baik bapak. Tapi saya akan merasa sedih kalau sampai bapak mendengarkan sebuah gunjingan dari orang lain. Bapak adalah orang terpandang di sini. Saya tidak ingin membuat reputasi bapak turun karena saya." Dehan mendecih. "Sayangnya, aku tidak bisa menerima alasanmu itu. Huh! Biarkan saja orang menggunjingku. Bagiku, itu tidak penting. Yang aku inginkan, kau menjauh dari Gerald mulai detik ini hingga seterusnya." "Tapi sayaㅡ" "Jangan coba untuk membantahku lagi, Alika!" Dehan membentak gadis malang ini seraya menggebrak meja dan bangkit berdiri. Kedua mata biru menggelap karena amarah yang bergejolak di hatinya. Entah kenapa, setiap kali Alika berdekatan dengan Gerald, hati Dehan merasa tidak terima. Itu artinya, Dehan mungkin sudah mencintai Alika. Hanya saja, dia masih tidak menyadarinya, "Bisakah kau mendengarkan ucapanku sekali saja, hah?! Bisakah kau tidak mendengarkan ucapan orang lain?! Aku hanya minta hal kecil darimu! Jauhi Gerald! Hanya itu! Tidak bisakah kau melakukan hal sekecil itu untukku, hah?!" "Sa-sayaㅡ" "Keluar." Alika menatap Dehan. "Tapi sayaㅡ" "Aku bilang keluar!" usir Dehan tegas. Alika tertunduk pasrah, lalu melangkah gontai meninggalkan ruangan Dehan. Ia tak tahu, kenapa pria itu sangat membenci dirinya berdekatan dengan Gerald. Apa salah Gerald? > To be continue....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD