Keesokan harinya, Dehan terlihat baru saja akan memasuki ruangannya. Namun, langkahnya terhenti ketika seseorang yang selama ini diinginkannya, baru saja memanggilnya dengan suara lembut yang begitu menggairahkan di telinga Dehan. Hanya mendengar suaranya saja, pria m***m ini sudah bisa merasakan bahwa sesuatu di bawah sana menegang.
Ah, Alika! Berhenti memanggilku dengan suara lembutmu itu. Hhh... Aku tidak bisa lagi untuk menahannya. Aku ingin segera menjamahnya.
Dehan tidak menoleh ke belakang. Tangannya masih mencengkeram erat knop pintu ruangannya. Sebisa mungkin, Dehan berusaha untuk mengontrol napsu birahinya untuk tidak melakukan itu pada Alika. Bahkan keringatnya terus keluar begitu saja karena terlalu bekerja keras untuk menahan hasratnya. Sampai akhirnya, sebuah tangan lembuh menyentuh bahunyaㅡmembuat Dehan semakin menegang sempurna.
Oh s**t! Jangan lakukan, Alika! Aku tidak kuat lagi!
"Pak Dehan," panggil Alika yang semakin membuat syaraf Dehan hampir terputus karena terlalu menahan hasratnya itu.
Dehan menelan saliva begitu dalam, karena tenggorokannya begitu kering dan tercekat. Dehan benar-benar telah dirasuki roh jahat saat ini. Dia tak mampu menahannya lagi. Little bird yang ada dalam kurungan celananya pun sudah memaksanya untuk melakukannya.
Tidak. Tidak sekarang, Baby. Aku masih marah dan kesal padanya. Aku tidak ingin melihatnya.
Alika yang merasa tidak mendapatkan respon pun, langsung bergerak menghadap Dehan. Dia melambaikan tangannya di depan wajah Dehan, agar mengembalikan kesadaran Bos mesumnya itu. "Bapak kenapa? Sakit? Apa perlu saya panggilkan dokter?"
Dehan masih tetap diam, dengan pandangan yang sudah menggelap karena gairah. Sungguh, Dehan benar-benar menginginkan gadis yang ada di hadapannya ini. "Aku menginginkanmu," ucapnya sedikit mendesah pelan.
Seketika, mata Alika membulat sempurna saat Dehan menariknya masuk ke dalam ruangan yang ada di depan mereka tadi. Dehan mengunci pintu ruangannya, lalu mengurung Alika yang kini tubuhnya menempel di pintu. Dehan langsung saja melumat bibir ranum yang sudah menggodanya sejak lama, tanpa membiarkan Alika melepasnya. Ia melumatnya dengan kasar sehingga membuat sang empunya meronta kesakitan.
"Sa-sakit, Pak...." lirih Alika disela-sela ciuman panas yang Dehan lakukan padanya.
Mendengar rintihan kesakitan itu, tiba-tiba hati Dehan bergetar sempurna. Ia merasakan iba, dan segera melepas ciumannya. Dia membiarkan Alika menghirup oksigen disela isakan tangisnya.
Alika tertunduk seraya menangis sesenggukan karena merasakan perih di bibirnya. Saat ini, bibirnya berdarah dan bengkak akibat ulah Dehan tadi. Tubuh Alika pun terasa gemetar sehingga membuat Dehan tak tega melihat gadis itu ketakutan seperti itu.
Perlahan, Dehan menarik dagu Alika sehingga membuat mata hazel gadis itu menatapnya dengan tatapan sendu sekaligus memohon. "Izinkan aku merasakan bibirmu. Sekali saja," bisiknya di depan bibir Alika yang sudah membengkak.
Alika hanya menggeleng pelan. Dia masih ingin mempertahankan harga dirinya. Meskipun sejujurnya, ia tidak mampu menahan gejolak cinta di hatinya, tapi ia harus tetap mempertahankan kesuciannya.
"Sekali saja. Aku mohon." Dehan kembali berbisik dengan tatapan mata biru yang sudah tidak segelap tadi, "Kau hanya perlu menutup matamu jika setuju. Tapi jika tidak, aku juga... tidak akan memaksa."
Alika masih belum memberikan jawaban. Dia masih setia menatap mata biru serta bibir Dehan dengan jarak yang begitu dekat seperti ini. "Bo-boleh saya bertanya, Pak?"
"Silahkan."
"Ke-kenapa bapak me-menginginkan saya? Ma-masih banyak wanita lain yang lebih ... cantik dari saya," ujar Alika tergagap dan terdengar begitu pelan.
Dehan tersenyum. "Aku juga tidak tahu, kenapa aku menginginkanmu. Yang aku tahu, setiap kali melihatmu, tubuhku serasa menegang. Hanya itu."
Setelah menjawab pertanyaan itu, Dehan kembali menyatukan bibir mereka. Kali ini dengan begitu lembut dan menghanyutkan. Alika yang semula masih membuka matanya, kini perlahan mulai menutup. Dirinya merasa sentuhan Dehan kali ini terkesan begitu lembut dan tidak memaksakan diri, sehingga membuatnya sulit untuk terlepas dari Bos m***m itu.
Pagutan mereka terlepas saat Dehan merasakan tangan Alika menyentuh d**a bidangnya dengan sedikit mendorongnya untuk memberikannya jeda menghirup banyak oksigen. Alika tertunduk dengan rona merah di pipinya serta mata yang masih tertutup rapat. Detik itu juga, Dehan bisa merasakan bunyi detak jantung Alika yang tidak normal. Ia memperhatikan d**a gadis itu yang bergerak naik turun karena terlalu gugup dengan situasi seperti ini.
Dehan mendekatkan bibirnya ke telinga gadis itu. Ia mencium daun telinga Alika dengan lembut, lalu berbisik pelan, "Jangan mencintaiku, Alika. Buang jauh-jauh perasaan itu dari hatimu. Aku tidak akan pernah kembali mencintai seorang wanita. Aku hanya ingin bersenang-senang."
Setelahnya, bibir Dehan merayap sempurna di leher mulus Alika. Dehan menciumnya begitu lembut seperti saat dirinya mencium bibir ranum Alika. "Pak...." lirih Alika.
"Panggil namaku saja sayang," ucap Dehan sambil tetap mencecapi leher mulus itu. Sepertinya, Dehan mulai menikmati setiap sentuhan Alika di dadanya. Membuat gairahnya semakin memuncak. Namun, ia harus tetap mempertahankan kelembutan ini agar Alika merasa nyaman.
Tangan Alika bergerak menyentuh wajah Dehan yang masih menggerayangi leher jenjangnya. Ia menangkup wajah Dehan dengan kedua tangannya seraya tertunduk, "Tidak, Pak. Saya tidak bisa melakukannya lebih jauh. Ini sudah melewati batas kewajaran antara bapak dengan saya. Saya tidak ingin bapak menjadi bahan gunjingan media massa. Saya tidak ingin bapak kembali tertimpa masalah dan ... dan dimarahi Pak Ben. Saya tidak ingin itu terjadi lagi."
"Saya mohon, biarkan saya pergi," lanjutnya.
Dehan terpaku mendengar ucapan yang dilontarkan oleh asisten cantiknya itu. Dia tak menyangka jika gadis itu begitu peduli padanya. "Kenapa kau begitu peduli padaku? Kenapa kau begitu takut kalau ayah memarahiku? Kenapa kau begitu takut media massa akan menggunjingku? Kenapa?"
"Ka-karena saya ... sayaㅡ" Ucapan Alika tertahan oleh suara ketukan dari arah luar pintu ruangan Dehan. Ketukan itu seakan memaksa Bos tampan nan m***m itu untuk segera membukanya.
"Dehan! Buka pintunya!"
Alika segera menyingkirkan kedua tangannya dari pipi Dehanㅡmembuat Dehan mendesah kecewa. Padahal, ini moment yang tepat, dimana Dehan bisa merasakan tubuh indah asistennya itu. Tetapi sepertinya, ayahnya tidak mengizinkan hal itu terjadi.
"I-ituㅡ"
"Aku tahu." Tangan Dehan bergerak merapikan rambut Alika serta kemejanya yang berantakan akibat ulahnya tadi. Setelahnya, ia kembali menatap mata hazel itu dengan tatapan lembut, namun penuh arti, "Kau masuk lewat pintu itu. Biar aku yang menemui ayahku. Pergilah."
"Tapiㅡ"
Dehan mengunci bibir Alika dengan bibirnyaㅡmembuat Alika kembali membeku seperti pertama kali Dehan menciumnya. Meskipun singkat, namun debaran jantung Alika tak mampu diredam olehnya. "Turuti perintahku," tegas Dehan.
Alika hanya mengangguk, lalu berlari memasuki ruangannya melalui pintu cadangan yang ada di dalam ruangan. Alika cepat-cepat menutup pintunya, kemudian bersandar di pintu dengan deru napas yang memburu. Kedua tangannya menyentuh dadanya yang berdebar sangat kencangㅡmembuatnya tak sanggup bernapas. "Apa ini? Kenapa aku tidak bisa menolaknya tadi? Bibirku. Dia merajai bibirku. Ini ... ciuman pertamaku dan dia ... dia yang mengambilnya."
Alika menyentuh bibirnya yang masih bengkak. Mengusapnya lembut dengan keempat jarinya. Ia masih merasakan bibir Dehan di sana. Wajahnya bersemu merah ketika kembali mengingat kejadian tadi. Tangannya bergerak menuju ke leher jenjangnya dan dia pun masih merasakan sentuhan bibir serta tangan Dehan di sana.
Setelah itu, tangannya menyentuh daun telinganya untuk merasakan sentuhan bibir Dehan serta napas hangatnya yang berbau mint, sehingga membuat tubuhnya meremang ketika mengingat hal itu.
Namun, wajahnya berubah suram karena mendengar pernyataan Dehan yang mengatakan bahwa dirinya tidak ingin kembali mencintai seorang wanita. "Tunggu. Kembali? Apa Pak Dehan punya masa lalu yang membuatnya trauma dengan cinta?" gumamnya pelan.
Hhh... Sudahlah. Itu bukan urusanku. Biarkan itu tetap menjadi urusannya. Aku tidak berhak mencampurinya, dan sebaiknya aku harus menghindari setiap pertemuanku dengan Pak Dehan. Aku tidak ingin kejadian tadi terulang kembali. Ya, aku harus menghindarinya. Harus.
Alika pun kembali duduk di kursi kerjanya dan melanjutkan aktivitasnya yang tertunda. Bahkan dia sampai lupa ingin menyampaikan apa pagi tadi. Dia benar-benar sudah pusing dengan kejadian yang baru saja dialaminya.
> To be continue....