Four

1232 Words
Alika, gadis malang itu memberikan makanan yang di pesan oleh Dehan dan menatanya dengan rapi. Ia takut sekali jika melihat Dehan marah, setelah melihat mata biru yang berubah menjadi gelap dan tajam tadi. Tubuhnya gemetar saat menyiapkan piring serta sendok untuk Dehan, sehingga menimbulkan bunyi dentingan antara sendok dengan piringnya. Dehan mengetahui itu. Entah mengapa, Dehan justru tersenyum senang karena berhasil membuat gadis polos itu takut padanya. "Kau takut padaku?" tanya Dehan akhirnya. Pandangan matanya tetap tertuju pada Alika yang sedang menyiapkan makanan untuknyaㅡtepat di sofa yang berhadapan dengannya. Alika hanya diam seraya menghindari tatapan Dehan padanya. Wajahnya terus bersemu merah disaat Dehan memandanginya dengan tatapan seintim itu. Sungguh, Alika tak mampu untuk berlama-lama di ruangan Dehan dan berhadapan dengan Bos mesumnya itu. "Diammu sudah menjawab pertanyaanku," kata Dehan sambil memegang tangan Alika yang terus sibuk menyiapkan makanannya. Genggamannya menuntut Alika untuk menatap matanya. Namun sang empunya tak kunjung mengerti akan keinginan Dehan. Pria m***m itu terus menggeram dalam hatinya, karena ini pertama kalinya ada seorang gadis menolak untuk menatapnya dan bersetubuh dengannya. Ini sungguh tantangan yang berat bagi Dehan. "Tatap aku kalau kau masih mau bekerja di sini." Mendengar pernyataan itu, seketika itu juga Alika menatap Dehan dengan tatapan penuh ketakutan dan memelas. Ia benar-benar takut kehilangan pekerjaannya. Jika itu sampai terjadi, bagaimana nasib keluarganya nanti? Alika pun buka suara, "Ja-jangan pecat saya, Pak. Saya masih harus membutuhi keluarga saya. Ayah saya juga sedang sakit dan butuh biaya banyak untuk pemeriksaan rutinnya setiap bulan. Saya mohon, jangan pecat saya." Dehan bangkit berdiri tanpa melepaskan genggamannya pada Alika. Ia bahkan tetap menyuruh Alika untuk duduk saat asistennya itu ikut berdiri karenanya. Dehan mengambil tempat di sisi kanan Alika, lalu mengelus punggung tangan gadis rapuh itu dengan lembut. Rona merah itu semakin terlihat di pipi Alika, sehingga membuat hati Dehan semakin mengerang tak tahan. Rasanya Dehan ingin sekali menggendong gadis itu dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang terletak di kamar yang ada di ruangannya. Akan tetapi, niatnya itu tidak mungkin dilancarkannya. Dia ingin menunggu waktu yang tepat untuk bisa merasakan setiap inci tubuh seksi Alika. "Aku hanya bercanda. Aku tidak berhak memecatmu, karena ayahku tidak memberiku kuasa untuk itu. Jadi, kau tenang saja sayang. Tidak perlu tegang seperti itu," ucap Dehan yang mulai mendekatkan bibirnya ke leher mulus Alika. Ia ingin merasakan leher itu sekali lagi setelah tadi berhasil merasakannya untuk pertama kali selama 4 tahun Alika bekerja dengannya. Alika menggeliat geli, dan sedikit menjauhkan diri dari Dehan. Ia menatap Dehan dengan tatapan sendu sembari menggeleng pelan. Dia tidak ingin kejadian tadi terulang kembali. Dirinya benar-benar takut jika Dehan memaksanya secara tiba-tiba dan mengambil kesuciannya. "Se-sebaiknya ... bapak makan. Nanti makanannya dingin. Sa-saya tidak ingin ... bapak sakit," ucapnya tergagap. Dehan menyeringai. "Kau peduli padaku, tapi kau selalu menolakku. Jujur, aku merasa tersinggung dengan penolakanmu itu. Andai aku diberi kewenangan oleh ayah, mungkin aku sudah memecatmu detik ini juga. Tapi sayangnya, tidak." Dehan beranjak dari sofa yang diduduki Alika, dan kembali ke sofa sebelumnya. Dirinya merasa kecewa atas penolakan Alika yang entah ke berapa kalinya selama 4 tahun gadis itu bekerja di perusahaan ayahnya. "Pergilah. Aku tidak butuh dirimu lagi. Aku bisa membereskan semuanya sendiri," usirnya dengan nada ketus. Alika harus mengalah demi menyelamatkan pekerjaannya. Dia harus bisa bersabar karena menurutnya ini adalah cobaan dari Tuhan untuknya. Dia harus kuat dalam menghadapinya. Ya, harus kuat. Tidak boleh lemah. Dengan perasaan sedih, Alika pun keluar dari ruangan Bosnya. Airmata tak berhenti berlinang di pipinya. Ia tak peduli dengan beberapa pasang mata yang melihatnya dengan tatapan meremehkan. Ia hanya ingin menenangkan diri untuk sementara waktu, sampai Dehan kembali membutuhkannya dalam hal pekerjaan. Setelah menghabiskan semua makanannya, Dehan pun bersandar di sofa sembari memegangi perutnya yang terasa kenyang. Dirinya merogoh saku celana kantornya, dan mengeluarkan ponselnya dari dalam sana. Dehan sepertinya sedang menghubungi seseorang yang penting. Bisa saja seseorang itu adalah salah satu jalangnya. "Halo, Velly. Bisakah kau ke kantorku sekarang?" tanya Dehan dengan nada lembutnya. "Tentu saja bisa. Tapi kau sudah menyiapkan bayaranku, kan?" "Ya, kau tenang saja. Aku akan membayarmu sesuai yang kau minta. Sebutkan saja nominalnya. Nanti, aku akan transfer ke rekeningmu. Aku tidak akan mengecewakanmu nanti," ucap Dehan lagi dengan santai. "Oke, aku kesana sekarang." "Baiklah. Aku menunggumu, Baby," tutup Dehanㅡkembali menyimpan ponselnya di saku celana. Kemudian, dia berjalan keluar ruangan dan memanggil salah satu office boy yang kebetulan lewat di depannya. "Tolong bersihkan meja saya. Sebentar lagi, saya akan ada tamu penting." Office boy itu terlihat mematung saat mendapati Dehan tidak mengenakan kemejanya. Pria itu tak mampu berkedip memandangi otot-otot kekar Dehan. "Hey, kenapa diam? Cepat bersihkan!" tegas Dehan. "I-iya, Pak." Office boy itu masuk kemudian membereskan semua bekas makan Dehan di meja. Setelah selesai, dia permisi keluar sembari membawa piring-piring kotor itu ke dapur. Dehan pun bergegas menuju ke kamarnya untuk berganti pakaian. Tak lama, ponselnya kembali berdenting dan menunjukkan pesan yang berbunyi : Aku sudah berjalan menuju ruanganmu. Dehan menyunggingkan senyum, dan segera bergerak menuju ke pintu ruangannya. Di sana sudah terlihat seorang wanita cantik nan seksi dengan gaun yang begitu ketat, sehingga menampakkan setiap lekukan tubuhnya yang seperti gitar Spanyol. "Silahkan masuk sayang." Wanita itu masuk, seiring dengan Dehan menutup pintu ruangannya dan menguncinya. Dia langsung menggendong wanita itu untuk masuk ke dalam kamar. Hasratnya sejak tadi memang tidak tersampaikan sehingga membuat little bird-nya terasa sakit. Di dalam kamar, Dehan langsung menyerang wanita bernama Velly itu dengan ciuman panas dan lumatan di sekitar leher jenjang Velly. Membuat Velly mengerang nikmat, terlebih lagi tangan kiri Dehan terlihat meremas d**a bagian kanannya dengan gerakan yang begitu erotis. "Ah, s**t!" umpat Velly saat tangan Dehan mulai merayap di area sensitifnya. Dehan begitu cepat menaikkan gaun yang panjangnya selutut itu ke atas. Dehan benar-benar terlihat sangat mahir dalam hal bercinta di ranjang. Kedua jari Dehan terlihat memasuki liang kewanitaan Velly sehingga membuat wanita itu mengerang frustrasi. Dehan menghentikan sejenak aktivitas mencumbui tubuh Velly. Ia meminta Velly untuk segera menanggalkan gaunnya sehingga dirinya bisa bebas merasakan tubuh seksi itu tanpa halangan apa pun. Setelah Velly melepas gaunnya, Dehan melebarkan kaki Velly lalu mencium dan mengulum area sensitif itu tanpa rasa jijik sedikit pun. Dehan tampak menikmatinya, sedangkan Velly hanya mampu mendesah nikmat sembari meremas rambut Dehan. Setelah puas, Dehan beralih pada bagian d**a Velly yang begitu menggiurkan. Ia menghisap n****e Velly dengan sangat kasar namun mampu membuat Velly lagi-lagi mengeluarkan desahan seksinya. Oh s**t! Andai wanita ini Alika! Pasti aku akan lebih frustrasi dari ini! Dehan membayangkan wanita yang sedang disetubuhinya adalah Alika. Bayangan Alika seakan muncul di mata birunya yang sudah menggelap karena gairah. "Dehan, please...." Suara Velly terdengar begitu memohon pada Dehan. Ia sudah tahan akibat sentuhan-sentuhan dari tangan kekar pria itu. Ia ingin Dehan segera memasukinya saat ini juga, "Aku sudah tidak tahan, Baby." Dehan menyeringai, lalu mulai memasukkan little bird-nya ke dalam liang kewanitaan Velly. Wanita itu mengerang nikmat seraya menarik Dehan untuk mencium dan melumat bibirnya dengan begitu panas. Ah, it's so hot! Oh, Alika! Dehan benar-benar menganggap Velly adalah Alika. Gila! Ini benar-benar gila! Dehan begitu menginginkan Alika sehingga dirinya harus melampiaskan napsu birahinya pada para jalang itu sembari membayangkan wajah Alika di sana. "Lebih cepat! f**k me!" ucap Velly disela-sela desahannya. Dehan pun semakin menambah kecepatan gerakannya di atas Velly. Dehan mulai merasakan little bird-nya mengeras dan akan mencapai klimaks. Gerakannya pun semakin cepat diiringi desahan yang semakin memanas ditambah dengan cucuran peluh di sekujur tubuhnya. "Hhh...." Lenguhan panjang pun terdengar dari Dehan dan Velly ketika keduanya sama-sama mencapai puncak kenikmatan dalam bercinta. Dehan melepas penyatuan mereka dan berguling ke samping kanan Velly seraya menghirup oksigen karena terlalu lelah. Hhh... Alika. Aku sangat menginginkanmu. Menginginkan setiap inci tubuhmu. Aku ingin merasakannya. Aku benar-benar frustrasi karenamu, Alika. > To be continue....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD