Nineteen

1771 Words

Dehan terlihat begitu sibuk berkutat dengan ponselnya. Dia bahkan belum menyadari kehadiran Alika di sana. Saat ponsel itu ia letakkan di meja kerjanya, Dehan pun baru melihat Alika yang sudah duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan Dehan. Pria bermata biru ini tersentak kaget, karena Alika sama sekali tidak bersuara. Tetapi, dalam sekejap Dehan sudah menyunggingkan senyum smirk pada Alika. "Welcome back, Baby. Akhirnya, kau kembali lagi ke perusahaan ini. Aku sangat merindukanmu. Aku hampa tanpamu sayang." Alika sedikit ketakutan melihat tatapan Dehan—terlihat seram dan gelap seperti malam, dan tajam seperti bilah pisau. Ia menengguk salivanya sambil berkata, "Ma-maafkan kesalahan saya, Pak. Saya menyesal telah melakukan hal itu pada bapak. Saya janji tidak akan mengulanginya lagi

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD