Dehan menuruni anak tangga, lalu langsung melangkah menuju ke ruang makan. Di sana sudah ada ayah, ibu, serta calon istrinya. Ia tidak melihat kehadiran adik tercintanya di sana. Sekilas, pandangannya melirik kearah Alika yang tertegun melihat ketampanannya. Sebuah senyum miring pun muncul di salah satu sudut bibir seksi itu. "Ternyata dia tergoda dengan ketampananku," batinnyaㅡpenuh percaya diri. Dehan duduk tepat di samping kiri Alika, lalu bertanya pada ibunya, "Filzha ke mana, Bu?" "Ah, dia sudah berangkat lebih awal. Masih ada pekerjaan yang menumpuk di rumah sakit. Adikmu itu memang selalu sibuk dengan administrasi rumah sakit," jawab Christina sembari menyodorkan segelas s**u putih untuk putranya. "Kenapa dia tidak bekerja saja di perusahaan ayah? Di sana dia bisa membantu pekerj

