Setelah tiba di lantai 20, suara dentingan dari lift pun terdengar seiring terbukanya pintu tersebut. Alika masih setia dengan wajah yang menunduk dan berjalan di belakang Dehan. "Aku akan memeriksa jadwal hari ini, setelah tamuku pulang. Kau bisa segera menyiapkannya selagi aku masih berbincang dengan tamuku," ujar Dehan membuka suara. "Baik, Pak." Dehan menghentikan langkahnya, kemudian berbalik ke belakang dan menatap Alika dengan penuh keheranan. Ia menaikkan sebelah alisnya lalu bertanya, "Kenapa kau memanggilku dengan sebutan itu lagi? Sudah kukatakan panggil saja namaku. Kau itu calonㅡ" "Maaf, Pak. Saya harus bersikap profesional di sini. Meskipun bapak calon suami saya, bapak tetaplah atasan saya," jawab Alikaㅡmenyela ucapan Dehan. "Saya masuk dulu ke ruangan, Pak. Permisi." Al

