"Apa kamu bilang tadi? aku berengsek!!" Richard balik menatap Resti dengan mata yang menyalang tajam. Dia menghampiri Resti dengan napas yang memburu, kemudian menarik pergelangan tangan perempuan itu menuju arah lantai atas di mana kamarnya berada.
"Kamu mau apa, Mas?" Resti berusaha melepaskan cekalan Richard pada tangannya. Namun tidak bisa, karena tenaganya kalah kuat dibanding laki-laki itu.
"Kamu harus tahu bagaimana laki-laki yang kamu bilang berengsek ini!" Richard masih terus menarik pergelangan tangan Resti. Dia membuka pintu kamarnya dengan kasar, kemudian mendorong Resti untuk masuk ke dalamnya. Richard membuka paksa kaos yang dia kenakan, kemudian melemparnya dengan asal. Matanya memancarkan kemarahan yang sudah di ubun-ubun atas umpatan istrinya.
"Mas... jangan, Mas!" cicit Resti dengan nada memohon. Perlahan dia melangkah mundur dengan lelehan air mata yang terus mengalir di kedua pipinya. Hingga tubuhnya oleng dan terjerembab ke atas ranjang milik Richard.
Richard dengan cepat menghampiri Resti. Dia menyeringai menatap nyalang ke arah sang istri.
Resti terus memundurkan tubuhnya, hingga tiba-tiba kedua kakinya ditarik oleh Richard. Seketika tubuhnya sudah berada tepat di bawah kungkungan laki-laki itu.
"Ini yang kamu ingin kan? Menikah denganku lalu tidur denganku. Dasar perempuan murahan!" Richard tersenyum sinis sembari mengelus pipi halus Resti.
"Enggak, Mas! Aku minta maaf dan tolong. Lepasin aku. Jangan kayak gini, aku mohon... " Pinta Resti memelas, menggelengkan kepalanya dengan cepat. Air matanya terus mengalir. "Aku-- " Belum sempat meneruskan kata-katanya, Richard sudah melumat kasar bibir merah muda milik perempuan itu.
Dengan gerakan cepat, Richard membuka paksa seluruh pakaian yang di kenakan oleh Resti. Tangan Resti dia cengkram semakin kuat dan dia letakkan di atas kepala Resti, tangan yang satunya lagi terus bergerilya ke sana ke mari menyusuri lekuk tubuh Resti.
Richard menyatukan tubuhnya dengan kasar, tanpa menghiraukan rintihan dan pekikan perempuan itu karena belum sepenuhnya siap menerima milik laki-laki itu. Richard tersentak , sampai di mana dia sadar bahwa telah menyakiti Resti, laki-laki itu diam menatap wajah sendu milik perempuan itu.
"Maaf." Hanya ucapan itu yang keluar dari bibir Richard. Namun, dia tidak bisa menghentikannya. Ini terlalu nikmat baginya. Bahkan dengan kekasihnya dia belum pernah merasakan kenikmatan ini.
Kepalang tanggung, kali ini Richard meneruskannya dengan lebih lembut, sampai di mana dia mendapatkan pelepasannya. Richard benar-benar di buat puas oleh Resti.
Setelah itu, tanpa mengucapkan satu kata pun Richard bangkit dari atas Resti, dan berjalan menuju kamar mandi. Meninggalkan Resti yang menangis terisak karena merasa dianggap rendah oleh sang suami.
Memang, kewajiban melayani suami adalah hak seorang istri. Namun, Resti akan memberikannya jika Richard meminta secara baik-baik. Bukan secara paksa seperti yang baru saja dilakukan lelaki itu. Resti kecewa. Dia mengepalkan tangannya dengan kuat hingga memperlihatkan buku-buku jarinya, kemudian mengumpat di dalam hatinya.
***
Setelah kejadian malam itu Richard tidak pernah bertemu lagi dengan Resti. Lebih tepatnya, dia menghindari suaminya. Dia benci sang suami yang sudah memperlakukannya seperti layaknya sampah.
Malam ini Richard terlihat kacau, dia pulang dalam keadaan sudah mabuk. Dan pulang dengan diantar oleh sang asisten.
Bunyi bel rumah mengudara di dalam ruangan rumah megah milik Richard. Resti membuka pintu itu dengan perlahan, dia melihat sang asisten sedang memapah suaminya di pundak.
"Permisi, Bu!" ucap asisten itu melihat kehadiran Resti.
Resti mengangguk. "Ayo, silahkan masuk. Saya tidak mungkin membawa bos kamu ke lantai atas sendirian," ujar Resti dengan cepat tanpa berbasa basi lagi.
Sang asisten langsung menuju kamar sang bos dan meletakkannya di ranjang, Resti pun mengekori langkah sang asisten di belakang.
"Permisi, saya pamit. Bu!" ujar sang asisten dan di angguki oleh Resti.
Setelah kepergian sang asisten, Resti mendekati Richard. Dia menatap sebal laki-laki itu yang telah menyakitinya. Walau sebal dengan laki-laki itu, taoi dia tetap mengurusinya. Membukakan sepatu Richard kemudian membukakan kemejanya hingga menyisakan kaos dalaman nya saja.
Saat hendak meninggalkan laki-laki itu, tiba-tiba pergelangan tangannya ditarik oleh Richard, hingga tubuhnya berada dalam pelukan laki-laki itu. Richard langsung menangkup wajah Resti dan mencium bibirnya, melumatnya merasakan manisnya bibir merah muda perempuan itu.
Malam ini laki-laki itu memperlakukannya dengan sangat lembut, merasakan indahnya malam yang penuh dengan nafsu layaknya pasangan suami istri. Tapi lagi-lagi dia disakiti kembali, saat sedang berada di puncak kenikmatan. Richard menyebut nama sang kekasih, seolah-olah dia sedang bersamanya.
Setelah puas akhirnya Richard ambruk di samping Resti, dia tertidur dengan terus memeluknya.
Resti menangis dalam diam, betapa sakitnya ia diperlakukan dengan seenaknya oleh laki-laki itu. Hingga lelah mereka akhirnya tertidur dengan saling berpelukan tanpa sadar.
Pagi harinya, Richard bangun dari tidurnya. Yang dia lihat pertama kali adalah wajah damai Resti yang sedang terlelap tidur. Betapa terkejutnya dia, saat menyadari bahwa keduanya dtidak memakai pakaian sehelaipun. Richard mengingat kembali kejadian semalam, dan tersenyum sinis saat menyadarinya.
"Baiklah, kamu akan jadi pemuas nafsuku saat Sisilia nggak ada. Kalau dilihat-lihat tubuh kamu lumayan bagus," gumam Richard.
Resti mengerjapkan matanya dengan perlahan, yang dia lihat saat itu wajah tampan Richard sedang menatapnya lekat.
"Sudah bangun?" tanya Richard tanpa direspon oleh Resti. Dia melanjutkan kembali ucapannya. " Mulai hari ini, kapan pun aku mau, kamu harus melayaniku layaknya sebagai istri," jelasnya kembali dan masih tanpa di respon oleh Resti. "Tapi, yang kamu harus tahu, bahwa aku melakukannya tidak karena cinta-- "
"Kalau gitu, kamu bisa melakukannya dengan orang yang kamu cintai. Aku gak masalah," sela Resti tiba-tiba disisi tubuhnya, kedua tangan perempuan itu mengepal kuat.
"Ssstt!! Calm down, baby, jangan terlalu sombong. Kamu nanti bisa cinta sama aku. Dan asal kamu tahu, kalau aku nggak bisa menerima penolakan lagi." Laki-laki itu menyeringai licik. Tanpa aba-aba, Richard langsung menyerang Resti kembali. Perempuan itu ingin mengelak, namun tidak bisa, karena tenaga Richard lebih kuat tentunya.
Setelah puas laki-laki itu meninggalkan Resti. Untuk membersihkan dirinya tanpa sepatah kata untuk perempuan itu. Dia segera membersihkan dirinya untuk bersiap bekerja.
***
Dan siang ini, Richard sengaja menjemput sang kekasih yang baru datang dari LA untuk liburan dan bertemu dengannya.
"Kangen banget, tapi aku sibuk banget, sayang?" jelas Sisilia manja sembari bergelayut di lengan Richard.
"Udah deh, makanya kamu di sini aja," sahut Richard. Dia mencubit gemas hidung Sisilia. "Setiap hari kangen kamu terus, jalanin bisnis di sini aja, ya!" pintanya.
Sisilia tidak merespon ucapan Richard. Mereka berjalan beriringan, bergandengan dengan mesra, keluar dari area bandara menuju Apartment milik Richard di kawasan yang cukup berkelas.
"Kenapa kita ke sini, sih?" tanya Sisilia.
"Nggak mungkin aku bawa kamu ke rumah, Sayang."
"Oke. Terus, kamu kapan mau buang perempuan itu?"
"Secepatnya." Tanpa ada keraguan Richard menjawab ucapan sang kekasih.
Saat mereka sudah masuk ke dalam unit Apartment miliknya, Richard langsung menyerang Sisilia dengan penuh nafsu. Hari ini, mereka akan mengahabiskan waktunya berdua di dalam Apartment untuk b******u melepas rasa rindunya. Hanya saja, mereka tidak sampai berhubungan badan.
Entah kenapa, Richard tiba-tiba saja terbayang wajah Resti. Makanya, dia beralasan kalau tidak ingin Sisilia kelelahan karena baru tiba di Indonesia.
Tak lama, Richard mendapatkan pesan dari sang papa bahwa esok harus datang ke rumah milik ke dua orang tuanya dan membawa sang istri.
***
"Apa ini, Pa?" tanya Richard sembari membolak-balikkan amplop tersebut. Dia membukanya dan menautkan kedua alisnya, "Tiket?" gumamnya heran. Dia menoleh ke arah papa nya menunggu jawaban atas pertanyaannya.
"Tiket bulan madu. Maaf, Papa baru sempet urusin," jawab Daniel.
"Kok, mendadak? Aku banyak pekerjaan, Pa!" Richard kesal karena sang papa yang selalu saja membuat keputusan seenaknya, tanpa kompromi terlebih dahulu.
"Udah, enggak apa-apa liburan. Biar nanti untuk perusahaan, Ivan yang handle," timpal Elsa. "Lagian, Mama heran. Masa sudah lama kamu menikah, tapi nggak hamil-hamil, Res!" Elsa beralih kepada Resti.
Tiba-tiba Resti tersedak saat minum atas ucapan mama mertuanya.
"Kamu sehat kan, Res?" tanya Elsa lagi.
Resti hanya mengangguk saja. Dia saja baru di Unboxing oleh suaminya.
"Ma!" tegur Daniel melirik tajam ke arah istrinya.
"Gak apa-apa, kan, mama hanya tanya. Siapa tau, Resti mandul. Kita bisa cariin istri baru buat Richard," lanjut Elsa lagi dengan entengnya. Kemudian dia beranjak berdiri, berlalu dari meja makan.
Resti hanya menundukkan kepala, bingung menjawab pertanyaan mama mertuanya itu. Apa dia akan hamil? Mengingat Richard yang melakukan pelepasan di dalam tubuhnya.
"Sudah sana istirahat, jangan di ambil hati ucapan mamamu." Sambil mengelus punggung Resti, Daniel bangkit berdiri mengikuti langkah sang istri menuju kamarnya.
Richard beranjak berdiri sembari menggeser bangkunya ke belakang, menimbulkan bunyi suara yang agak nyaring. Tangannya mengepal menahan amarah atas keputusan sepihak sang papa yang menyuruhnya untuk pergi berbulan madu bersama Resti secara mendadak. Lagi-lagi, Richard terpaksa harus menuruti segala titah papanya--hanya karena perempuan yang saat ini sudah sah menjadi istrinya.
Kini, kebebencian terhadap istrinya tersebut semakin membesar. Richard meninggalkan Resti sendirian, di mana perempuan itu masih duduk di meja makan.
Resti bingung! melirik sekilas ke arah Richard yang sudah melangkah meninggalkannya. Laki-laki itu tidak memperdulikannya sama sekali. Resti tersenyum miris.
"Ngapain kamu bengong! Kamu mau tidur di situ?" Sentakan Richard menyadarkan Resti dari kebingungannya.
Richard kembali melanjutkan langkahnya menuju lantai atas di mana kamarnya berada. Akhirnya Resti mengekori langkah kaki suaminya kemudian mereka masuk ke dalam kamar tersebut.
"Malam ini, kamu layani aku sampai puas!" Richard menyeringai dan langsung menyerang Resti. Pasalnya, kemarin nafsunya tidak tersalurkan kepada Sisilia.
Lagi-lagi Resti pasrah dengan perlakuan Richard malam ini.
"Kamu tak lebih dari seorang p*****r bagiku," ujar Richard dengan lantang kemudian dia tertidur dengan membalikkan tubuhnya menghadap arah lain.
"Berengsek!!" umpat Resti di dalam hatinya.