Bab 3. Hamil

1191 Words
Walaupun ia membenci suaminya, akan tetapi Resti tetap menjalankan perannya sebagai seorang istri layaknya pasangan pada umumnya. Ia yang menyiapkan sarapan untuk suaminya. "Kamu jangan merasa di atas awan, yah! Hanya karena, kita bisa duduk berdampingan di meja makan layaknya suami istri. Ingat! aku gak pernah cinta sama kamu, ini murni karena papa dan mama," jelas Richard. Ia berbisik di telinga Resti penuh dengan penekanan. Perempuan itu memutar kedua bola matanya dengan jengah, saat menanggapi ucapan pengakuan laki-laki itu. "Aku, enggak perduli. Mas!" jawab Resti balas berbisik di telinga laki-laki itu. Mata Richard menatap nyalang ke arah Resti, ia mengepalkan tangannya yang berada di bawah meja makan. "Berani sekali dia melawanku, sampai kapanpun kamu enggak akan pernah aku lepaskan," batin Richard berkata sembari terus menatap perempuan itu. Laki-laki itu mengabaikan titah sang Papa, untuk segera berbulan madu dengan sang istri. Ia lebih mementingkan bersama dengan sang kekasih, saat ini dirinya sedang menghabiskan waktunya berdua di dalam unit apartment milik perempuan itu. Entah kenapa tubuh Resti seolah-olah menjadi candu untuk laki-laki itu, dan sejak melakukan hubungan suami istri dengan Resti. Ia seperti mati rasa dengan sang kekasih, entah perasaan apa yang ia rasakan saat ini. "Sayang, kamu kenapa sih?" tanya Sisilia sebal, pasalnya ia sudah sangat bernafsu, akan tetapi laki-laki itu malah meninggalkan ia di atas ranjang miliknya. "Aku sedang tidak ingin, mungkin lain kali. Sebab siang ini aku ada meting yang tidak bisa aku tunda lagi," jelas Richard. Ia melangkah menuju kamar mandi guna membersihkan dirinya dan bersiap untuk berangkat kembali ke kantor. Setelah bersiap untuk berangkat, ia menghampiri sang kekasih mengecup sekilas bibir perempuan itu. "Aku berangkat," pamit Richard. "Tunggu!" Sisilia berkata sembari mencekal tangan laki-laki itu agar tidak pergi "kapan kita pergi berlibur?" tanyanya kembali. "Secepatnya, aku harus selesaikan pekerjaanku dulu. Kemudian kita akan berangkat" jawab Richard dan berlalu dari hadapan Sisilia. Sisilia mengepalkan tangannya dan memukul-mukul ranjang miliknya, guna menahan kekesalannya. *** Suara musik yang berdentum sangat kencang, yang dimainkan oleh Diskjokey memekak kan telinga siapa saja yang mendengar. Di bawah lampu kerlap kerlip seorang laki-laki bersama sahabatnya sedang menikmati beberapa minuman beralkohol yang sudah ia pesan sebelumnya. "Woi, udah! Lo udah mabok, bro." Bobby berkata ke arah Richard, kemudian ia menarik botol alkohol yang saat itu tengah dipegang oleh sahabatnya. "Diem, lo!" Sentak Richard mengambil botol minuman nya kembali "Gue benci perempuan itu, lagi-lagi dia penyebab gue harus nurutin perintah papa," umpatnya dengan meracau tak jelas. "Kenapa? Lo ada masalah,?" tanya Bobby, sesaat ia diam melihat temannya saat ini terlihat kacau. "Percuma juga gue nasehatin nih manusia, orang dia lagi mabok gini," decak Bobby. "Woi sini lo!" tangannya melambai memanggil asisten dari sahabatnya. "Anterin bos lo pulang, dia udah mabok berat," titahnya kemudian. Dengan susah payah asistennya yang bernama Ivan memapah bosnya, untuk ia antarkan pulang ke kediamannya. Saat sudah berada di rumah, seperti biasa istri dari bos nya itu hanya bisa mengekorinya saja, lalu ia yang akan diminta membawanya menuju lantai atas kamar milik Richard. Saat asisten suaminya sudah pulang, Resti mulai membersihkan tubuh suaminya dari sisa-sisa muntahan laki-laki itu. "Kamu itu bisa gak sih Mas, enggak bikin aku kesal," geram Resti di sela-sela kegiatannya membuka kemeja. "Apa tadi kamu bilang?" tanya Richard mencengkram dagu Resti. "Sakit-" ucap Resti dengan lirih. "Perempuan sialan, gara-gara kamu, papa merubah semua hak warisnya menjadi namamu. Jika aku menceraikanmu." "Stop, Mas! Stop, menyalahkan aku," ucap Resti menepis tangan Richard. "Berani kamu berteriak?" "Aku, enggak takut-" Belum selesai Resti berbicara, Richard sudah menamparnya. "Sudah ku bilang jangan berteriak, itu hukuman untukmu. Sekarang layani aku." "Enggak, enggak akan pernah." Resti menggelengkan kepalanya dengan cepat, ia melangkah berlari ke arah pintu. Tapi seketika tubuhnya ditangkap oleh Richard. "Jangan, Mas!" pinta Resti lirih. "Berani kamu menolakku?" Richard langsung mengangkat tubuh Resti seperti memikul karung beras dan melemparkannya ke atas ranjang miliknya. Laki-laki itu mengukung tubuhnya dan memaksakan kehendaknya kembali seperti sebelum-sebelumnya. Kali ini ia memperlakukan istrinya dengan kasar layaknya sebagai jalang pemuas nafsunya. *** Keesokan harinya. Laki-laki itu mengerjapkan matanya bangun dari tidurnya, ia duduk ditepian ranjang, kaki laki-laki itu ia biarkan menjuntai kelantai. Dengan sisa-sisa kesadarannya ia mengingat kembali kejadian semalam. Ia memijat pelipisnya yang terasa berdenyut nyeri. Richard beranjak berdiri guna membersihkan dirinya, untuk bersiap pergi ke kantor. *** Seorang perempuan berjalan dengan anggun nan elegan, siapa lagi kalau bukan Sisilia. Melangkah dengan angkuh menuju lantai 20, semua mata memandang takjub akan kecantikannya. Semua karyawan yang melihat menunduk hormat, karena mereka semua sudah mengenal siapa Sisilia. Is adalah kekasih dan calon istri dari pimpinan perusahaan tempat mereka bekerja. Saat sudah masuk ke dalam ruangan sang kekasih, ia tersenyum dan menghampirinya. Sisilia duduk dipangkuan Richard, kemudian menyambar bibir laki-laki itu. Tangannya bergelayut manja di lehernya. "Aku ada kabar bahagia," ucap Sisilia sembari mengeluarkan satu buah amplop dari dalam tas jinjingnya. Terlihat jelas amplop tersebut yang menerangkan bahwa itu dari salah satu rumah sakit ternama di kota ini. Tulisan yang menyatakan salah satu dari specialis obygn. "Aku hamil!" bisik Sisilia ditelinga Richard, sembari tersenyum dengan binar mata yang bahagia. "Hah, bagaimana mungkin?" Richard terkejut atas ucapan Sisilia, seketika ia tersadar tentang istrinya di rumah. "Kenapa?" Sisilia mengernyitkan kedua alisnya, ia menatapa ke arah Richard. "Kok, kamu kayak enggak bahagia gitu?" tanyanya kemudian. "Bukan enggak bahagia, sayang," jawab Richard mencium bibir sang kekasih. "Hanya saja, bagaimana dengan perempuan itu?" Laki-laki itu menghela napasnya. "Biarkan saja dia, aku hanya ingin segera menikah. Aku enggak mau yaah, anak aku lahir tanpa papi nya," terang Sisilia bergelayut manja dileher laki-laki itu. "Tapi, bagaimana kalau dia bilang ke Papa?" tanya Richard berpikir sejenak. "Kenapa dengan Papa?" "Papa akan mengganti seluruh hartanya, jika aku bercerai dengan perempuan itu," jelas Richard kembali ke arah Sisilia. "Kenapa bisa begitu?" tanya Sisilia bingung. "Begini saja, buat seolah-olah dia yang meninggalkanmu," jelas Sisilia dengan seringai licik nya. Laki-laki itu hanya menganggukkan kepalanya saja tanda bahwa ia setuju dengan ide kekasihnya. "Kita akan segera menikah, kalau perlu. Besok!!" Richard berkata tanpa keraguan sedikit pun dari ucapannya. "Siapa yang mau menikah??" tanya seseorang yang baru datang. Seketika keduanya menoleh ke arah orang yang baru saja datang. Sisilia berdiri dari pangkuan Richard. "Mah!" panggil Richard ke arah Elsa yang baru saja datang dan langsung masuk ke dalam ruangannya. "Hai, tan!" sapa Sisilia ke arah Elsa, perempuan itu menghampiri nya dan mencium pipi kiri dan kanan Elsa. "Siapa yang mau menikah?" tanya Elsa kembali penuh selidik menatap kedua orang didepannya secara bergantian. "Aku!" jawab Richard menghampiri Elsa. "Kalau perlu, besok aku nikah dengan Sisilia," jelasnya lantang dengan mata binar kebagaiaan menatap wajah Sisilia. "Mama setuju, tapi sebaiknya kamu selesaikan dulu urusan kamu dengan perempuan itu," jelas Elsa menatap anaknya. "Terlalu lama, aku enggak mau sampai anak aku lahir, urusan aku dengannya belum selesai." "Hah, anak?" tanya Elsa terkejut dan heran. "Sisilia sedang mengandung anak ku," ucap Richard dengan entengnya. Elsa menghampiri Sisilia dan langsung memeluknya dengan erat. "Benar kamu lagi hamil cucu Mama?" tanya Elsa ke arah Sisilia, dan langsung di angguki oleh Sisilia "Aah!!! Mama bahagia sekali." Dengan mata yang berbinar perempuan paruh baya itu memeluk Sisilia kembali. "Biar nanti perempuan itu menjadi urusan, Mama." "Tapi, Mah-" "Sudah kamu tenang aja, mama pastikan kamu secepatnya menikah. Kalau perlu enggak usah ijin papa," jelas Elsa dengan entengnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD