Sebuah keheningan menyelimuti perjalanan mereka. Kini Hafiz tengah duduk di kursi kemudi untuk mengantar Humaira dan Lula ke yayasan. Usai makan siang tadi, tatapan Humaira masih kosong dan sama sekali tak terbaca. Itu mengapa Hafiz menawarkan diri untuk menyetir mobil yang Humaira bawa. Sementara Ali mengekori di belakang mobil mereka.
Tak ada perbincangan yang terjadi diantara mereka, hanya ada atmosfer dingin yang menyertai. Bahkan Lula yang duduk di belakang, hanya bisa melirik diam-diam dari kaca mobil. Apa yang sebenarnya terjadi?
Sepanjang jalan mereka berargumentasi dengan pikiran masing-masing. Sesekali Hafiz menoleh ke arah Humaira yang hanya memandang ke luar jendela. Jika saja takdir baik menghampiri, mungkin mereka sudah bersama dalam ikatan pernikahan saat ini.
‘Maafkan aku, Humaira.’
Hafiz bermonolog.
Mobil terparkir ketika tiba di depan gedung yayasan. Lula menarik handles pintu dan hendak membantu Humaira turun. Namun ketika pintu terbuka, Humaira menolaknya.
“Lula, hari ini saya merasa nggak enak badan. Saya mungkin pulang lebih awal saja.”
“Oh baik, Bu. Sisa perizinan tadi, akan Lula atur lagi. Ibu istirahat saja. Mau Lula panggilkan supir untuk mengantar Ibu?”
Lula melirik Hafiz yang masih bergeming di kursi kemudi.
“Jika diizinkan biar saya saja yang antar Bu Humaira.”
Seketika itu pula Humaira menoleh. Ia tak tahu perasaannya saat ini. Yang jelas, ia merasa dikhianati. Entah itu oleh Hafiz maupun sang suami.
Sementara Lula tak pernah tahu hubungan mereka. Jadi, ia pun menatap Humaira seraya menanti jawaban.
“Nggak apa-apa, Lula. Saya bisa pulang sendiri.”
Lula mengangguk. Tanpa menunggu waktu, ia pun berlalu. Setelah kepergian Lula, suasana canggung kembali menyelimuti.
“Aku yang akan antar kamu.”
“Nggak perlu. Aku bisa sendiri. Silakan turun.”
“Jangan keras kepala, Humaira.”
“Kenapa harus sekarang?” tanya Humaira penuh teka-teki. Bahkan ia tak berani menatap ke arah pria yang kini memandangnya dari samping.
Hening.
Hafiz tak mampu menjawab pertanyaan yang mempertegas bahwa kehadirannya saat ini tak berarti.
“Aku sudah bersuami. Seharusnya kamu tahu itu.”
“Aku tahu.”
“Lalu untuk apa kamu disini?!”
Humaira bertanya dengan intonasi yang cukup tinggi karena rasa frustasi yang seolah mengerumuni.
“Aku ingin melindungimu, Humaira. Sama seperti yang kulakukan selama ini sejak kecil.”
Humaira berdecih bersama air mata yang tanpa perintah jatuh di wajahnya.
“Apa kamu pikir aku senang?”
“...”
“Setelah apa yang kalian lakukan. Kamu dan Nurmala menghilang tanpa kabar. Dan aku … harus menanggung semua beban ini sendirian. Aku harus menikah dengan lelaki yang sangat asing. Apa kamu pikir aku … bahagia?”
Humaira menyerukan kekesalannya dengan air mata berlinang. Meski tanpa memandang, Hafiz yakin wanita itu sangat murka. Akan tetapi semua itu terbalut oleh kelembutan suaranya. Hafiz sadar, selama ini Humaira tak pernah marah terhadapnya. Jadi, kalau saat ini tampak begitu berapi-api, Hafiz hanya bisa memaklumi. Semua ini adalah kesalahan terbesarnya.
‘Kalaupun Nurmala nggak menghilang. Kamu tetap akan jadi pengantinnya, Humaira. Itulah yang Haydar inginkan. Pria itu ingin kamu menjadi pengantinnya.’
Hafiz hanya bisa bermonolog. Ia enggan mengatakan bahwa sebenarnya yang diinginkan mempelai pria adalah Humaira, putri kandung Aryan Malik Kartawijaya.
Permintaan Hafiz terhadap Aryan nyatanya tak berjalan sesuai keinginan. Seolah-olah ini memang takdir yang harus mereka terima. Tapi hal yang membuat Hafiz tak bisa menerima sepenuhnya, karena pria itu memperlakukan Humaira sangat kejam. Jika Haydar memang menginginkan Humaira, mengapa harus bermain api dengan banyak wanita dan memperlakukan sang istri seperti ini?
“Aku masih mencintaimu, Humaira.”
Humaira mendongak, menghunus netra teduh yang tengah menatapnya.
“Dan aku janji nggak akan pernah ganggu pernikahan kamu.”
“...”
“Tapi tolong, jangan minta aku berhenti menunggu. Sebab aku percaya, takdir Allah takkan salah. Aku yakin, kamu diciptakan hanya untukku.”
“Rasanya nggak pantas mencintai seseorang yang sudah bersuami, Hafiz. Bukankah kamu tahu itu sangat baik.”
Hafiz bergeming, mencerna kembali ucapan sang wanita. Benar juga. Mereka tumbuh dengan ajaran yang Hana tanamkan, agar tetap menjaga batasan dalam bergaul dengan lawan jenis.
Humaira bahkan selalu berusaha menjaga diri, hati, bahkan pandangannya terhadap Hafiz. Begitupun sebaliknya. Dan kini … ia dirundung dilema. Apa yang Hafiz ucapkan sangat berbeda, membuat hatinya kembali terpikat.
“Kamu sudah boleh turun, Hafiz.”
“...”
“Aku nggak mau mengkhianati suamiku walaupun …”
Humaira tak jadi mengakhiri kalimat itu. Ia sadar bahwa terlalu terbuka tentang masalah rumah tangganya pada pria lain akan membuka celah adanya sebuah perselingkuhan. Dan Humaira tak ingin itu terjadi. Seburuk apapun suaminya, Humaira akan terus mengabdi. Biarlah takdir menjadi rahasia Ilahi.
Meskipun Hafiz dan dirinya sudah lama mengenal. Syaitan tak pernah memilih manusia mana yang harus mereka goda. Sekuat apapun imannya, selalu ada celah untuk berbuat salah.
“Humaira,” panggil Hafiz, lirih.
“Aku moh….”
Belum genap kalimatnya terucap, sebuah panggilan tampak di layar dashboard. Sebuah nama tak asing, lihat disana. Baim bocil. Humaira mengernyitkan dahi. Tidak biasa baginya.
Sebab sejak Humaira menikah, anak itu jarang sekali menghubungi. Dan ketika Ibrahim melakukan itu, membuat jantung Humaira berdegup sangat kencang. Seakan ada firasat buruk yang menyertai.
Tanpa pikir panjang, Humaira menekan tombol accept, tak menyadari bahwa Hafiz bisa saja mendengar percakapan mereka.
“Assalamualaikum, Kak. Dimana?”
“Di yayasan. Kenapa, Cil?”
“Bunda, Kak …”
Ibrahim menjeda ucapannya. Terdengar sangat lirih di ujung panggilan itu.
“Bun-da, kenapa?”
“Bunda di rumah sakit sekarang.”
Deg!
***