Takdir Takkan Salah

1338 Words
“Jadi benar, selama ini lelaki itu bermain di belakang Humaira?” tanya Hafiz dengan tangan terkepal. “Hmmmm.” Ali menyahut dan memberi jeda sesaat. “Dan keji-nya, bukan cuma sama satu perempuan aja.” “Damn!” Ali terkejut mendengar ucapan itu. Hafiz jarang sekali menunjukan emosi. Bahkan hampir tak pernah mengumpat dan selalu berusaha menjaga tata bahasanya. Tapi melihat barang bukti yang kini mereka coba kumpulkan, membuat bibirnya seketika berkata kasar. ‘Astagfirullah.’ Hafiz bermonolog. “Terus kenapa dia menawarkan pernikahan waktu itu?” “Tsk. Hafiz … Hafiz. Orang bodoh juga tahu kalau dia cuma mau kuasai harta Kartawijaya.” Ali memang terkenal cerdas. Ketika kuliah dulu, Ali selalu mendapat nilai sempurna untuk mata kuliah critical thinking. Dan saat ini Hafiz takkan meragukan ucapan itu. Benar juga. Kata orang, di otak pria hanya ada harta, tahta, dan wanita. Jika ditarik benang merahnya, sudah jelas kalau Humaira memiliki itu semua. “Pelan-pelan kita kumpulkan semua bukti dan bongkar kebusukannya.” “Siap, Bos!” “Tapi gue nggak mau Humaira tahu tentang ini dulu.” Hafiz meletakkan berkas itu sambil menatap kosong ke depan. Sementara Ali bisa memahami alasannya. “Gue nggak mau dia semakin terlihat sedih.” Melihat kekhawatiran di wajah Hafiz, Ali hanya bisa tersenyum tipis. Dalam benaknya, ia mengagumi kesetiaan sang sahabat. Kini ia mulai memahami arti mencintai dengan sepenuh hati. Meski terpisah jarak dan status, Hafiz tetap bersedia menanti sang pujaan hati. “Lo belajar jadi lelaki romantis dari mana sih?” Gurau Ali. Hafiz menyunggingkan sudut bibir kanannya sambil menggeleng. “Lo harus coba dulu jatuh hati,” balas Hafiz seraya mengejek. “Hmmmm!” *** “Tempatnya beneran ini?” Dua pria kini menoleh ke arah papan gedung yang menjulang tinggi. Tentu tidak banyak yang berubah sejak tiga tahun ditinggalkan. Sebuah tempat dimana ia pernah bernaung di bawah atapnya; mempelajari banyak hal tentang kehidupan. Hafiz mengenang kembali masa ketika ia pertama kali menyandang gelar anak yatim piatu akibat kelalaian Kartawijaya. Tapi ia tidak pernah membenci mereka sama sekali. Justru, ia bersyukur. Sebab takdir itulah yang membuatnya bisa bertemu sang pujaan hati. “Kenapa bengong?” tanya Ali, sekali lagi. “Oh, nggak apa-apa.” Hafiz tercenung karena masih memikirkan bagaimana reaksi Maryam ketika melihatnya pulang? Ada rasa takut yang ia rasakan. Kehilangan Nurmala tentu menyebabkan luka mendalam. Apalagi ia tak pernah memberi kabar. Apa mungkin Maryam masih mau bertemu dengannya? “Lo tunggu disini aja, ya.” “Oh, oke.” Hafiz memang tidak berniat lama di tempat itu karena harus mencari unit apartemen. Langkah kaki membawa Hafiz tiba di meja front-office. Tapi tak ada siapapun disana. Kepala Hafiz bergerak mencari sosok yang bisa ia tanyakan. “Selamat pagi, Pak. Ada yang bisa saya bantu?” tanya seorang wanita tepat di belakangnya. Hafiz pun memutar tubuhnya sembilan puluh derajat. “Oh, saya mau—” Belum genap ucapannya terlontar. Sosok wanita itu teriak histeris. “Hafiz?!” “K-kak Kinan?” Bola mata wanita berhijab itu berbinar-binar. Bahkan saking senangnya ia hampir memeluk Hafiz. Terbiasa dengan refleks yang bagus, Hafiz mundur beberapa langkah. “Eh, Kak Kinan lupa! Bukan mahram, ya. Hehe.” Kinan terkekeh seraya menggaruk kepala yang tak gatal. Sedangkah Hafiz hanya bisa tersenyum tipis sambil mengangguk. “Bunda ada, Kak?” Tanya Hafiz to the point. Meski ragu, ia tetap harus menemui wanita itu. Usia Maryam sudah semakin renta, apa kabar Maryam setelah tiga tahun tidak berjumpa? “Ada. Tapi kondisinya sudah lama drop.” “Karena?” sergah Hafiz. “Memikirkan Nurmala dan Humaira.” Jantung Hafiz langsung mencelos. Sesegera mungkin ia minta dipertemukan oleh Maryam. Tiba di kamar, Maryam terlihat duduk di kursi roda sambil menatap ke arah jendela. Punggungnya yang renta tampak begitu rapuh. Kinan lebih dulu masuk, kemudian berjongkok di bawah lutut wanita itu. “Bunda, ada tamu.” “Si-apa?” Suara serak itu membuat d**a Hafiz semakin bergemuruh. “Bunda, ini Hafiz.” “Nak Hafiz?” Kursi roda langsung berputar hingga tatapan mereka bertemu di udara. *** “Bunda, maafkan Hafiz yang saat itu nggak bisa datang.” Hafiz tertunduk, bersimpuh di bawah kursi roda. Menyesali keputusan yang tidak bisa ia putuskan. Karena beasiswa studi, Hafiz harus tetap disana demi final assessment. “Semua ini sudah takdir, Nak. Tapi apa yang sebenarnya terjadi? Kemana Nurmala pergi? Apa dia menolak pernikahan ini sampai memutuskan pergi?” Hafiz menggeleng pelan. Sebelumnya, Hafiz sudah berbicara empat mata dengan adiknya. Tak ada yang salah dengan ekspresi Nurmala saat itu. Ia cenderung menerima keputusan sang kakak. Itu sebabnya, Hafiz tak tahu apa yang membuat anak itu menghilang. Ia justru curiga ada dalang dibalik ini semua. “Hafiz masih terus mencari keberadaan Nurmala, Bun. Pasti ada seseorang yang menyembunyikannya.” Maryam hanya mengangguk dengan raut sedih. “Setelah semua ini terjadi, hubungan Aryan dan Ibrahim mulai memburuk.” Hafiz mendongak tak percaya. Seingatnya, Aryan dikenal sebagai sosok Ayah yang bijaksana. Entah apa alasan yang membuat Ibrahim memberontak. Apa mungkin ada kaitannya dengan pernikahan sang kakak? “Sampai, Bro.” Ali lagi-lagi membuyarkan lamunannya. “Sejak di Indonesia kenapa lo banyak bengong sih?” tanya Ali setelah menarik perseneling ke huruf P. Hafiz menoleh lalu tersenyum sepat. Ia sendiri bingung dengan situasi yang terjadi. Semuanya terasa samar dan penuh teka-teki. Hilangnya Nurmala dan pernikahan Humaira jadi satu-satunya kasus yang perlu dipecahkan. Ia sangat yakin adanya rencana dibalik itu semua. “Yuk lah! Gue lapar!” “Hmmmm, baiklah.” Hafiz menggeleng sebelum akhirnya langkah kaki mereka bergerak. Hafiz dan Ali langsung disambut pelayan ketika masuk ke dalam restoran. Saat itu juga pandangan Hafiz tertuju pada seorang wanita yang sedang menaiki tangga di tengah restoran tersebut. “Humaira?” Ali menoleh ke arah sang sahabat sebelum mengikuti titik pandangnya. “Eh iya, Humaira.” “Bro, lo pesan dulu aja. Gue mau kesana,” ujar Hafiz tanpa mengalihkan pandangannya dari sang wanita. Setelah itu ia melangkah seolah tak menyadari cibiran sahabatnya. “Tsk, susah memang kalau sudah bucin.” “Silakan, Pak.” Seorang pelayan membuyarkan pandangan Ali yang sedang mengekori Hafiz. Setelah itu, dipersilahkan duduk dan diberikan buku menu. Hafiz melangkahkan kaki tanpa menimbulkan suara. Derap langkahnya seperti hembusan angin yang terdengar samar. Lambat laun, kecurigaannya mulai muncul ke permukaan setelah melihat apa yang terjadi di depan mata. Hafiz mengepalkan jari-jarinya ketika berdiri tepat di belakang Humaira. Pandangannya tertuju pada sepasang pria-wanita yang sedang berciuman di lorong itu. Bahkan pasangan itu sama sekali tak menyadari kehadiran mereka. Suara kecapan dan desis terdengar mengisi lorong yang sepi itu. Tak sanggup melihat lebih lama, Humaira seperti ingin menghampiri dan mencaci maki. Namun, Hafiz yang tahu hal itu tak akan berpengaruh, gegas melangkahkah kaki untuk menghalangi jalan sang wanita. “Hafiz?” Humaira mendongak dengan air mata yang sudah tumpah tak terkira. Beep beep. Suara mesin pintu otomatis terdengar. Sepertinya Haydar dan selingkuhannya sudah masuk ke dalam kamar lalu menyisakan keheningan diantara mereka. Tatapan yang beradu cukup lama membuat hati Hafiz tak mampu menahan amarah. Jika saja ia bisa menghancurkan Haydar yang telah menyakiti perasaan cinta pertamanya saat ini juga, maka ia akan lakukan. Tapi, Hafiz selalu memperhitungkan perbuatan dengan konsekuensi yang didapatnya. Ia tak pernah gegabah, selalu memikirkan sesuatu dengan rencana yang matang. Ini bukan saat yang tepat untuk membalas rasa sakit Humaira. “...” Hafiz membisu dengan tatapan yang masih beradu. Sementara Humaira tampak malu. Ketidakbahagiaan yang berusaha ia tutupi, akhirnya terlihat juga oleh Hafiz. Apa kini ia terlihat seperti wanita bodoh? Humaira tertunduk dengan isak tangis yang menyeruak. Memikirkan pria-wanita yang bukan mahram berada dalam satu kamar, membuat otak dan hatinya ingin berontak. Tapi Humaira tak bisa berbuat apa-apa. Isak tangis lambat laun terdengar pilu. Bahkan bahu Humaira ikut bergetar seiring tangisannya. Tak ada ucapan yang terlontar dari bibir Hafiz. Ia mencoba memahami situasi yang dialami wanita di hadapannya. Biarlah Humaira menumpahkan air mata agar hatinya merasa lega. Tanpa sadar tangan Hafiz terulur, hendak mengusap kepala sang wanita seraya menenangkan. Namun, jemarinya tertahan dan hanya mampu menggenggam udara. “Menangislah kalau itu membuatmu lebih baik.” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD