Aku akan memberimu kompensasi.

1319 Words
Chana memperhatikan bahwa ada sesuatu yang salah dengan ekspresi pria di hadapannya. Dia bukanlah gadis yang bodoh, oh mungkin terlalu sombong untuk mengatakan hal tersebut karena faktanya, di masa depan dia akan mati karena kebodohannya. Namun setidaknya, dia telah menikah dan bukanlah gadis polos seperti yang seharusnya. Sesuatu seperti keperawanan bukanlah hal penting yang harus dia pikirkan. Saat ini ada banyak kerumitan dalam pikirannya, dan dia harus segera menyingkir dari pria di hadapannya. "I-itu, tu-tuan, aku akan memberimu kompensasi." Wajah pria di hadapannya tertarik minat. "Kompensasi?" Chana mengangguk. "Y-ya," "Uhm, kompensasi seperti apa yang akan kau berikan? Apakah itu seperti sebuah pelajaran lagi yang akan kau berikan?" "Pelajaran? Seperti apa?" tanya Chana tak mengerti. Pria itu menganggukkan kepalanya, tampak berpikir sesaat. "Yah, kau telah memberiku pelajaran semalam. Mungkin lebih dari sekedar mendisplinkan bibirku atau mungkin kita bisa mengulanginya lagi hingga malam datan-" "Ahahaha, itu, Tuan, apa yang coba kau katakan." Tangan Chana langsung membungkam bibir pria itu cepat. Dia mengumpat dalam hatinya. Terkutuklah malam panjang semalam! Semua ini karena Chassy! Ya, seharusnya aku tak mengalami ini! Dan apa ini? Mengulangi lagi hingga menjelang malam. Pria ini benar-benar gila. "Apakah bukan itu? Lalu apa kau butuh bantuanku untuk memilih kompensasi? Aku bisa memberimu pilihan untuk kompensasi yang akan kau berikan," Suara itu terdengar sangat tulus membuat Chana kian tersenyum sumbang. "Y-ya? Pi-pilihan?" Oh, apakah sekarang orang-orang bahkan berhak menentukan pilihan yang harusnya kuberikan? "Ya, misalnya, menikahiku. Itu adalah pilihan pertama yang kusarankan," "Ahahahahaha, me-menikah?" Itu adalah pilihan gila! Sekelebat rasa sakit dari pernikahan yang akan dia terima hingga mati mengenaskan terbayang membuat ekspresinya suram namun dengan cepat kembali normal. Dia akan dikhianati, juga akan kehilangan putranya. Tidak, dia tak akan jatuh dalam jebakan yang sama. Dia tak ingin hidup dalam derita. Dalam hidup ini, dia tidak akan menikahi Logan! Tidak, dia telah memutuskan untuk tidak menikah dengan pria manapun. Jadi pilihan kompensasi ini dia akan langsung menolak. Pria itu mengangguk puas, semakin mendekat hingga Chana terus mundur. "Tu-tuan, itu tidak mungkin. Ba-bagaimana jika u-uang?" Pria itu menarik sudut bibirnya tak puas. Matanya menelisik tajam dengan ekspresi licik. "Apakah aku bisa mengartikan bahwa kau bermaksud membeli kepolosanku?" Chana mengangguk cepat tanpa menyadari bahwa atmosfer disekitarnya mulai membeku. Pria itu jelas menatapnya dingin hingga ke tulang. "Berapa banyak? Apakah kau tahu?" Tanya pria itu tak suka, dia mendekatkan bibirnya lalu berbisik pelan di telinga Chana. "Jika itu uang, maka kau harus mengeluarkan semua uang yang kau miliki. Karena aku sangat M. A. H. A. L.." "Ma-mahal?" Seketika Chana membeku saat menyadari wajah tampan di samping wajahnya itu sangat dekat, amat sangat dekat hingga dia bisa melihat bagaimana halusnya kulit pria yang akan dia bayar. Masalahnya dia saat ini tak memiliki banyak uang tersisa di tabungan karena uang bulanannya sangat dibatasi oleh ibu tirinya. "I-itu bagaimana dengan pilihan lain?" Putusnya setelah merasakan debaran tak biasa di jantungnya. Ini benar-benar di luar kendalinya. Pria itu menjauh tiba-tiba, lalu tersenyum manis. "Oh, tentu, selalu ada pilihan." Seperti menit yang berlalu suasana hati pria ini juga tiba-tiba berubah sangat cepat. Dia turun dari atas tempat tidur lalu merapikan tali jubah mandinya yang longgar. "Pilihan kedua, menikahiku." Dua jari panjang pria itu terangkat, menunjukkan pilihan kedua yang baru saja dia lontarkan. "Apa?" Tanya Chana terkejut, pilihan ini bukanlah pilihan pertama tadi? Pria itu mengangguk sekali lagi. "Nona, pilihan menikahiku adalah pilihan yang paling tepat." "Ahahahahahaha, tuan, hahaha, ya ampun, aku harus ke kamar kecil." "Apakah aku harus menggendongmu?" "Tidak!" jawab Chana cepat! "A-aku bisa sendiri." Kaki putih Chana terjulur ke lantai, sedangkan tangannya sibuk menutupi bagian atas tubuhnya. Kakinya menggapai pakaiannya yang tercecer lalu dia menyadari bahwa yang ia miliki hanyalah sepasang pakaian dalam yang tak lagi utuh. Itu robek, tidak, itu lebih parah dari robek. Jika begitu bagaimana dia bisa lari dari sini? Melihat hal itu, pria itu tersenyum. "Ah, aku minta maaf untuk itu. Kau melakukannya sendiri pada awalnya, i-itu bukan aku. A-aku hanya membuat semua mudah untukmu dengan bantuan tenagaku yang sedikit kuat," Wajah Chana bersemu merah, dia menoleh cepat dan tersenyum sumbang. "Ahahaha, aku tak akan lagi menyalahkan tuan," Pria itu mengangguk-angguk kepalanya tanpa ekspresi bersalah. Dia hanya membiarkan Chana yang tiba-tiba meraih celana panjang hitam dan kemeja putihnya yang tergantung lalu melarikan diri secepat kilat menuju kamar mandi. Hal itu membuatnya tertawa kecil. Di dalam kamar mandi, Chana menatap wajahnya yang menunjukkan kulit putihnya. Sangat kontras dengan jejak merah yang hampir menutupi seluruh kulitnya. Melihat hal ini, wajahnya bersemu merah tanpa sadar. "Oh itu, aku sudah mencoba memandikanmu semalam agar kau sedikit sadar, tapi ternyata kau justru menggodaku juga di sana. Jadi, yah, kita juga melakukannya beberapa kali di kamar mandi." Suara itu terdengar dari balik pintu yang menjawab semua pertanyaan di benak Chana. Chana hanya memejamkan matanya frustasi. Rona merah hadir di wajahnya sekali lagi. Seliar apa mereka semalam? Memikirkan hal ini dia rasanya ingin menangis. Bukankah ini sangat berbeda dari kehidupan yang telah dia lihat sebelumnya? "Ada apa dengan semuanya? Tidak, apakah karena aku telah mengintip masa depan hingga alur kehidupan ku berubah? Seharusnya malam ini dan pria itu tak akan pernah ada." keluh Chana kian bingung. Dia melihat jejak merah itu lagi. Di berbagai tempat, bahkan hingga di punggung tangannya, dia bisa melihat jejak merah yang tak seharusnya ada. "Ahk, apa yang harus kulakukan? Chana, kau harus menjauh dari pria mana pun mulai sekarang. Atau kehidupanmu akan ...." Chana terdiam, tak melanjutkan kata-katanya yang menggantung. Ingatan kejadian yang dia alami bagai mimpi pun terbayang sangat jelas. Dikhianati, diasingkan, kehilangan putranya, dan dirinya juga tak terselamatkan. Tidak! Hal itu tak boleh terjadi! Chana menggeleng kuat, dan membasuh mukanya cepat. Lalu, matanya beralih pada kemeja putih juga celana panjang yang pria itu miliki. Dia tak bisa mengenakannya, itu jelas karena dia tak memiliki sepasang pakaian dalam. Tapi, jubah mandi putih yang tergantung tak jauh darinya bisa dia kenakan. "Rencana bagus." Dia mengenakan jubah mandi yang menggantung dan menali kuat talinya. Memenuhi bathtub lalu melemparkan kemeja putih pria tersebut. Di satu sisi, dia juga menggenggam erat celana hitam pria itu yang telah dia bawa lalu mengguntingnya menjadi dua bagian. "Ahkkkk ...! Tolong!" Teriaknya keras dengan tubuh bersembunyi di belakang pintu. Tak butuh waktu lama, derap langkah terdengar, pintu kamar mandi terbuka dan sosok tinggi itu berlari masuk. Secepat itu juga, Chana mendorong pria itu dari belakang agar semakin masuk lalu dia menyelinap menutup pintu. Membuang potongan celana panjang lainnya dengan tertawa riang lalu berlari menuju pintu kamar dan meraih kuncinya. Akhirnya dia keluar dengan tangan mengunci pintu kamar dari luar secara cepat. "Berhasil. Ahahaha, tuan, selamat bersenang-senang." Chana bergerak sangat riang dan segera keluar dari hotel dengan memesan sebuah taksi dan kembali ke rumah utama keluarganya. Seakan pesta pertunangan di hotel yang diadakan untuknya semalam tak pernah ada. Sedangkan pria itu, wajahnya menggelap saat menyadari dia ditipu oleh gadis lemah yang tampak penurut. Juga, dia tak mungkin mengejar karena terkunci di dalam ruangan. Meski begitu, dia menyibak tirai balkon dan keluar, melihat sosok putih yang mengenakan jubah mandi tengah memasuki sebuah mobil pesanan. "Kau berpikir melarikan diri? Nona, mari kita lihat seberapa jauh kau bisa melarikan diri?" Matanya jelas menatap sosok Chana yang mulai menghilang bersama mobil yang ikut berlalu. Berjalan santai masuk ke kamar, dia meraih ganggang telepon dengan tak sabar. Saat suara di ujung telepon tersambung, senyum liciknya terlihat mempesona. "Aku ingin tahu data wanita yang keluar dari kamarku siang ini. Kemana dia pergi bersama mobil pesanan warna putih yang baru saja pergi." Jawaban dari ujung telepon membuat pria itu mengerutkan alisnya. Rasa tak puas terlihat jelas di wajahnya. "Dia tak membawa apapun, hanya ... dia harus bertanggung jawab atas sesuatu. Lalu, kirimkan kunci cadangan kamarku sekarang. Aku tak bisa keluar karena wanita itu membawa kunci kamarku." Saat telepon tertutup, pria itu tersenyum sekali lagi. Saat itu wajah Chana yang begitu cantik di bawah tubuhnya terbayang. "Nona, mau bagaimana lagi, aku masih harus menagih kompensasi yang harus kau berikan. Di tambah, kau juga harus mengganti pakaian yang telah kau rusakkan."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD