Saat perintah pria tampan itu turun, hotel dan perusahaan Axion Company meledak dalam satu kabar. Tidak hanya tidak hadir dalam rapat penting tanpa kabar terlebih dahulu, bahkan telepon pertama yang tuan muda mereka perintahkan adalah mencari data seorang wanita yang telah berhasil melarikan diri dari kamar hotel tuan muda mereka.
"Tuan muda memerintahkan untuk mencari seorang wanita? Seorang wanita? Benarkah itu?"
"Tidak, apakah akhirnya tuan mudaku bukan petapa? Ya Tuhan, ini berita besar."
"Pada akhirnya, wanita itu, apakah dia akan mati? Atau akan dilempar? Ini adalah kamar hotel. Kamar hotel tuan muda kita, wanita itu, apakah mereka menghabiskan malam bersama?"
"Diamlah, dan cari data wanita ini! Kalian terllau banyak bicara!"
"Tunggu, dari pada itu, tuan muda terlihat sangat kesal. aku yakin akan mendengar berita kehancuran suatu keluarga."
"Kita harus mencari tahu semuanya agar jelas. aku yakin ada sesuatu."
Beberapa orang mulai sibuk dalam pekerjaaan karena perintah ini, namun kini Manager hotel dan satu pegawai tampak sangat ketakutan menatap pintu kamar hotel yang masih tertutup rapat. Manager itu mengusap keningnya sesaat sebelum tangannya terulur mengetuk pintu sopan.
"Tu-tuan Axel, ka-kami datang. Kun-kuncinya-"
"Kau bisa membuka pintunya kebih dulu," jawab Axel dingin.
Manager hotel itu kini tampak enggan. Saat pintu kamar itu terbuka karena kunci telah terbuka, dia maju satu langkah bersama pegawai yang turut masuk bersamanya.
"Tu-tuan-" kata-kata manager itu terputus saat melihat bagaimana berantakan kamar hotel saat ini. Tangannya bahkan refleks menutup mulut saat melihat beberapa helai kain yang tak lagi layak. Lebih dari itu, sosok tinggi nan dominan dengan jubah mandi yang sedikit longgar itu tersenyum tiba-tiba. Kini saat melihat senyum itu, Manager hotel dan pegawai itu tertegun diam.
Menyadari tatapan Manager, Axel tak bergeming. Tangannya meraih gelas anggur dan menyesapnya pelan lalu meletakkan dengan anggun. "Jadi, apakah dia benar-benar melarikan diri?'
Manager itu menelan ludahnya. "Tuan, kami benar-benar tak kompeten karena tak dapat menahan wanita itu pergi."
"Sudah kuduga," gumamnya. Dia berbalik menatap jalanan dari balkon kamarnya. "Datanya?"
Pegawai itu menyerahkan sebuah laporan pada managernya dengan sangat cepat.
"Wa-wanita ini tak termasuk sebagai tamu di hotel kita. Ka-kami tak memiliki data apapun tentang wanita yang tuan-"
"Jadi sejak kapan hotelku menjadi penginapan kaki lima?"
"Tuan itu tidak mungki-"
"Maksudmu gadis itu menyelinap ke kamarku? Apakah keamanan hotelku sangat berantakan?"
"Itu tidak benar tuan," sanggah Manager kian ketakutan.
"Bagaimana jika gadis itu berniat membunuhku?"
Mata Manager terbelalak. Batinnya menjerit tak terima saat melihat kenyataan ada pakaian dalam wanita yang tercecer di lantai lalu kata-kata tuan mudanya yang mengangkat kata 'Membunuh'. Apakah itu masuk akal?
"Tuan-"
"Berikan gambaran fotonya," pinta Axel tak sabar.
Manager hotel maju dan menyerahkan dengan hati-hati. Axel meneliti sosok yang berbalut kain putih yang tampak panik dengan rambut panjang yang terlihat berantakan. Tanpa sadar senyum Axel terukir.
"Benar, ini adalah dia."
Mendengar kata kecil itu keluar, Manager hotel mendesah lega. Namun tiba-tiba, pintu kamar yang tertutup rapat itu kini terbuka dengan sangat kerasnya diiringi suara teriakan yang memekakkan telinga.
"Kakak pertama!"
Seorang pria melangkah dengan sangat tergesa namun kemudian terhenti tepat di potongan pakaian dalam wanita yang tercecer. Matanya membulat lalu teralih pada Axel yang tampak santai.
"I-ini, pakaian ini ... tidak mungkin!"
***
Chana baru saja menutup pintu utama rumah keluarga Oswald dengan sangat pelan. Entah kenapa dia sangat gugup, dia mulai mengingat betapa patuh dan bodohnya dia dengan semua aturan ibu tirinya dan Chassy. Ingatan yang terus mengalir dan informasi tentang kebiasaannya setiap hari, semua seakan terpatri. Mengigit bibir bawahnya khawatir, dia baru saja berbalik saat melihat semua orang ternyata berkumpul di ruang utama dan memperhatikan tindakannya.
"A-ayah," panggil Chana lemah. Kegugupan, gemetaran, dan entah kenapa rasa takut yang seakan biasa dirasakan tubuhnya membuatnya panik beberapa saat. Tapi kemudian dia berusaha keras untuk menenangkan hatinya. Kehidupan kali ini, dia tak bisa membuat kesalahan.
Elden Oswald tampak enggan menjawab sapaan putrinya yang baru saja tiba. Dia hanya menatap tajam tanpa berniat bertanya lebih lanjut. Tapi Mesya, istri kedua Arthur kini berdiri dan langsung menampar pipi Chana keras.
"Biarkan aku mengajari pelajaran menggantikan ibu kandungmu!"
"I-ibu," desah Chana terkejut saat rasa panas menghampiri pipinya hingga membuat telinga kanannya berdengung. Dia bahkan belum bereaksi saat tiba-tiba tangan Mesya bergerak dan akan menamparnya sekali lagi.
"Ibu, jangan pukul kakak!" Kini tiba-tiba Chassy bergerak memeluk Chana erat. "Kak, berlututlah memohon ampun. Katakan kau bersalah agar ibu dan ayah tak lagi marah."
Chana tertegun, tangannya memegang pipinya yang memerah. Satu sudut bibirnya tertarik pelan. Berlutut? Ya, itu adalah hal biasa yang dia lakukan saat memiliki kesalahan. Mengingat hal ini lagi-lagi dia mulai menyadari, betapa bodoh sikapnya selama ini. Tapi untuk saat ini dia tak akan melakukan permintaan Chassy!
"Apakah kau tak akan meminta maaf? Atau kau tak berani pulang setelah menjerumuskan adikmu? Ibu tak percaya kau bisa melakukan kejahatan itu!"
Menyingkirkan pelukan Chassy, Chana menatap Mesya yang masih memelototinya. Rasa dingin menjalar ke hatinya saat kenyataan kembali jelas di ingatannya. Bahwa dia selalu diperlakukan berbeda. "Ibu, bisa kau jelaskan, kenapa aku harus menerima tamparan ini?"
Mesya bahkan lebih geram. Dia menunjuk Chana culas. "Kau masih tak menyadari? Kau meninggalkan Chassy di sebuah kamar hotel dengan pria asing? Jadi bagaimana jika Logan tak menemukannya lebih dulu? Apakah kau berharap Chassy memiliki masa depan yang hancur?"
"Meninggalkan Chassy?" Tanya Chana tak percaya. Kini dia mulai tahu arah masalahnya. Melemparkan senyum sinis pada Chassy yang kini tak berani menatapnya, dia menatap dengan sorot mata lemah. "Chassy, apakah aku-"
"Kak, aku baik-baik saja." Potong Chassy tiba-tiba memeluk Chana kembali. "Kakak tak perlu khawatir. Mereka tak melakukan apapun padaku, saat kakak lari melarikan diri. Kita sama-sama terjebak, aku bahkan sudah menjelaskan itu pada ayah dan ibu tapi mereka tetap ingin menghakimimu."
Chana tertegun dengan tatapan tak percaya. Apakah dia selama ini sebodoh ini? Tidak, karena sebelum melihat masa depan dia tak akan menyadari bahwa dia terlalu percaya pada wanita di depannya hingga akhirnya merebut suaminya, dan membuatnya mati menderita bersama putranya. Mengingat ini, tanpa sadar tangannya terkepal erat.
"Kak, kau harus memohon-"
"Kenapa?" Potong Chana tanpa sadar.
"Apa?" Chassy tertegun saat menyadari tatapan Chana yang berubah. Tidak, ini tidak mungkin. Wanita bodoh ini biasanya akan selalu menuruti kata-kataku tanpa banyak berpikir. Tapi sekarang ....
"Anak tak tahu diri ini! Elden, biarkan aku memberinya pelajaran sekali lagi!"
Chana tak menghindari tamparan Mesya yang sekali lagi bersarang di salah satu pipinya setelah menarik Chassy menjauh darinya. Dia hanya menatap ayahnya yang diam seakan memang semua adalah kesalahannya. Ayahnya, yang hanya duduk diam, apakah benar-benar berpikir bahwa dia bersalah? Dia memang terkenal sangat bodoh dalam keluarga ini, tapi sejak melihat kematiannya yang akan terjadi, dia tak akan tinggal diam lagi.
"Ibu, Ibu, hentikan!" Rengek Chassy memohon.
Chana hanya terdiam, memegang pipinya yang memerah. Dia menatap Mesya tanpa berkedip sekalipun. "Ibu, aku memang mengakuimu sebagai istri lain ayahku, tapi bukan berarti kau bisa memukulku setiap hari. Pukulan ini, kuharap yang terakhir kali."
"Setiap hari?" Tiba-tiba Elden terkejut dengan kata-kata yang Chana lontarkan.
"Kau! Jangan membual!"
"Kakak, kau harus memohon!"
Chana tertawa sedih, satu air matanya lolos dengan tatapan tulus nan polos. "Kenapa aku harus memohon? Chassy, katakan? Kenapa aku harus memohon? Ayah, aku seorang yang bodoh, aku tak memiliki uang, dan tak memiliki teman. Lalu, bagaimana bisa aku memesan kamar untuk Chassy? Juga, kau sangat tahu, aku tak memiliki teman satu pun kecuali Chassy. Jadi Ayah, apa kau masih berpikir, bahwa aku adalah orang yang bersalah?"