Elden terhenyak saat kata-kata Chana jatuh. Melihat putrinya menangis dengan tatapan bingung hatinya yang mendingin terengut. Dia baru saja akan angkat bicara sebelum putrinya kembali bersuara.
"Ayah, apakah karena ibuku tidak di sini hingga aku harus dipukuli untuk kesalahan yang tak kuperbuat? Apakah ayah lupa? Aku juga putri Ayah. Aku tak tahu ibu akan pergi meninggalkan kita, mulai sekarang aku akan berusaha mencarinya. Tapi kini, untuk saat ini, aku merasa lelah." Tatapannya yang berkaca- kaca membuat wajah Chana menyedihkan. Dia membalikkann badan seakan semua tak pernah terjadi. "Ayah, hari ini aku sangat lelah."
Mendengar itu mata Elden memanas. Kepergian istri pertamanya, mungkin dia membencinya tapi ini bukanlah suatu alasan yang harus membuat putrinya menderita. Dia menatap punggung putrinya yang menjauh lalu beralih pada Mesya secara ganas. Putrinya dipukuli? Kenapa dia tak tahu? Selama ini dia selalu merasa putrinya ini sangat di luar batas hingga sangat bodoh lalu juga ceroboh hingga dia membiarkan Mesya menanganinya. Tapi kata-kata putrinya juga menyadarkannya bahwa mungkin saja putrinya sama sekali tidak bodoh!
"Mesya! Apa kau selalu memukuli Chana tanpa sepengetahuanku?"
Wajah Mesya berubah pias. "A-apa? Sayang bagaimana kau bisa mempercayai kata-katanya?"
"Ayah, ibu tidak bersalah. Ini adalah salahku, jangan marahi ibu. Jangan bertengkar." Kali ini Chassy bahkan ikut ambil bagian. Matanya meneliti Chana dengan tatapan curiga yang kian jelas. Dia mampu bermain dengan sangat baik tapi hari ini dia tak berharap bahwa Chana mampu membalikkan keadaan dalam satu tindakan. Sejak malam itu, tatapan Chana sangat berubah. Awalnya dia merasa aneh tapi kini dia yakin, bahwa ada sesuatu yang berbeda dengan Chana dan hal itu membuatnya waspada.
"Sayang, aku tak memukulinya. Kau harus percaya padaku,"
"Ayah,"
Elden mendecih kesal. "Mulai hari ini, aku tak ingin mendengar kau mengajari putriku dalam keadaan apapun!" Lalu berlalu pergi.
"Sayang, sayang, sayang ...,"
Chassy terdiam melihat ibunya mengejar Elden lalu kemudian dia pun mengikuti. Saat langkah kakinya mendekati tangga, tanpa sadar dia mendongak, mendapati Chana yang berdiri seakan menonton semua kejadian ini. Senyum sinis samar itu, juga dia dapati. Tidak, dia tak akan salah melihat bahwa Chana benar-benar tersenyum melihat pertengkaran ayah dan ibunya. Semua ini, apakah ini rencana kakak bodohnya itu?
***
Ruangan kamar yang tak cukup lebar menyambut pandangan Chana saat dia melemparkan tubuhnya ke atas kasur nan empuk. Memandangi langit kamar, dia mengingat semua kesakitan yang seakan nyata dia alami. Dari awal hingga akhir, dia benar-benar menyadari bahwa tidak seharusnya semua hal yang dia miliki harus menjadi milik Chassy!
"Apakah itu masa depan atau aku memang telah mati lalu hidup kembali? Apakah keajaiban itu terjadi? Tak peduli apa pun itu, aku tak akan membuat hidupku seperti itu! Aku tak akan mati! Putraku tak akan kesakitan! Dan Logan, aku tak akan menikahinya! Chassy dan ibunya, aku harus menyingkirkannya. Lalu ibu, ya ... aku harus menemukanya. Setelah itu aku ...,"
Ucapannya terhenti saat sekelebat bayangan wajah tampan terbayang. Dia tiba-tiba bangkit saat merasakan ketidak nyamanan di bawah tubuhnya yang terasa remuk. Kata-kata penuntutan juga sebuah pernikahan yang telah ditawarkan. Pria itu, yang merengut dirinya, tidak, apakah semua ini salah?
"Ugh, aku tak akan menemuinya lagi. Benar, itu hanya kesalahan. Pria itu tak akan serius mencariku. Aku tak akan bertemu dengannya lagi!"
Memasuki kamar mandi, dia kembali memeriksa tubuhnya. Seakan tak percaya pada penglihatannya beberapa saat lalu di kamar hotel kini dia ingin memeriksa sekali lagi. Jejak merah itu tetap terlihat nyata, di tempat yang sama, dan sangat mencolok di atas kulitnya yang putih. Lalu wajah tampan pria itu kembali terbayang, dan rona merah samar terlintas di wajahnya yang cantik.
"Akh, meski ini kesalahan apa aku harus seliar itu? Chassy, tidak, ini adalah satu-satunya jalan aku bisa terlepas dari rencana busuk Chassy. Meski pria itu tak masuk hitungan tapi bagaimana bisa dia mengatakan bahwa aku merebut kepolosannya? Sangat tak masuk akal!"
Membuka lemari pakaian, Chana tercenung dengan beberapa helai pakaian yang tertinggal karena dia sangat jarang tinggal di rumah ini. Tangannya menarik celana jeans pendek setengah paha juga baju tanpa lengan berwarna merah yang merupakan pakaiannya saat sekolah menengah atas saat dia berumur tujuh belas tahun. Pakaian ini, jika ia tak salah adalah pakaian yang ibunya belikan secara acak saat liburan bersama keluarga besar dan saat itu Chassy belum memasuki rumah utama keluarga ini.
"Sebelas tahun, sebelas tahun lalu ayah dan ibu sangat bahagia. Kakek tinggal di rumah ini, ibu selalu tersenyum dan kami sering menghabiskan waktu bersama. Lalu setelah liburan itu, semua mulai berubah. Ibu pergi dan ayah yang selalu ingin mengatakan kata perpisahan. Kakek memutuskan untuk tinggal di Villa di utara kota C. Ayah membawa istri baru dan mengatakan bahwa Chassy adalah saudara tiriku. Ayah, telah menghianati ibu selama berpuluh tahun. Dan karena itu sampai sekarang keberadaan ibu tidak ditemukan,"
Kesuraman terlintas di mata Chana yang berkabut. Jejak rasa benci terlihat samar saat tanpa sadar kedua tangannya meremas pakaian di tangannya kuat.
"Ibu, aku harus mencarinya. Dan untuk itu aku harus bisa merubah semuanya."
Tekat Chana sangat bulat, dia baru saja mengenakan celana jeans-nya sebelum tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dan suara yang sangat familiar terdengar.
"Chana,"
Chana membeku, seluruh pikirannya kosong dengan perasaan tercampur aduk. Dia yang sangat ini hanya mengenakan celana jeans pendek dan pakaian tanpa lengan menoleh secara pelan. Rambut panjangnya yang tak beraturan terlempar ke belakang dan jejak merah di tulang selangka, dan sekitar leher mendekati d**a terlihat sangat jelas. Tak bergerak, hatinya seakan melompat keluar saat tiba-tiba orang yang baru saja menutup pintu kamarnya kini melangkah mendekatinya dengan sangat cepat.
"Apa kau tak bisa mengetuk pintu kamarku terlebih dahulu?" Tanya Chana kesal tapi pria itu justru tak mendengarkan keberatannya.
"Chana, ini ...."
"Lo-logan ... apa yang kau lakukan!" Tekan Chana terkejut menutupi dadanya reflek saat tangan Logan terulur mendekati dadanya.
"Singkirkan tanganmu! Aku harus memastikan pengelihatanku."
"Apa? Kenapa? Ahkk ... tanganku sakit,"
Perasaan aneh membanjiri seluruh pikiran Logan tanpa bisa dikendalikan. Rasa tak percaya, marah juga jijik terlintas di matanya yang mendingin. Dia mencengkeram kedua pergelangan tangan Chana dan menahannya ke atas. Tak membiarkan pergelangan kurus itu menutupi pengelihatannya yang menajam. Lalu tanpa sadar satu tangannya terulur, memeriksa jejak itu seakan ingin menghapusnya.
Itu sangat jelas!
Jejak merah yang tak hilang hanya karena dia ingin menghapusnya. Jejak yang semakin merah saat dia menggosok kulit putih di hadapannya. Ia pikir jejak itu mungkin sebuah memar atau luka. Tapi, tidak, itu adalah cupang! Itu bukanlah memar karena terluka melainkan tanda cinta! Dan masalahnya, siapa yang meninggalkannya! Siapa yang telah berani melakukannya?
Rasa marah yang tak tertahankan tiba-tiba datang menerjang. Untuk sesaat seluruh pikirannya kosong lalu rasa tak nyaman menguasai dengan kuat. Logan tanpa sadar mundur, menatap wajah Chana yang terlihat angkuh tanpa alasan.
"Chana, siapa yang melakukannya? Katakan padaku, siapa yang telah berani meninggalkan jejak di tubuhmu!"