Aku kecewa.

1252 Words
Kemuraman Chana membuat emosi Logan tersulut. Saat Chana menghempas tangannya, dia menyadari tatapan Chana yang seakan tak peduli pada keberatannya. "Chana," "Itu bukan urusanmu!" "Bagaimana kau bisa mengatakan itu?" Kekecewaan tercetus tanpa bisa dicegah, Logan ingin tertawa seakan tak percaya pada wanita di hadapannya. Benarkah wanita ini adalah orang yang sama dengan orang yang selalu mengatakan mencintainya? Angin berhembus cukup kencang dari pintu balkon kamar yang terbuka. Tirai bergoyang perlahan, membuat suasana menjadi sunyi untuk sesaat. "Bagaimana tentang dirimu, bukan menjadi urusanku?" ulang Logan menekan setiap kata yang keluar. Chana menatap Logan yang menunduk dengan kepalan tangan erat. Dia bisa merasakan amarah Logan yang tak biasa. Dia harusnya berlari memeluk kekasihnya lalu menangis meminta maaf atas semua hal yang terjadi padanya. Dia harusnya tersedu dalam pelukan Logan lalu Logan yang kecewa akan menghempaskan tubuhnya dan dia berlutut memohon pengampunan. Dan pada akhirnya Logan akan menyeret langkah kakinya, membuatnya menangis cukup lama untuk menyadari kesalahannya. Karena selama ini dia terlalu bergantung padanya. Karena di hatinya dia selalu berpikir hanya memiliki Logan semenjak kepergian ibunya. Tapi kali ini, rasa cinta di hatinya seakan berubah menjadi jeratan batang mawar berduri yang merambat mengikuti urat nadinya. Terasa sangat menyakitkan meskipun mawar-mawar itu masih mekar dengan sangat cantik. Cintanya yang dalam pada akhirnya menghancurkan hidupnya! Cintanya yang tulus pada akhirnya hanya menemui penghianatan. Dan kali ini dia hanya akan hidup dalam rasa sakit tersebut untuk menyadarkannya bahwa pria di hadapannya ini, tak layak untuk cinta apa lagi hidupnya. Dia tak bisa menggantungkan hidupnya pada seorang pria yang akan melenyapkan putranya. "Logan, aku lelah." Logan tak tergerak, saat satu suara yang terdengar acuh tak acuh meruntuhkan kesabarannya. Kekasihnya yang bodoh ini, apakah sekarang tak akan berlutut untuk menangis karena dirinya yang telah ternoda? Apakah wanita yang mencintainya hingga mati ini sekarang tak mengacuhkannya lalu memintanya untuk pergi? Bagian mana yang bisa dia percayai bahwa pada akhirnya wanita bodoh yang dia cintai dengan tulus kini seakan ingin membuangnya! "Chana! Bagaimana bisa kau melakukan ini padaku!" Pintu balkon kamar tertutup keras saat teriakan Logan terdengar. Amarahnya tercetus dalam puncak tertinggi. Dia tak lagi bisa sabar seperti sebelumnya. Mendung menggelap menghadirkan kegelapan yang tak biasa. Chana tak beranjak dari tempatnya, dan kini menatap mata Logan yang memerah. Apakah pria di hadapannya ini baru saja menangis? Lucu sekali karena mengingat suatu saat pria ini akan menampar dan memilih melindungi Chassy. Meski begitu rasa dihatinya seakan bergoyang. "Logan," tangan Chana terulur tanpa sadar. Rasa cintanya yang tulus tak bisa dia kendalikan saat matanya benar-benar melihat satu air mata lolos dari pria di hadapannya. "Logan, aku-" "Cukup!" Potong Logan dingin. Dalam suasana yang remang, dia masih bisa melihat wajah putih Chana yang terlihat bersalah. Dia bisa melihat emosi yang rumit dari mata yang biasanya menatapnya polos dengan penuh cinta. Tapi kini, mata itu terlihat dingin dengan jejak kebencian yang terlihat nyata. Cinta yang harusnya hanya miliknya, apakah itu telah sirna? Chana, wanita yang selalu mencintainya, apakah benar kini tak menginginkannya? Chana, yang selalu bergantung padanya karena selalu mengatakan hanya memilikinya kini terlihat tak membutuhkannya. Hal ini, dia tak bisa terima! "Chana, aku ... butuh waktu untuk menerima hal ini. Untuk saat ini, kita lebih baik menjaga jarak satu sama lain." "Logan aku-" Chana terdiam kaku saat melihat punggung Logan berlalu. Dia bisa melihat dengan jelas rasa kecewa Logan yang tak bisa disembunyikan. Namun dia juga tak berniat mengejar, pada akhirnya dia membiarkan semua berlalu. Seperti cintanya yang perlahan berubah menjadi duri menyakitkan. *** "Jadi, siapa dia?" Postur tinggi dengan rambut tertata acak juga dua kancing kemeja yang terbuka menampilkan d**a bidang yang seksi membuat mata semua wanita menjerit pelan. Namun kedinginan sikapnya membuat semua orang tak ingin meremehkannya. Dia adalah Hector Vannester, putra tertua keluarga Vannester yang cukup terkenal karena sejarah keluarganya yang panjang dalam bidang kemiliteran. Namun keluarga ini terkenal sangat rahasia dan tak suka tampilan publik yang berisik. Jika dihitung dengan benar, keluarga Vannester merupakan keluarga terkuat ke empat dalam negeri ini dengan seluruh jaringan internasional yang terhubung dengan negara lain dengan sangat baik. "Katakan dengan pasti, siapa wanita yang berani berbaring di ranjang kakak pertama?" Kali ini Matteo, dengan julukan Aktor tampan terbaik yang memenangkan segudang penghargaan juga ikut penasaran. Wajahnya yang sangat tampan dengan senyum ramah yang lebih seperti penggoda membuatnya memiliki segudang Fans wanita fanatik yang luar biasa. Meski begitu, sebagai ahli waris dari keluarga Clairzo, keramahannya adalah sesuatu yang membuat seluruh tetua memijit kepala mereka banyaknya skandal yang harus mereka selesaikan. "Apakah mereka benar-benar melakukannya? Apakah kakak pertama bukan lagi seorang pertapa? Rion, katakan dengan jelas padaku." Satu suara ikut menimpali, wajah tampan lainnya terlihat sangat tenang seperti tak memiliki minat pada apa pun secara berlebihan. Tapi wajah tampan itu memiliki senyuman yang memikat dengan mata bersahabat juga kegilaan yang harus diwaspadai. Dia adalah Raizel Flinkers, putra kedua keluarga Flinkers yang merupakan keluarga terkuat kedua setelah keluarga Axion. Sikapnya yang ceroboh dan sangat supel membuat semua orang menganggapnya baik bagai malaikat tampan yang tak akan mampu membunuh satu ekor semut pun. Namun di balik senyum itu ada kekejaman yang tak dapat membuat semua orang ketakutan. "Aishhh, kalian tak akan percaya. Tapi aku ... aku melihatnya sendiri. Bagaimana kamar berantakan itu juga beberapa potong pakaian dalam yang ... Sexsi. Ughhh, benar-benar berkah luar biasa bisa menaklukkan hati kakak pertama," Rion, orang yang pertama kali berlari ke hotel untuk membuktikan kabar heboh itu kini menatap Axel lalu beralih pada teman yang lainnya. Dia adalah Rion Dario Alcher, yang terkenal paling muda di antara lainnya dengan pribadi yang hangat dan manja. Rion mampu menangani semua masalah yang terjadi dan merupakan pakar ide kekejaman yang tak ada habisnya dalam persahabatan mereka. Terkenal sangat gila dalam dunia bisnis, wajah tampannya yang mendekati cantik untuk seorang pria sangat bertolak belakang dengan sikap kejam yang bersembunyi baik dalam tulang. Meski begitu semuanya seakan tak mempermasalahkan dengan ide gilanya yang terkadang terlalu jahat. Axel tak menjawab dan memilih diam dengan menyandarkan tubuhnya santai pada kursi empuk dalam ruangan yang tak begitu terang. Meja di depannya penuh dengan hidangan sampingan juga beberapa Wine dari tahun pilihan. Dia menggoyangkan gelas Anggur di tangannya, seakan tak berminat pada keramaian dalam ruangan Pub malam ini. Rion berdiri, menjatuhkan tubuhnya di samping Axel lalu memeluk tangan Axel erat. "Kakak pertama, apakah dia memelukmu seperti ini? Apakah kalian benar-benar melakukannya? Ayo jawab," Axel tak bergeming, namun mulutnya mengeluarkan suara. "Hmn, kami melakukannya." "Apa?" Saat suara itu jatuh semua saling berpandangan satu sama lain. Detik berikutnya gelas Anggur yang belum habis itu, kembali terisi penuh saat Matteo dengan sadar menuangkan ke seluruh gelas yang ada di atas meja. "Ayo minum untuk merayakan hari kakak pertama melepaskan gelar Sucinya untuk pertama kali. Kalian harus merasa terhormat karena aktor papan atas sepertiku mau menuangkan Anggur untuk kalian." Semua menurut begitu saja tanpa menunjukkan keberatan seperti biasanya hanya karena tertegun pada jawaban Axel yang sangat pasti. "Bukankah menurut kalian aku harus menuntut pertanggungjawaban?" tanya Axel tiba-tiba dengan mulut mengulum senyum. "Apa?" Tanya Rion terkejut bergidik ngeri. "Pertanggungjawaban? Ahahaha, ya ampun, kurasa telingaku sudah rusak," keluhnya dengan menarik telinga Rion. "Apa yang kau lakukan Matteo? Kau mau memotong telingaku?" "Kau mau kubantu untuk membuatkan laporannya?" Tawar Raizel datar namun tak menyembunyikan senyumnya. "Jadi, apa kau harus melakukannya?" Hector dalah satu-satunya orang yang waras dengan semua hal gila yang telah dilakukan teman-temannya. "Kalian benar-benar membuat lelucon." Axel tak menjawab, dia hanya melebarkan senyumnya dan hal itu membuat empat pria lainnya terpaku. "Chana Lee, sepertinya aku harus sering menemuinya." "Lee Chana?" Ucap yang lain dengan sangat kompak lalu detik berikutnya mereka semua sudah sangat sibuk dengan telepon genggam masing-masing.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD