Logan melangkahkan kakinya dengan berat tanpa menoleh sedikitpun meski suara Chana terdengar jelas. Ini cukup aneh baginya karena dia berpikir Chana akan mengejar dan segera meraih tangannya. Tapi nyatanya, pintu kamar itu tertutup dan tak terbuka sama sekali meski dia menunggu sosok Chana keluar menghampirinya.
"Logan,"
Logan menoleh, mendapati Chassy yang tersenyum lembut padanya.
"Apakah kakak tidak ada di dala-"
"Tidak," potong Logan cepat menegaskan bahwa dia tak ingin mendengar apa pun saat ini tentang Chana. Kemuraman kian terlihat jelas saat dia mengingat Chana yang sangat jauh berubah. "Dia hanya lelah. Aku akan kembali."
Chassy melihat raut kecewa yang dalam dengan jelas. Tanpa sadar dia meraih tangan Logan yang baru saja melangkah untuk pergi. "Logan, ada apa? Apakah kalian bertengkar? Kau tahu bahwa kakak mungkin melakukan kesalahan karena dia sedikit bodoh tapi aku akan membuatnya untuk meminta maaf padamu."
Logan tak menjawab, namun menarik tangannya dari tangan Chassy. Tanpa menyembunyikan kemarahannya, dia berbalik tanpa suara.
"Logan, Logan, Logan,"
Chassy memanggil dengan cukup keras tapi nyatanya pria itu tetap berlalu. Berbalik, dia menatap pintu kamar Chana yang tertutup. "Dia adalah masalahnya! Logan tak mempedulikanku, itu pasti karena dia!"
Ada kesedihan yang gamang di wajahnya. Satu hal yang tak dapat dia pungkiri, bahwa Logan hanya tertarik bicara padanya karena Chana! Tak peduli seberapa banyak dia berdandan dan menunjukkan kecantikannya yang lebih baik dari Chana, pria itu sama sekali tak menoleh apa lagi meliriknya. Tapi jika dia datang dengan Chana sebagai berita utama, maka dia bisa melihat wajah lembut yang tersenyum seakan tersipu karena rindu.
Karena itu, dia terus menempel dan memerintahkan Chana untuk ini itu lalu mengambil alih segalanya. Chana yang bodoh begitu mempercayainya dan dia tak berharap bahwa hubungan mereka akan bertahan lama. Karena dia percaya, bahwa Logan akan luluh pada keteguhan dan cintanya.
"Tak ada orang yang mencintaimu seperti aku, Logan. Aku rela melakukan apa pun untukmu, termasuk untuk merusak cinta kalian." Mengeratkan kepalan tangannya, satu air mata Chassy lolos karena kegetiran hati yang perih. Saat ini cintanya mungkin tertolak, tapi dia akan menguasai Logan pada akhirnya.
Hal ini membuat amarah Chassy mencuat, fakta bahwa Chana telah mengalahkannya dalam berbagai hal membuatnya benci setengah mati. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, dia membuka kamar Chana keras. "Kak Chana!"
Chana yang saat ini menatap kegelapan malam dari balkon kamarnya tak menoleh. Namun kedua tangannya yang tersilang di d**a mengepal erat. Angin malam menerbangkan rambutnya yang panjang. Tanpa menutupi kemarahannya, dia hanya bisa menekan emosinya sambil menggigit bibir bawahnya kuat.
"Apa yang kau lakukan pada Logan? Apakah kalian bertengkar? Kenapa Logan terlihat marah?"
Chana menarik satu sudut bibirnya tipis saat pertanyaan Chassy lainnya terdengar. Setelah memikirkan ini dengan lebih terbuka, dia mulai menyadari sesuatu, bahwa Chassy telah menyukai Logan sejak awal. Kenapa dia tak menyadari sebelumnya? Rasa sesak yang menghimpit dadanya terasa kian menyesakkan saat ingatan tentang putranya dan akhir hidupnya yang menjadi abu terbayang.
Chassy membunuhnya!
Dan dalam hal awal di kehidupan ini, kesialan telah diatur untuknya.
Chassy hanya melihat punggung Chana yang masih tak bergerak untuk berbalik ke arahnya. Dari sudut ini dia bisa jelas merasakan angin malam yang dingin menyapa. "Kak Chana, aku bicara padamu!"
Chassy menarik pundak Chana untuk membuatnya menoleh menghadapinya. Dia tak ingin diabaikan, terlebih oleh Chana yang tak sebanding dengannya. Namun punggung itu tak tergerak dan hanya menampilkan keagungan nan sombong. Dia membencinya!
"Kau harus mengejar Logan! Dia keluar dengan ekspresi buruk di wajahnya. Ada apa denganmu! Apa kau akan mengabaikannya?"
"Lalu apa?" Jawab Chana dingin.
"Apa?" Chassy tertegun pada jawaban dingin yang tak dia perkirakan.
Chana haruslah menangis saat pertengkaran terjadi antara dia dan Logan. Lalu dirinya akan menyuruh Chana untuk bergerak meminta maaf atau bahkan berlutut meminta maaf seperti sebelumnya. Pada semua hal, dia telah terampil untuk mengambil alih segalanya dan mendorong semua kesalahan pada Chana! Karena dia akan hidup untuk menjadi yang terbaik dan menjadi pemenang pada akhirnya. Seperti tempat Chana dalam rumah utama ini, yang berhasil dia miliki setelah ibunya menyingkirkan ibu Chana dan mendorong Chana untuk hidup mandiri. Lalu dia hanya perlu mendekati dengan rasa sayang palsu dan membuat Chana bergantung padanya lalu menuruti semua perkataannya.
"Lalu kenapa jika dia marah dan pergi? Chassy, kenapa kau sangat khawatir pada hubungan kami?"
"Kak, ada apa denganmu? Kau harus berlari mengejarnya atau dia akan-"
"Atau apa?" Potong Chana membalikkan badannya. Dia sama sekali tak menutupi seluruh jejak merah yang ada pada tubuhnya.
"Kak ...!" Chassy sangat terkejut sampai membawa kedua tangannya untuk menutupi bibirnya. Jejak tak percaya pada penglihatannya terlihat jelas namun rasa senang terungkap dari ekspresinya. "Ini, siapa yang melakukannya? Jangan bilang kau telah-"
"Bukankah kau orang yang paling tahu kenapa kami bertengkar? Chassy, hentikan semuanya dan ayo bicarakan ini. Aku bukan lagi Chana yang bodoh seperti sebelumnya."
"Ka-kak, apa maksudmu? Kau, kenapa ini bisa seperti ini? Kak kau tenang saja. Aku akan mengatakan pada Logan bahwa ka-"
"Bahwa aku telah mengkhianatinya karena kau mengatur orang untuk menodaiku! Bukankah begitu, Chassy?" Satu sudut mulut Chana tertarik pelan, menampilkan bibir bawah yang terluka karena kuatnya dia menggigit beberapa detik lalu.
Mata Chassy terbelalak dengan riak kejutan yang tak bisa dia sembunyikan. Tubuhnya bahkan pada tanpa sadar mundur selangkah saat melihat ekspresi dingin Chana yang menusuk.
"Kak, apa maksudmu! Aku juga terjebak sama sepertimu. Orang-orang itu, bukankah dia temanmu? Aku bahkan ketakutan setengah mati sampai pada akhirnya Logan menyelamatkanku. Tapi, kau melompati pagar dan meninggalkan aku sendiri. Kau mengabaikan aku yang ketakutan. Meski begitu, harusnya kau tetap bersamaku sampai Logan menyelamatkan kita. Harusnya kau tetap tenang dan kejadian buruk tak akan terjadi."
"Jadi dia datang?" Senyum tipis Chana tak dapat disembunyikan. Ini jelas seperti dalam ingatannya. Logan haruslah datang tepat setelah dia dilecehkan dan sejak itu Logan berubah sampai pada akhirnya Logan tak menghianatinya.
"Itu bukankah sewajarnya jika dia-"
"Chassy, seberapa banyak rencana yang kau atur untukku? Apa kau begitu membenciku? Kenapa?"
"Apa?" Chassy lagi-lagi terkejut pada kata-kata Chana yang tak pernah terduga.
"Oh tidak, haruskah aku katakan bahwa kau mencintai Logan, kekasihku."
"Tidak mungkin! Aku-"
"Orang-orang itu adalah orangmu!"
"Tidak, kau salah paham! Aku tak mengenal-"
"Lalu kenapa mereka hanya mendekatiku dan tidak padamu? Chassy, meski aku bodoh, aku sangat ingat. Malam itu, kau hanya duduk dan memerintahkan mereka melakukan hal buruk padaku. Kau berniat menghancurkanku!"
"Itu-"
"Kau pasti sangat membenciku," potong Chana lagi tanpa membiarkan Chassy bicara. Dia mendekati Chassy lalu berbisik di telinganya. "Meski begitu, aku akan menyambut kebencianmu. Apakah sekarang kau senang?"
Chassy tertegun dan mundur selangkah dengan ekspresi takut di wajahnya. Matanya bertemu dengan mata Chana yang menyiratkan kedinginan nan dalam. Semua kini jelas, bahwa sejak malam itu penglihatannya tidak salah. Chana berubah menjadi orang yang tak dia kenal.
"Cha-chana,"
Chana tersenyum tipis. "Bagus, kau bahkan memperjelas panggilanmu. Kenapa? Apakah itu sulit untukmu?"
Chassy mengatupkan bibirnya penuh kebencian. "Hahahahahaha," tawanya bahkan tak bisa ditahan hingga dia mengeluarkan air mata. Menghapus air mata di ujung matanya, dia menatap Chana cukup lama.
Chana cukup heran dengan tawa Chassy yang lepas, namun kemudian dia menyadari tatapan Chassy yang membencinya. Penyesalan di hatinya seoalah kian dalam. "Sampai hari kemarin aku bahkan masih percaya bahwa kau menyayangiku hingga selalu memberikan pendapat dan kata-kata yang baik untukku. Tapi nyatanya, aku sangat bodoh karena percaya kata-katamu."
"Jadi kak, apakah sekarang kau sudah sedikit lebih pintar?" Tanya Chassy penuh kelicikan. "Lalu apa yang bisa kau lakukan? Aku berniat menghancurkanmu malam itu, kupikir aku gagal, tapi melihatmu sekarang, aku yakin Tuhan bahkan membantu rencanaku. Kau sampah keluarga Oswald yang tak berguna dan hanya menyusahkan saja. Selanjutnya, jangan berulah dan diam saja. Kau hanya perlu menyerahkan semua padaku maka aku akan membiarkan kau hidup sedikit lebih baik."
Chana terdiam, dia tak menyangka bahwa pada akhirnya semua jelas seperti yang dialaminya. Meski sudah menyiapkan hati pada akhirnya dia tetap merasa bahwa kebodohannya telah menghancurkan hidupnya. "Oh, tapi sepertinya aku berhenti memutuskan untuk menjadi orang bodoh. Chassy, ambilah sebanyak yang kau inginkan, karena pada akhirnya semua yang telah kau dapatkan akan kembali padaku."
"Kak, kau terlalu percaya diri. Dari awal kau bukan lawanku."
Chana berdiri tenang seolah kata-kata Chassy tak memperburuk suasana hatinya. "Kau tak percaya? Kau bisa mencobanya."
***
"Chana Eurubia Oswald. Bukankah ini orangnya?" Rion masih menatap layar ponselnya dengan ekspresi tak percaya. "Kakak pertama, apakah kau tak salah? Apakah wanita yang bersamamu benar-benar dia?"
Axel sama sekali tak melihat layar ponsel Rion yang tersodor padanya karena dia telah mengantongi beberapa informasi tentang wanitanya. "Hmn, itu adalah dia."
"Apa ini? Bukankah dia sibodoh dari keluarga Oswald?" Matteo bergidik ngeri awalnya lalu menatap Axel dengan tatapan prihatin. "Kakak pertama, itu bukan masalah. Kita kaum muda sering melakukan kesalahan. Kau hanya perlu melupakannya dan membuatnya menjauh darimu sejauh mungkin. Ya, ya, seperti itu, seperti aku menyelesaikan banyaknya skandal asmaraku."
Axel mengerutkan keningnya, dia menatap Matteo datar. "Tapi aku tak berniat menjauhinya. Tidak, aku berniat untuk mengejarnya."
"Apa?" Rion dan Matteo mengeluarkan kata-kata yang sama dengan tatapan tak percaya.
Sedangkan Raizel masih diam dan mengutak atik handphone di tangannya. Dia memperbesar beberapa foto yang telah dia lihat lalu menggeleng pelan. "Sebenarnya, apa yang kau lihat dari wanita ini? Tak peduli berapa banyak aku melihat fotonya, dia sama sekali tak memiliki keistimewaan. Dia tidak cantik sama sekali, justru saudara perempuannya dikabarkan menjadi salah satu gadis tercantik di kota ini. Dia juga bodoh dan jarang menampakkan dirinya dalam pesta umum. Kakak pertama, apakah kau yakin, dia wanita yang tidur bersamamu?"
Hector yang mendengar semuanya hanya menarik sudut bibirnya turun sesaat. "Sudahlah, itu adalah keputusannya. Sebagai teman, bukankah kita hanya perlu menyetujui keputusannya?"
"Hector, kau tak tahu dia wanita seperti apa. Kakak pertamaku yang tampan haruskah berakhir dengan wanita bodoh yang pendek akal?" Rion menimpali dengan menyuarakan keberatannya.
"Hahaha, Hector benar. Aku hanya akan menonton saat ini," Raizel menaikan satu sudut alisnya dengan senyum licik.
Melihat itu Axel hanya memindahkan pandangannya sesaat. "Jangan mengusiknya, karena aku sendiri yang akan mengurusnya."
"Apakah ini peringatan?" Tanya Matteo terkejut. "Kakak pertama, tidak, Axel apakah kau sadar kata-katamu? Apakah kau sudah mencari tahu tentangnya lebih dalam?"
"Matteo benar. Axel, kau harus memikirkannya lebih jauh lagi." Rion meletakan handphonenya lalu menyesap wine di tangannya. Dia bahkan membuang panggilan 'kakak pertama' mengingat suasana serius yang tiba-tiba tercipta.
"Aku bukan anak kecil yang perlu kalian pantau." Timpa Axel dingin. "Jika kalian seberisik ini, aku tak akan tinggal disini malam ini. Aku kembali,"
Rion, Matteo dan Raizel bahkan tak percaya saat melihat Axel benar-benar pergi. Sedangkan Hector menatap punggung Axel datar. Dia percaya, bahwa wanita yang menarik minat temannya pasti tidak sederhana seperti di permukaan. Sayangnya, kini dia benar-benar menantikan tontonan yang menyenangkan.